MAKALAH
HASIL OBSERVASI MANAJEMEN STRATEGIK DI SMA
MUHAMMADDIYAH BONDOWOSO
Dosen pembimbing: Abdul Haq As,
S.Pd.I, M.Pd.I
Oleh kelompok 11 :
Lumatul Fajriyah
Munawaroh Nur Muzaiyanah
Nabila Arifiana
Nur Aini
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT-TAQWA BONDOWOSO
FAKULTAS TARBIYAH
TAHUN
AKADEMIK 2019/2020
بسم لله الر حمن الر حيم
Puji
syukur kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas karuniaNyalah
kami dapat menyelesaikan laporan Observasi yang berjudul “Manajemen Strategi”
ini sesuai waktu yang telah ditentukan.
Kami
juga sangat berterimaksih kepada pihak SMA MUHAMMADIYAH BONOWOSO yang telah
mengizinkan kami untuk melakukan Observasi di tempat tersebut, khususnya bagi
Kepala Sekolah dan Kepala Tata Usaha yang kami Observasi.
Laporan
ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah “Manajemen Strategik” Kami berharap laporan ini tidak
ada kekurangan maupun kesalahan, namun sebagai mahasiswa tetap saja laporan ini
banyak kekurangan dan kesalahan sehingga kami membutuhkan kritik dan saran yang
membangun agar laporan ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata, kami berharap agar
laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pembaca.
Manajemen strategi adalah keputusan
dan tindakan manajemerial terkait dengan kinerja jangka panjang organisasi.
Manajemen strategis mencakup semua fungsi dasar manajemen, yaitu mulai dari
merencanakan, mengorganisir, melaksanakan dan mengendalikan strategi.
Manajemen strategi berperan penting
dalam meningkatkan kinerja organisasi. Melalui strategi yang terancang dengan
baik, perusahaan dapat meningkatkan laba, menguasai pasar, menciptakan
keunggulan kompetitif, serta meningkatkan mekamuran atau hasil pengmbalian bagi
pemegang saham.
Manajemen strategi sebagai suatu
konsep yang terkait dengan faktor waktu melibatkan suatu proses yang kontinu
dan iteratif dalam mencapai tujuan organisasi yang sesuai dengan kondisi
lingkungan yang dihadapinya. Oleh karena itu, manajemen strategik dapat
digunakan untuk mengidentifikasi kegiatan yang menjanjikan dan berfokus pada
sumber daya (alam,manusia dan buatan) untuk pengembangan jangka panjang serta
menguntungkan. Sebagai ilustrasi, dengan meningkatnya sumber daya yang
dialokasikan ke suatu jaringan bisnis, kekuatannya dapat ditunjukkan dalam
bentuk superioritas teknologi, biaya rendah atau posisi pasar yang kuat.
Organisasi yang berdaya saing harus
memiliki kemampuan-kemampuam dasar yang dibutuhkan untuk menghadapi
persaingannya secara komprehensif. Kemampuan-kemampuan tersebut adalah
kemampuan strategi, kemampuan sintesis, kemampuan organisasi, kemampuan
komunikasi, kemampuan megosiasi, kememapuan presentasi, dinamis dan
ketangguhan. Kemampuan-kemampuan dasar sebagai prasyarat untuk membangun daya
saing organisasi ini dapat dikembangkan secara bertahap melalui proses
pembelajaran organisasi. Dengan kata lain, daya saing organisasi dapat
dikembangakan secara optimal jika organisasi mampu mengubah dirinya mejadi
organisasi pembelajar (learning otganization).
1.
Bagaimana
Pengertian Manajemen Strategi?
2.
Bagaimana
Sejarah Berdiri SMA Muhammadiyah Bondowoso?
3.
Apa
Visi dan Misi SMA Muhammadiyah Bondowoso?
4.
Bagaimana
Manajemen Strategi Pembelajaran?
5.
Bagaiamana
Manajemen Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah?
6.
Bagaiaman
Manajemen Strategi Keuangan dan Menarik Minat Masyarakat?
7.
Bagaimana
Lingkungan Eksternal dan Internal SMA Muhammadiyah Bondowoso?
8.
Analisis
SWOT di SMA Muhammadiyah Bondowoso?
9.
Metode
penelitian?
1.
Mengetahui
Pengertian Manajemen Strategi
2.
Mengetahui
Sejarah Berdiri SMA Muhammadiyah Bondowoso
3.
Mengetahui
Visi dan Misi SMA Muhammadiyah Bondowoso
4.
Mengetahui
Manajemen Strategi Pembelajaran
5.
Mengetahui
Manajemen Strategi Kepemimpinan Kepala Sekolah
6.
Mengetahui
Manajemen Strategi Keuangan dan Menarik Minat Masyarakat
7.
Mengetahui
Lingkungan Eksternal dan Internal SMA Muhammadiyah Bondowoso
8.
Mengetahui
Analisis SWOT di SMA Muhammadiyah Bondowoso
9.
Mengetahui
Metode penelitian yang digunakan
Strategi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu Strategos yang bermakna sebagai peran seorang Jendral perang.
Dalam Istilah kemiliteran, jendral mempunyai keahlian menggunakan berbagai
cara, teknik dan metode untuk menangani serangan musuh dan menyerang musuh.
Banyak pakar manajemen strategi
memberikan definisinya. H.I. Ansoff (1990) dalam bukunya “Implementing
Strategic”, mengatakan bahwa manajemen strategik adalah proses manajemen
yang menghubungkan antara perusahaan dengan lingkungan yang terdiri dari
perencanaan strategi, perencanaan kapabilitas dan manajemen prubahan.
Menurut Peter Drucker (1972),
manajemen startegi ilaha suatu proses sosial yang dibentuk untuk mendapatkan
kerjasama, penyertaan dan pelibatan ahli-ahli dalam organisasi atau perusahaan
secara efektif. Sedangkan menurut Pearce dan Robinson (2000), manajemen
strategi merujuk kepada kesatuan pengambilan keputusan dan aktifitas usaha
yang merupakan hasil formulasi dan pelaksanaan rencana-rencana yang dibentuk
untuk mencapai tujuan organisasi atau perusahaan. Dalam bukunyaPearce dan
Robinson menjelaskan beberapa hal penting dalam manajemen strategi yang dimulai
dengan pembentukan visi dan misi organisasi atau perusahaan sampai kepada
penilaian keberhasilan dari penerapan strategi tersebut sebagai acuan untuk
membuat keputusan baru yang berorientasi ke masa depan.
Dari definisi-defini tersebut dapat
disimpulkan beberapa hal, bahwa manajemen strategi merupakan hasil proses
analisis. Manajemen strategi merupakan hasil proses analisis lingkungan, baik
kekuatan dan kelemahan internal, peluang ekseternal dan ancaman eksternal
terhadap beberapa aspek perusahaan atau organisasi.[1]
Hesti Nur Hayati, S.Si merupakan
kepala sekolah SMA Muhammadiyah Bondowoso. ketika sesi wawancara mengatakan “Sejarah
singkat SMA Muhammadiyah Bondowoso dulu sebelum banyak lembaga selevel SLTA,
dengan beberapa tokoh Muhammadiyah di Bondowoso menginisiasi adanya lembaga SMA
Muhammadiyah ini.” Dan lebih jelasnya menyuruh kami membuka blognya langsung.
Sebagaimana tertulis di bawah ini.
Sejarah berdirinya SMA Muhammadiyah
1 Bondowoso dilatar belakangi adanya desakan dari siswa-siswi SMP Muhammadiyah
yang telah lulus ujian negara. Mereka ingin melanjutkan kejenjang sekolah
menengah yang berbasi Islam Muhammadiyah. Atas desakan tersebut guru-guru
Muhammadiyah pimpinan H. AG. Dwidjosoeparto beserta R. Muhammad Makam Hisjam,
IR. Sugiman, Moelono, Muhammad aslam mendirikan SMA Muhammadiyah pada oktober
1948 menempati Sekolah Rakyat VI Muhammadiyah Bondowoso (sekarang SD
Muhammadiyah) di jalan Bhayangkara 5 Bondowoso.
Kegiatan belajar di SR. VI
Muhammadiyah jalan Mayjen Panjaitan hanya berjalan beberapa bulan. Hal itu
disebabkan pada 19 Desember 1948 Belanda melakukan Agresi Militer II kepada
ibukota Republik Indonesia kala itu, Bondowoso. Seperti halnya yang dilakukan
anak muda maupun rakyat Indonesia yang lain, guru dan murid SMA Muhammadiyah 1
Bondowoso ikut berperang gerilya melawan agresi militer Belanda tersebut.
Setelah Belanda menarik pasukan dari
kota Bondowoso untuk melaksanakan resolusi Dewan Keamanan PBB serta hasil
perjanjian Roem-Royen maka ibukota Republik Indonesia dikembalikan ke Bondowoso
pada tanggal 29 Juni 1949. Peristiwa itu dikenal dengan nama peristiwa “Yogya
Kembali”. Para tentara, gerilyawan kembali masuk kota setelah selesainya perang
dan kota Bondowoso kembali aman.
Para
siswa kemudian kembali ke bangku sekolah SMA Muhammadiyah yang berlokasi di SR
Muhammadiyah VI lagi. Tapi ternyata gedung sekolah tersebut dipakai pemerintah
untuk Kantor Kementrian Keuangan RI Sampai ibukota kembali ke Jakarta. Oleh
karena itu HM. Mawardi yang waktu itu sebagai pengurus Muhammadiyah bidang
pengajaran bersama Dwidjosoeparto mencarikan tempat untuk kegiatan belajar mengajar,
yaitu dirumah H. Muhammad Sjarbini di jalan Kauman 44 Bondowoso.
Pada
tanggal 5 september 1949 siwa SMAMUHI kembali belajar di jalan Kauman 44
Bondowoso untuk kemudian tanggal tersebut yang dijadikan hari lahir SMA
Muhammadiyah 1 Bondowoso. Dalam perkembangannya jumlah siswa SMA Muhammdiyah 1
Bondowoso terus bertambah sehingga tempat belajar di Kauman tidak mampu
menampung siswa lagi. Maka kemudian Muhammadiyan menawarkan PKO (Pusat
Kesehatan Oemat) di Jl. Notoprajan untuk dijadikan tempat belajar mengajar.
Kemudian berturut-turut menempati gedung di jalan Gendingan sampai tahun 1963
dan selanjutnya menetap di jalan Kapten Tendean 1B.
Sejak
1964 SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso menempati gedung di Jl. Kapten Piere Tenden
1B Bondowoso. Kejadian yang sama terulang kembali. Gedung tersebut tak mampu
menampung jumlah siswa yang kembali bertambah. Sehingga perlu tempat baru yang
luas untuk kegiatan belajar mengajar. Kemudian membeli tanah di desa Petinggen,
Karangwuru, Tegalrejo Bondowoso pada masa kepemimpinan Bapak Soegiharso.
Pada tahun 1981, Gedung baru di Petinggen telah dibangun 1 unit.
Sehingga proses belajar mengajar dilakukan di dua tempat berbeda. Sebagian di
kampus baru di desa Petinggen, dan sebagian lainnya menempati kampus lama di
Jl. Pierre Tendean 1B sampai tahun 1988. Mulai Tahun Ajaran 1988/1989 semua
kegiatan belajar mengajar telah dipindahkan ke kampus baru di Petinggen.
Pada
Tahun 2002, SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso membuka program akselerasi atau
program percepatan belajar. Total jumlah yang dibuka adalah 30 kelas. Dengan
jumlah peserta didik peringkatnya sekitar 350 orang. Kemudian pada tahun 2006
SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso kembali membuka program layanan pendidikan
berbasis Teknoligi Informasi dengan nama kelas ICT-MSN (Information Communication
Tchnologi-Model School Network). Program layanan ini disertai dengan kerja sama
negara-negara APEC. Kala itu SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso menjalin kerjasama
sister school dengan Boonpo Middle School di Korea Selatan.
Pada
tahun 2008 Sma Muhammadiyah 1 Bondowoso menjadi salah satu sekolah RSMA-BI
(Rintisan Sekolah Menengah Atas-Bertaraf Internasional) di Kota Bondwoso. Dalam
perjalanan menuju Sekolah Bertaraf Internasional, SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso
menerapkan pengembangan penggunaan Teknologi Informasi dalam proses belajar
mengajar. Bentuk lainnya adalah dengan menerapkan manajemen mutu yang
berbasiskan ISO 9001:2008 yang telah resmi disandang SMA Muhammadiyah 1
Bondowoso.[2]
1.
Visi
“Mewujudkan lembaga yang unggul dan
mampu membentuk peserta didik yang berimtaq, cerdas, kompetitif dan berjiwa
muhammadiyah”
2.
Misi
a.
Peningkatan
jumlah siswa
b.
Melaksanakan
proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan berbasis IT
c.
Meningkatkan
kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan
d.
Melaksanakan
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan
e.
Mewujudkan
sumber-sumber pembelajaran swasta dan bantuan pemerintah yang di kelola secara
transparan.
3.
Profil Sekolah
a.
Identitas
Sekolah
1.
Nama
Sekolah : SMA
MUHAMMADIYAH
BONDOWOSO
2.
NSS : 304052201004
3.
NPSN :
4.
Jenjang
Pendidikan : SMA
5.
Status
Pendidikan : Swasta
6.
Alamat
Sekolah : Jl.
Mayjen Panjaitan No. 48
RT/RW : 7/2
Kode Pos : 68211
Kelurahan : Dabasah
Kecamatan : Kec.
Bondowoso
Kabupaten/kota : Kab. Bondowoso
Provinsi : Prop.
Jawa Timur
Posisi Geografis : -7.9227 Lintang,
113.821 Bujur
b.
Data
Pelengkap
7.
SK
Pendirian Sekolah :
3724/11-1/IMT-66/78
8.
Tanggal
SK Pendirian : 1981-05-05
10. Status kepemilikan : Yayasan
11. SK Izin Operasional : 421.3/2499/430.10.1/2004
12. Tanggal
SK Izin Operasional : 2014-06-23
13. Kebutuhan
Khusu Dilayani :
14. Nomer
Rekening :
0312599562
15. Nama
Bank : BANK
JATIM
16. Cabang
KCP/Unit : BONDOWOSO
17. Rekening
Atas Nama : SMA
MUHAMMADIYAH B
18. MBS :
Tidak
19. Luas
Tanah Milik (m2) : 1965
20. Luas
Tanah Bukan Milik (m2) : 250
21. Nama
Wajib Pajak : sma
muhammadiyah
22. NPWP :
02.016.293.9-656.000
c.
Kontak
Sekolah
23. Nomor Telepon :
(0332)421 950
24. Nomor Fax :
25. Email :
26. Website :
d.
Data
Periodik
27.
Waktu Penyelenggaraan : Pagi
28.
Bersedia Menerima Bos : Ya
29.
Sertifikat ISO :
Proses Sertifikasi
30.
SumberListrik :
PLN
31.
Daya Listrik (watt) :
4400
32.
Akses Internet :
Telkomsel Speedy
33.
Akses Internet Alternatif :
Telkomsel Speedy
e.
Sanitasi
34.
Kecukupan Air :
Cukup
35.
Sekolah Memproses Air Sendiri: Ya
36.
Air Minum Untuk Siswa :
Disediakan Sekolah
37.
Mayoritas Siswa Membawa Air
Minum :
Ya
38.
Jumlah Toilet Berkebutuhan
Khusus :
4
39.
Sumber Air Sanitasi :
Ledeng/PAM
40.
Ketersediaan Air di Lingkungan
Sekolah : Ada
Sumber Air
41.
Tipe Jamban :
Cubluk dengan tutup
42.
Jumlah Tempat Cuci Tangan : 4
43.
Apakah Sabun dan Air Mengalir
pada Tempat Cuci Tangan : Ya
44.
Jumlah Jamban Dapat
Digunakan : Laki-laki
(1) Perempuan (1)
45.
Jumlah Jamban Tidak Dapat
Digunakan : 0
Gulo (2008:3), menyatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan
rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar prinsip dasar dapat terlaksana
dan segala tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif. Cara membawakan
pengajaran ini merupakan pola dan urutan umum perbuatan guru murid dalam
perwujudan kegiatan belajar mengajar.
Menurut Hamalik (2001), strategi pembelajaran adalah keseluruhan
metode dan prosedur yang menitikberatkan pada kegiatan siswa dalam proses
belajar mengajar untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan menurut makmun
(2002:220) merumuskan strategi pembelajaran sebagai prosedur, metode dan teknik
belajar mengajar (teaching methode) yang sebagaimana dipandang paling
efektif dan efisien serta produktif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para
guru dalam melaksanakan kegiatan mengajarnya.
Strategi pembelajaran di SMA Muhammadiyah Bondowoso, dari penuturan
kepala sekolah bahwa “strategi pembelajaran diserahkan kepada guru
masing-masing, hanya saja intinya harus sekeratif mungkin dan menyenangkan
(sesuai misi) dan sebisa mungkin berbasis IT. Jadi, Hp para siswa agar tidak
mubadzir pihak sekolah tidak melarang anak
membawa Hp. Dengan catatan tidak dipergunakan saat jam pelajaran (jika
tidak dibutuhkan untuk pembelajaran), tetapi kalau dibutuhkan untuk
pembelajaran dengan pengawasan guru itu diperbolehkan karena sekarang mau tidak
mau IT jadi bagian dari hidup kita)”. Adapun kurikulum yang digunakan SMA
Muhammadiyah Bondowoso ialah Kurikulum 2013. Serta Jumlah siswa dan guru di SMA
Muhammadiyan Bondowoso berjumlah 102 (siswa putra putri), guru 21 dan karyawan
3.
Kurikulum 2013 merupakan hasil penyempurnaan kurikulum
sebelumnya, yang biasa dikenal dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) 2006. KTSP merupakan penyempurnaan dari kurikulum 2004 (KBK) yaitu
berbasis kompetensi. Pada dasarnya kurikulum KTSP diimplementasikan untuk
memberdayakan daerah dan sekolah dalam
merencanakan, melaksanakan, mengelola dan menilai pembelajaran sesuai dengan
kondisi dan aspirasi mereka. Namun karena dalam pelaksanaannya kurikulum ini
banyak menuai permasalahan, baik dari segi SDM itu sendiri maupun dari segi
sarana prasarana yang tidak mendukung, maka muncullah kurikulum 2013 sebagai
bentuk perubahan dari struktur KTSP.
Perbedaan yang paling mendasar antara struktur kurikulum
KTSP dan kurikulum 2013 adalah terletak pada pengurangan sejumlah mata
pelajaran. Di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) terjadi penghapusan sistem
penjurusan. Dengan dihapusnya sistem penjurusan di tingkat SMA, maka tidak ada
lagi kasta atau pengelompokan yang selama ini terjadi dalam dunia pendidikan.
sebagai contoh banyak masyarakat menganggap bahwa jurusan IPA merupakan jurusan
favorit karena IPA identik dengan siswa yang pintar, sedangkan jurusan IPS
selalu menjadi nomor dua setelah jurusan IPA. Dan perbedaan yang membedakan
kurikulum antara KTSP dan kurikulum 2013 ialah mengenai penambahan jam
pelajaran. Untuk SMA 39 jam per minggu dengan durasi perjam 45 menit.
Meskipun terdapat perbedaan-perbedaan antara kurikulum
2013 dan KTSP, tetapi kedua kurikulum ini sama-sama dibuat dan dirancang oleh
Departemen Pendidikan Nasional dan
terdapat beberapa mata pelajaran yang masih sama seperti yang digunakan KTSP.[3]
Dari wawancara kami, kepala sekolah
mengatakan mengenai Penerapan strategi kepala sekolah bagi pihak-pihak guru dan
staf dalam hal kurikulum dan pembelajaran. Bahwasanya, “setiap apa-apa yang
kita sepakati kita laksanakan, saya hanya mengevaluasi ketika sudah disusun
bersama. Supervisi evaluasi di semua lini terlaksana 6 bulan sekali. jadi dalam
satu tahun 2 kali dari kepala sekolah, untuk pembelajaran ada tim supervisi sendiri
dari sekolah, dalam hal ini waka kurikulum, unsur guru dan terutama guru senior”. Dari jawaban
kepala sekolah tersebut, kami tarik kesimpulan bawah kepala menggunakan
kepemimpinan demokratis.
Miftah Toha mengatakan gaya
kepemimpinan demokratis dikaitkan dengan kekuatan personal dan keikutsertaan
para pengikut dalam proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Sudarwan Danim, menyatakan kepemimpinan demokratis bertolak dari asumsi bahwa
hanya dengan kekuatan kelompok, tujuan-tujuan yang bermutu tercapai.
Pemimpin demokratis, perilakunya
mendorong bawahannya untuk menumbuhkan dan mengembangkan daya inovasi dan
kreativitasnya. Pemimpin yang demokratis tidak akan takut membiarkan para
bawahannya untuk mengembangkan ide-idenya meskipun ada kemungkinan ide itu akan
berakibat pada kesalahan. Apabila terjadi kesalahan, pemimpin demokratik akan
merumuskan kesalahan yang dibuat oleh bawahannya sehingga diharapkan bawahannya
akan belajar dari kesalahan-kesalahannya dan akan menjadikan anggota onggota organisasi
yang lebih bertanggung jawab.[4]
Dalam Al-Qur’an kita dianjurkan
untuk bersikap demokratis yaitu yang terletak pada Q.S. Assyura 42:38
وَالّذِينَ اسْتجابوا لربهم وأقاموا الصلاة وأرهم شورى بينَهم ومِمَّا
رزَقنا ينفقونَ
“Dan (bagi)orang-orang yang menerima
(mamtuhi seruan Tuhannya dan mendirikan salat, sedang urusan mereka
(diputuskan)dengan musyawaroh antara mereka dan mereka menfkahkan sebagian dari
rezeki yang kami berikan kepada mereka”.
Kepemimpinan
Demokratis menghargai potensi setiap individu maupun mendengarkan nasihat dan
sugesti bawahan. Juga, bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan
bidangnya masing-masing mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif
mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat. Kepemimpinan demokratis sering
disebut sebagai kepemimpinan gorup developer.[5]
Menurut
Sondang P. Siagan sebagaimana dikutip Hadari Narwawi, bahwa karakteristik tipe
kepemimpinan demokratis adalah kemampuan pemimpin mengintegrasikan organisasi
pada peranan dan porsi yang tepat, mempunyai persepsi yang holistik,
menggunakan pendekatan integralistik, organisasi secara keseluruhan,
menjunjungjung tinggi harkat dan martabat bawahan, nawahan berpartisipasi dalam
pengambilan keputusan, terbuka terhadap ide, padangan dan saran dari bawahan,
teladan, bersifat rasional dan objektif, serta memelihara kondisi kerja yang
kondusif, inovatif dan kreatif.[6]
1.
Manajemen
Strategi Keuangan
Salah satu unsur yang penting
dimiliki oleh suatu sekolah agar menjadi sekolah yang dapat mencetak anak didik
yang baik adalah dari segi keuangan. Manajemen keuangan sekolah sangat penting
hubungannya dalam pelaksanaan kegiatan sekolah. Ada beberapa sumber dana yang
dimiliki oleh suatu sekolah, baik dari segi pemerintah maupun pihak lain.
Pengelolaan keuangan pendidikan
merupakan salah satu subtansi pengelolaan sekolah yang akan turut menentukan
berjalannya kegiatan pendidikan di sekolah. Sebagai mana yang terjadi di
instansi pengelolaan pendidikan pada umumnya, kegiatan pengelolaan keuangan
dilakukan melaui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pengoordinasian, pengawasan atau pengendalian.
Tujuan pengelolaan keuangan ialah
meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan keuangan sekolah, meningkatkan
akuntabilitas dan transparansi keuangan sekolah, dan meminimalkan penyalahgunaan
anggaran sekolah. Pengelolaan keuangan sekolah memerhatikan sejumlah prinsip.
Undang-undang No. 20 Tahun 2003 pasal 48 menyatakan bahwa pengelolaan dana
pendidikan berdasarkan pada prinsip keadilan, efisiensi, transparansi dan
akuntabilitas publik.[7]
Sumber dana di SMA Muhammadiyah
Bondowoso, sesuai dengan penuturan kepala sekolah ialah dari usaha cuci motor
dan kantin. Kantin beserta tempat cuci motor tersebut di sediakan lahan untuk orang
yang mau berjualan dan mengelola. Kalau dari dana BOS SMA Muhammadiyah
Bondowoso tidak banyak terlalu berharap karena ada ketentuan-ketentuannya
sementara untuk kebutuhan yang lain sebisa mungkin menciptakan sumber dana yang
baru yang mandiri.
2.
Manajemen
Strategi Menarik Minat Masyarakat
Sekolah
sebagai lembaga sosial yang diselenggarakan dan dimiliki oleh masyarakat, harus
memenuhi kebutuhan masyarakat. Sekolah mempunyai kewajiban secara legal dan
moral untuk selalu memberikan penerangan kepada masyarakat tentang
tujuan-tujuan, program-program, kebutuhan dan keadaannya, dan sebaliknya
sekolah harus mengetahui dengan jelas apa kebutuhan, harapan dan tuntutan
masyarakat.
Secara
etimologis “hubungan masyarakat” diterjemahkan dari perkataan bahasa inggris “public
relation”, yang berarti hubungan sekolah dengan masyarakat ialah sebagai
hubungan timbal balik antara satu organisasi
(sekolah) dengan masyarakat.
Dalam
hubungan sekolah dengan masyarakat hendaklah selalu berpegang kepada prinsip-prinsip
yang dijadikan landasan/pedoman bagi tindakan dan kebijaksanaan yang akan
diambil. Adapun prinsip-prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat ialah:
a.
Kerjasama
harus dimodali dengan itikad baik untuk menciptakan citra baik tentang
pendidikan
b.
Pihak
awam berperan serta membantu dan merealisasikan program sekolah, hendaknya
menghormati dan menaati ketentuan/peraturan yang diberlakukan sekolah
c.
Berkaitan
dengan prinsip dan teknis edukatif, sekolahlah yang lebih berkewajiban dan
lebih berhak menanganinya.
d.
Partisipasi
dan peran serta masyarakat tidak saja dalam bentuk gagasan/saran/usu/ tetapi
juga berikut organisasi dan kepengurusannya yang dirasakannya benar-benar
bermanfaat bagi kemajuan sekolah
e.
Partisipasi
peran masyarakat tidak dibatasi oleh jenjang sekolah tertentu sepanjang tidak
mencampur urusan teknis edukatif/akademis.[8]
Adapun dalam hal menarik minta di SMA
Muhammadiyah Bondowoso. Strategi kelapa sekolah ialah ada beberapa macam; yang pertama
sosialisasi kesekolah-sekolah SMP, kedua memberdayakan siswa,
seperti mensosialisasikan ke adek tingkatnya, ketiga pertemuan alumni, keempat
menggunakan bener dan media sisoal yang hanya dimiliki SMA Muhammadiyah
Bondowoso saja seperti fb resmi (tidak ada website).
G. Lingkungan Eksternal dan Internal SMA
Muhammadiyah Bondowoso
Terdapat beberapa faktor yang
mempunyai pengaruh terhadap organisasi yang dapat diklasifikasikan menjadi
lingkungan eksternal dan internal.
1. Lingkungan Eksternal
Richard Obsom, (1980:130)
mengklasifikasikan lingkungan eksternal organisasi menjadi dua macam, yaitu
lingkungan umum dan khusus.
Lingkungan umum yaitu
kekuatan-kekuatan yang berinteraksi dan berpengaruh terhadap seluruh sektor
kehidupan manusia. Lingkungan umum meliputi komponen-komponen sebagai berikut:
a.
Budaya
(culture). Richard Osbom mengutip definisi budaya sebagaimana
dikemukakan oleh F.B Taylor dalam buku Primitive Culture (1871:71) bahwa,
budaya ialah keseluruhan yang bersifat kompleks, yang meliputi pengetahuan,
kepercayaan atau keyakinan, kesenian, moral, kebiasaan dan kemampuan serta
kebiasaan lain yang diperlukan manusia sebagai anggota masyarakat.
b.
Iklim
Ekonomi. Kondisi ekonomi suatu bangsa menampilkan fisik dan jasa secara
potensial untuk menyelanggarakan organisasi-organisasi yang berkembang
didalamnya.
c.
Lingkungan
Politik dan Hukum. Menurut Raney dalam bukunya The Goveming Of Man, (1971)
semua bangsa memiliki sistem hukum dan politik untuk melindungi tekanan-tekanan
yang datangnya dari luar dengan jalan menegakkan aturan-aturan yang bersifat
memaksa dengan menggunakan alat-alat yang bersifat dominan serta nilai-nilai
yang dijunjung tinggi dibarengi dengan upaya untuk memajukan kehidupan ekonomi
dengan tetap memelihara keutuhan identitas.
d.
Lingkungan
Pendidikan. organisasi membutuhkan sumber daya ekonomi untuk dapat tumbuh dan
berkembang. Organisasi juga harus memiliki orang-orang terdidik untuk
mempertahankan seluruh hidupnya. Hal ini karena orang-orang yang berpengetahuan
dan berkeahlian merupakan jantung dan hati seluruh kehidupan bagi setiap
organisasi dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya.
Lingkungan khusus diartikan oleh
Osbom sebagai sejumlah kekuatan yang terdiri atas organisasi, individu-individu
dan lembaga-lembaga yang berinteraksi dengan organisasi. Komponen-komponen
khusu meliputi:
a.
Pemasok input (input suppliers): tenaga kerja (labor),
modal (money) dan bahan mentah (raw materials)
b.
Penyalur output (output distributors), yaitu dunia perdagangan
c. Pesaing(competitors),
yaitu lembaga-lembaga yang merupakan bagian dalam penyebaran output bersama-sama
memperebutkan porsi pasar
d.
Peraturan-peraturan pemerintah (government yurisdiction)
e. kelompok
khusu (spesial grup), yaitu antara lain serikat buruh, kaum profesional.
2.
Lingkungan Internal
Adapun lingkungan internal
organisasi, ada juga yang menyebutnya lingkungan mikro organisasi. Meliputi
tujuan organisasi, struktur organisasi, pengambilan keputusan, motivasi,
komunikasi, koordinasi kepemimpinan serta budaya organisasi.
Faktor yang mempunyai kaitan erat
dengan struktur organisasi antara lain adalah organisasi, teknologi, lingkungan
dan faktor strategi pilihan.
a.
Ukuran
dan Kompleksitas Organisasi
Terdapat sejumlah komponen yang
dapat digunakan untuk menentukan ukuran organisasi adalah pertama, kapasitas fisik organisasi.
Hal ini berkaitan dengan daya atau sarana pelayanan yang dimiliki organisasi. Kedua,
aspek personel yang tersedia pada orgasinasi. Misalnya, banyaknya karyawan
yang dipekerjakan pada organisasi perusahaan atau banyaknya mahasiswa yang
belajar pada perguruan tinggi. Ketiga, adalah aspek input dan output
organisasi. Keempat, adalah aspek sumber daya yang tersedia secara
langsung di dalam suatu organisasi dalam bentuk kekayaan bersih (wealth or
assets).
b.
Peranan
Teknologi dalam Organisasi
Perrow
melakukan pendekatan terhadap teknologi berdasarkan Raw Material yang
digunakan oleh organisasi. Karakteristik bahan baku yang diolah oleh organisasi
mempengaruhi bagaimana organisasi disusun dan dilaksanakan. Bahan mentah dalam
hal ini merupakan makhluk hidup (umat manusia, hewan, tumbuhan, simbol atau
objek lainnya). Manusia merupakan bahan mentah bagi lembaga pendidikan, hewan
bagi perusahaan peternakan, tumbuhan bagi industri pertanian dan simbol bagi
perusahaan perbankan.
c.
Faktor
Lingkungan
Khandwalla
(1972, Environment and It’s Impact on The Organization) yang mengkaji
elemen-elemen lingkungan organisasi, membedakan lingkungan organisasi menjadi
dua. Pertama, Friendly environment yaitu lingkungan yang ramah yang
memberikan dukungan dana dan nilai-nilai budaya. Kedua, Hostile environment yaitu
lingkungan yang tidak ramah, berupa lingkungan yang mengekang perkembangan
organisasi. Struktur organisasi dalam lingkungan yang ramah, akan dipantau oleh
kelompok yang bekerja sama dalam suatu mekanisme yang bersifat terbuka. Pada
lingkungan yang tidak ramah, organisasi akan diatur secara ketat melalui
Sentralisasi dan Standarisasi.
d.
Faktor-faktor
Pilihan Strategis (The Strategic Choice Factors)
Gagasan tentang faktor-faktor
pilihan strategis dikemukakan oleh Chander (1962) dengan upaya mengembangkan
persepsi pemasaran dalam kaitannya dengan lingkungan yang ada. Lingkungan
organisasi mengandung tekanan dan berbagai kemungkinan jalan keluar untuk
mengantisipasi kondisi pasar berpengaruh terhadap struktur organisasi yang
dipilih. Politik internal organisasi sangat tergantung pada rangkaian kekuatan
yang ada di dalam organisasi. Pilihan strategis di dalam organisasi dibentuk
atas dasar “bounded rationality” (rasionalitas yang terbelenggu) yang
berarti tidak selalu berdasarkan pertimbangan optimal melainkan oleh
rasionalitas yang sudah melembaga. Selain dari itu juga oleh equifinality,
yaitu ketersediaan sejumlah alat untuk mencapai tujuan organisasi.[9]
Problem-problem dari segi eksternal
dan internal di SMA Muhammadiyah Bondowoso ialah: dari eksternal, masih banyak orang tua murid
yang menganggap sekolah swasta kurang bagus. Segi internal, masih banyak
fasilitas yang belum cukupi untuk mengembangakan kreatifitas siswa. Contohnya,
tersedianya mesin jahit 6 unit dan komputer 20 unit, sedangkan banyak siswa yang berminat mempelajarainya.
Potensinya banyak tetapi tantangannya sarana kurang (bukan tidak ada).
Adapun
upaya dalam menghadapi poblem eksternal ialah membuktikan bahwa SMA
Muhammadiyah Bondowoso mempunyai kualitas dengan cara sebisa mungkin dalam
pembelajaran, memaksimal dalam pemberian keterampilan. Ada beberapa ekstra
double track seperti: belajar menjahit, komputer, mengemudi serta yang wajib di
SMA Muhammadiyah Bondowoso tapak suci dan pramuka. Hal tersebut untuk
membuktikan bahwa SMA Muhammadiyah Bondowoso layak diperhitungkan. Upaya dalam
menghadapi tantangan internal ialah karena tantangan terberatnya sarana
prasarana, sebisa mungkin SMA Muhammadiyah Bondowoso mewujudkan seperti yang
tercantum di misinya. Dengan mewujudkan sumber-sumber dana baru untuk memenuhi
kebutuhan sarana itu.
Strategi kepala sekolah dalam
menghadapi lingkungan eksternal dan internal tersebut: strategi mengahadpi
lingkungan sekitar (eksternal), ialah merangkul. Maksudnya, mengikutkan mereka
dalam kegiatan dan memberikan fasilitas yang ada di SMA Muhammadiyah.
Contohnya, halaman SMA Muhammadiyah Bondowoso digunakan untuk acara lomba
agustusan oleh sekitar warga. Dalam menghadapi lingkungan internal, yaitu
dengan menerapkan segala aturan yang disepakati bersama (membuat
peraturan-peraturan bersama disosialisasikan, dengan sendirinya karyawan akan
tau saat meraka melanggar dan tidak melaksanakan dan sebagainya).
1.
Strenghts (kekuatan)
a. SMA Muhammadiyah Bondowoso tempatnya strategis berada di pusat
kota, karena kebanyakan sekolah swasta tidak ada yg representatif seperti itu.
b. Gedungnya bagus, dalam konteks sekolah swasta yang ada di
bondowoso.
c. Sarana prasarananya
walaupun masih kurang tetapi sudah memadai, dari sarana olahraga ekstranya dan
lain-lain.
d. Dilihat dari unsur gurunya sudah lulusan s1 semua dan tercover
di dapodik semua.
e. SMA Muhammadiyah Bondowoso mempunya armada antar jemput siswa.
f. terdapat asrama putra dan asrama putri, fasilitasnya gratis
semua, mendapat uang jajan serta di kuliahkan
2.
Weaknesses (kelemahan)
a. Di Bondowoso nama “Muhammadiyah” masih dianggap sebelah mata
b. Sekolah swasta masih dianggap sebelah mata
3.
Opportunities (peluang)
untuk siswa besar karena kekuatan itu tadi hanya butuh pemaksimalan
saja.
4.
Threats (ancaman)
Ancaman terbesarnya bisa tutup kalau upaya pemaksimalan kekuatan
tadi tersebut kurang maksimal. Dari segi eksternal, dianggap berbeda. Dan dari
segi internal tidak terlalu signifikan, seperti ketidak tertiban untuk beberapa
orang tapi sudah bisa diatasi dengan
pembinaan. Kalau dari segi sekolah yg saling berdekatan tidak mempengaruhi
karna diakui atau tidak kemapuan kami berbeda, mangsa pasarnya berbeda jadi
belum bisa dikatakan ancaman, yang jadi ancaman itu yang sama-sama swastanya.
I.
Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, kami
menggunakan trianggulasi data, yaitu memperoleh data yang sama dari
subjek/sumber yang lain menggunakan metode yang berbeda dengan sumber yang
pertama. Melakukakn terianggulasi dimaksudkan untuk meningkatkan ketepatan dan
kebenaran data penelitian, sehingga menggiring pula pada keakuratan hasil
penelitian. Cara ini pun sekaligus dapat mencegah subjektivitas dalam
penelitian.[10]
Adapun data-data yang telah kami
bandingkan, sebagai berikut:
1. Mengenai staregi pembelajaran di
SMA Muhammadiyah Bondowoso. Data pertama, bahwa menurut penuturan kepala
sekolah strategi pembelajaran diserahkan kepada guru masing-masing. Guru harus
sekeratif mungkin dan menyenangkan (sesuai misi) serta berbasis IT. siswa tidak
dilarang membawa Hp, dengan catatan untuk keperluan pembelajaran dan diawasi
oleh guru. Data kedua, terdapat ruangan laboratorium komputer terisi 20
unit komputer yang layak pakai digunakan siswa, bertujuan untuk mewujudkan
sekolah berbasis IT. Laboratorium IPA dan laboratorium jahit, yang terdapat
mesin jahit 6 unit untuk meningkatkan kreatifitas siswa. Untuk membuktikan
bahwa SMA Muhammadiyah mempunyai kualitas dalam pembelajaran, kami maksimal
dalam pemberian keterampilan, beberapa ekstra double track (jalur
ganda), selain menjahit dan komputer ada
juga mengemudi, wajib mengikuti tapak suci dan pramuka untuk membuktikan bahwa
layak diperhitungkan. Data ketiga, foto-foto kegiatan tersebut,
berjejernya piala-piala yang diraih oleh siswa SMA Muhammadiyah terpajang di
ruang kepala sekolah dan bener siswa yang masuk di perguruan tinggi (ada 10 siswa).
2. Mengenai strategi kepemimpinan,
dari penuturan kepala sekolah bahwa setiap kegiatan melalui kesepakatan
bersama. Kepala sekolah hanya mengevaluasi ketika sudah disusun bersama.
supervisi evaluasi disemua lini dilaksanakan 6 bulan sekali. Untuk pembelajaran
ada tim supervisi sendiri dari sekolah (waka kurikulum, unsur guru dan terutama guru senior). Kami menyimpulkan,
bahwa kepemimpinan kepala sekolah di SMA Muhammadiyah menggunakan tipe
kepemimpinan demokratis.
3. Mengenai staregi keuangan di SMA
Muhammadiyah, menurut penuturan kepala sekolah bersumber dari usaha cuci motor,
kantin dan bos. Dana BOS SMA Muhammadiyah tidak terlalu berharap banyak
terhadap dana Bos karena ada ketentuan-ketentuannya sementara untuk kebutuhan
yang lain sebisa mungkin menciptakan sumber dana yang baru dan mandiri. Data pertama,
tersedianya lahan kantin dan cuci motor. Data kedua, kantin tersebut
tergolong kecil. Yang di jual seperti nasi, minuman dan makanan ringan yang
terletak di sebelah timur SMA Muhammadiyah. Adapun tempat cuci motor tersebut
tidak terlalu besar, berada di sebelah barat SMA muhammadiyah. Data ketiga, menurut
kesimpulan kami. Karena kami tidak bisa mewawancarai pengelola kantin dan
tempat cuci motor secara langsung. Jika dilihat dari pengaman pengalaman kami,
kebutuhan sekolah bisa tercukupi dari kedua usaha tersebut jika dikumpulkan dalam jangka 6 bulan. Maka dana dari kedua
usaha tersebut bisa terkumpul untuk membeli 1 unit komputer duduk.
4. Mengenai staregi menarik minat
masyarakat, SMA Muhammadiyah Bondowoso melakukan beberapa macam kegiatan: yang pertama
sosialisasi kesekolah-sekolah SMP, kedua memberdayakan siswa,
seperti mensosialisasikan ke adek tingkatnya, ketiga pertemuan alumni, keempat
menggunakan bener dan media sisoal yang hanya dimiliki SMA Muhammadiyah
Bondowoso saja seperti fb resmi (tidak ada website). Terbukti dari sosialisasi
kesekolah-sekolah, dari SMPN Taman Krocok berhasil membawa masuk 30 siswa untuk
sekolah di SMA Muhammadiyah Bondowoso.
5. Mengenai lingkungan esternal dan
internal di SMA Muhammadiyah Bondowoso. Data pertama, dari jawaban kepala sekolah problem dari segi
eksternal masih banyak orang tua murid yang menganggap sekolah swasta kurang
bagus. Dari segi internal, masih banyak fasilitas yang belum cukupi untuk
mengembangakan kreatifitas siswa. seperti, tersedianya mesin jahit 6 unit dan
komputer 20 unit, sedangkan banyak siswa
yang berminat mempelajarainya. Potensinya banyak tetapi tantangannya sarana
kurang (bukan tidak ada). Kedua, mengenai sekolah swasta kurang bagus,
permasalahan ini memang lumrah di kalangan masyarakat termasuk dilingkungan
pendidikan kami. ketika kami mengelilingi melihat laboratorium komputer
sebanyak 20 unit layak dipakai. Namun, dari mesin jahit kami tidak bisa melihat
langsung karena tidak tau ketempatnya. Ketiga, suksesnya 10 siswa masuk
perguruan tinggi merupakan keberhasilan SMA Muhammadiyah menangani problem
eksetrnal dan internal.
Sejarah
berdirinya SMA Muhammadiyah 1 Bondowoso dilatar belakangi adanya desakan dari
siswa-siswi SMP Muhammadiyah yang telah lulus ujian negara. Mereka ingin
melanjutkan kejenjang sekolah menengah yang berbasi Islam Muhammadiyah. Atas
desakan tersebut guru-guru Muhammadiyah pimpinan H. AG. Dwidjosoeparto beserta
R. Muhammad Makam Hisjam, IR. Sugiman, Moelono, Muhammad aslam mendirikan SMA
Muhammadiyah pada oktober 1948 menempati Sekolah Rakyat VI Muhammadiyah
Bondowoso (sekarang SD Muhammadiyah) di jalan Bhayangkara 5 Bondowoso.
Visi SMA
Muhammadiyah Bondowoso adalah “Mewujudkan lembaga yang unggul dan mampu
membentuk peserta didik yang berimtaq, cerdas, kompetitif dan berjiwa muhammadiyah”.
Adapun Misi SMA Muhammadiyah Bondowoso adalah peningkatan jumlah siswa,
melaksanakan proses pembelajaran yang menyenangkan, kreatif dan berbasis IT,
meningkatkan kompetensi tenaga pendidik dan kependidikan, melaksanakan
perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan dan mewujudkan
sumber-sumber pembelajaran swasta dan bantuan pemerintah yang di kelola secara
transparan.
SMA
Muhammadiyah Bondowoso, menggunakan kurikulum K13. Adapun strategi pembelajaran
diserahkan kepada guru masing-masing, harus keratif dan menyenangkan (sesuai
misi) serta sebisa mungkin berbasis IT. Adapun Sumber dana di SMA Muhammadiyah
Bondowoso, dari usaha cuci motor dan kantin. Kalau dari dana BOS SMA
Muhammadiyah Bondowoso tidak banyak terlalu berharap karena ada ketentuan-ketentuannya
sementara untuk kebutuhan yang lain sebisa mungkin menciptakan sumber dana yang
baru yang mandiri.
dalam hal
menarik minta di SMA Muhammadiyah Bondowoso. Strategi kelapa sekolah ialah ada
beberapa macam; yang pertama sosialisasi kesekolah-sekolah SMP, kedua
memberdayakan siswa, seperti mensosialisasikan ke adek tingkatnya, ketiga
pertemuan alumni, keempat menggunakan bener dan media sisoal yang
hanya dimiliki SMA Muhammadiyah Bondowoso saja seperti fb resmi (tidak ada
website).
Erisman, Afri & Azhar, Andi.
2015. Manajemen Staregi. Yogyakarta: Deepublish.
SMA Muhammadiyah Bondowoso, “Sejarah
Berdiri”, http://smambws.blogspot.com/2014....,
diakses pada 28 November 2019, pukul 12.15
Suyadi &
dahlia. 2014. Implementasi dan Inovasi Kurikulum Paud 2013. Bandung: PT.
REMAJA ROSDAKARYA.
Senang &
Maslachah. 2018. Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan Islam. Malang:
Madani.
Kurniadin , Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen
Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Ismaya, Bambang.
2015. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Djatmiko, Yayat
H. 2005. Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta.
LAMPIRAN
[1] Afri Erisman
& Andi Azhar, Manajemen Staregi. Yogyakarta: Deepublish, 2015. Hal.
2-7
[2] SMA
Muhammadiyah Bondowoso, “Sejarah Berdiri”, http://smambws.blogspot.com/2014....,
diakses pada 28 November 2019, pukul
12.15
[3] Suyadi &
dahlia, Implementasi dan Inovasi Kurikulum Paud 2013. (Bandung: PT.
REMAJA ROSDAKARYA, 2014). Hal. 14-15
[4] Senang &
Maslachah, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan Islam. (Malang: Madani,
2018). Hal. 42
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen
Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) Hal. 305-306.
[6] Senang &
Maslachah, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan Islam. (Malang: Madani,
2018). Hal. 43-44
[8] Ibid. Hal.
157-158
[9] Yayat H.
Djatmiko, Perilaku Organisasi. Bandung: Alfabeta, 2005. Hal. 22-46
[10] Muri Yusuf, Metode
Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Jakarta:
KENCANA, 2017. Hal. 335
