MAKALAH
MODEL – MODEL PERENCANAAN PENDIDIKAN
Untuk
memenuhi
tugas
mata
kuliah Perencanaan Pendidikan
yang dibina oleh :
Abdul Haq As, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun oleh
:
1. Nurfadilah
2. Nabila Arifiyana
3. Nur
Aini
4. Ayu
Apriliana
SEMESTER 3
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
makalah Perencanaan Pendidikan yang berjudul “model-model perencanaan
pendidikan” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar..
Kami mengucapkan
terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyusun makalah ini.
Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap makalah ini
dapat menambah pengetahuan mengenai model-model perencanaan
pendidikan.
Kami
menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan,
oleh sebab itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
memperbaiki makalah ini. Mudah - mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya
khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.
Bondowoso, 7 November 2018
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................
i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................
1
B. Rumusan Masalah ....................................................................... 2
C. Tujuan dan Manfaat.....................................................................
2
BAB
II PEMBAHASAN............................................................................ 3
A. Model
Perencanaan Komprehensif..............................................
3
B. Model
Target Setting...................................................................
4
C. Model
Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya.................
6
BAB III.. PENUTUP………………………………………………………. 10
A. Kesimpulan.................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………… 11
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Perencanaan (planning) merupakan fungsi awal dari serangkaian
aktivitas manajemen dalam mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Sebelum
fungsi berikutnya yaitu organizing, actuating dan controlling. Menurut Anderson
dan Syafaruddin, perencanaan adalah pandangan masa depan dan menciptakan
kerangka kerja untuk mengarahkan tindakan seorang di masa depan.
Perencanaan pendidikan pada hakikatnya adalah proses pemilihan yang
sitematis, analisis yang rasional mengenai apa yang akan dilakukan, bagaimana
melakukannya, siapa pelaksanaannya dan kapan kegiatan dilaksanakan dalam rangka
meningkatkan mutu pendidikan lebih efektif dan efisien, sehingga proses pendidikan
itu dapat memenuhi tuntutan atau kebutuhan masyarakat. empat aspek yang
berkaitan dengan perencanaan pendidikan tersebut yaitu berhubungan dengan masa
depan, adanya seperangkat kegiatan, adanya proses yang sistematis, dan adanya
tujuan.
Perencanaan dalam dunia pendidikan, terutama dalam lembaga
pendidikan, memang sangatlah penting, sebab perencanaan tersebut kedepannya
akan berperan vital sebagai petunjuk dalam gerak langkah lembaga tersebut.
Namun demikian, model perencaanaan dalam sebuah lembaga pendidikan tentunya
akan sangat berbeda dengan perencanaan dalam sebuah perusahaan. Perusahaan yang
notabene berorientasi profit, tentu saja memproses benda mati, baik berupa
barang maupun jasa. Di lain pihak, lembaga pendidikan memproses manusia dengan
segala sifat-sifat kemanusiaannya yaitu hidup dan berkembang.
Perencanaan dalam sebuah lembaga pendidikan, tentunya tidak boleh
melenceng dari tujuan pendidikan itu sendiri, karena tujuan itulah yang
nantinya akan menjadi tolak penyusunan sebuah kerangka rencana. Agar sebuah
perencanaan dalam lembaga pendidikan tersebut tidak melenceng dari tujuan
pendidikan itu sendiri, kita harus menggunakan model - model perencanaan yang
sesuai dan tepat. Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas tentang
Model-model Perencanaan Pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan
Model Perencanaan Kompherenshif?
2.
Apa yang dimaksud dengan
Model Target Setting?
3.
Apa yang dimaksud dengan
Model Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya?
C.
Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui Model
Perencanaan Kompherensif.
2.
Untuk mengetahui Model
Perencanaan Target Setting.
3.
Untuk mengetahui Model
Perencanaan Costing (pembiayaan) dan Keefektifan Biaya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Model Perencanaan Komprehensif
Model ini digunakan
untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara
menyeluruh. Selain itu berfungsi juga sebagai pedoman dalam menguraikan
rencana-rencana yang lebih khusus ke arah tujuan yang lebih luas.[1]
1.
Keunggulan Model Perencanaan Komprehensif
a.
Keunggulan utama perencanaan komprehensif yaitu mencakup liputan yang luas
tentang berbagai elemen dan aspek perencanaan serta menampilkan berbagai
alternatif rencana yang mungkin dilaksanakan untuk mencapai tujuan (goals) dan
sasaran (objectives) perencanaan dengan melihat pada potensi dan kendala
yang ada.
b.
Memiliki citra holistik atau menyeluruh atas kemungkinan-kemungkinan yang
paling optimal.
c.
Meski mencakup liputan yang luas terkadang unsur penyederhanaan (simplicty
– reductionis) dari sistem entitas atau komunitas atau kesatuan yang
bersifat kompleks dan menyeluruh.
d.
Program-program yang disusun untuk dievaluasi dengan pendekatan “scientific
methods” dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak terlibat di dalam
proses perencanaan.
e.
Proses perencanaan tidak berjalan linier tetapi bersifat pengulangan (multiple
iteratif) dan siklikal yaitu adanya umpan balikan elaborasi lebih jauh
untuk tiap sub proses. Sehingga perencanaan komprehensif bersifat fleksibel
atau luwes terhadap kemungkinan perubahan yang terjadi di lingkungan
perencanaan.
f.
Dalam perencanaan
komprehensif ada keterlibatan publik (Public participation) sehingga
dapat mengurangi kekurangan kekurangan dari model perencanaan ini.
2.
Hambatan
dalam Pelaksanaan
Model Pembelajaran Komprehensif
Ada beberapa
hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan model pembelajaran komprehensif.
a.
Pertama, karena belum
biasa guru tidak langsung dapat melaksanakan model pembelajaran komprehensif
secara efektif, mereka membutuhkan penyesuaian atau latihan dalam pertemuan
pertama, tetapi pada pertemuan berikutnya dapat lebih efektif
b.
Kedua, karena belum biasa
para siswa juga membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan yang
baru. Guru dituntut untuk lebih meningkatkan disiplin belajar terutama kebiasaan siswa berbicara dan bekerja lebih efisien.
c.
Ketiga,
kegiatan-kegiatan kelompok yang
mengaktifkan siswa membutuhkan waktu
belajar yang relative lebih
lama. Masalah ini dapat diatasi dengan
meningkatkan efisiensi penggunaan
waktu, penentuan target sasaran
dan waktu untuk setiap kegiatan, pengawasan dan perintahuntuk segera mengakhiri
sesuatu kegiatan
dan berpindah ke kegiatan lainnya.
d.
Keempat,
adalah kelengkapan media dan
sumber. Masalah ini merupakan masalah
umum yang dihadapi oleh sekolah,
dapat diatasi dengan meningkatkan
kerjasama dengan unsur
pimpinan dan komite sekolah, dan
peningkatan upaya guru mengembangkan
sendiri media dan sumber belajar.[2]
B.
Model target setting
Model ini diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun
memperkirakan tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam
persiapannya, diperlukan model-model untuk menganalisis demografis dan proyeksi
penduduk. Model untuk memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar)
sekolah, dan model untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.[3]
1.
Prinsip Model Target Setting
a.
Perencanaan yang bersifat
Komprehensif, yaitu menyeluruh dalam melihat permasalahan pendidikan, setiap
aspek pendidikan mendapatkan perhatian dari pendidikan dasar sampai pendidikan
tinggi baik pendidikan formal maupun informal.
b.
Perencanaan pendidikan
bersifat Integral, yaitu perencanaan pendidikan terintegrasi secara menyeluruh
dalam system dan prosedur pengelolaan pendidikan .
c.
Perencanaan pendidikan
harus memperhatikan aspek-aspek kualitatif kuantitatif, yaitu kemajuan
pendidikan ditentukan oleh jumlah anak yang dilayani dalam satuan pendidikan,
output sesuai dengan kebutuhan pasar atau apakah dapat membuat individu
sejahtera.
d.
Perencanaan pendidikan
harus kontinyu, memperhatikan aspek keberlangsungan setrategi untuk
menyelesaikan persoalan pendidikan.
e.
Perencanaan pendidikan
berdasarkan efisiensi, yaitu biaya terbatas digunakan secara fokus dalam
pengelolaan dan seefisien mungkin.
2.
Model Perencanaan Target
Setting
Dalam penentuan
target ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan, yaitu:
a.
Target yang akan dicapai
realistis, merupakan dasar rencana yang sesungguhnya bukan tujuan yang kabur.
b.
Target yang akan dicapai
berada dalam jangkauan kemampuan dan sumber-sumber yang tersedia.
c.
Target yang akan dicapai
memiliki kuantitas atau tingkat yang pasti agar dapat dicapai dalam priode
tertentu .
d.
Target merupakan fase
terakhir suatu tahapan proses untuk memilih apa yang harus dikerjakan selama
masa perencanaan.
e.
Target bersifat penting,
dapat diukur dan dicapai. Penetapan target benar-benar tergantung pada
informasi akurat yang dikumpulkan dan dikomunikasikan .
3.
Menetapkan Target
Beberapa hal dalam
Menetapkan Target, antara lain:
a.
Menetapkan target harus
sesuai dan tepat, misalnya :
Jika diatur terlalu
tinggi, target menciptakan setres dan de-motifasi; jika setel terlalu rendah, target mendorong rasa puas
diri; jika dipaksakan, target tidak mungkin dimiliki oleh mereka yang harus
menyerahkannya; dan jika di negosiasikan, ada insentif untuk menekan target
yang lebih rendah yang lebih mudah untuk bertemu sehingga menciptakan
ketegangan dan kecurigaan di antara manajer .
b.
Target tidak dapat
ditetapkan secara tepat tanpa mengetahui kemampuan proses saat ini dan masa
depan .
c.
Sasaran tidak menjelaskan
bagaimana meningkatkan kinerja.
d.
Target memprovokasi
kecurangan, termasuk dirtorsi data atau distorsi cara pekerjaan akan selesai.
e.
Dampak budaya dari
penetapan target biasanya negatif menghancurkan kepercayaan, kehangan dan
tanggung jawab pribadi.
f.
Sasaran biasanya hanya
mencakup aspek pekerja yang sederhana untuk diukur, buka perspektif sistem yang
benar. Dengan kata lain, target “ mencoba menemukan hal terukur untuk mewakili
keseluruhan “.
g.
Sering kali, memukul target nomerik
menyebabkan hilangnya titik sebenarnya. Sasarannya biasanya satu dimensi dan
reduksionis (sering di dasarkan pada rata-rata atau presentase dan gagal
mempromosikan keseluruhan perbaikan sistem.[4]
C.
Model costing
(pembiayaan) dan Keefektifan Biaya
Model
ini sering digunakan menganalisis proyek-proyek dalam kriteria efisien dan
efektivitas ekonomis. Dengan model ini, dapat diketahui proyek yang paling
fleksibel dan memberikan suatu perbandingan yang paling baik di antara
proyek-proyek yang menjadi alternative penanggulangan
masalah yang dihadapi. Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada
pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan.
Dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan dalam
kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.[5]
Model ini digunakan untuk mengalisis proyek dengan
kriteria efisiensi dan efektivitas. Dengan model ini dapat diketahui proyek
mana yang paling layak atau terbaik dibandingkan dengan proyek lainnya. Model
ini mirip dengan pendekatan untung rugi.[6]
Pendidikan erat kaitannya dengan uang karena pendidikan memerlukan
biaya (cost). Kaitannya uang dengan pendidikan dapat dipelajari melalui 3
komponen :
1. Ekonomi Pendidikan
(fungsi alokasi)
a.
Pengembambangan konsep
modal manusia
b.
Tingkat kembalian model
investasi (Rates of returen to investment)
c.
Analisis biaya-manfaat
d.
Analisis biaya efektifitas
e.
Perencanaan
ketenagakerjaan
2.
Pendanaan (financing)
Pendidikan (fungsi distribusi)
a.
Peningkatan pemasukan
b.
Perencanaan pengeluaran
c.
Pertimbangan keadilan:
siswa, wajib pajak, guru, dan program sekolah.
3.
Administrasi Bisnis
Sekolah (fungsi manajemen)
a.
Penganggaran (Budgeting)
b.
Pembukuan (accounting)
c.
Pemeriksaan (auditing)
Pembiayaan (costing) Pendidikan adalah proses pengalokasian
sumber dana terbatas untuk melaksanakan pendidikan antar jalur, jenis, maupun
jenjang pendidikan, baik pusat maupun daerah, baik negeri maupun swasta baik
input maupun output pendidikan. Pembiayaan pendidikan adalah jumlah rupiah yang
dialokasikan untuk melaksanakan pendidikan.
Pembiyaan pedidikan merupakan salah satu fungsi manajemen ekonomi
pendidikan. Pembiyaan pendidikan berkaitan dengan politik pendidikan, program
pembiyaan pemerintah, dan manajemen keuangan sekolah. Dalam pembiyaan
pendidikan tidak ada pendekatan tunggal yang terbaik untuk pembiyaan semua
sekolah karena kondisi setiap sekolah berbeda-beda.
Setiap kebijakan pendidikan mempengaruhi sumber dana yang diperoleh
dan sumber dana yang dialokasikan.Sumber dana yang diproleh berkenaan dengan
pendapatan , sedangka sumber dana yang dialokasikan berkenaan dengan belanja.
Dengan menerapkan kebijakan yang berbeda-beda membawa akibat terhadaap
keputusan yang berdampak pada pembiyaan pendidikan yaitu: (1) siapa yang akan
dididik dan seberapa banyak jasa pendidikan dapat disediakan?; (2) bagaimana
mereka akan dididik ?; (3) siapa yang akan membayar biaya pendidikan; (4)
sistem pemerintahan seperti apa yang paling sesuai untuk mendukung pembiyaan
sekolah? Pembiayaan sekolah harus mengacu pada peraturan perundang-undangan
yang berlaku agar pengelolaan pembiayaan pendidikan tidak terkena sanksi hukum.
1.
Prinsip Pembiayaan
Pembiyaan Pendidikan
dilakukan berdasarkan pada prinsip:
a.
Legal
b.
Manfaat
c.
Keadilan, artinya berimbang berdasarkan kinerja dan kegiatan.
d.
Efektif, artinya sesuai
dengan peruntukan dan tujuannya.
e.
Efisien, artinya
penghematan
f.
Transparansi, artinya
terbuka untuk diketahui pihak terkait.
g.
Akuntabilitas publik,
artinya dapat di pertanggung jawabkan di depan publik.
h.
Plafond artinya, rencana
anggaran sesuai dengan alokasi yang sudah ditetapkan penyandang dana.
i.
Mata Anggaran, artinya
pengeluaran tidak boleh keluar dari Mata Anggaran Kegiataan (MAK) yang berlaku.
j.
Tidak Langsung, artinya
dana yang diterima disetorkan dulu ke bendahara kemudian dikeluarkan berdahara
sesuai dengan permintaan yang dapat di pertanggung jawabkan.
k.
Prioritas, artinya
anggaran mengutamakan yang sangat penting dan sangat mendesak.
l.
Terpadu, artinya anggran
tidak ada yang tumpang tindih atau double accounting.
m.
Desentralisasi,
artinnya anggaran disusun secara otonomi oleh masing-masing unit kerja.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Model perencanaan komprehensif
Model ini digunakan untuk menganalisis
perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Selain itu
berfungsi juga sebagai pedoman atau patokan dalam menguraikan atau menjabarkan
rencana-rencana yang lebih khusus ke arah tujuan yang lebih luas.
2.
Model target setting
Model ini
diperlukan dalam upaya melaksanakan proyeksi ataupun memperkirakan tingkat
perkembangan dalam kurun waktu tertentu. Dalam persiapannya, diperlukan
model-model untuk menganalisis demografis dan proyeksi penduduk. Model untuk
memproyeksikan enrolmen (jumlah siswa terdaftar) sekolah, dan model
untuk memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja.
3.
Model costing (pembiayaan) dan ke efektifan biaya
Model ini sering digunakan menganalisis
proyek-proyek dalam kriteria efisien dan efektivitas ekonomis. Dengan model ini,
dapat diketahui proyek yang paling fleksibel dan memberikan suatu perbandingan
yang paling baik di antara proyek-proyek yang menjadi alternatif penanggulangan
masalah yang dihadapi. Penggunaan model ini dalam pendidikan didasarkan pada
pertimbangan bahwa pendidikan itu tidak terlepas dari masalah pembiayaan.
Dengan sejumlah biaya yang dikeluarkan selama proses pendidikan, diharapkan
dalam kurun waktu tertentu dapat memberikan benefit tertentu.
DAFTAR PUSTAKA
Usman, Husaini. 2013. Manajeme, Jakarta: PT Ikrar
Mandiriabadi.
Supriatna, Usep. 2016. Jurnal
Inovasi Pembelajaran, Volume 2, Nomor 1, Mei.
Kurniadin, Didin dan Machali, Imam.
2016 Manajemen Pendidikan, Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Ruhaina, Nelly Ivva. Model Target
Setting, https://www.scribd.com/document/371234568/Model-Target-Setting-Nellyivvar-0102516024.
[1] Husaini
Usman, Manajemen ( Jakarta: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013), hlm. 97
[2] Jurnal Inovasi
Pembelajaran, Volume 2, Nomor 1, Mei 2016, hal. 330
[3] Didin
Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media, 2016), hlm. 177.
[4] Nelly
Ivva Ruhaina, Model Target Setting, diakses dari https://www.scribd.com/document/371234568/Model-Target-Setting-Nellyivvar-0102516024.
[5]
Didin Kurniadin dan Imam Machali, Manajemen Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz
Media,2016), hlm. 177
[6] Husaini
Usman, Manajemen, (Jakarta: PT. Ikrar MandiriAbadi,2013), hlm. 97
