Tampilkan postingan dengan label perencanaan pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perencanaan pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Model-model Perencanaan Pendidikan

MAKALAH
MODEL – MODEL PERENCANAAN PENDIDIKAN
Untuk memenuhi tugas mata kuliah Perencanaan Pendidikan yang dibina oleh :
Abdul Haq As, S.Pd.I, M.Pd.I



 Disusun oleh :
1.    Nurf­­adilah
2.    Nabila Arifiyana
3.    Nur Aini
4.    Ayu Apriliana


SEMESTER 3
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami  panjatkan kehadirat Allah SWT  karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya makalah Perencanaan Pendidikan yang berjudul “model-model perencanaan pendidikan” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar..
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyusun makalah ini. Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai model-model perencanaan pendidikan.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini. Mudah - mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.

                                                                  Bondowoso, 7 November 2018


Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................ i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................  iii
BAB I     PENDAHULUAN .........................................................................  1
A.  Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................  2
C. Tujuan dan Manfaat..................................................................... 2

BAB II    PEMBAHASAN............................................................................ 3
A.  Model Perencanaan Komprehensif.............................................. 3
B.   Model Target Setting................................................................... 4
C.   Model Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya................. 6

BAB III.. PENUTUP……………………………………………………….  10
A.  Kesimpulan.................................................................................. 10

DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………… 11


BAB  I
PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Perencanaan (planning) merupakan fungsi awal dari serangkaian aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sebelum fungsi berikutnya yaitu organizing, actuating dan controlling. Menurut Anderson dan Syafaruddin, perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seorang di masa depan.
Perencanaan pendidikan pada hakikatnya adalah proses pemilihan yang sitematis, analisis yang rasional mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, siapa pelaksanaannya dan kapan kegiatan dilaksanakan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan itu dapat memenuhi tuntutan atau kebutuhan masyarakat. empat aspek yang berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut yaitu berhubungan dengan masa depan, adanya seperangkat kegiatan, adanya proses yang sistematis, dan adanya tujuan.
Perencanaan dalam dunia pendidikan, terutama dalam lembaga pendidikan, memang sangatlah penting, sebab perencanaan tersebut kedepannya akan berperan vital sebagai petunjuk dalam gerak langkah lembaga tersebut. Namun demikian, model perencaanaan dalam sebuah lembaga pendidikan tentunya akan sangat berbeda dengan perencanaan dalam sebuah perusahaan. Perusahaan yang notabene berorientasi profit, tentu saja memproses benda mati, baik berupa barang maupun jasa. Di lain pihak, lembaga pendidikan memproses manusia dengan segala sifat-sifat kemanusiaannya yaitu hidup dan berkembang.
Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, karena tujuan itulah yang nantinya akan menjadi tolak penyusunan sebuah kerangka rencana. Agar sebuah perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, kita harus menggunakan model - model perencanaan yang sesuai dan tepat. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang Model-model Perencanaan Pendidikan.

B.       Rumusan Masalah
1.   Apa yang dimaksud dengan Model Perencanaan Kompherenshif?
2.   Apa yang dimaksud dengan Model Target Setting?
3.   Apa yang dimaksud dengan Model Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya?

C.       Tujuan Masalah
1.   Untuk mengetahui Model Perencanaan Kompherensif.
2.   Untuk mengetahui Model Perencanaan Target Setting.
3.   Untuk mengetahui Model Perencanaan Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya.



BAB II
PEMBAHASAN

A.       Model Perencanaan Komprehensif
Model ini digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Selain itu berfungsi juga sebagai pedoman dalam menguraikan rencana-rencana yang lebih khusus ke arah tujuan yang lebih luas.[1]
1.    Keunggulan Model Perencanaan Komprehensif
a.    Keunggulan utama perencanaan komprehensif yaitu mencakup liputan yang luas tentang berbagai elemen dan aspek perencanaan serta menampilkan berbagai alternatif rencana yang mungkin dilaksanakan untuk mencapai tujuan (goals) dan sasaran (objectives) perencanaan dengan melihat pada potensi dan kendala yang ada.
b.    Memiliki citra holistik atau menyeluruh atas kemungkinan-kemungkinan yang paling optimal.
c.    Meski mencakup liputan yang luas terkadang unsur penyederhanaan (simplicty – reductionis) dari sistem entitas atau komunitas atau kesatuan yang bersifat kompleks dan menyeluruh.
d.   Program-program yang disusun untuk dievaluasi dengan pendekatan “scientific methods” dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat di dalam proses perencanaan.
e.    Proses perencanaan tidak berjalan linier tetapi bersifat pengulangan (multiple iteratif) dan siklikal yaitu adanya umpan balikan elaborasi lebih jauh untuk tiap sub proses. Sehingga perencanaan komprehensif bersifat fleksibel atau luwes terhadap kemungkinan perubahan yang terjadi di lingkungan perencanaan.
f.      Dalam perencanaan komprehensif ada keterlibatan publik (Public participation) sehingga dapat mengurangi kekurangan kekurangan dari model perencanaan ini.

2.    Hambatan  dalam Pelaksanaan Model Pembelajaran Komprehensif
Ada beberapa hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan model pembelajaran komprehensif.
a.    Pertama, karena belum biasa guru tidak langsung dapat melaksanakan model pembelajaran komprehensif secara efektif, mereka membutuhkan penyesuaian atau latihan dalam pertemuan pertama, tetapi pada pertemuan berikutnya dapat lebih efektif
b.    Kedua, karena belum biasa para siswa juga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan yang baru. Guru dituntut untuk lebih meningkatkan disiplin belajar terutama kebiasaan siswa berbicara dan bekerja lebih efisien.
c.    Ketiga, kegiatan-kegiatan kelompok yang mengaktifkan siswa membutuhkan waktu belajar yang relative lebih lama. Masalah ini dapat diatasi dengan meningkatkan efisiensi penggunaan waktu, penentuan target sasaran dan waktu untuk setiap kegiatan, pengawasan dan perintahuntuk segera mengakhiri sesuatu kegiatan dan berpindah ke kegiatan lainnya.
d.   Keempat, adalah kelengkapan media dan sumber. Masalah ini merupakan masalah umum yang dihadapi oleh sekolah, dapat diatasi dengan meningkatkan kerjasama dengan unsur pimpinan dan komite sekolah, dan peningkatan upaya guru mengembangkan sendiri media dan sumber belajar.[2]

B.       Model target setting
­Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya, diperlukan model-model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk. Model untuk memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar) sekolah, dan model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.[3]
1.        Prinsip Model Target Setting
a.    Perencanaan yang bersifat Komprehensif, yaitu menyeluruh dalam melihat permasalahan pendidikan, setiap aspek pendidikan mendapatkan perhatian dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi baik pendidikan formal maupun informal.
b.    Perencanaan pendidikan bersifat Integral, yaitu perencanaan pendidikan terintegrasi secara menyeluruh dalam system dan prosedur pengelolaan pendidikan .
c.    Perencanaan pendidikan harus memperhatikan aspek-aspek kualitatif kuantitatif, yaitu kemajuan pendidikan ditentukan oleh jumlah anak yang dilayani dalam satuan pendidikan, output sesuai dengan kebutuhan pasar atau apakah dapat membuat individu sejahtera.
d.   Perencanaan pendidikan harus kontinyu, memperhatikan aspek keberlangsungan setrategi untuk menyelesaikan persoalan pendidikan.
e.    Perencanaan pendidikan berdasarkan efisiensi, yaitu biaya terbatas digunakan secara fokus dalam pengelolaan dan seefisien mungkin.
2.        Model Perencanaan Target Setting
     Dalam penentuan target ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
a.    Target yang akan dicapai realistis, merupakan dasar rencana yang sesungguhnya bukan tujuan yang kabur.
b.    Target yang akan dicapai berada dalam jangkauan kemampuan dan sumber-sumber yang tersedia.
c.    Target yang akan dicapai memiliki kuantitas atau tingkat yang pasti agar dapat dicapai dalam priode tertentu .
d.   Target merupakan fase terakhir suatu tahapan proses untuk memilih apa yang harus dikerjakan selama masa perencanaan.
e.    Target bersifat penting, dapat diukur dan dicapai. Penetapan target benar-benar tergantung pada informasi akurat yang dikumpulkan dan dikomunikasikan .

3.        Menetapkan Target
Beberapa hal dalam Menetapkan Target,  antara lain:
a.    Menetapkan target harus sesuai dan tepat, misalnya :
Jika diatur terlalu tinggi, target menciptakan setres dan de-motifasi; jika setel  terlalu rendah, target mendorong rasa puas diri; jika dipaksakan, target tidak mungkin dimiliki oleh mereka yang harus menyerahkannya; dan jika di negosiasikan, ada insentif untuk menekan target yang lebih rendah yang lebih mudah untuk bertemu sehingga menciptakan ketegangan dan kecurigaan di antara manajer .
b.    Target tidak dapat ditetapkan secara tepat tanpa mengetahui kemampuan proses saat ini dan masa depan .
c.    Sasaran tidak menjelaskan bagaimana meningkatkan kinerja.
d.   Target memprovokasi kecurangan, termasuk dirtorsi data atau distorsi cara pekerjaan akan selesai.
e.    Dampak budaya dari penetapan target biasanya negatif menghancurkan kepercayaan, kehangan dan tanggung jawab pribadi.
f.     Sasaran biasanya hanya mencakup aspek pekerja yang sederhana untuk diukur, buka perspektif sistem yang benar. Dengan kata lain, target “ mencoba menemukan hal terukur untuk mewakili keseluruhan “.
g.     Sering kali, memukul target nomerik menyebabkan hilangnya titik sebenarnya. Sasarannya biasanya satu dimensi dan reduksionis (sering di dasarkan pada rata-rata atau presentase dan gagal mempromosikan keseluruhan perbaikan sistem.[4]
C.       Model costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya
Model ini sering digunakan menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien dan efektivitas ekonomis. Dengan model ini, dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan masalah yang dihadapi. Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.[5]
Model ini digunakan untuk mengalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas. Dengan model ini dapat diketahui proyek mana yang paling layak atau terbaik dibandingkan dengan proyek lainnya. Model ini mirip dengan pendekatan untung rugi.[6]
Pendidikan erat kaitannya dengan uang karena pendidikan memerlukan biaya (cost). Kaitannya uang dengan pendidikan dapat dipelajari melalui 3 komponen :
1.    Ekonomi Pendidikan  (fungsi alok­asi)
a.         Pengembambangan konsep modal manusia
b.        Tingkat kembalian model investasi (Rates of returen to investment)
c.         Analisis biaya-manfaat
d.        Analisis biaya efektifitas
e.         Perencanaan ketenagakerjaan
2.    Pendanaan (financing) Pendidikan (fungsi distribusi)
a.         Peningkatan pemasukan
b.        Perencanaan pengeluaran
c.         Pertimbangan keadilan: siswa, wajib pajak, guru, dan program sekolah.
3.    Administrasi Bisnis Sekolah (fungsi manajemen)
a.         Penganggaran (Budgeting)
b.        Pembukuan (accounting)
c.         Pemeriksaan (auditing)
Pembiayaan (costing) Pendidikan adalah proses pengalokasian sumber dana terbatas untuk melaksanakan pendidikan antar jalur, jenis, maupun jenjang pendidikan, baik pusat maupun daerah, baik negeri maupun swasta baik input maupun output pendidikan. Pembiayaan pendidikan adalah jumlah rupiah yang dialokasikan untuk melaksanakan pendidikan.
Pembiyaan pedidikan merupakan salah satu fungsi manajemen ekonomi pendidikan. Pembiyaan pendidikan berkaitan dengan politik pendidikan, program pembiyaan pemerintah, dan manajemen keuangan sekolah. Dalam pembiyaan pendidikan tidak ada pendekatan tunggal yang terbaik untuk pembiyaan semua sekolah karena kondisi setiap sekolah berbeda-beda.
Setiap kebijakan pendidikan mempengaruhi sumber dana yang diperoleh dan sumber dana yang dialokasikan.Sumber dana yang diproleh berkenaan dengan pendapatan , sedangka sumber dana yang dialokasikan berkenaan dengan belanja. Dengan menerapkan kebijakan yang berbeda-beda membawa akibat terhadaap keputusan yang berdampak pada pembiyaan pendidikan yaitu: (1) siapa yang akan dididik dan seberapa banyak jasa pendidikan dapat disediakan?; (2) bagaimana mereka akan dididik ?; (3) siapa yang akan membayar biaya pendidikan; (4) sistem pemerintahan seperti apa yang paling sesuai untuk mendukung pembiyaan sekolah? Pembiayaan sekolah harus mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku agar pengelolaan pembiayaan pendidikan tidak terkena sanksi hukum.
1.    Prinsip Pembiayaan
Pembiyaan Pendidikan dilakukan berdasarkan pada prinsip:
a.    Legal
b.    Manfaat
c.    Keadilan, artinya berimbang berdasarkan kinerja dan kegiatan. 
d.   Efektif, artinya sesuai dengan peruntukan dan tujuannya.
e.    Efisien, artinya penghematan
f.     Transparansi, artinya terbuka untuk diketahui pihak terkait.
g.    Akuntabilitas publik, artinya dapat di pertanggung jawabkan di depan publik.
h.    Plafond artinya, rencana anggaran sesuai dengan alokasi yang sudah ditetapkan penyandang dana.
i.      Mata Anggaran, artinya pengeluaran tidak boleh keluar dari Mata Anggaran Kegiataan (MAK) yang berlaku.
j.      Tidak Langsung, artinya dana yang diterima disetorkan dulu ke bendahara kemudian dikeluarkan berdahara sesuai dengan permintaan yang dapat di pertanggung jawabkan.
k.    Prioritas, artinya anggaran mengutamakan yang sangat penting dan sangat mendesak.
l.      Terpadu, artinya anggran tidak ada yang tumpang tindih atau double accounting.
m.    Desentralisasi, artinnya anggaran disusun secara otonomi oleh masing-masing unit kerja.




BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
1.    Model perencanaan komprehensif
Model ini digunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Selain itu berfungsi juga sebagai pedoman atau patokan dalam menguraikan atau menjabarkan rencana-rencana yang lebih khusus ke arah tujuan yang lebih luas.
2.    Model target setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya, diperlukan model-model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk. Model untuk memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar) sekolah, dan model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.
3.    Model costing (pembiayaan) dan ke efektifan biaya
Model ini sering digunakan menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien dan efektivitas ekonomis. Dengan model ini, dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternatif penanggulangan masalah yang dihadapi. Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan. Dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.




DAFTAR PUSTAKA

Usman, Husaini. 2013. Manajeme, Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi.
Supriatna, Usep. 2016. Jurnal Inovasi Pembelajaran, Volume 2, Nomor 1, Mei.
Kurniadin, Didin dan Machali, Imam. 2016 Manajemen Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.


[1] Husaini Usman, Manajemen ( Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013), hlm. 97
[2] Jurnal Inovasi Pembelajaran, Volume 2, Nomor 1, Mei 2016, hal. 330
[3] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016),     hlm. 177.
[4] Nelly Ivva Ruhaina, Model Target Setting, diakses dari https://www.scribd.com/document/371234568/Model-Target-Setting-Nellyivvar-0102516024.
[5] Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,2016),    hlm. 177
[6] Husaini Usman, Manajemen, (Jakarta: PT. Ikrar MandiriAbadi,2013), hlm. 97

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...