Tampilkan postingan dengan label Microleading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Microleading. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Tipe dan Gaya Kepemimpinan


MAKALAH
MICROLEADING
Tipe dan Gaya Kepemimpinan




DOSEN PEMBIMBING:
Wafi Ali Hajjaj, S.Pd.I, M.Pd.I
DISUSUN OLEH:
Lisda Agustin
Liddini Hanifatur Rohmah
Nurfadilah
Nur Aini
Munawaroh Nur Muzaiyanah
Nabila Arifiyana
Nurifkiyah Nailatul Lailih
Qomariatun Nilul Laili
Lumatul Fajriyah
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) At-Taqwa Bondowoso
FAKULTAS TARBIYAH
PROGRAM STUDI MPI
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya makalah Macroleading yang berjudul “Tipe dan Gaya Kepemimpinan” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam makalah ini. Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai tipe dan gaya kepemimpinan.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini. Mudah-mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.


Bondowoso, 5 Oktober 2019



Penyusun



DAFTAR ISI

COVER........................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................. ii
DAFTAR ISI ................................................................................. iii
BAB I      PENDAHULUAN ........................................................................ 1
A. Latar Belakang............................................................................ 1
B.  Rumusan Masalah ....................................................................... 1
C.  Tujuan Masalah............................................................................ 2

BAB II    PEMBAHASAN............................................................................ 3
A.  Pengertian tipe dan gaya kepemimpinan..................................... 3
B.  Tipe kepemimpinan..................................................................... 5
C.  Gaya kepemimpinan.................................................................... 8

BAB III.. PENUTUP...................................................................................... 16
A.  Kesimpulan.................................................................................. 16

DAFTAR PUSTAKA................................................................... 17

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kepemimpinan dipandang sangat penting karena dua hal yaitu pertama, adanya kenyataan bahwa penggantian pemimpin seringkali mengubah kinerja suatu unit, instansi atau organisasi. Kedua, hasil penelitian yang menunjukkan bahwa salah satu faktor internal yang mempengaruhi keberhasilan organisasi adalah kepemimpinan, mencakup proses kepemimpinan pada setiap jenjang organisasi, kompetensi dan tindakan pemimpin yang bersangkutan.
Gaya kepemimpinan diartikan sebagai perilaku atau cara yang dipilih dan dipergunakan pemimpin dalam  mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku organisasinya.
Kepemimpinan  merupakan suatu topik bahasan yang klasik, namun tetap sangat menarik untuk diteliti karena sangat menentukan berlangsungnya suatu organisasi. Kepemimpinan itu, yang esensinya adalah pertanggung jawaban. Terlebih pada zaman sekarang ini yang semakin buruk saja moral dan mentalnya. Ibaratnya, semakin sulit mencari pemimpin yang baik (good leader). Pemimpin yang baik sebenarnya pemimpin yang mau berkorban dan peduli untuk orang lain serta bersifat melayani. Tetapi, kenyataannya berbeda. Bila kita lihat sekarang para pemimpin kita, dari lapisan bawah sampai lapisan tertinggi, dari pusat hingga ke daerah-daerah. Banyak pemimpin yang hadir dengan tanpa mencerminkan sosok pemimpin yang seharusnya, malah terlihat adanya pemimpin-pemimpin yang jauh dari harapan rakyat, tidak peduli dengan nasib rakyat bawah, dan hampir tidak pernah berpikir untuk melayani masyarakat. Karena kepemimpinan mereka lebih dilandasi pada keinginan pribadi dan lebih mengutamakan kepentingan kelompok.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian tipe dan gaya serta fungsi kepemimpinan ?
2.    Apa saja macam-macam tipe kepemimpinan ?
3.    Apa saja macam-macam gaya kepemimpinan ?

C.      Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui pengertian tipe dan gaya serta fungsi kepemimpinan
2.    Untuk mengetahui macam-macam tipe kepemimpinan
3.    Untuk mengetahui macam-macam gaya kepemimpinan






BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Tipe dan Gaya Kepemimpinan
Tipe menurut KBBI mengandung arti model, contoh dan corak. Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik bagus, kekuatan, dan kesanggupan untuk berbuat baik.[1] Sedangkan kepemimpinan (leadership) menurut Stoner, kepemimpinan manajerial ialah sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.[2] Dan, menurut Robbins (1991), kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi sekelompok anggota agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Sumber dari pengaruh tersebut dapat diperoleh secara formal.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang sering disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Selanjutnya, gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun yang tidak tampak oleh bawahannya. Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang mendasari perilaku seseorang. Gaya kepemimpinan yang menunjukkan secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan terhadap kemampuan bawahannya. Artiya, gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat dan sikap yang sering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.[3]

Kepemimpinan mempunyai fungsi tertentu yang berbeda satu sistem social dengan sistem social lainnya. Secara umum kepemimpinan mempunyai pola dasar yang sama, yaitu :
1.    Menciptakan Visi
Seorang pemimpin harus mempunyai kemampuan untuk menciptakan visi. Visi adalah apa yang diimpikan, keadaan masyarakat yang dicita-citakan, sesuatu yang ingin dicapai oleh pemimpin dan para pengikutnya dimasa yang akan datang.
2.    Mengembangkan Budaya Organisasi
Budaya organisasi adalah norma, nilai dan asumsi dikembangkan oleh pemimpin organisasi dan diajarkan kepada para anggota baru serta diterapkan dalam perilaku organisasi mereka, oleh karena itu pemimpin harus mengembangkan budaya organisasi.
3.    Menciptakan Sinergi
Tugas penting seorang pemimpin adalah mempersatukan para pengikut dan menggerakkan mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Mereka direkrut dengan tujuan untuk ikut serta merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi secara maksimal kepada organisasi dalam kesatuan tujuan dan gerak kearah tujuan organisasi.
4.    Menciptakan Perubahan
Pemimpin merupakan agen perubahan yang berupaya menciptakan perubahan secara terus-menerus. Perubahan merupakan perbedaan dari waktu ke waktu (masa lalu menuju masa depan).
5.    Memotivasi Para Pengikut
Fungsi dan tugas pemimpin dlh memotivasi diri sendiri dan para pengikutnya. Memotivasi para pengikut merupak upaya yang memerlukan pemikran yang sistematis mengenai keadaan para pengikut dan teknik motivasi yang digunakan.
6.    Manajer Konflik
Pemimpin harus memimpin para pengikutnya yang mempunyai latar belakang, ras, agama, pendidikan, jenis kelamin, budaya, dll. Keaadaan ini dapat menimbulkan konflik jika pemimpin tidak mampu mempersatukannya.[4]

B.       Tipe Kepemimpinan
Terdapat beberapa tipe kepemimpinan, sebagai berikut :
1.    Tipe Kepemimpinan Kharismatik
Dalam kepemimpinan karismatik memiliki energi, daya tarik, dan pembawaan yang luar biasa untuk memengaruhi orang lain sehingga ia mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa dipercaya. Sampai sekarang pun orang tidak mengetahui benar sebab-sebabnya seseorang memeiliki karisma besar. Dia dianggap mempunyai kekuatan gaib (supranatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia yang Mahakuasa. Dia banyak memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepribadian pemimpin itu memancarkan pengaruh dan daya tarik yang teramat besar.
2.    Tipe Kepemimpinan Paternalistis
Tipe kepemimpinan paternalistis adalah tipe kepemimpinan kebapakan, dengan sifat-sifat antara lain :
a.    Dia menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak/belum dewasa, atau anak-anak sendiri yang perlu dikembangkan.
b.    Dia bersikap perlu melindungi (overly protective).
c.    Jarang dia memberikan kesempatan pada bawahan untuk mengambil keputusan sendiri.
d.   Dia hampir tidak pernah memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif.
e.    Dia tida memberikan atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut dan bawahan untuk mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka.
f.     Selalu bersikap maha-tahu dan maha-benar.

3.    Tipe Kepemimpinan Militeristis
Tipe ini sifatnya “sok” kemiliteran. Hanya saja gaya luaran saja yang mencontoh gaya militer. Akan tetapi, jika dilihat lebih seksama, tipe ini mirip sekali dengan tipe kepemimpinan otoriter. Hendaknya, dipahami bahwa tipe kepemimpinan militeristis itu berbeda sekali dengan kepemimpinan organisasi militer. Sifat-sifat kepemimpinan miteristis antara lain;
a.    Lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando terhadap bawahannya keras sangat otoriter kaku dan sering kurang bijaksana.
b.    Menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan.
c.    Menyenangi formalitas, upacara-upacara ritual, dan tanda-tanda kebesaran berlebihan.
d.   Menuntut adanya disiplin keras dan kaku dari bawahannya (disiplin kadaver/mayat)
e.    Tidak menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan dari bawahannya.
f.     Komunikasi hanya berlangsung searah saja.[5]
4.    Tipe Kepemimpinan Outokratis
Tipe kepemimpinan autokrasi, yaitu pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota kelompoknya. Pemimpin autokrasi adalah pemimpin yang memiliki wewenang (authority) dari suatu sumber (misalnya, karena posisinya), pengetahuan, kekuatan atau kekuasaan untuk memberikan penghargaan ataupun menghukum. Pemimpin yang autokrasi menggunakan otoritasnya sebagai pegangan atau hanya sebagai alat agar segala sesuatunya dapat diselesaikan.
Ciri-ciri pemimpin yang autokrasi di antaranya:
a.    Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
b.    Mengindentikkan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
c.    Menganggap bawahan hanya sebagai alat
d.   Tidak menerima kritik, saran dan pendapat
e.    Bergantung pada kekuasaan formalnya
f.     Menggunakan approach yang mengandung unsur paksaan dan bersifat menghukum.[6]
5.    Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan Laissez Faire ini, sang pemimpin praktis tidak memimpin dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semau sendiri. Pemimpin tidak beradaptasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahan. Dia merupakan pemimpin simbol dan biasanya tidak memiliki keterampilan teknis sebab posisinya sebagai direktur atau pemimpin (ketua dewan, komandan, kepala). Biasanya diperolehnya melalui penyogokan, suapan, atau sistem nepotisme.
6.    Tipe Kepemimpinan Populitis
Profesor Peter Worsley dalam bukunya The Third World mendefenisikan kepemimpinan populistis sebagai kepemimpinan yang dapat membangunkan solidaritas rakyat, misalnya Soekarno dengan ideologi marhaenisme-nya, yang menekankan masalah kesatuan nasional, nasionalisme, dan sikap yang berhati-hati terhadap kolonisme, penindasan, pengisapan, serta penguasaan oleh kekuatan-kekuatan asing (luar negeri).
Kepemimpinan popularitas ini berpegang teguh kepada nilai-nilai masyarakat yang tradisional. Juga, kurang memercayai dukungan kekuatan serta bantuan utang-utang luar negeri (asing). Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan (kembali) nasionalisme. Oleh Profesor S. N Einsentadt, populisme erat dikaitkan dengan modernitas tradisional.
7.    Tipe Kepemimpinan Administratif atau Eksekutif
Kepemimpinan tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas administratif secara efektif. Sedangkan, para pemimpinnya terdiri dari teknokrat dan administratur yang mampu menggerakkan dinamika modernisasi dan pembangunan. Dengan demikian, dapat dibangun sistem administrasi dan birokrasi yang efisien untuk memerintah, yaitu untuk memantapkan integritas bangsa pada khususnya dan usaha pembangunan pada umumnya. Dengan demikian, administratif ini, diharapkan adanya perkembangan teknis, yaitu teknologi, industri, manajemen modern, dan perkembangan sosial di tengah masyarakat.
8.    Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan Demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan kerja sama yang baik. Kekuatan kemepemimpinan demokratis ini bkan terletak pada  person atau individu pemimpin, melainkan kekuatan justru terletak pada partisipasi aktif dari setiap kelompok.
Kepemimpinan Demokratis menghargai potensi setiap individu maupun mendengarkan nasihat dan sugesti bawahan. Juga, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis sering disebut sebagai kepemimpinan gorup developer.[7]
C.      Gaya Kepemimpinan
Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok gerak gerik yang bagus, kekuatan, kesanggupan untuk berbuat baik. Sedangkan gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang disukai dan sering diterapkan oleh pemimpin.
Gaya kepemimpinan adalah pola menyeluruh dari tindakan seorang pemimpin, baik yang tampak maupun tidak tampak oleh bawahannya.Gaya kepemimpinan menggambarkan kombinasi yang konsisten dari falsafah, keterampilan, sifat, dan sikap yang mendasari perilaku seseorang.Gaya kepemimpinan yang menunjukkan, secara langsung maupun tidak langsung, tentang keyakinan seorang pimpinan terhadap bawahannya. Artinya gaya kepemimpinan adalah perilaku dan strategi, sebagai hasil kombinasi dari falsafah, keterampilan, sifat, sikap, yangsering diterapkan seorang pemimpin ketika ia mencoba memengaruhi kinerja bawahannya.
Sehingga gaya kepemimpinan yang paling tepat adalah suatu gaya yang dapat memaksimumkan produktivitas, kepuasan kerja, pertumbuhan, dan mudah menyesuaikan dengan segala situasi.Gaya kepemimpinan merupakan dasar dalam mengklasifikasi tipe kepemimpina. Gaya kepemimpinan memiliki tiga pola dasar, yaitu yang mementingkan pelaksanaan tugas, yang mementingkan hubungan kerja sama, dan yang mementingkan hasil yang dapat dicapai.
Menurut firman Allah dalam surah Al-maidah (5) : ayat 48 kepemimpinan ini tidak sesuai dan bahkan sangat dikutuk ;

فَاحكُمْ بينَهُمْ بِمَآاَنْزَللهُ ولاَتَتَّبِعْ اَهوآءهُمْ عَمَّاجَآءَكَ مِنَ الحَقِّ........................................

Maka hendaklah engkau menghukum menurut perintah (hukum) Allah.Janganlah engkau ikuti hawa nafsu mereka, dengan memungkiri kebenaran yang engkau terima dari Allah (Al-maidah ayat 48).
Dan firman Allah dalam surah shad (38) ayat 26 senantiasa memerintahkan untuk selalu mengambil keputusan dan bertindak secara benar, tidak ceroboh, tidak menuruti hawa nafsu.

...................فَاحكُمْ بينَ النّاسِ بِا لحَقِّ ولاَتتَّبِعِ الهَوى فَيُضِلَّكَ عنْ سَبِيل اللّهِ...................
Maka hendaklah engkau menghukum manusia itu dengan adil dan jangan menurutkan hawa nafsu karena menyesatkan engkau dari jalan Allah.(QS Shad ayat 26)[8]

Adapun macam-macam gaya kepemimpinan
1.    Gaya Kepemimpinan Kontinum
Gaya kepemimpinan terkategori dalam gaya kepemimpinan klasik yang diperkenalkan oleh Robert Tannenbaum dan Warren Schmidt. Keduanya menggambarkan gagasannya dalam sebuah gambar yang memiliki dua bidang pengaruh yang ekstrim. Bidang pertama adalah pengaruh pimpinan dan bidang kedua adalah kebebasan bawahan.
Pada bidang pertama, pemimpin menggunakan otoritasnya dalam gaya kepemimpinannya, sedangkan pada bidang kedua, pemimpin menunjukkan gaya yang demokratis. Kedua bidang pengaruh ini dpengaruhi dalam hubungannya kalau pemimpin melakukan aktivitas pembuatan keputusan. Ada tujuh model gaya pembuatan keputusan yang dilakukan pemimpin.
a.    Pemimpin membuat keputusan dan kemudian mengumumkan kepada bawahannya. Model in terlihat bahwa otoritas yang dipergunakan atasan terlalu banyak sedangkan daerah kebebasan bawahan sempit sekali.
b.    Pemimpin menjual keputusan. Dalam hal ini, pemimpin masih terlihat banyak menggunkan otoritas yang ada padanya, sehingga persis dengan model pertama. Bahawan disini belum banyak terlibat dalam pembuatan keputusan.
c.    Pemimpin memberikan pemikiran-pemikiran atau ide-ide dan mengundang pertanyaan-pertanyaan. Dalam model ini pemimpin sudah menunjukkan kemajuan, dibatasinya penggunakan otoritasnya dan diberikan kesempatan bawahan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Bahwan sudah sedikit terlibat dalam rangka pembuatan keputusan.
d.   Pemimpin memberikan keputusan bersifat sementara yang kemungkinan dapat diubah. Bawahan sudah mulai banyak terlibat dalam rangka pembuatan keputusan, sementara otoritas pemimpin sudah mulai dikurangi penggunaannya.
e.    Pemimpin memberikan persoalan-persoalan, meminta saran-saran, dan membuat keputusan. Model ini sudah jelas, otoritas pimpinan dipergunakan sedikit mungkin, sebaliknya kebebasan bawahan dalam partisipasi membuat keputusan sudah banyak dipergunakan.
f.     Pemimpin merumuskan batas-batasnya, dan meminta kelompok bawahan untuk membuat keputusan. Partisipasi bawahan dalam kesempatan ini leibh besar dibandingkan dalam model keloma di atas.
g.    Pemimpin mengizinkan bawahan melakukan fungsi-fugnsinya dalam batas-batas yagn telah dirumuskan oleh pemimpin. Model ini terletak pada titik ekstrim penggunaan kebebasan bawahan, adapun titik ekstrim penggunaan otortias pada model nomor satu diatas.
2.    Gaya Kepemimpinan Managerial Grid
Managerial Grid merupakan salah satu gaya kepemiminan yang terkenal untuk mengidentifikasi gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam manajemen. Gaya ini dirumuskan dan diperkenalkan oleh Robert R. Blake dan Jane S. Managerial Grid menekankan bagaimana manajer memikirkan produksi dan hubungan manajer serta memikirkan produksi dan hubungan kerja dengan manusianya. Bukannya ditekankan pada berapa banyak produksi harus dihasilkan, dan berapa banyak ia harus berhubungan dengan bawahan.
Menurut Blaku dan Mouton, terdapat empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang dikatakan berada ditengah-tengah gaya ekstrem tersebut.
Pada Grid 1.1, Improvership Management (Manajemen Miskin). Pada grid ini, manajer sedikit sekali usahanya untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dengannya, dan produksi yang seharusnya dihasilkan oleh organisasinya. Dalam menjalankan tugas manajer dalam grid ini menganggap dirinya sebagai perantara yang hanya mengkomunikasikan informasi dari atasan kepada bawahan.
Pada Grid 9.9, Team Managemen (Manajemen Tim). Pada grid ini, manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan baik produksi maupun orang-orang yang bekerja dengannya. Dia mencoba untuk merencanakan semua usaahanya dengan senantiasa memikirkan dedikasinya pada produksi dan nasib orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Manajer yang termasuk dalam Grid ini dikatakan sebagai manajer Tim yang riil (the real team manajer). Dia mampu memadukan kebutuhan-kebutuhan produksi dengan kebutuhan orang-orang secara individu.
Pada Grid 1.9, Country Club Management (Manajemen klub sukaria). Pada grid ini, manajer mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk memikirkan orang-orang yang bekerja dalam organisasinya. Tetapi pemikirannya mengenai produksi rendah. Manajer seperti ini dinamakan pemimpin klub (The country club management). Manajer ini berusaha menciptakan suasana lingkungan yang semua orang bisa bekerja rileks, bersahabat dan bahagia dalam organisasinya.
Pada Grid 9.1, Autority Compliance (menghasilkan wewenang). Pada grid ini, manajer disebut sebagai manajer yang menjalankan tugas secara otokratis (autocratic task managers). Manajer semacam ini hanya mau memikirkan tentang usaha peningkatan efisiensi pelaksanaan kerja, tidak mempunyai atau hanya sedikit rasa tanggung jawabnya pada orang-orang yang bekerja dalam organisasinya.
Pada Grid 5.5, Middle of the road Management (Manajemen di tengah berjalan). Pada grid ini, Manajer mempunyai pemikiran yang medium baik pada produksi maupun pada orang-orang. Dia berusaha menciptakan dan membina moral orang-orang yang bekerja dalam organisasi yang dipimpinnya, dan produksi dalam tingkat yang memadai, tidak terlampau mencolok. Dia tidak menciptakan target yang tinggi sehingga sulit dicapai, dan berbaik hati mendorong orang-orang untuk bekerja lebih baik.
3.    Gaya Kepemimpinan Tiga Dimensi Reddin
Gaya kepemimpinan Tiga Dimensi diperkenalkan oleh William J. Reddin, seorang professor dan konsultan dari Kanada. Redin merumuskan tiga gaya efektivitas kepemimpinan dalam modelnya, sehingga model ini dikenal dengan Gaya Kepemimpnan Tiga Dimensi Reddin. Dalam modelnya, Reddin menggambarkan tiga kotak sebagai pembeda tiga dimensi kepemimpinan. Kotak ditengah menggambarkan gaya dasar dari kepemimpinan seseorang. Sementara kotak ditengah yang ditarik ke atas dan kebawah menggambarkan gaya efektif dan tidak efektif dari seorang pemimpin.
Pada kotak atas, terdapat empat gaya kepemimpinan efektif, yaitu:
a.    Eksekutif. Gaya ini banyak memberikan perhatian pada tugas-tugas pekerjaan dan hubungan kerja. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini disebut sebagai motivator yang baik, mau menetapkan standar kerja yang tinggi, berkehendak mengenal perbedaan diantara diantara individu, dan berkeinginan menggunakan tim kerja dalam manajemen.
b.    Pecinta pengembangan (developer). Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap hubungan kerja, dan perhatian yang minimum terhadap tugas-tugas pekerjaan. Seorang manajer yang menggunakan gaya ini mempunyai kepercayaan yang implisit terhadap orang-orang yang bekerja dalam organisasinya, dan sangat memperhatikan pengembangan mereka sebagai individu.
c.    Otokratis yang baik (Benevolent autocrat), Gaya ini memberikan perhatian yang maksimum terhadap tugas, dan perhatian minimum terhadap hubungan kerja. Manajer ini mengetahui secara tepat apa yang ia inginkan dan bagaimana memperoleh yang diinginkan tersebut tanpa menyebabkan ketidakseganan di pihak lain.
d.   Birokrat. Gaya ini memberikan perhatian yang minimum baik terhadap tugas maupun hubungan kerja. Manajer ini sangat tertarik pada peraturan-peraturan dan menginginkan peraturan tersebut dipelihara serta melakukan control situasi secara teliti.
Sementara itu, pada kotak paling bawah, terdapat empat Gaya Kepemimpinan yang tidak efektif, yaitu:
a.    Pencinta kompromi (compromiser). Gaya ini memberikan perhatian yang besar pada tugas dan hubungan kerja dalam suatu situasi yang menekankan pada kompromi. Manajer seperti ini merupakan pembuat keputusan yang tidak bagus karena banyak tekanan yang mempengaruhinya.
b.    Missionari. Gaya ini memberikan penekanan yang maksimum pada orang-orang dan hubungan kerja, tetapi memberikan perhatian minimum terhadap tugas dan perilaku yang tidak sesuai. Manajer semacam ini hanya menilai keharmonisan sebagai suatu tujuan dalam dirinya sendiri.
c.    Otokrat.Gaya ini memberikan perhatian maksimum terhadap tugas dan minimum terhadap hubungan kerja dengan suatu prilaku yang tidak sesuai. Manajer seperti ini tidak mempunyai kepercayaan pada orang lain, tidak menyenangkan, dan hanya tertarik pada jenis pekerjaan yang segera selesai.
d.   Deserter (Lain dari tugas). Gaya ini sama sekali tidak memberikan perhatian baik pada tugas maupun pada hubungan kerja. Dalam situasi tertentu gaya ini tidak begitu terpuji, karena manajer seperti ini menunjukkan sikap positif dan tidak mau ikut campur secara aktif dan positif.
4.    Gaya Kepemimpinan Empat Sistem Manajemen Likert
Gaya Empat Sistem Manajemen Likert diperkenalkan oleh Rensis Likert. Setelah melalui suatu penelitian yang panjang, Likert mengembangkan empat sistem sistem manajemen. Menurut Likert pemimpin dapat berhasil jika bergaya partisipative management. Gaya ini menetapkan bahwa keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan, dan mendasarkan pada komunikasi. Selain itu semua pihak dalam organisasi bawahan maupun pemimpin menerapkan hubungan atau tata hubungan yang mendukung (supportive relationship).
Likert merancang empat sistem kepemimpinan dalam manajemen, yaitu :
a.    Sistem 1 (Exploitative Authoritative)
Manajer sangat otokratis, mempunyai sedikit kepercayaan kepada bawahannya, suka mengeksploitasi bawahan, dan bersikap paternalistic. Pemimpin dalam system ini hanya mau memperhatikan komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja.
b.    Sistem 2 (Otokratis yang baik hati/Benevolent autoritative)
Manajernya mempunyai kepercayaan yang terselubung, percaya pada bawahan, memotivasi, memperbolehkan adanya komunikasi ke atas. Bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya.
c.    Sistem 3 (manajer Konsultatif)
Manajer mempunyai sedikit kepercayaan pada bawahan biasanya kalau ia membutuhkan informasi, ide atau pendapat bawahan Bawahan disini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.
d.   Sistem 4 (Pemimpin yang memiliki gaya kelompok berpartisipatif atau partisipative group)
Manajer mempunyai kepercayaan yang sempurna terhadap bawahannya. Dalam setiap persoalan selalu mengandalkan untukmendapatkan ide-ide dan pendapat dari bawahan dan mempunyai niatan untuk menggunakan pendapat bawahan secara konstruktif. Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang bertalian dengan tugasnya bersama atasannya.[9]



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Tipe mengandung arti model, contoh dan corak. Sedangkan  Gaya artinya sikap, gerakan, tingkah laku, sikap yang elok, gerak gerik bagus, kekuatan, dan kesanggupan untuk berbuat baik.
Gaya kepemimpinan adalah sekumpulan ciri yang digunakan pimpinan untuk memengaruhi bawahan agar sasaran organisasi tercapai atau dapat pula dikatakan bahwa gaya kepemimpinan adalah pola perilaku dan strategi yang sering disukai dan sering diterapkan oleh seorang pemimpin.
Kepemimpinan mempunyai fungsi yaitu : menciptakan visi, mengembangkan budaya organisasi, menciptakan sinergi, menciptakan perubahan, memotivasi para pengikut, manajer konflik.
Terdapat beberapa tipe kepemimpinan, sebagai berikut : tipe kepemimpinan kharismatik, tipe kepemimpinan paternalistik, tipe kepemimpinan militeristis, tipe kepmimpinan outokratis,  tipe kepemimpinan laissez faire, tipe kepemimpinan populitis, tipe kepemimpinan administratif atau eksekutif, tipe kepemimpinan demokratis.
macam-macam gaya kepemimpinan yaitu: gaya kepemimpinan kontinum, gaya kepemimpinan managerial grid, gaya kepemimpinan tiga dimensi reddin, gaya kepemimpinan empat sistem manajemen likert.

DAFTAR PUSTAKA

Kamus Besar Bahasa Indonesia
Handoko, T. Hani. 2016 Manajemen, Yogyakarta: BPFE
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016.  Manajemen Pendidikan : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Wirawan. 2014.  Kepemimpinan :Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitia. Depok: PT. Rajagrafindo Persada
Saebadi, Ahmad, Beni dan Sumantri. 2014. Kepemimpinan. Bandung: Pustaka Setia
Rivai, Veithzal & Mulyadi, Deddy. 2013.  Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada
Thoha, Miftah. 2015. Organisasi konsep dasar dan aplikasinya. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada


[1]  Kamus Besar Bahasa Indonesia
[2]  T. Hani Handoko, Manajemen,(Yogyakarta: BPFE, 2016) Hal. 292
[3] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan : Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) Hal. 289-301
4. Wirawan, Kepemimpinan :Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi dan Penelitia, (Depok: PT. Rajagrafindo Persada, 2014), Hal. 64-79
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016). Hal. 303.
[6] Beni Ahmad Saebadi dan Sumantri. Kepemimpinan. (Bandung: Pustaka Setia. 2014) Hal. 127
[7] Didin Kurniadin & Imam Machali. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Hal. 305-306.
[8] Veithzal Rivai & Deddy Mulyadi, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013) Hal 42-43
9Miftah Thoha, Organisasi konsep dasar dan aplikasinya,(Jakarta:PT RajaGrafindo Persada,2015),   Hal.302-314

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...