MAKALAH
MICROLEADING
Tipe dan Gaya Kepemimpinan
DOSEN PEMBIMBING:
Wafi Ali Hajjaj, S.Pd.I, M.Pd.I
DISUSUN OLEH:
Lisda Agustin
Liddini Hanifatur Rohmah
Nurfadilah
Nur Aini
Munawaroh Nur Muzaiyanah
Nabila Arifiyana
Nurifkiyah Nailatul Lailih
Qomariatun Nilul Laili
Lumatul Fajriyah
Sekolah
Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso
FAKULTAS
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI MPI
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami
panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya makalah
Macroleading yang berjudul “Tipe dan Gaya Kepemimpinan” dapat diselesaikan
dengan baik dan lancar.
Kami mengucapkan terima
kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam makalah ini. Sehingga dapat
terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap makalah ini dapat menambah
pengetahuan mengenai tipe dan gaya kepemimpinan.
Kami menyadari dalam
penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu
kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki
makalah ini. Mudah-mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi
kami dan umumnya bagi pembaca.
Bondowoso, 5 Oktober 2019
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER........................................................................................... i
KATA
PENGANTAR.................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 1
C. Tujuan
Masalah............................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................ 3
A. Pengertian tipe dan gaya kepemimpinan..................................... 3
B. Tipe
kepemimpinan..................................................................... 5
C. Gaya kepemimpinan.................................................................... 8
BAB III.. PENUTUP...................................................................................... 16
A. Kesimpulan.................................................................................. 16
DAFTAR
PUSTAKA................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepemimpinan dipandang sangat penting
karena dua hal yaitu pertama, adanya kenyataan bahwa penggantian pemimpin
seringkali mengubah kinerja suatu unit, instansi atau organisasi. Kedua, hasil
penelitian yang menunjukkan bahwa salah satu faktor internal yang mempengaruhi
keberhasilan organisasi adalah kepemimpinan, mencakup proses kepemimpinan pada
setiap jenjang organisasi, kompetensi dan tindakan pemimpin yang bersangkutan.
Gaya kepemimpinan diartikan sebagai
perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku
organisasinya.
Kepemimpinan merupakan suatu topik bahasan yang klasik, namun tetap sangat
menarik untuk diteliti karena sangat menentukan berlangsungnya suatu organisasi.
Kepemimpinan itu, yang esensinya adalah pertanggung jawaban.
Terlebih pada zaman sekarang ini yang semakin buruk saja moral dan mentalnya.
Ibaratnya, semakin sulit mencari pemimpin yang baik (good
leader). Pemimpin yang baik sebenarnya pemimpin yang mau berkorban
dan peduli untuk orang lain serta bersifat melayani. Tetapi, kenyataannya
berbeda. Bila kita lihat sekarang para pemimpin kita, dari lapisan bawah sampai
lapisan tertinggi, dari pusat hingga ke daerah-daerah. Banyak pemimpin yang
hadir dengan tanpa mencerminkan sosok pemimpin yang seharusnya, malah terlihat
adanya pemimpin-pemimpin yang jauh dari harapan rakyat, tidak peduli dengan
nasib rakyat bawah, dan hampir tidak pernah berpikir untuk melayani masyarakat.
Karena kepemimpinan mereka lebih dilandasi pada keinginan pribadi dan lebih
mengutamakan kepentingan kelompok.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tipe dan gaya
serta fungsi kepemimpinan ?
2. Apa saja macam-macam tipe
kepemimpinan ?
3. Apa saja macam-macam gaya
kepemimpinan ?
C.
Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian tipe
dan gaya serta fungsi kepemimpinan
2. Untuk mengetahui macam-macam tipe
kepemimpinan
3. Untuk mengetahui macam-macam gaya
kepemimpinan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Tipe dan Gaya
Kepemimpinan
Tipe menurut KBBI mengandung arti
model, contoh dan corak. Gaya artinya
sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik bagus, kekuatan, dan
kesanggupan untuk berbuat baik.[1]
Sedangkan kepemimpinan (leadership) menurut Stoner, kepemimpinan
manajerial ialah sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada
kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.[2]
Dan, menurut Robbins (1991), kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi
sekelompok anggota agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Sumber dari
pengaruh tersebut dapat diperoleh secara formal.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan
pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat
pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang
sering disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Selanjutnya, gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh
dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh
bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari
falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari perilaku seseorang. Gaya
kepemimpinan yang menunjukkan secara langsung maupun tidak langsung, tentang
keyakinan seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya. Artiya, gaya
kepemimpinan adalah perilaku dan strategi sebagai hasil kombinasi dari
falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang sering diterapkan seorang pemimpin
ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.[3]
Kepemimpinan mempunyai fungsi
tertentu yang berbeda satu sistem social dengan sistem social lainnya. Secara
umum kepemimpinan mempunyai pola dasar yang sama, yaitu :
1.
Menciptakan Visi
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menciptakan visi. Visi
adalah apa yang diimpikan, keadaan masyarakat yang dicita-citakan, sesuatu yang
ingin dicapai oleh pemimpin dan para pengikutnya dimasa yang akan datang.
2.
Mengembangkan Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah norma, nilai dan asumsi dikembangkan oleh
pemimpin organisasi dan diajarkan kepada para anggota baru serta diterapkan
dalam perilaku organisasi mereka, oleh karena itu pemimpin harus mengembangkan
budaya organisasi.
3.
Menciptakan Sinergi
Tugas penting seorang pemimpin adalah mempersatukan
para pengikut dan menggerakkan mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Mereka
direkrut dengan tujuan untuk ikut serta merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi secara maksimal kepada organisasi dalam kesatuan tujuan dan gerak
kearah tujuan organisasi.
4.
Menciptakan Perubahan
Pemimpin merupakan agen perubahan yang berupaya
menciptakan perubahan secara terus-menerus. Perubahan merupakan perbedaan dari
waktu ke waktu (masa lalu menuju masa depan).
5.
Memotivasi Para Pengikut
Fungsi dan tugas pemimpin dlh memotivasi diri sendiri dan para
pengikutnya. Memotivasi para pengikut merupak upaya yang memerlukan pemikran
yang sistematis mengenai keadaan para pengikut dan teknik motivasi yang
digunakan.
6.
Manajer Konflik
Pemimpin harus memimpin para pengikutnya yang mempunyai latar belakang,
ras, agama, pendidikan, jenis kelamin, budaya, dll. Keaadaan ini dapat
menimbulkan konflik jika pemimpin tidak mampu mempersatukannya.[4]
B.
Tipe Kepemimpinan
Terdapat beberapa tipe kepemimpinan, sebagai berikut :
1. Tipe Kepemimpinan Kharismatik
Dalam
kepemimpinan karismatik memiliki energi, daya tarik, dan pembawaan yang luar
biasa untuk memengaruhi orang lain sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat
besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang pun
orang tidak mengetahui benar sebab-sebabnya seseorang memeiliki karisma besar.
Dia dianggap mempunyai kekuatan gaib (supranatural power) dan
kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia
yang Mahakuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan
teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan
pengaruh dan daya tarik yang teramat besar.
2. Tipe Kepemimpinan Paternalistis
Tipe
kepemimpinan paternalistis adalah tipe kepemimpinan kebapakan, dengan
sifat-sifat antara lain :
a. Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak/belum dewasa, atau anak-anak sendiri yang perlu dikembangkan.
b. Dia bersikap perlu melindungi (overly protective).
c. Jarang dia memberikan kesempatan pada bawahan untuk
mengambil keputusan sendiri.
d. Dia hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk berinisiatif.
e. Dia tida memberikan atau hampir tidak pernah memberikan
kesempatan pada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya
kreativitas mereka.
f. Selalu bersikap maha-tahu dan maha-benar.
3. Tipe Kepemimpinan Militeristis
Tipe ini
sifatnya “sok” kemiliteran. Hanya saja gaya luaran saja yang mencontoh gaya
militer. Akan tetapi, jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan
tipe kepemimpinan otoriter. Hendaknya, dipahami bahwa tipe kepemimpinan
militeristis itu berbeda sekali dengan kepemimpinan organisasi militer.
Sifat-sifat kepemimpinan miteristis antara lain;
a. Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando terhadap
bawahannya keras sangat otoriter kaku dan sering kurang bijaksana.
b. Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
c. Menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual, dan
tanda-tanda kebesaran berlebihan.
d. Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya
(disiplin kadaver/mayat)
e. Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan dari
bawahannya.
f. Komunikasi hanya berlangsung searah saja.[5]
4. Tipe Kepemimpinan Outokratis
Tipe
kepemimpinan autokrasi, yaitu pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap
anggota kelompoknya. Pemimpin autokrasi adalah pemimpin yang memiliki wewenang
(authority) dari suatu sumber (misalnya, karena posisinya), pengetahuan,
kekuatan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan ataupun menghukum.
Pemimpin yang autokrasi menggunakan otoritasnya sebagai pegangan atau hanya
sebagai alat agar segala sesuatunya dapat diselesaikan.
Ciri-ciri pemimpin yang autokrasi di antaranya:
a. Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
b. Mengindentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
c. Menganggap bawahan hanya sebagai alat
d. Tidak menerima kritik, saran dan pendapat
e. Bergantung pada kekuasaan formalnya
f. Menggunakan approach yang mengandung unsur paksaan
dan bersifat menghukum.[6]
5. Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe
kepemimpinan Laissez Faire ini, sang pemimpin praktis tidak memimpin dia membiarkan
kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak beradaptasi
sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab
harus dilakukan oleh bawahan. Dia merupakan pemimpin simbol dan biasanya tidak
memiliki keterampilan teknis sebab posisinya sebagai direktur atau pemimpin
(ketua dewan, komandan, kepala). Biasanya diperolehnya melalui penyogokan,
suapan, atau sistem nepotisme.
6. Tipe Kepemimpinan Populitis
Profesor
Peter Worsley dalam bukunya The Third World mendefenisikan kepemimpinan
populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat,
misalnya Soekarno dengan ideologi marhaenisme-nya, yang menekankan masalah
kesatuan nasional, nasionalisme, dan sikap yang berhati-hati terhadap
kolonisme, penindasan, pengisapan, serta penguasaan oleh kekuatan-kekuatan
asing (luar negeri).
Kepemimpinan
popularitas ini berpegang teguh kepada nilai-nilai masyarakat yang tradisional.
Juga, kurang memercayai dukungan kekuatan serta bantuan utang-utang luar negeri
(asing). Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan (kembali)
nasionalisme. Oleh Profesor S. N Einsentadt, populisme erat dikaitkan dengan
modernitas tradisional.
7. Tipe Kepemimpinan Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan
tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administratif secara efektif. Sedangkan, para pemimpinnya terdiri dari
teknokrat dan administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan
pembangunan. Dengan demikian, dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi
yang efisien untuk memerintah, yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada
khususnya dan usaha pembangunan pada umumnya. Dengan demikian, administratif
ini, diharapkan adanya perkembangan teknis, yaitu teknologi, industri, manajemen
modern, dan perkembangan sosial di tengah masyarakat.
8. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan
Demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien
kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan,
dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan
kerja sama yang baik. Kekuatan kemepemimpinan demokratis ini bkan terletak
pada person atau individu pemimpin,
melainkan kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap kelompok.
Kepemimpinan
Demokratis menghargai potensi setiap individu maupun mendengarkan nasihat dan
sugesti bawahan. Juga, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan
bidangnya masing-masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif
mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis sering
disebut sebagai kepemimpinan gorup developer.[7]
C. Gaya Kepemimpinan
Gaya artinya
sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok gerak gerik yang bagus, kekuatan,
kesanggupan untuk berbuat baik. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan
ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi
tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku
dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh pemimpin.
Gaya
kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang
tampak maupun tidak tampak oleh bawahannya.Gaya kepemimpinan menggambarkan
kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang
mendasari perilaku seseorang.Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara
langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan terhadap
bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai
hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yangsering
diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.
Sehingga gaya
kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan
produktivitas, kepuasan kerja, pertumbuhan, dan mudah menyesuaikan dengan
segala situasi.Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasi tipe
kepemimpina. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu yang
mementingkan pelaksanaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang
mementingkan hasil yang dapat dicapai.
Menurut firman
Allah dalam surah Al-maidah (5) : ayat 48 kepemimpinan ini tidak sesuai dan
bahkan sangat dikutuk ;
فَاحكُمْ بينَهُمْ بِمَآاَنْزَللهُ
ولاَتَتَّبِعْ اَهوآءهُمْ عَمَّاجَآءَكَ مِنَ الحَقِّ........................................
Maka hendaklah
engkau menghukum menurut perintah (hukum) Allah.Janganlah engkau ikuti hawa
nafsu mereka, dengan memungkiri kebenaran yang engkau terima dari Allah (Al-maidah
ayat 48).
Dan firman
Allah dalam surah shad (38) ayat 26 senantiasa memerintahkan untuk selalu
mengambil keputusan dan bertindak secara benar, tidak ceroboh, tidak menuruti
hawa nafsu.
...................فَاحكُمْ بينَ النّاسِ بِا
لحَقِّ ولاَتتَّبِعِ الهَوى فَيُضِلَّكَ عنْ سَبِيل اللّهِ...................
Maka hendaklah
engkau menghukum manusia itu dengan adil dan jangan menurutkan hawa nafsu
karena menyesatkan engkau dari jalan Allah.(QS Shad ayat 26)[8]
Adapun
macam-macam gaya kepemimpinan
1.
Gaya Kepemimpinan Kontinum
Gaya kepemimpinan terkategori dalam gaya kepemimpinan klasik yang
diperkenalkan oleh Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt. Keduanya menggambarkan
gagasannya dalam sebuah gambar yang memiliki dua bidang pengaruh yang ekstrim.
Bidang pertama adalah pengaruh pimpinan dan bidang kedua adalah kebebasan bawahan.
Pada bidang pertama, pemimpin menggunakan
otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya, sedangkan pada bidang kedua, pemimpin
menunjukkan gaya yang demokratis. Kedua bidang pengaruh ini dpengaruhi dalam
hubungannya kalau pemimpin melakukan aktivitas pembuatan keputusan. Ada tujuh
model gaya pembuatan keputusan yang dilakukan pemimpin.
a.
Pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan
kepada bawahannya. Model in terlihat bahwa otoritas yang dipergunakan atasan
terlalu banyak sedangkan daerah kebebasan bawahan sempit sekali.
b. Pemimpin menjual keputusan.
Dalam hal ini, pemimpin masih terlihat banyak menggunkan otoritas yang ada
padanya, sehingga persis dengan model pertama. Bahawan disini belum banyak
terlibat dalam pembuatan keputusan.
c. Pemimpin memberikan
pemikiran-pemikiran atau ide-ide dan mengundang pertanyaan-pertanyaan. Dalam
model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan, dibatasinya penggunakan
otoritasnya dan diberikan kesempatan bawahan untuk mengajukan
pertanyaan-pertanyaan. Bahwan sudah sedikit terlibat dalam rangka pembuatan
keputusan.
d.
Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara
yang kemungkinan dapat diubah. Bawahan sudah mulai banyak terlibat dalam rangka
pembuatan keputusan, sementara otoritas pemimpin sudah mulai dikurangi
penggunaannya.
e.
Pemimpin memberikan persoalan-persoalan, meminta
saran-saran, dan membuat keputusan. Model ini sudah jelas, otoritas pimpinan
dipergunakan sedikit mungkin, sebaliknya kebebasan bawahan dalam partisipasi
membuat keputusan sudah banyak dipergunakan.
f.
Pemimpin merumuskan batas-batasnya, dan meminta
kelompok bawahan untuk membuat keputusan. Partisipasi bawahan dalam kesempatan
ini leibh besar dibandingkan dalam model keloma di atas.
g.
Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan
fungsi-fugnsinya dalam batas-batas yagn telah dirumuskan oleh pemimpin. Model
ini terletak pada titik ekstrim penggunaan kebebasan bawahan, adapun titik
ekstrim penggunaan otortias pada model nomor satu diatas.
2.
Gaya Kepemimpinan Managerial Grid
Managerial Grid merupakan salah satu gaya kepemiminan
yang terkenal untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam
manajemen. Gaya ini dirumuskan dan diperkenalkan oleh Robert R. Blake dan Jane
S. Managerial Grid menekankan bagaimana manajer memikirkan produksi dan
hubungan manajer serta memikirkan produksi dan hubungan kerja dengan
manusianya. Bukannya ditekankan pada berapa banyak produksi harus dihasilkan,
dan berapa banyak ia harus berhubungan dengan bawahan.
Menurut Blaku dan Mouton, terdapat empat gaya
kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem, sedangkan lainnya
hanya satu gaya yang dikatakan berada ditengah-tengah gaya ekstrem tersebut.
Pada Grid 1.1, Improvership
Management (Manajemen Miskin). Pada grid ini, manajer sedikit sekali
usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengannya, dan produksi yang
seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manajer dalam
grid ini menganggap dirinya sebagai perantara yang hanya mengkomunikasikan
informasi dari atasan kepada bawahan.
Pada Grid 9.9, Team
Managemen (Manajemen Tim). Pada grid ini, manajer mempunyai rasa tanggung
jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksi maupun orang-orang yang
bekerja dengannya. Dia mencoba untuk merencanakan semua usaahanya dengan
senantiasa memikirkan dedikasinya pada produksi dan nasib orang-orang yang
bekerja dalam organisasinya. Manajer yang termasuk dalam Grid ini dikatakan
sebagai manajer Tim yang riil (the real team manajer).
Dia mampu memadukan kebutuhan-kebutuhan produksi dengan kebutuhan orang-orang
secara individu.
Pada Grid 1.9, Country Club
Management (Manajemen klub sukaria). Pada grid ini, manajer mempunyai rasa
tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dalam
organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi rendah. Manajer seperti
ini dinamakan pemimpin klub (The country club management). Manajer ini
berusaha menciptakan suasana lingkungan yang semua orang bisa bekerja rileks,
bersahabat dan bahagia dalam organisasinya.
Pada Grid 9.1, Autority
Compliance (menghasilkan wewenang). Pada grid ini, manajer disebut sebagai
manajer yang menjalankan tugas secara otokratis (autocratic task managers).
Manajer semacam ini hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi
pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya
pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya.
Pada Grid 5.5, Middle of the road
Management (Manajemen di tengah berjalan). Pada grid ini, Manajer
mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang. Dia
berusaha menciptakan dan membina moral orang-orang yang bekerja dalam
organisasi yang dipimpinnya, dan produksi dalam tingkat yang memadai, tidak
terlampau mencolok. Dia tidak menciptakan target yang tinggi sehingga sulit
dicapai, dan berbaik hati mendorong orang-orang untuk bekerja lebih baik.
3.
Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi Reddin
Gaya kepemimpinan Tiga Dimensi diperkenalkan oleh
William J. Reddin, seorang professor dan konsultan dari Kanada. Redin
merumuskan tiga gaya efektivitas kepemimpinan dalam modelnya, sehingga model
ini dikenal dengan Gaya Kepemimpnan Tiga Dimensi Reddin. Dalam modelnya, Reddin
menggambarkan tiga kotak sebagai pembeda tiga dimensi kepemimpinan. Kotak
ditengah menggambarkan gaya dasar dari kepemimpinan seseorang. Sementara kotak
ditengah yang ditarik ke atas dan kebawah menggambarkan gaya efektif dan tidak
efektif dari seorang pemimpin.
Pada kotak atas, terdapat
empat gaya kepemimpinan efektif, yaitu:
a.
Eksekutif. Gaya ini banyak memberikan perhatian pada
tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya
ini disebut sebagai motivator yang baik, mau menetapkan standar kerja yang
tinggi, berkehendak mengenal perbedaan diantara diantara individu, dan
berkeinginan menggunakan tim kerja dalam manajemen.
b.
Pecinta pengembangan (developer). Gaya ini memberikan
perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang minimum
terhadap tugas-tugas pekerjaan. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini
mempunyai kepercayaan yang implisit terhadap orang-orang yang bekerja dalam
organisasinya, dan sangat memperhatikan pengembangan mereka sebagai individu.
c.
Otokratis yang baik (Benevolent autocrat),
Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian
minimum terhadap hubungan kerja. Manajer ini mengetahui secara tepat apa yang
ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan
ketidakseganan di pihak lain.
d.
Birokrat. Gaya ini memberikan perhatian yang minimum
baik terhadap tugas maupun hubungan kerja. Manajer ini sangat tertarik pada
peraturan-peraturan dan menginginkan peraturan tersebut dipelihara serta
melakukan control situasi secara teliti.
Sementara itu, pada kotak
paling bawah, terdapat empat Gaya Kepemimpinan yang tidak efektif, yaitu:
a.
Pencinta kompromi (compromiser). Gaya ini
memberikan perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam suatu
situasi yang menekankan pada kompromi. Manajer seperti ini merupakan pembuat
keputusan yang tidak bagus karena banyak tekanan yang mempengaruhinya.
b.
Missionari. Gaya ini memberikan penekanan yang maksimum
pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian minimum
terhadap tugas dan perilaku yang tidak sesuai. Manajer semacam ini hanya
menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.
c. Otokrat.Gaya ini memberikan perhatian
maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu
prilaku yang tidak sesuai. Manajer seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada
orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang
segera selesai.
d. Deserter (Lain dari tugas). Gaya ini
sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan
kerja. Dalam situasi tertentu gaya ini tidak begitu terpuji, karena manajer
seperti ini menunjukkan sikap positif dan tidak mau ikut campur secara aktif
dan positif.
4.
Gaya Kepemimpinan Empat Sistem Manajemen Likert
Gaya Empat Sistem Manajemen Likert diperkenalkan
oleh Rensis Likert. Setelah melalui suatu penelitian yang panjang, Likert mengembangkan empat sistem sistem manajemen.
Menurut Likert pemimpin dapat berhasil jika bergaya partisipative
management. Gaya ini menetapkan bahwa keberhasilan pemimpin adalah
jika berorientasi pada bawahan, dan mendasarkan pada komunikasi. Selain itu
semua pihak dalam organisasi bawahan maupun pemimpin menerapkan hubungan atau
tata hubungan yang mendukung (supportive relationship).
Likert merancang empat sistem kepemimpinan dalam
manajemen, yaitu :
a.
Sistem 1 (Exploitative Authoritative)
Manajer sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada
bawahannya, suka mengeksploitasi bawahan, dan bersikap paternalistic. Pemimpin
dalam system ini hanya mau memperhatikan komunikasi yang turun ke bawah, dan
hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja.
b.
Sistem 2 (Otokratis yang baik hati/Benevolent
autoritative)
Manajernya mempunyai kepercayaan yang terselubung, percaya pada bawahan,
memotivasi, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas. Bawahan merasa tidak
bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya
dengan atasannya.
c.
Sistem 3 (manajer Konsultatif)
Manajer mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan biasanya kalau ia
membutuhkan informasi, ide atau pendapat bawahan Bawahan disini merasa sedikit
bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama
atasannya.
d.
Sistem 4 (Pemimpin yang memiliki
gaya kelompok berpartisipatif atau partisipative group)
Manajer mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahannya. Dalam
setiap persoalan selalu mengandalkan untukmendapatkan ide-ide dan pendapat dari
bawahan dan mempunyai niatan untuk menggunakan pendapat bawahan secara
konstruktif. Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan
sesuatu yang bertalian dengan tugasnya bersama atasannya.[9]
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Tipe mengandung
arti model, contoh dan corak. Sedangkan Gaya
artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik bagus,
kekuatan, dan kesanggupan untuk berbuat baik.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan
pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat
pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang
sering disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Kepemimpinan mempunyai fungsi
yaitu : menciptakan visi,
mengembangkan
budaya organisasi, menciptakan sinergi, menciptakan perubahan, memotivasi para pengikut,
manajer konflik.
Terdapat beberapa tipe kepemimpinan, sebagai berikut :
tipe kepemimpinan kharismatik, tipe kepemimpinan paternalistik, tipe kepemimpinan
militeristis, tipe kepmimpinan outokratis,
tipe kepemimpinan laissez faire, tipe kepemimpinan populitis, tipe
kepemimpinan administratif atau eksekutif, tipe kepemimpinan demokratis.
macam-macam
gaya kepemimpinan yaitu: gaya kepemimpinan kontinum, gaya kepemimpinan managerial grid, gaya
kepemimpinan tiga dimensi reddin, gaya kepemimpinan empat sistem manajemen
likert.
DAFTAR
PUSTAKA
Kamus Besar Bahasa Indonesia
Handoko, T. Hani. 2016 Manajemen,
Yogyakarta: BPFE
Kurniadin,
Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen
Pendidikan : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media
Wirawan.
2014. Kepemimpinan :Teori, Psikologi,
Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitia. Depok: PT. Rajagrafindo
Persada
Saebadi, Ahmad, Beni dan Sumantri. 2014. Kepemimpinan. Bandung: Pustaka Setia
Rivai,
Veithzal & Mulyadi, Deddy. 2013. Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Thoha, Miftah.
2015. Organisasi konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta:PT RajaGrafindo
Persada
[3] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen
Pendidikan : Konsep &
Prinsip Pengelolaan Pendidikan,(Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2016) Hal. 289-301
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali. Manajemen
Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan,(Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2016). Hal. 303.
[7] Didin Kurniadin & Imam Machali. Manajemen
Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Hal. 305-306.
[8] Veithzal Rivai & Deddy Mulyadi, Kepemimpinan
dan Perilaku Organisasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013) Hal 42-43
