MAKALAH
KEMUNCULAN AGAMA ISLAM
(KONDISI JAZIRAH ARAB DAN DAKWAH RASUL)
KEMUNCULAN AGAMA ISLAM
(KONDISI JAZIRAH ARAB DAN DAKWAH RASUL)
Dosen
pembimbing : Abdul Wasik,M.Hi
Kelompok : 2
Anggota : Aynul Masturoh
Elok Firdausiyah
Nur Aini
Radinal Walidah
Wahidatul Hasanah
MANAGEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT TAQWA
KABUPATEN BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017-2018
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT TAQWA
KABUPATEN BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017-2018
DAFTAR
ISI
Kata Pengantar.................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
A.
Latar
Belakang.....................................................................................1
B.
Rumusan
Masalah................................................................................2
C.
Tujuan
Penulisan..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................3
A.
Kondisi
Jazirah Arab...........................................................................3
B.
Dakwah
Rasul.......................................................................................7
BAB III PENUTUP.........................................................................................16
A.
Kesimpulan...........................................................................................16
B.
Saran.....................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................ii
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Secara esensial kehadiran Nabi Muhammad untuk
menyebarkan ajaran agama islam pada masyarakat Arab adalah terjadinya
kristalisasi pengalaman baru pada dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala
aspek kehidupan masyarakat Arab, termaksud hukum-hukum yang digunakan pada masa
itu. Keberhasilan Nabi Muhammad dalam memenangkan kepercayaan bangsa Arab
relative singkat. Kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab
yang sebelumnya jahiliah kejalan orang-orang yang bermoral Islam.
Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad telah
membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak beradab dan tidak
terkenal serta diabaikan oleh bangsa lain, menjadi bangsa yang maju, ia dengan
cepat bergerak mengembangkan dunia, membina suatu kebudayaan dan peradaban yang
sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.
Dalam berdakwah Nabi Muhammad tidak hanya
menggunakan aspek kenabiannya namun juga menggunakan strategi politik dengan
memunculkan aspek-aspek keteladanannya dalam menyelesaikan persoalan. Seperti,
dakwah di Mekkah yang terbagi menjadi dua yaitu secara diam-diam dan dakwah
secara terbuka. Disini dapat kita lihat adanya strategi Nabi dalam menyeru umat
manusia untuk beribadah kepada Allah Swt. Walaupun dalam menjalankan perintah
Allah, Nabi mendapat banyak tantangan yang besar dari berbagai pihak namun atas
izin Allah segala hal yang dilakukan Nabi dapat berjalan lancar.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dakwah Rasul secara sirriyah dan secara terang-terangan?
2.
Bagaimana
kondisi jazirah Arab?
C. Tujuan
1.
Untuk mengetahui
pengertian dakwah Rasul secara sirriyah dan secara terang-terangan
2.
Untuk mengetahui
kondisi jazirah Arab
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Kondisi
Jazirah Arab
Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan
terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun
karena letaknya. Kota ini dilalui oleh jalur perdagangan yang ramai
menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya ka’bah di
tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka
berziarah didalamnya terdapat 360 berhala mengelilingi berhala utama yaitu
Hubal. Agama dan masyarakat Arab mencerminkan realitas kesukuan jazirah Arab
dengan luas satu juta mil persegi. Sebagian besar daerah jazirah adalah padang
pasir sahara yang terletak di tengah dan memiliki kedaan dan sifat
berbeda-beda. ( Badri Yatim: 2005, 9)
Ka’bah pada masa sebelum islam sudah menjadi tempat
yang disucikan dan banyak dikunjungi oleh penganut-penganut asli Makkah dan
orang-orang yahudi yang bermukim di sekitarnya. Untuk mengamankan para peziarah
yang datang ke kota itu, didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mulanya
berada ditangan dua suku yang berkuasa yaitu Jurhum (sebagai pemegang kuasaan
politik) dan Ismail (keturunan Nabi Ibrahim). Kekuasaan politik kemudian
berpindah ke suku Khuza’ah dan akhirnya ke suku Quraisy di bawah pimpinan
Qushai. Suku terakhir inilah yang kemudian mengatur urusan-urusan politik dan
urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah. ( Badri Yatim: 2005, 4)
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk
jazirah Arab di bagi menjadi dua golongan besar yaitu Qahthaniyah (keturunan
qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat, baik yang
nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui. Beberapa
keluarga membentuk kabilah (clan). Peperangan antar Clan sering terjadi, sikap
ini telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam
masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah.
Situasi ini masih terus berlangsung sampai agama islam lahir.
Akibat peperangan yang terus menerus kebudayaan
mereka tidak berkembang karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra islam sangat
langka di dapatkan di dunia Arab. Ahmad syalabi menyebutkan, sejarah Arab hanya
dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama islam. (
Badri Yatim: 2005, 10)
Kehidupan sosial bangsa Arab pada masa itu dengan
adanya syair-syair Arab. Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang
sangat di hargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai
kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh
syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat
seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya dapat menghina-hinakan orang yang
tadinya mulia. ( Fatah Syukur NC: 2009,
24)
Berkembangnya budaya di daerah Arab menjelang
kebangkitan Islam berasal dari pengaruh budaya bangsa-bangsa sekitarnya yang
lebih awal maju dari kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk kedaerah
Arab melalui beberapa jalur di antaranya ialah melalui hubungan dagang dengan
bangsa lain, melalui kerajaan-kerajaan protektoral, Hirah dan Ghasasan dan
melalui masuknya misi Yahudi dan Kristen.
Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke
jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu
percaya kepada dewa yang di wujudkan dalam bentuk berhala dan patung. ( Badri
Yatim,t,t., 15). Bangsa arab memiliki karakteristik tersendiri lugas polos
keras bagaimana tercermin dari masyarakat primitive dan perawan. Akan tetapi
mereka memiliki kelebihan terutama dalam hal berperang, persaudaraan (suku).
Bahkan dalam bahasa dan kesusastraan, sehingga mereka dikenal dengan bangsa
yang memiliki hafalan yang kuat. Oleh al-qur’an mereka di sebut bangsa yang
ummi.
1. Perjanjian
dan Persekutuan
Perjanjian awal antara kaum muslim mekkah dan para
peziarah dari Yatstrib di Aqabah memberikan kesempatan bagi dakwah Nabi
Muhammad SAW untuk berkembang di semenanjung tersebut melalui hijrah yang disepakati
di kota Yastrib. Suku-suku Aus dan Khazraj dari Yastrib bukan pemeluk Yahudi
maupun Kristen, dan perjanjian itu merupakan pengalaman bermanfaat bagi kaum
muslim dalam membangun persekutuan dan menyebarkan ajaran islam kepada
suku-suku yang lebih bersahabat di Arab.
Begitu kekuasaan muslim di Madinah termantapkan.
Nabi Muhammad SAW dengan cepat menjalin hubungan erat dengan
komunitas-komunitas tetangga. Guna memenuhi panggilan beliau untuk menyebarkan
islam, penting untuk menciptakan kondisi-kondisi yang tepat bagi dialog agama.
Demi tujuan ini, utusan utusan Nabi Muhammad SAW mendatangi para penguasa
Abisinia, Mesir, Persia, Suriah, dan Yaman.
2. Orang-orang
Kristen Najran
Sekitar tahun 630, Nabi Muhammad SAW menerima
delegrasi sekitar 60 rohaniwan dan pemimpin kristen dari Najran dari Yaman.
Mereka adalah Trinitarian ortodoks yang dilindungi kekaisaran Bizantian, dan
Nabi Muhammad SAW mengizinkan mereka menggunakan masjid untuk beribadah secara
Kristen. Ia juga memanfaatkan kunjungan mereka sebagai kesempatan mengundang
kaum Yahudi Madinah untuk berdialog agama tiga pihak.
Selama pertemuan mereka, Nabi Muhammad SAW
mengkritik kedua agama, meyatakan bahwa mereka menyelewengkan monoteise dan
mengutak-atik kitab suci sehingga menyimpangkan ajaran para Nabi terdahulu.
Kaum Najran mengakui kasahihan Muhammad sebagai Nabi
namun kebanyakan di antara mereka saat itu menolak masuk agama islam. Akan
tetapi, mereka mengizinkan salah satu sahabat beliau, Abu Ubaydah bin Al-Jarrah
untuk menyertai mereka ke Yaman sebagai duta pendakwah islam. Dalam beberapa
tahun, mayoritas orang Yaman, termasuk kaum Kristen dari Najran, telah masuk
islam.
3. Pendeta-pendeta
Abisinia
Kerajaan Kristen Abisinia menjadi tempat pelarian
bagi sejumlah kaum muslim awal yang disebut pelaksana hijrah pertama dalam
islam Negus dari Abisinia dan Nabi Muhammad SAW saling menghormati, dan sang
raja mengirimkan delegasi tujuh pendeta dan lima biarawan ke Madinah. Mereka
diperintahkan mengamati Nabi Muhammad SAW dan mempelajari wahyu-wahyunya.
Para rohaniawan Abisinia amat tersentuh oleh
ayat-ayat yang mereka dengar dan peristiwa itu nantinya disebutkan dalam
Al-Qur’an; ‘’Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya
dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘sesungguhnya
kami adalah orang Nasrani. ‘yang demikian itu karena diantara mereka terdapat
para pendeta dan para rahip, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri ‘’
Sebagai tanggapan, Nabi Muhammad SAW mengirimkan
surat yang mengundang sang raja untuk menerima islam. Tak jelas apakah Negus
betul-betul masuk islam, namun ketika dia wafat, Nabi Muhammad SAW mengumumkan
kematiannya dan melaksanakan shalat Gaib untuknya. Setelah ‘hijrah pertama’,
islam terus berkembang diseluruh Abisinia.
4. Kaum
Yahudi Di Madinah
Hubungan kaum muslim dan Yahudi di Madinah kerap
kali getir, meskipun banyak diantara mereka banyak yang masuk islam. Dalam
upaya memastikan perdamaian di kota itu, ditandatangani perjanjian dengan kaum
Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, walaupun bebas melaksanakan agama mereka
sendiri dan terbebas dari kewajiban bagi kaum muslim, sejumlah orang Yahudi
melanggar perjanjian mereka. Mereka diberi dua pilihan; ikut berperang melawan
kaum musyrik Mekkah yang sempat bersekutu dengan mereka untuk melawan muslim,
atau angkat kaki. Setelah pada awalnya menolak melakukan kedua hal itu, mereka
meninggalkan Madinah menuju wilayah Khaybar dan menyerang kaum muslim
berkali-kali. Pengkhianatan ini dituntaskan pada pertempuran ahzab(konfederasi)
dan serangan kaum muslim setelahnya terhadap Khaybar. Suku-suku dan
sekutu-sekutu mereka ditundukkan.
Begitu Mekkah dan sekutu-sekutu mereka takluk, Nabi
Muhammad SAW mengalihkan perhatian beliau kepada perjanjian-perjanjian damai
dengan suku-suku Badui disekitar mekkah guna memfasilitasi penyebaran islam ke
seluruh Jazirah Arab dan lebih jauh lagi.
B. Dakwah
Rasul
1. Masa
Kerasulan
Beberapa kilometer di Utara Makkah, bertepatan pada
tanggal 17 ramadhan 611 M, di Gua Hira malaikat Jibril muncul di hadapan Nabi
Muhammad untuk menyampaikan Wahyu Allah yang pertama. pada usia Nabi yang
menjelang 40 itu Allah telah memilih Muhammad sebagai Nabi. Pada wahyu kedua
Nabi di perintahkan untuk menyeru manusia kepada satu agama, yaitu agama Islam.
( Badri Yatim: 18-19)
2. Perjuangan
Dakwah Rasul
Sebagaimana telah di sebutkan di atas bahwasanya
perjuangan dakwah Rosulullah itu ada dua tahapan, yaitu secara sirriyah (secara rahasia) dan terang-terangan. Yang mana dalam hal
tersebut Rasulullah menjalaninya tak hanya dengan waktu yang singkat, harus melaui
perjuangan yang ekstara penuh kesabaran dalam menghadapi musuh-musuh islam. Apa
yang di maksud dakwah secara sirriyah
dan terang-terangan?
a. Tahapan
Dakwah Sirriyah
Sebagaimana
diketahui, kota Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat
para pengabdi Ka’bah pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci
oleh seluruh bangsa Arab. Fanatisme bangsa Quraisy tehadap agama nenek moyang
telah membuat islam sulit berkembang di Makkah walaupun Nabi Muhammad sendiri
berasal dari suku yang sama. Dalam menghadapi hal tersebut Nabi Muhammad
memulai dakwah secara sirriyah(sembunyi-sembunyi)
agar penduduk Makkah tidak di kagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing
emosi mereka ( Syaikh Shafiyyurrahman : 2016, 92)
1.) as-Sabiqunal
al-Awwalun
Merupakan hal wajar bila yang pertama-tama yang
dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan islam kepada orang-orang yang
hubungannya dekat dengan beliau, keluarga serta sahabat-sahabat karib beliau.
Karena itulah, orang yang pertama menerima dakwahnya adalah keluarga dan
sahabat-sahabat beliau. Mereka semua didakwahi oleh beliau untuk memeluk islam.
seorang demi seorang diajak agar mau meninggalkan agama berhala agar menyembah
Allah yang maha Esa. Usaha yang dilakukan itupun berhasil, dalam sejarah islam mereka
dikenal sebagai as-Sabiqunal al-Awwalun (orang-orang
pertama masuk islam). Di barisan
terdepan terdaftar istri Rosulullah, Ummul Mukminin, Khadijah binti khuwalid,
kalangan pemuda sekaligus keponakan Rosulullah Ali bin Abi Thalib Yang ketika itu Sy. Ali bin
Abi Thalib masih kanak-kanak dan berada di bawah asuhan Rasulullah, Zaid bin
Haristah, tokoh masyarakat yaitu Abu Bakar as-Siddiq. Mereka semua memeluluk
islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Sy.
Abu Bakar dengan sangat giat mengajak orang-orang kepada agama islam. Beliau
merupakan sosok laki-laki yang lembut, disenangi, luwes, tegas dan berbudi
luhur serta berbuat baik. Beliau terus berdakwah kepada orang-orang dari
kaumnya yang dia percayai dan selalu beriteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat
hal itu, maka masuk islamlah Usman bin Affan al-Umawi, az-Zubair bin Awwam
al-Asadi, Abdurrahman bin Auf az-Zuhri, Sa’ad bin Abi Waqash as-Zuhri dan
Thalhah bin ubaidillah at-Taimi. Diantara orang-orang pertama lainnya yang
masuk islam ialah Bilal bin Rabah al-Habasyi kemudian di ikuti oleh Abu
Ubaidah, nama beliau adalah Amir bin Jarrah, beliau berasal dari suku Bani
Al-Harist bin Fihr. Selanjutnya menyusul keduanya, Abu Salamah bi Abdul Asad,
Al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), Ustman bin Ma’zun
serta kedua saudaranya; Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin al-Harist bin
Abdul-Muthalib bin Abdu Manaf, Sa’id bi Zaid al-Adawi dan istrinya; Fatimah
binti al-Khaththab al-Adawiyah saudara perempuan umar bin khattab, Khabbab bin
al-Arat, Abdullah bin Mas’ud al-Huzali , mereka itulah yang dinamakan as-Sabiqun al-Awwalun. ( Syaikh Shafiyyurahman, 2016, 93-94)
2.) Perintah
Shalat
Termasuk wahyu
pertama yang turun adalah peintah mendirikan shalat Ibnu Hajar berkata,
“sebelum isra’ terjadi, beliau Rasulullah berdasarkan riwayat yang qath’i
(pasti) pernah melakukan shalat, demikian pula para sahabat beliau.
Ibnu Hisyam
menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Rasulullah SAW dan para
sahabat pergi ke lereng-lereng perbukitan dan menjalankan shalat disana secara
sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali
waktu melihat Rasulullah SAW dan Ali melakukan shalat lantas menegur keduanya
namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia
memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat).(Syaikh
Shafiyyurahman,2016,95)
3.) Kaum
Quraisy Mendengar Perihal Dakwah Secara Global
Meskipun dakwah pada tahapan ini dilakukan secara
sembunyi-sembunyi dan bersifat secara individu, namun akhirnya, perihal
beritanya sampai juga ke telinga kaum Quraisy. Hanya saja, mereka belum
mempermasalahkannya karena Rasulullah SAW tidak pernah menyinggung agama mereka
ataupun tuhan-tuhan mereka.
Tiga tahun pun
berlalu sementara dakwah masih bisa berjalan secara smbunyi-sembunyi dan
individu. Dalam tempo waktu ini, terbentuklah suatu kelompok kaum mukminin yang
dibangun atas pondasi ukhuwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas)
serta penyampaian risalah dan pemantapan posisinya. Kemudian turunlah
wahyu yang menugaskan Rasulullah SAW agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya
secara terang-terangan (jahriyyah), dan menentang kebatilan mereka serta
menyerang berhala-berhala mereka.( Syaikh Shafiyyurahman,2016,95)
b. Dakwah
terang-terangan
1.) Perintah
Pertama untuk Menampakkan Dakwah
Sehubungan
dengan hal ini, ayat yang pertama turun adalah:
وأنذرعشيرتك
الأقربين (٢١٤)
Wa andzir ‘asyirotakal aqrobin
“ Dan berilah peringatan kepada
keluargamu yang terdekat.”(asy-Syu’ara’:214)
Sebelumnya terdapat alur cerita yang menyinggung
kisah Musa dari permulaan kenabiannya hingga hijrahnya bersama bani Israil,
lolosnya mereka dari kejaran Fir’aun dan kaumnya serta tenggelamnya Fir’aun
bersama kaumnya. Kisah ini mengandung semua tahapan yang dilalui oleh Musa
dalam dakwahnya terhadap Fir’aun dan kaumnya agar menyembah Allah. ( Syaikh
Shafiyyurrahman : 2016, 96)
Seakan-akan rincian ini semata-mata dipaparkan
seiring dengan perintah kepada Rasulullah untuk berdakwah kepada Allah secara
terang-terangan, agar dihadapan beliau dan para sahabatnya terdapat contoh atas
pendustaan dan penindasan yang akan mereka alami nantinya manakala mereka
melakukan dakwah tersebut secara terang-terangan. Demikian pula, agar mereka
mengetahui resiko dari hal itu semenjak awal memulai dakwah mereka tersebut.
Selain itu, surat tersebut(Asy-Syu’ara’) juga
berbicara mengenai nasib yang dialami oleh para pendusta para Rasul,
diantaranya sebagaimana yang dialami oleh kaum nabi Lut, serta kaum nabi
Syu’aib disamping yang berkaitan dengan perihal Fir’aun dan kaumnya semua itu
dimaksudkan agar mereka yang akan melakukan pendustaan menyadari apa yang akan
terjadi terhadap mereka dan siksaan Allah yang akan mereka alami bila terus
melakukan pendustaan. Sebaliknya, agar kaum mukminin mengetahui bahwa kesudahan
yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta
tersebut.
2.) Berdakwah
di Kalangan Kaum Kerabat
Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah
mengundang para kerabat terdekatnya, Bani Hasyim. Mereka pun datang memenuhi
undangan itu disertai oleh beberapa orang dari Bani Al-Munthalib bin Abdi
Manaf. Mereka semua berjumlah sekitar 45 orang laki-laki. Namun tatkala
Rasulullah akan berbicara, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya seraya berkata
”Mereka itu adalah paman-pamanmu dan para sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah
menganut agama baru. Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh
bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Cukuplah bagimu
suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau bersikeras melakukan apa
yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh marga
Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat
ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih
jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.” Rasulullah hanya diam dan tidak
berbicara pada pertemuan itu.
Sekali waktu, beliau mengundang mereka lagi, lantas
berbicara, ”Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta pertolongan, beriman serta
bertawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang haq) melainkan
Allah semata Yang tiada sekutu bagi-Nya.
Selanjutnya beliau berkata, ”Sesungguhnya seorang
pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada
Tuhan (yang haq) selainNya! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang datang
kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia manusia secara umum. Demi
Allah! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan
sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (dimintai
pertanggungjawaban) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnnya yang ada
hanya surga yang abadi atau neraka yang kekal.”
Kemudian Abu Thalib berkomentar,”Alangkah senangnya
kami membantumu, menerima nasihatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu.
Mereka, yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul.
Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka, namun aku adalah orang
yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan. Oleh karena itu, teruskan
apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah! Aku hanya senantiasa
melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak memberikan cukup keberanian
kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muhthalib.”
Ketika itu, Abu Lahab berkata.” Demi Allah! Ini
benar-benar merupakan aib yang besar, ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang
turun tangan yang mencegahnya!”
Abu Thalib menjawab, “ Demi Allah! Sungguh selama
kami masih hidup, kami akan membelanya.”
3.) Di
Atas Bukit Shafa
Setelah Nabi merasa yakin dengan semua janji
pamannya, Abu Thalib yang akan melindungi dalam tugasnya menyampaikan wahyu
Rabbnya, suatu hari beliau berdiri diatas bukit Shafa seraya berteriak, “ Ya
Shabahah!” (seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi
dan biasa digunakan untuk perang). Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy.
Kemudian nabi mengajak mereka untuk bertauhid (kepada Allah), beriman kepada
risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.
Nabi naik ketas bukit Shafa, lalu menyeru, “Wahai
bani Fihr! Wahai bani Adi! Seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy.
Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul. Karena begitu pentingnya
panggilan itu, seorang yang tidak bisa keluar memenuhinya, mengirimkan utusan
untuk melihat apa gerangan yang terjadi.? Maka,tak terkecuali Abu Lahab dan
kaum Quraisy pun berkumpul juga. Kemudian beliau berbicara, “ Bagaimana menurut
pendapat kalian kalau aku beri tahukan bahwa
ada segeombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian,
apakah kalian akan mempercayaiku?”
Mereka menjawab, ‘Ya, Kami tidak pernah tahu dari
dirimu selain kejujuran.’
Beliau berkata,’Sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan kepada kalian akan azab yang amat pedih.’
Abu Lahab menanggapi,”celakalah engkau sepanjang
hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?
Maka ketika itu turunlah ayat:
تبت يدآأبى لهب
وتب (1)
Tabbad yadaa abiy lahabiwwatab
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab...” (al-Masad: 1).
Sedangkan
Imam Muslim meriwayatkan satu sisi yang lain dari kisah tersebut, yaitu
riwayat dari Abu Hurairah , dia berkata,
“Tatkala ayat turun, Rasulullah mendakwahi meraka,
sesekali bersifat umum, dan selesai yang lain bersifat khusus, Beliau berkata,
“Wahai Bani Ka’b! Selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti
Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah! Sesungguhnya aku
tidak memiliki sesuatu pun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab Allah, hanya
saja kalian memiliki ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku
sambung.
Teriak yang keras ini merupakan bentuk dari esensi
penyampaian dakwah yang optimal, di mana Rasulullah telah menjelaskan kepada
orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah
yang dibawanya tersebut dengan bentuk efektifitas semua hubungan antara dirinya
dan meraka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh
orang-orang Arab akan melelehkan di dalam panasnya peringatan yang datang dari
Allah tersebut.
4.) Menyampaikan
al-Haq Secara Terang-terangan dan Sikap Kaum Musyikin Terhadapnya
Teriakan lantang yang dipekikkan oleh Rasulullah
tersebut masih terasa gaungnya di seluruh penjuru Makkah. Puncaknya saat
turunnya Firman Allah,
فاصدع بماتؤمروٲعرض
عن المشركين(۹٤)
Fasda’ bima tu’maru wa a’rid ‘anil
musyrikin
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan
segala apa yang diperintahkan (kepadanya) dan berpalinglah dari orang-orang
musyrik.
Lalu Rasulullah melakukan dakwah Islam secara
terang-terangan di tempat-tempat berkumpul dan bertemunya kaum Musyrikin.
Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selalu
disampaikan oleh para Rasul terdahulu kepada kaum mereka,” Wahai kaumku!
Sembahlah Allah kalian tidak memiliki Tuhan selainNya. Beliau juga mulai memamerkan
praktek ibadahnya kepada Allah didepan mata mereka, melakukan di halaman Ka’bah
pada siang hari secara terang-terangan dan disaksikan khalayak ramai.
Dakwah yang beliau lalukan tersebut semakin
mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk ke dalam agama Allah
satu persatu. Namun kemudian antara
mereka (yang sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam
terjadi gap, saling membenci dan saling menjauhi. Melihat hal ini kaum Quraisy
merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitnya mereka.
5.) Sidang
Majelis Membahas Upaya Menghalangi Jamaah Haji Agar Tidak Mendengarkan Dakwah (
Rasulullah)
Sepanjang
hari-hari tersebut, ada hal lain yang membuat kaum Quraisy gundah gulana, yaitu hanya berselang beberapa
hari atau bulan saja dakwah jahiliyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa)
medekati musim haji/ dalam hal ini, kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab
akan datang ke negeri mereka. Oleh karena itu, mereka melihat perlunya
merangkai satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat) mereka sampaikan kepada delegasi tersebut perihal Muhammad
agar dakwah yang disiarkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap
jiwa-jiwa delegasi Arab tersebut. Maka berkumpullah mereka dirumah al-Wahid
binal-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakatin
bersama tetsebut. Lalu al-Wahid bekata” Bersepakatlah mengenai perihal(
Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagai
kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagai lagi mementahkan
pendapat sebagai yang lain.
Mereka
berkata kepadanya, “Katakanlah kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan
acuan”.
Lalu
dia berkata,”Justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian dan aku
sebagai pendengar.”
Meraka
berkata” (Kita Katakan ) dia adalah dukun.”
Al-Wahid menjawab,”Tidak!Demi Allah dia bukanlah
seorang dukun. Kita telah menyaksikan bagaimana (praktek) para dukun, sedangkan
yang dikatakan bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para
dukun.”
Mereka
berkata lagi,”Kita katakan saja, dia orang gila.”
Dia
menjawab,”Tidak! Demi Allah, dia bukan orang gila. Kita telah mengetahui esensi
gila dan telah mengenalnya, sedangkan yang dikatakan bukan dalam kategori
tertekan, kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut.”
Mereka
berkata lagi, “Kalau begitu kita katakan saja, dia adalah seorang penyair.”
Dia
menjawab,”Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengenal semua bentuk syair,
rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh dan mabsuthnya, sedangkan yang dikatakan bukanlah
syair.”
Mereka
berkata lagi,”Kalau begitu,dia adalah tukang sihir.”
Dia
menjawab, “Dia bukanlah seorang tukang sihir, Kita telah menyaksikan para
tukang sihir dan macam-macam sihir mereka, sedangkan yang dikatakannya bukanlah
jenis nafts (hembusan penyihir) ataupun uqad (buhul-buhul) mereka.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
penduduk jazirah Arab di bagi menjadi dua golongan besar yaitu
Qahthaniyah (keturunan qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat,
baik yang nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui.
Beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Peperangan antar Clan sering
terjadi, sikap ini telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang
Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi
sangat rendah. Situasi ini masih terus berlangsung sampai agama islam lahir. Kehidupan
sosial bangsa Arab pada masa itu dengan adanya syair-syair Arab.
Dakwah rasul dibagi
menjadi 2 yaitu, secara sirriyah dan secara terang terangan.
B.
Saran
Kami menyadari, dalam pembuatan makalah ini jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sebagai penyusun berharap agar ada kritik
dan saran dari semua pihak terutama dosen. Kami hanyalah manusia biasa. Jika
ada kesalahan, itu datangnya dari kami sendiri. Dan jika ada kebenaran, itu
datangnya dari Allah SWT.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Mubarakfuri,
Syaikh Shafiyyurrahman. 2016. Sirah
Nabawiyah. Jakarta: Darul Haq.
Yatim,
Badri. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada.
Syukur
NC, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam.
Semarang: PT Pustaka Riski.
