Tampilkan postingan dengan label Psikologi Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2020

Psikologi Islam


MAKALAH
PSIKOLOGI ISLAM
PERIODERESASI PERKEMBANGAN MANUSIA


NABILA ARIFIYANA
NUR AINI
MUNAWWAROH NUR M
LUMATUL FAJRIAH


STAI AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018


BAB 1

PENDAHULUAN


Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau pembabakan tentang perjalanan kehidupan individu yang di warnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu. Individu hanya membawa potensi-potensi ketika ia lahir, orang tua yang harus membentuk atau mengembangkan semua potensi yang dimiliki anak. Sampaipun ketika individu beradapada fase lansia, merupakan hasil dari persiapan dan pembinaan orang tuanya ketika ia masih dalam fase-fase dewasa.
Dalam pertumbuhan dan perkembangan individu disetiap fasenya, ada proses yang sistematik, progresif dan berkesinambungan. Allah SWT menjelaskan proses bagaimana individu tumbuh dan berkembang menjalani fase demi fase dalam kehidupannya di dalam ayat Al-qur’an berikut:.... maka (ketahuilah) sesungguhnya kami telah menjadikan kamu dari setetes mani, kemudian dari segumpal daging yang sempurna, agar kami jelaskan kepada kamu dan kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-rangsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan diantara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) diantara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang dahulu telah diketahuinya...(QS. Al-Hajj[22] : 5)
Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup lagi) sampai tua, (kami berbuat demikian)supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya).(QS AL-Mu’min [40] : 67)
Pengaruh lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan luar keluarga berpotensi untuk mempengaruhi perkembangan individu dalam setiap fasenya, khususnya dalam bentuk kepribadiannya.   


1.      Apakah pengertian dari fase- fase perkembangan manusia?
2.      Apa saja pembabakan atau periodesasi perkembangan manusia?
3.      Ada berapa macam-macam fase perkembangan manusia?
1.      Untuk mengetahui pengertian dari fase-fase perkembangan manusia
2.      Untuk mengetahui pembabakan dan proses perkembangan manusia
3.      Untuk mengetahui macam-macam fase perkembangan manusia














BAB II

PEMBAHASAN

A.Pengertian Fase-Fase Perkembangan Manusia

            Perkembangan merupakan proses perubahan yang berhubungan dengan proses hidup kejiwaan. Perubahan-perubahan tersebut biasanya menimbulkan tingkah laku yang dapat ditandai, meskipun tidak dapat di ukur, sebagaimana yang terjadi pada perubahan-perubahan jasmani, seperti: tinggi  badan, berat, besar dan lain sebagainya. Maka kita dapat menentukan kapankah fase-fase perkembangan itu tingkatnya tidak dapat dibatasi dengan tegas dan tepat. Ibarat tanaman, kapan bisa bertunas, kapan berkembang dan lain sebagainya.
            Perkembangan dapat juga diartikan sebaai proses transmisi dari konsstitusi sosio-fisik yan heredter, dirangsang oleh faktor-faktor yang menguntungkan, seperti: faktor lingkungan dan belajar dalam perwujudan proses aktif secara berkelanjutan. Setiap fenomena atau gejala perkembangan merupakan hasil dari hubungan timbal balik antara potensi yang ada pada individu dengan lingkungannya. Secara eksplisit perkembangan merupakan hasil dari:
a)      Pertumbuhan berkat pematangan fungsi-fungsi fisik.
b)      Pematangan fungsi-fungsi psikis.
c)      Usaha “ belajar” oleh anak,dalam mencoba segenap potensialitas rohani dan jasmaninya.[1]
Konsep islam tentang pertumbuhan perkembangan manusia dijelaskan dalam Al-Quran surah Al Mukmin(40) ayat 67:
هُوَالذِى خَلقكُمْ منْ ترَابٍ ثمَّ من نطفةٍ ثمَّ منْ علقةٍ ثمّ يخرجكم طفلاً ثم لتبلغوا أشدكمْ ثمّ لتكونواشيوخا ومنكم من يتوفى من قبل ولتبلغوا أجلا مسمى ولعلكم تعقلون( ٢٧)
Artinya:” Dialah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, diantara kamu ada yang di wafatkan sebelum itu.(kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang di tentukan dan supaya kamu memahaminya).
            Periodesai perkembangan berdasarkan ciri-ciri biologis (jasmani), meliputi anatomi dan fisologi. Secara biologi pertumbuhan manusia diawali dari bertemunya sel telur (ovum) dengan sel spermatozoa (sel sperma) didalam rahim seorang perempuan. Peristiwanya bertemunya sel ovum dan sel sperma  dinamakan pembuahan. Hasil dari pembuahan ini adalah satu sel zigot yang sering disebut germsel. Berawal dari terbentuknya germsel ini kemudian terjadi pembelahan sel secara terus-menerus, sampai akhirnya terbentulah embrio.[2]
            Di dalam rahim perempuan, sel-sel embrio ini megalami pertumbuhan secara terus-menerus. Pada awalnya pertumbhan sel embrio terjadi pada lapisan sel bagian dalam yang disebut endoderma. Seiring dengan hal itu, juga terjadi pertumbuhan sel embrio bagian luar yang disebut sel ektoderma. Kemudian, diantara sel endoderma dan ektoderma terjadi pertumbuhan sel yang disebut sel mesoderma.
            Ketiga jenis hal tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya jaringan khusus yang menyusun tubuh manusia. Sel-sel atau lapisan endoderma akan tumbuh atau mengalami reproduksi membentuk jaringan-jaringan alat atau sistem pencernaan pada tubuh manusia, seperti usus dua belas jari, usus besar, hati, jantung, peru-paru, ginjal dan sebagainya. Sedangkan sel-sel lapisan ektoderma, tumbuh menjadi sel-sel saraf(neuron). Akhirnya, pertumbuhan yang berlangsung secara terus-menerus dari ketiga lapisan sel itu akan membentuk orok atau bayi yang sering juga disebut fetus.
            Seiring dengan pertumbuhan jasmani pada fetus juga mengalami perubahan-perubahan ke arah kejiwaan (nonjasmaniah). Perubahan-perubahan yang berkisar pada  kejiwaan seseorang sering disebut perkembangan manusia. Dari yang semula bayi tidak memiliki keinginan-keinginan kemudian mengalami perkembangan sehingga ia mempunyai keinginan-keinginan. Tidak hanya itu, perkembangan bayi pada masa-masa selanjutnya menjadi semakin beraneka ragam, misalnya berkisar pada perasaan, pikiran, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kejiwaan (psikis).[3]
            Ditinjau dari segi medis persalinan bayi yang mulus tanpa komlikasi akan memberikan dampak yang bagus bagi tumbuh kembang bayi di kemudian hari. Saat terjadinya persalinan dapat terjadi komplikasi seperti bayi tidak bernafas secara spontan/teratur dan adekuat (asfiksi neonatorum). Komplikasi ini menyebabkan perubahan biokimia pada darah bayi yang kemudian dapat mengakibatkan kematian atau kerusakan permanen pada susunan saraf pusat sehingga intelligence quotient (IQ) anak lebih rendah atau bahkan sampai menyebabkan cacat mental pada anak. Selain itu, asfiksi neonatorum dapat menyebabkan trauma lahir terutama pada persalinan pertama karena letak janin tidak normal.[4]
            Lingkungan adalah faktor yang turut menentukan tumbuh kembang anak. Perumahan yang layak , terutama dalam hal sanitasinya, cukup leluasa, dan bebas polusi bagi anak untuk bermain memberi peluang tumbuh kembang anak dengan baik. Sebaliknya, lingkungan yang kotor dan sempit serta tiada ketersediaan ruang bermain bagi anak dapat menghambat proses tumbuh kembang anak. Anak yang mengalami hambatan tumbuh kembang akan berpengaruh pada ketidak lancaran anak dalam menyerap pendidikan. Jadi, lingkungan tempat tinggal anak tidak dapat dikesampingkan begitu saja agar anak mengalami tumbuh kembang secara baik.[5]
            Kehidupan anak di tengah keluarga dan masyarakat turut menentukan tumbuh kembang anak dengan baik. Terutama suasana damai-kasih sayang dalam interaksi anatara oarang tua dan anak. Ayah-Ibu yang dewasa, yang selalu berusaha menambah ilmu pengetahuan/cara mendidik yang bagus bagi anak, dipadu kesadaran sifat bawaan anak yang mempunyai karakteristik tersendiri akan dapat membawa anak kemasa depan yang lebih baik yang penuh dengan kompetisi (tantangan, hambatan dan gangguan dari luar). Kakek-nenek adalah bagian dari keluarga (ada yang karena hubungan darah, ada yang karena hubungan organisasi/minat, dan lain-lain, dan mereka ada yang potensial dan ada yang tidak) yang bisa serumah dengan cucu, atau tinggal dirumahnya sendiri. Semua komponen tersebut amat menentukan baik atau buruknya sifat dari tumbuh kembang anak.
            Perkembangan anak didasarkan pada usia anak mempunyai tahapan-tahapan sebagai berikut:
1.      Perkembangan anak usia 1 tahun
Dicirikan keadaan fisik dan motorik kasar, anak mampu berjalan beberapa langkah dengan dititah bagian 1 tangannya. Perkembangan keadaan fisik dan motorik halusnya telah mampu menggenggam dengan lebih baik dan dapat melepaskan genggaman apabila diminta. Perkembangan keadaan kognitif dan bahasa, anak telah mempunyai kosa kata lebih selain “mama”, “papa”, dan “dada”. Perkembangan kemampuan dan emosional anak dapat menyesuaika diri saat mengenakan pakaian.
2.      Perkembangan anak usia 2 tahun
Dicirikan keadaan fisik dan motorik kasar, anak telah mampu berlari dengan jarak dekat dengan baik, berjalan mundur tanpa kehilangan keseimbangan, mampu menendang bola tanpa jatuh, dll. Perkembangan keadaan fisik dan motorik halus anak mampu menumpuk 7 kubus, coretan sirkuler, meniru garis horizontal, dan melipat kertas. Perkembangan keadaan kognitif dan bahasa anak mampu membuat  kalimat dengan subjek, predikat dan objek. Perkembangan keadaan sosial dan emosional mampu memegang sendok dengan baik, bercerita pengalaman baru, membantu melepaskan pakaian, mendengarkan cerita dengan gambar.
3.       Perkembangan anak usia 3 tahun
Dicirikan keadaan fisik dan motorik kasar, anak mampu mengendarai speda roda 3, mampu melompat, mampu berlari maju mundur. Perkembangan keadaan fisik dan motorik halus anak mampu menumpuk 10 kubus, meniru kstruksi jembatan dengan 3 kubus, membuat lingkaran dan bisa bermain puzzel atau form board. Perkembangan keadaan kognitif dan bahasa, anak mengetahui usia dan jenis kelamin, mampu menghitung tiga objek dengan benar, mengulang tiga angka, mengulang sebuah kalimat yang terdiri dari enam suku kata. Perkembangan keadaan sosial dan emosional anak mampu bermain permainan sederhana, membantu mengenakan pakaian, memakai sepatu, dan mampu mencuci tangan sendiri.
4.      Perkembangan anak usia 4 tahun
Dicirikan oleh perkembangan fisik dan motorik kasar, anak mampu melompat dengan 1 kaki,  melempar bola dari atas kepala, memanjat, mampu naik turun meja dengan satu kaki di meja dan satu kaki di lantai. Perkembangan keadaan fisik dan motorik halus anak mampu menggambar jembatan, menggunakan gunting untuk memotong gambar, dll. Perkembangan keadaan kognitif dan bahasa, anak mampu menghitung 4 koin dengan benar , mampu bercerita. Perkembangan kemampuan sosial dan emosional, anak dapat bermain dengan beberapa anak dan telah mampu beriteraksi sosial , bermain peran, pergi ketoilet sendiri.
5.      Perkembangan anak usia 5 tahun
Dicirikan perkembangan fisik  dan motorik, anak mampu melakukan lompat tali, berlomba lari. Perkembangan keadaan fisik dan motorik halus anak mampu menggambar segitiga, mengetahui perbedaan berat benda mampu menyusun balok menjadi bentuk bangunan. Perkembangan keadaan kognitif dan bahasa anak mampu mewarnai menggunakan 4 warna, mengulang sebuah kalimat yang terdiri dari 10 suku kata, menghitung 10 koin dengan benar. Perkembangan kemampuan sosial dan emosional anak adalah dapat berpakaian dan melepas pakaian sendiri, bertanya tentang arti kata, bermain peran domestik.[6]

 C. Fase-Fase Perkembangan Manusia

1.      Fase Pranatal
Pada masa pranatal (sebelum lahir), Al-Qur’an menyebutkan bahwa banih atau bibit manusia bermula dari sperma yang bercampur dengan ovum (QS.76 (Al-Insan):2).Fase perkembangan selanjutnya di jelaskan dalam Al-Quran surah Al- mukminun ayat 13-15 yang dapat dibagi dalam tiga fase:
a.      Fase nutfah, yaitu masa pembuahan sel telur wanita (ovum) oleh sel jantan (spermatozoa). Setelah terjadi pembuahan, sel-sel telur yang telah di buahi membagi diri menjadi dua, masing-masing pecah menjadi dua lagi. Terus menerus demikian sehingga terciptalah setumpuk sel baru berupa benda bundar yang di sebut merula yang berada di bawah selaput lendir rahim ibu.
b.      Fase ‘alaqah, yaitu masa ketika merula berkembang menjadi sebuah gelembung yang berisi air dan berdinding. Di dalam gelembung ini terdapat bintik benih yang berhubungan dengan dinding gelembung. Sejak minggu ke dua, terhitung sejak pembuahan, bintik benih ini mengalami diferensiasi sel yang disiapkan untuk menjadi bagian dari tubuh manusia. Proses ini berlangsung sampai bulan kedua yang di sebut masa pembentukan embrio.
c.       Fase mudghah, yaitu pada masa akhir embrio dimana sel-sel telah membentuk bayi yang lengkap dengan kepala, otak, jantung, paru-paru dan organ-organ tubuh yang lainnya, ini di sebut masa janin. Janin ini panjangnya sekitar 3 cm, lalu pada akhir bulan ketiga, janin bertambah panjang menjadi 9 cm. Pada masa ini jenis kelamin sudah tampak. Pada bulan ke empat, janin sudah mulai bergerak. Dimasa ini peredaran darah sudah sempurna sehingga jantung pun sudah bekerja. Pada fase inilah Allah meniupkan ruh kepada bayi (QS.32(Al-Sajadah):9).
Pada bulan kelima, pada janin tumbuh bulu-bulu halus di kepala dan tubuh. Pada bulan keenam, tumbuh bulu alis dan bulu mata. Pada masa ini perbandingan tubuh dengan anggota badan lainnya tampak serasi. Di bulan ketujuh, bayi tampak seperti kakek-kakek tua dengan kulit keriput dan kemerah-merahan. Bila pada bulan ke tujuh itu sang bayi dilahirkan, dia akan mampu berlangsung hidup.
Pada bulan ke delapan panjang janin sekitar 40 cm. Pada bulan kesembilan, warna kemerahan lenyap dan kulit menjadi kencang karena tumbuhnya jaringan lemak. Pada masa ini organ-organ tubuh sudah sempurna dan kuat sehingga bayi sudah siap untuk dilahirkan.[7]
            Kondisi (kesehatan fisik maupun mental) ibu sangat berpengaruh terhadap perkembangan janin di dalam rahimnya. Mungkin dari sinilah muncul pendapat bahwa pendidikan anak sebenarnya dimulai sejak dia masih di janin di rahim ibunya sampai akhir hayat menjemputnya.
2.      Fase Awal masa Kanak-kanak
Fase awal kanak-kanak terhitung sejak dia dilahirkan sampai umur lima tahun. Fase ini di sebut juga masa pra-sekolah. Dalam masa ini kebanyakan waktu anak di habiskan di dalam rumah dalam pemeliharaan orang tuanya. Para ahli psikologi anak berpendapat bahwa pada masa ini perhatian orang tua harus di pusatkan pada dua tahun pertama karena pada masa itulah terjadinya awal pertumbuhan jasmani, akal (intelegensi) dan perasaan anak. Mereka menganggap dua tahun pertama ini sebagai dasar perkembangan anak selanjutnya.
Menurut Abdul Aziz al-Qusi, dalam bukunya Pokok-pokok kesehatan mental [terj. Zakiah Daradjat], sejak lahir indera anak mulai berfungsi untuk menerima beragam pengaruh. Ia berhubungan dengan ibunya dengan cara bersentuhan dan mencium. Sesuai fitrah yang Maha kuasa, setelah lahir, anak sanggup melihat suatu gerak sejauh tujuh kaki. Pada minggu pertama ia belum dapat membedakan antara cahaya dan kegelapan, kemudian secara beransur-angsur ia dapat melihat dan mendengar. Setelah bayi berumur empat bulan, ia mampu membedakan suara ibu, bapak,dan marah serta senang.
Selanjutnya Al-Qusi menyatakan bahwa pada umur 2-5 tahun, anak memiliki kecendrungan untuk banyak bergerak, bermain dan melakukan percobaan terhadap segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Melalui permainan, ia mendapatkan pengalaman kepandaian dan menjadi tambah percaya terhadap kemampuan dirinya. Pada masa awal kanak-kanak ini orang tua dan pendidik harus:
a.       Memelihara kesehatan anak dan pertumbuhannya dengan memberikan makanan yang bergizi dan istirahat yang cukup.
b.      Memberikan rasa kasih sayang dan rasa aman, tidak memarahinya.
c.       Tidak membebaninya dengan pekerjaan yang memberatkan.
d.      Mulai memberikan dasar-dasar pendidikan agama, akhlak dan pengetahuan lain sesuai dengan tingkat kecerdasannya.
3.      Fase Akhir masa Kanak-kanak
 Fase ini terhitung kira-kira  mulai anak berumur 5-12 tahun. Pada fase in, pendidikan anak tidak cukup hanya dilakukan di rumah tetapi juga anak sudah dimasukan ke sekolah. Berikut ini perkembangan-perkembangan anak yang terjadi pada usia ini,terutama sekali perkembangan:
a.       Perkembangan Fisik
Pada umur 5-7 tahun perkembangan fisik anak terbilang cepat. Badannya semakin tinggi meskipun beratnya berkurang sehingga ia kelihatan lebih tinggi dan kurus dari masa-masa sebelumnya. Pada setiap tahun tinggi badan anak rata-rata bertambah sekitar 5-6 cm sampai anak berumur 10 tahun. Pada fase ini gigi anak mulai berganti. Pertumbuhan anaknya berjalan lebih cepat dari pertumbuhan berat badannya. Pada fase ini pula sistem kekebalan tubuh anak mulai kuat seperti dalam menolak penyakit batuk, cacar dan campak.
b.      Perkembangan Intelektual dan Emosional
Dalam kondisi normal, pikiran anak pada usia ini berkembang secara berangsur-angsur dan mulai tenang. Anak benar-benar berada dalam suasana belajar. Di samping keluarga, sekolah pun sangat berpengaruh dalam pembentukan akal (kecerdasan) anak. Dia mulai menguasai banyak keterampilan dan mulai banyak mengembangkan beragam kebiasaan. Al- Abrasyi menambahkan bahwa pada fase ini anak memiliki daya ingatan yang sangat kuat sehingga ia mampu menghafal beberapa ayat Al Qur’an, beberapa bait syair dan nyanyian. Dengan daya ingat yang kuat inilah bahwa anak pun mulai mampu belajar bahasa asing dengan mudah.
c.       Perkembangan Moral
Menurut piaget, anak berusia 5-12 tahun memiliki pemahaman moral yang berbeda dari tatkala dia berumur sebelumnya. Pemahaman tentang baik dan buruk atau konsep keadilan, misalnya, yang dia dapatkan dari pendidikannya di usia sebelumnya kini mengalami perubahan. Anak mulai memikirkan secara khusus mengenai pelanggaran moral. Pelanggaran moral yang dilakukan anak pada fase ini terjadi karena dia masih belum memahami peraturan. Pendidik harus memberikan perhatian besar pada fase-fase perkembangan fisik, intelektual, dan mental anak didiknya sebab hal itu sangat berpengaruh pada perkembangan anak pada fase-fase berikutnya.
4.      Fase Puber (Remaja Awal)
Periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat meskipun masa puber merupakan periode singkat yang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja. Masa ini terjadi pada usia yang berbeda bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Kriteria yang paling sering digunakan untuk menentukan permulaan masa puber adalah haid pertama kali pada anak perempuan dan mimpi basah bagi anak laki-laki.
5.      Fase Remaja
Masa remaja yang berlangsung dari saat individu menjadi matang secara seksual dari usia dua belas sampai usia delapan belas tahun, perubahan sosial yang penting dalam masa remaja meliputi meningkatnya pengaruh kelompok sebaya, pola perilaku sosial yang lebih matang, pengelompokan sosial baru dan nilai-nilai baru dalam pemilihan teman, pemimpin, dan dalam dukungan sosial.
Perubahan pokok dalam moralitas selama masa remaja terdiri dari mengganti konsep-konsep moral khusus dengan mengganti konsep-konsep moral yang benar dan salah yang bersifat umum, membangun kode moral yang berdasarkan  pada prinsip-prinsip moral individual dan mengendalikan perilaku melalui perkembangan hati nurani.
 Dalam hal cinta, remaja menganggap bahwa rasa senang yang muncul dari saling pandang sebagai cinta. Hal ini di sebabkan kuatnya daya khayal dan asmara yang ada dalam dirinya. Remaja tidak memandang cinta yang hakiki sebagai suatu gerakan tanpa keinginan dan kecendrungan alami yang ada dalam diri manusia dan islam tidak pernah mengharamkan cinta. Justru definisi cinta yang difahami remaja akan dapat mengarahkan mereka ke dalam hal-hal yang di haramkan. Bahkan mungkin khayalan dan angan-angan ini dapat membuat guncangan jiwa yang luar biasa ketika memburuknya hubungan, atau ketika tidak ada respons yang di harapkan dari pihak lain.
6.      Fase Dewasa Dini (awal)
Masa dewasa ini adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif, yaitu suatu masa yang penuh masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi sosial, perode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreatifitas, dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Masa dewasa dini, dari umur delapan belas hingga kurang lebih empat puluh tahun.
Karena banyak minat yang terbawa dari masa remaja tidak lagi sesuai dengan peran sebagai peran orang dewasa, berbagai perubahan pada seluruh bidang tidak dapat dihindarkan. Perubahan yang terbesar adalah pengurangan keanekaragaman minat. Minat pribadi pada dewasa dini meliputi perhatian pada penampilan, pakaian, tata rias, lambang-lambang kedewasaan, status,uang dan agama.
Penyesuaian keluarga dan pekerjaan, khususnya pada masa dewasa dini, sangat sulit karena kebanyakan orang dewasa muda membatasi dasar-dasar yang dengannya ia membangun penyesuaian karena (newness) peran-peran yang di tuntut penyesuaian diri. Ketika ia menikah pun ia akan membatasi dan berusaha untuk mencari pasangan yang sesuai dengan statusnya.
7.      Fase Dewasa Madya (akhir)
Pada umumnya usia dewasa akhir (madya) atau usia setengah baya di pandang sebagai masa usia antara 40 sampai 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya ditandai oleh adanya perubahan-perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti dengan penurunan daya ingat.
Ada sepuluh karakteristik yang biasa terjadi pada usia madya, yaitu:
a)      Usia madya merupakan periode yang sangat menakutkan
b)      Usia madya merupakan usia transisi
c)      Masa stress
d)     Usia yang berbahaya
e)      Usia canggung
f)       Masa berprestasi
g)      Masa evaluasi
h)      Dievaluasi degan standar ganda
i)        Masa sepi
j)        Masa jenuh
Kondisi-kondisi yang mempengaruhi penyesuaiaan pekerjaan pada usis madya, yaitu: kepuasan kerja, kesempatan promosi, harapan pekerjaan, sikap pasangan, sikap teman sekerja. Sedangkan kondisi-kondisi yang merumitkan penyesuaian diri terhadap perubahan pola keluarga pada usia madya: perubahan fisik, hilangnya peran sebagai orang tua, kurangnya persiapan, merasa tidak berguna lagi, kekecewaan terhadap perkawinan, merawat anggota berusia lanjut.
Kondisi-kondisi tersebut tidak akan terjadi apabila setiap fase perkembangan yang dilalui setiap individu sangat kondusif untuk mendukung fase berikutnya. Ketika masalah penyesuaian diri terhadap lingkungan, misalnya dengan tetangga tidak bermasalah pade fase sebelumnya, maka fase ini akan dilaluinya dengan mudah. Rasa toleransi dan saling berbagi serta saling merhormati antar tetangga sangat dibutuhkan dalam hidup bersosialisasi.
8.      Fase Dewasa Akhir (lansia)
Usia enam puluhan biasanya dipandang sebagai garis pemisah antara usia madya dan usia lanjut. Ciri-ciri usia lanjut: merupakan usia kemunduran, perbedaan individual pada efek menua, usi tua dinilai dengan kiteria yang berbeda.s


BAB III

PENUTUP


            Fase perkembangan dapat diartikan sebagai penahapan atau pembabakan tentang perjalanan kehidupan individu yang diwarnai ciri-ciri khusus atau pola-pola tingkah laku tertentu.
            Sedangkan pembabakan atau periodesasi perkembangan manusia secara garis besar dapat dibagi menjadi:
1.      Fase Pranatal
2.      Fase Awal masa Kanak-kanak
3.      Fase Akhir masa Kanak-kanak
4.      Fase Puber (Remaja Awal)
5.      Fase Remaja
6.      Fase Dewasa Dini (awal)
7.      Fase Dewasa Madya
8.      Fase Dewasa Akhir

Kami menyadari, dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sebagai penyusun berharap agar ada kritik dan saran dari semua pihak terutama dosen. Kami hanyalah manusia biasa. Jika ada kesalahan, itu datangnya dari kami sendiri. Dan jika ada kebenaran, itu datangnya dari Allah SWT.




Cholil, H, dan Kurniawan Sugeng. 2011. Psikologi Pendidikan Telaah Teoritik dan Praktik. Surabaya: IAIN SA Press.
Prawira, Atmaja Purwa. 2017. Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru. YogyakartaI: AR-RUZZ MEDIA.


[1] Cholil & Sugeng K, Psikologi Pendidikan, (Surabay:IAIN  Sunan Ampel, 2011),hal. 88 .
[2] Purwa Atmaja P, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 74.
[3] Purwa Atmaja P, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 75.
[4] Purwa Atmaja P, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 76.
[5] Purwa Atmaja P, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 78.
[6] Purwa Atmaja P, Psikologi Pendidikan dalam Perspektif Baru(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2017), hlm. 82-83.
[7] CHOLIL & SUGENG K, Psikologi pendidikan, (SURABAYA:IAIN SUNAN AMPEL,2011), hal.131

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...