MAKALAH
SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN
BECNHMARKING DALAM PENDIDIKAN
DOSEN PEMBIMBING:
Abdul Goffar, S.Pd.I, M.Pd.I
Kelompok : 7
Oleh:
Nur Aini (201791200027)
Rosyida (201791200033)
Titin Wulandari (201791200042)
Wardatul Jannah (201791200064)
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AT-TAQWA BONDOWOSO
FAKULTAS
TARBIYAH
PROGRAM
STUDI MPI
2019/2020
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Setiap negara mengupayakan agar pendidikan di
negaranya berkualitas. Usaha ini bukan tanpa sebuah maksud, melainkan untuk
mempersiapkan kader- kader bangsa yang berkualitas. Penerus bangsa berkualitas
sangat diperlukan untuk menjaga harkat dan martabat sebuah negara. Maka,
penjaminan mutu pendidikan berstandar nasional menjadi sebuah kebutuhan suatu
negara.
Indonesia, dalam menjamin mutu pendidikan nasional
telah berupaya merumuskannya yang tertuang dalam peraturan pemerintah Nomor 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 4 yang menyatakan bahwa,
Standar nasional pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat. Pemerintah dengan memberikan penjaminan mutu pendidikan
nasional diharapkan dapat meningkatkan mutu pendidikan Nasional (Depdiknas,
2005).
Dalam sebuah perusahaan penjaminan mutu suatu produk
atau layanan sering dilakukan. Penjaminan ini diberikan karena mutu dari produk
yang dihasilkan atau layanan yang diberikan sangat mungkin tidak sesuai (lebih
rendah) dari standar minimal yang ditentukan. Teori ini, juga berlaku dalam
dunia pendidikan. lembaga pendidikan yang memberikan pelayanan pendidikan dalam
perjalanannya sangat mungkin out put (lulusannya) tidak sesuai dengan standar
minimal yang telah dirumuskan. Maka penjaminan mutu menjadi sebuah keharusan
untuk memberikan kepuasan kepada pelanggan. Salah satu upaya penjaminan mutu
dalam lembaga pendidikan yaitu dengan melakukan benchmarking (Zaedun, 2011).
(Cahyana, 2010) mengemukakan bahwa dengan
menggunakan Benchmarking dapat melakukan pembandingan keunggulan bersaing, dan
hasil pembandingan ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menciptakan
keunggulan bersaing perusahaan itu sendiri. Berdasar argument tersebut dapat
disimpulkan bahwa benchmarking merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan kualitas suatu perusahaan yang menghasilkan
produk ataupun memberikan layanan dengan cara membandingkan standar mutu yang
telah dirumuskan dengan standar mutu perusahaan/ lembaga lain.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
Pengertian Benchmarking?
2. Bagaimana Asas
dan Tujuan Benchmarking?
3.
Bagaimana Proses
Benchmarking?
4.
Bagaimana
Manfaat Benchmarking?
5.
Apa Saja
Jenis-jesis Benchmarking?
C.
Tujuan
Masalah
1. Mengetahui
Pengertian Benchmarking
2. Mengetahui
Asas dan Tujuan Benchmarking
3. Mengetahui
Proses Benchmarking
4. Mengetahui
Manfaat Benchmarking
5. Mengetahui
Jenis-jesis Benchmarking
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Benchmarking
Patok duga (benchmarking)
muncul pada awal 1980, tetapi baru tahun 1990 mulai populer sebagai alat untuk
meningkatkan kinerja perusahaan. Patok duga merupakan proses belajar secara
sisitimatika dan terus-menerus untuk menganalisis tata cara kerja terbaik untuk
menciptakan dan mencapai tujuan dengan potensi kelas dunia, dengan
membandingkan setiap bagian dari suatu perusahaan dengan perusahaan pesaing
yang paling unggul dalam kelas dunia.[1]
Pada awalnya, benchmarking
hanya dikenal di dunia bisnis. namun, saat ini benchmarking telah diadopsi oleh berbagai lembaga pendidikan di
luar negeri, sebagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Definisi benchmarking baik di bidang bisnis
maupun pendidikan Pada hakikatnya adalah sama.[2]
Adpun istilah “benchmarking”
berasal dari kata “benchmark”. Benchmark berarti tolak ukur, patokan,
acuan, referensi atau standar pengukuran untuk perbandingan. Benchmark dapat diartikan sebagai suatu
ukuran kinerja yang bersifat tetap sesuai dengan kriteria yang jelas dari
suatuorganisasi unggulan terkait dengan kegiatan tertentu.
Menurut Andersen, benchmarking adalah proses pengukuran secara berkesinambungan dan
membandingkan satu atau lebih bisnis proses perusahaan dengan perusahaan yang
terbaik di proses bisnis tersebut, untuk mendapatkan informasi yang dapat
membantu perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengimplementasikan peningkatan
proses bisnis (paulus & Devie, 2013: 42).
Ruswidiono (201:8) menyatakan bahwa benchmarking adalah pendekatan yang
secara ters-menerus mengukur dan membandingkan produk barang dan jasa, proses-proses
dan praktik-praktiknya terhadap standar ketat yang ditetapkan oleh para pesaing
atau mereka yang dianggap unggul dalam bidang mereka.[3]
Berdasarkan definisi-definisi tersebut maka dapat
diketahui bahwa benchmarking merupakan
proses belajar kepada orang lain. Benchmarking
merupakan proses belajar strategis secara sistematis, terukur dan
terus-menerus dengan cara mengidentifikasi, memahami, mengadaptasi kunci sukses
dan mengimplementasikan solusi berdasarkan pengalaman-pengalaman terbaik untuk
mencapai kinerja kelas dunia. Di dalam proses belajar ini terdapat kegiatan
mengukur dan membandingkan segala aspek, baik input, proses maupun output.
Di dalam pendidikan, (Jens, 2007) menyatakan bahwa Benchmarking is a systematic and continuous
measurement process: aprocess of continuously measuring and comparing an
organization’s business processes against business process leaders anywhere in
the world to gain information which will help the organization take action
toimprove it performance. (Benchmarking
adalah proses pengukuran yang sistematis dan berkelanjutan: proses pengukuran
terus-menerus dan proses bisnis organisasi terhadap proses bisnis membandingkan
pemimpin dimanapun di dunia untuk mendapatkan informasi yang akan membantu
organisasi mengambil tindakan untuk meningkatkan kijerjanya).
Benchmarking
adalah suatu kegiatan untuk menetapkan standard dan target yang akan dicapai
dalam suatu periode tertentu. Benchmarking
dapat diaplikasikan untuk individu, kelompok, organisasi ataupun lembaga. Ada
sebagian orang menjelaskan benchmarking
sebagai uji standar mutu. Maksudnya adalah menguji atau membandingkan standar
mutu yang telah ditetapkan terhadap standar mutu pihak lain, sehingga juga
muncul istilah rujuk mutu. Secara umum benchmarking digunakan untuk mengatur
dan meningkatkan kualitas pendidikan dan standar akademik (Ruswidiono, 2011)
Goetsch dan Davis mendefinisikannya sebagai proses pembanding dan pengukuran
operasi atau proses internal organisasi terhadap mereka yang terbaik dalam
kelasnya, baik dari dalam maupun dari luar institusi (Tjitono & Diana,
2003)
Berdasar berbagai definisi diatas jika dicermati
memiliki banyak persamaan yaitu benchmarking
merupakan salah satu cara untuk menemukan kunci atau rahasia sukses dan
kemudian mengadaptasi dan memperbaikinya agar dapat diterapkan pada institusi
yang melaksanakan benchmarking tersebut.
Benchmarking merupakan proses belajar
yang berlangsung secara sistematis, terus menerus, dan terbuka. Berbeda dengan
penjiplakan (copywriting) yang
dilakukan secara diam-diam, kegiatan benchmarking
merupakan tindakan legal dan tidak melanggar hukum.[4]
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa benchmarking dalam
Pendidikan adalah suatu aktivitas dimana suatu Lembaga Pendidikan mengadakan
evaluasi diri secara kontinu, dengan membandingkan dirinya dengan institusi
lain yang terbaik, sehingga lembaga tersebut dapat mengidentifikasi, mengadopsi
dan mengaplikasikan praktik-praktik yang lebih baik secara signifikan. Dengan
kata lain, praktik-praktik yang telah dilakukan oleh lembaga terbaik tersebut
digunakan sebagai patokan (benchmark
atau patok duga) atau standar kinerja normatif oleh lembaga pendidikan yang ingin
memperbaikinya.
B. Asas
dan Tujuan Benchmarking Dalam
Pendidikan
Patok duga (Benchmarking)
dalam perusahaan, mengandung beberapa asas (Pawitra, 1994: 12), ialah:
1.Patok duga merupakan
kiat untuk mengetahui bagaimana dan mengapa suatu perusahaan dapat memimpin atau
menguasai pasar.
2.Fokus kegiatan patok
duga diarahkan pada praktik terbaik dari perusahaan lain.
3.Praktik patok duga
berlangsung secara sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya,
misalnya TQM, cooperate reeingeneering, analisis
pesaing, dan lain-lain.
4.Keterlibatan semua
pihak, pemilihan yang tepat tentang apa yang dipatok duga, pemahaman organisasi,
pemilikan mitra yang cocok, dan kemampuan melaksanakan apa yang ditemukan dalam
praktik bisnis.[5]
Tujuan utama benchmarking adalah untuk menemukan
kunci atau rahasia sukses dari sebuah institusi pendidikan yang terbaik
dikelasnya, dan kemudian mengadaptasi serta memperbaikinya untuk diterapkan
pada institusi yang melaksanakan benchmarking
tersebut, diberbagai bidang. Benchmarking
tidak sekedar mengumpulkan data, melainkan yang lebih penting adalah apa
rahasia dibalik pencapaian kinerja yang terlihat dalam data yang diperoleh. Benchmarking membutukan kesiapan Fisik
dan Mental. Secara Fisik karena dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan
teknologi yang matang untuk melakukan benchmarking
secara akurat. Sedangkan secara Mental adalah bahwa pihak manajemen pendidikan
harus bersiap diri bila setelah dibandingkan dengan pesaing, ternyata mereka
menemukan kesenjangan yang cukup tinggi (Rahman, 2013).
Menurut (Suryana,
2005), terdapat beberapa asas dari benchmarking
dalam pendidikan, yaitu: pertama, benchmarking merupakan kiat untuk
mengetahui tentang bagimana dan mengapa suatu institusi pendidikan dapat
melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya.
Kedua, fokus dari kegiatan benchmarking diarahkan pada praktik
terbaik dari institusi lainnya. Ketiga,
praktik benchmarking berlangsung
secara sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya, misalnya TQM, corporate reengineering analisis
pesaing, dan lain-lain. Terakhir,
kegiatan benchmarking perlu
keterlibatan dari semua pihak yang berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang
apa yang akan di-benchmarking-kan,
pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang cocok, dan
kemampuan untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktiknya.[6]
C.Proses
Benchmarking Dalam Pendidikan
Andersen dan
Petersen (Paulus & Devie, 2013:42), mengemukakan model tahapan benchmarking yang dikenal dengan istilah
benchmarking Wheel. Dalam benchmarking Wheel memuat lima tahap,
yakni Plan, Search, Observe, Analyze, dan
Adapt. Dwi Kartisari (2010)
menyatakan ada beberapa tahapan dalam proses benchmarking, yaitu menentukan apa yang akan di benchmark, identifikasikan pasangan benchmarking, mengumpulkan informasi, menganalisis data dan
mengimplementasikan. Menurut Ruswidiono (2011:11), pada umunya proses benchmarking terdiri atas 6 langkah,
yakni menentukan apa yang akan di benchmark,
menentukan apa yang akan diukur, menentukan kepada siapa akan dilakukan benchmark, pengumpulan data atau
kunjungan tim yang dibentuk, menganalisis data dan merumuskan tujuan serta
rencana tindakan.[7]
Adapun proses benchmarking dalam pendidikan, meliputi
langkah-langkah sebagai berikut:
1.evaluasi
diri (self-assessment). Selfassessment sangat penting dalam
kegiatan apapun karena dari sinilah akan dapat dirumuskan suatu tindakan yang
dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi atau memperbaiki keadaan. hal-hal yang perlu dikaji minimal menyangkut
Sembilan komponen evaluasi diri yang telah digariskan oleh Badan Akreditasi
Sekolah (Badan Akreditasi Sekolah Nasional, 2004), yang meliputi:
a. kurikulum dan pembelajaran
b.
administrasi dan manajemen sekolah
c. organisasi kelembagaan sekolah
d. sarana dan prasarana
e. ketenagaan
f. pembiayaan
g.
peserta didik
h.
peran serta masyarakat
i. lingkungan dan budaya sekolah.
2.Perbandingan
(comparison), yaitu dengan mengidentifikasi organisasi (sekolah) yang patut
dicontoh, serta menentukan organisasi mana yang akan dijadikan partner dalam
melakukan benchmarking.
3.Analisis
dan adaptasi, yaitu dengan melakukan refleksi mengapa organisasi (sekolah) anda
memperoleh hasil yang kurang baik, sementara organisasi (sekolah) lain hasilnya
lebih baik.
4.Rencanakan
dan implementasikan, yakni dengan memikirkan secara cermat tindakan apa yang
perlu dilakukan, komunikasikan (sosialisasikan) alternatifalternatif terbaik
kepada semua warga sekolah, galang dukungan, dan lakukan tindakan yang telah
dirancang untuk mencapai perbaikan.
5.Umpan
balik dan evaluasi, yaitu dengan mengamati dan menilai secara cermat apa yang
telah dilakukan dan hasil yang telah dapat dicapai.[8]
D.Manfaat
Benchmarking Dalam Pendidikan
Benchmarking mengisyaratkan
makna bahwa belajar dari yang terbaik merupakan langkah awal untuk menjadi yang
terbaik. Benchamarking mengajak
pelakunya untuk membangun budaya berpikir tentang kualitas, introspeksi diri,
dan rasa tanggung jawab untuk menyempurnakan diri. Konsep belajar ini akan
membantu pencapaian mutu secara optimal melalui proses perbaikan.
Benchmarking menekankan pemahaman
proses yang mendasari kegiatan yang dapat membantu terjadinya peningkatan
kinerja. Peningkatan kinerja dilakukan dengan
mengidentifikasi perubahan yang dapat dilakukan. Perubahan yang dimaksud
ialahmenyangkut apa yang dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Inilah
sarana untuk membangun rencana dan strategi dan organisasi kedepan. Benchmarking dapat dikatakan sebagai
suatu metode yang komprehensif, yang dapat meningkatkan kemampuan operasional
organisasi, menyoroti aspek yang perlu perbaikan dan mengarah pada penyusunan
rencana perbaikan.
Dengan adanya benchmarking
maka memungkinkan sekolah untuk belajar di luar. Dengan begitu, sekolah dapat
mengembangkan langkah-langkah yang relevan dengan konteks yang ada.
Selanjutnya, sekolah dapat menerapkan solusi untuk mengatsi
kekurangan-kekuranagan organisasi. Manfaat benchmarking bagi sekolah antara
lain adalah sebagai berikut :
1. Sekolah
dapat dianalisis sehingga dapat diketahui efesiensi dan efektifitas fungsi,
proses dan kinerja secara terinci.
2.Sekolah
dapat melihat hasil perbandingan dengan sekolah lain yang lebih unggul.
3. Sekolah
menjadi tahu peraktik-peraktik terbaik dari sekolah unggulan.
4.Sekolah
dapat mengetahui kekurangannya berdasarkan hasil identifikasinya.
5.Sekolah
dapat menyusun solusi alternatif untuk perbaikan dan pengembangan.
6.Sekolah
dapat mempercepat proses peningkatan mutu.
7.Sekolah
dapat memulai proses perbaikan secara terus-menerus sehingga sekolah dapat
mengejar ketertinggalan dengan sekolah lain.
8.Dapat
digunakan untuk melakukan perubahan budaya sekolah.[9]
Adapun, menurut (Jens, 2007) secara umum manfaat
yang diperoleh dari benchmarking
dapat dikelompokkan menjadi tiga. Pertama, perubahan budaya (Cultural Change) yaitu benchmarking memungkinkan lembaga
pendidikan untuk menetapkan kinerja baru yang lebih realisitis, selain itu
benchmarking juga berperan meyakinkan setiap pelanggan akan kredibilitas
target. Misal, mempertegas visi misi lembaga pendidikan tersebut. Kedua,
perbaikan kinerja (Performance
Improvement) yaitu, benchmarking membantu
lembaga pendidikan untuk mengetahui adanya kesenjangan tertentu dalam kinerja
untuk memilih proses yang akan diperbaiki. Ketiga, peningkatan kemampuan sumber
daya manusia (Human Resources) yaitu,
benchmarking memberikan dasar
pelatihan, berbagai pihak menyadari adanya kesenjangan antara apa yang mereka
kerjakan dengan apa yang dikerjakan orang lain di institusi lain. Keterlibatan
semua pihak dalam memecahkan permasalahan sehingga SDM mengalami peningkatan
kemampuan dan keterampilan. Apalagi sinergi antara kegiatan organisasi
ditingkatkan melalui kerjasama lintas fungsional.
E. Jenis-jenis
Benchmarking
Ada dua jenis
benchmarking, yaitu benchmarking internal
dan benchmarking eksternal. Benchmarking Internal upaya pembandingan
standar antar jurusan/fakultas/unit institusi. Internal benchmarking bisa dilakukan antar program studi dalam satu sekolah
tinggi atau anatar unit kerja/jurusan/prodi dalam satu sekolah tinggi itu
sendiri.
Benchmarking eksternal
adalah upaya pembandingan standar internal institusi terhadap standar eksternal
institusi lain. External benchmarking
bisa dilakukan terhadap lembaga atau perguruan tinggi lain, baik yang
menyangkut satu program studi tertentu ataupun unit kerja/jurusan tertentu,
baik dalam maupun luar negeri.
Dalam
pelaksanaannya/prakteknya, men
urut Hiam dan Schewe dalam (Rahman,
2013) dikenal empat jenis dasar dari benhmarking:
1. Benchmarking internal
yaitu pendekatan dilakukan dengan membandingkan operasi suatu bagian dengan
bagian internal lainnya dalam suatu organisasi, misal dibandingkan kinerja tiap devisi di satu
institusi pendidikan, dilakukan antara
departemen/divisi dalam satu institusi atau antar institusi dalam satu group
institusi.
2. Benchmarking
kompetitif yaitu pendekatan dilakukan dengan mengadakan perbandingan dengan
berbagai pesaing, misalnya membandingkan output lulusan kepada lulusan yang
dihasilkan pesaing dalam bidang yang sama.
3. Benchmarking
Fungsional yaitu pendekatan dengan diadakan perbandingan fungsi atau proses
dari institusi lain dari berbagai institusi yang ada, atau dengan kata lain
dilakukan perbandingan dengan institusi yang lebih luas.
4. Benchmarking
generik yaitu perbandingan pada proses fundamental yang cenderung sama di
setiap institusi. Misalnya memberi pelayanan pelanggan, dan pengembangan
strategi, maka dapat diadakan patok duga meskipun institusi itu berada di
bidang yang berbeda.[10]
Berdasarkan wilayah apa yang dibantingkan, benchmarking dapat dibedakan menjadi tiga:
1. Benchmarking proses
fokus pada proses kerja atau operasionalnya. Dalam kegiatan ini akan diketahui
bagaimana organisasi unggulan melakukan proses tertntu.
2. Benchmarking
kinerja fokus pada produk atau jasa, yaitu dengan membandingkan produk atau
jasa milik orang lain dengan produl atau jasa milik sendiri. Dalam kegiatan ini
dapat diketahui kesenjangan kinerja dan memberikan prioritas item tindakan
serta melakukan tindakan studi untuk menentukan metode perbaikan.
3. Benchmarking strategis
fokus untuk meneliti bagaimana organisasi bersaing menghadapi kompetitornya.
Hal-hal yang dipelajari ialah aspek-aspek fundamental dan strategis untuk
menjadi sukses di bidangnya. Benchmarking
ini cocok untuk organisasi dengan perspektif jangkan panjang.[11]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Benchmarking merupakan
proses belajar strategis secara sistematis, terukur dan terus-menerus dengan
cara mengidentifikasi, memahami, mengadaptasi kunci sukses dan mengimplementasikan solusi berdasarkan
pengalaman-pengalaman terbaik untuk mencapai kinerja kelas dunia. Di dalam
proses belajar ini terdapat kegiatan mengukur dan membandingkan segala aspek,
baik input, proses maupun output.
Adapun, benchmarking
dalam Pendidikan adalah suatu aktivitas dimana suatu Lembaga Pendidikan
mengadakan evaluasi diri secara kontinu, dengan membandingkan dirinya dengan
institusi lain yang terbaik, sehingga lembaga tersebut dapat mengidentifikasi,
mengadopsi dan mengaplikasikan praktik-praktik yang lebih baik secara
signifikan. Dengan kata lain, praktik-praktik yang telah dilakukan oleh lembaga
terbaik tersebut digunakan sebagai patokan (benchmark
atau patok duga) atau standar kinerja normatif oleh lembaga pendidikan yang
ingin memperbaikinya.
Tujuan utama benchmarking
adalah untuk menemukan kunci atau rahasia sukses dari sebuah institusi
pendidikan yang terbaik dikelasnya, dan kemudian mengadaptasi serta
memperbaikinya untuk diterapkan pada institusi yang melaksanakan benchmarking tersebut, diberbagai
bidang.
Asas dari benchmarking dalam pendidikan, yaitu: pertama, benchmarking merupakan kiat untuk mengetahui tentang bagimana dan
mengapa suatu institusi pendidikan dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara
lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. Kedua, fokus dari kegiatan benchmarking
diarahkan pada praktik terbaik dari institusi lainnya. Ketiga, praktik benchmarking berlangsung
secara sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya, misalnya TQM, corporate reengineering analisis
pesaing, dan lain-lain. Terakhir,
kegiatan benchmarking perlu
keterlibatan dari semua pihak yang berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang
apa yang akan di-benchmarking-kan,
pemahaman dari organisasi itu sendiri.
Adapun proses benchmarking
dalam pendidikan, meliputi: evaluasi diri (self-assessment),
Perbandingan (comparison), Analisis dan adaptasi, Rencanakan dan
implementasikan, umpan balik dan evaluasi.
secara umum manfaat yang diperoleh dari benchmarking dapat dikelompokkan menjadi
tiga. Pertama, perubahan budaya (Cultural
Change). Kedua, perbaikan kinerja (Performance
Improvement). Ketiga, peningkatan kemampuan sumber daya manusia (Human Resources).
Dalam pelaksanaannya
atau prakteknya, menurut Hiam dan Schewe dalam (Rahman, 2013) dikenal
empat jenis dasar dari benchmarking: benchmarking internal, benchmarking kompetitif, benchmarking Fungsional dan benchmarking generik.
Daftar
Pustaka
Nasution, M. Nur. 2015. Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality
Management). Bogor: Ghalia Indonesia.
Suluri. 2019. Benchmarking
Dalam Lembaga Pendidikan. Volume 3.
Barnawi & Arifin, M. 2017. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan: Teori dan Praktik. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media.
