Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 September 2019

Manajemen Pendidikan Islam


Manajemen Pendidikan Islam
A.    Pengertian Manajemen (umum) dan Menurut Islam
1.    Pengertian Manajemen (umum)
Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola.  Menurut S. P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam manajemen, terdapat dua sistem, yaitu sistem organisasi dan sistem administrasi.[1]
Kamus Webster’s New Cooligiate Dictionary menjelaskan bahwa kata manage berasal dari bahasa italia managgio dari kata managgiare yang selanjutnya kata ini berasal dari bahasa latin manus yang berarti tangan (hand). Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti membimbing dan mengawasi, memperlakukan dengan saksama, mengurus perniagaan atau urusan-urusan, mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata manage  berarti tindakan untuk membimbing atau pemimpin. Manajer berarti pembina yang melakukan tindakan pengendalian, bimbingan dan pengarahan dari sebuah rumah tangga dengan berbuat ekonomis sehingga mencapai tujuan. Pengertian “rumah tangga” di sini luas, mencakup rumah tangga perusahaan, rumah tangga pemerintah dan lain-lain.[2]
Mary Parker Follen mendefinisikan manajemen sebgai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.  Defisini ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan, atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri.
Adapun Stoner mengemukakan bahwa; manajemen adalah proses perencanaan, pengroganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya oragnisasi lainnya agar mencapai tujuan oragnisasi yang telah ditetapkan.[3] Terlihat bahwa Stoner menggunakan kata proses, bukan seni.  Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi suatu didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa memperdulikan keterampilan atau kecakapan khusus  mereka, harus melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.
Ramayulis (2008: 326) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al_Qur’an seperti firman Allah SWT:
يُدَبِّرُالاَمْرَمنَ السَّمَآءِاِلى الارْضِ ثُمَّ يعرُجُ اِليهِ في يومٍ كانَ مقدَارُه الْفَ سنةٍ مِمَّاتعُدُّونَ (5)
Artinya:
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. As-Sajadah: 5)
Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah SWT. Merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sabagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT. Mengatur alam raya ini.[4]
Secara terminologis, pengertian manajemen telah diajukan oleh banyak tokoh manajemen. Pengertian-pengertian yang diajukan berbeda-beda dan sangat terpengaruh dengan latar kehidupan, pendidikan, dasar filsafah, tujuan dan sudut pandang tokoh dalam melihat persoalan yang di hadapi. Dari banyak pengertian tersebut, manajemen dapat diartikan dengan tujuh sudut pandang berikut:
a.    Manajemen sebagai Alat atau Cara (Means)
Millon Brown mengatakan “manajemen adalah alat atau cara untuk menggunakan prang-orang, uang, perlengkapan, bahan-bahan dan metode secara efektif untuk mencapai tujuan.”
b.    Manajemen sebagai Tenaga atau Daya (Force)
Albert Lepawsky berpendapat, “manajemen adalah tenaga atau kekuatan yang memimpin, memberi petunjuk dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.”
c.    Manajemen sebagai Sistem (system)
Sanusi mengartikan manajemen sebagai sistem tingkah laku manusia yang kooperatif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu melalui tindakan-tindakan rasional yang dilakukan secara terus menerus.”
d.   Manajemen sebagai Proses (Process)
George R. Terry menyatakan, “manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.”
e.    Manajemen sebagai Fungsi (Fuction)
Menurut R.C. Devis “manajemen merupakan fungsi dari kepemimpinan eksekutif pada organisasi apa pun”
f.     Manajemen sebagai Tugas (Task)
Didefinisikan oleh Vermon A. Musselman yang dikutip oleh Maman Ukas mengungkapkan, “manajemen sebagai tugas dari perencanaan, pengorganisasian dan penyetafan serta pengawasan pekerjaan yang lainnya agar mencapai satu atau lebih tujuan.”
g.    Manajemen sebagai Aktivitas dan Usaha (Activity/Effort)
Koontz dan Donnel mengatakan, “manajemen adalah usaha mendapatkan sesuatu melalui kegiatan orang lain.”
 Berbagai sudut pandang dan variasi pengertian manajemen tersebut memberi gambaran inti bahwa manajemen adalah usaha menage (mengatur) organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik (doing the right thing), sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar (doing thing right).[5]
2.    Manajemen Menurut Islam
Abu sin merumuskan empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen Islam, yaitu:
a. Landasan nilai-nilai dan akhlak islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai, yaitu: kasih sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insani.
b. Seluruh aktivitas manajemen merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Nilai-nilai ibadah harus dibangun dengan landasan ketauhidan.
c. Hubungan atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Manajemen Islam yang dilandasi oleh etika dan nilai-nilaiagama, menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan problem individu dan sosial di tengah-tengah zaman yang semakin tidak menentu secara moral.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad SAW. adalah sorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. menempatkan manusia sebagai postulatnya atau fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.
Nabi Muhammad SAW. mengelolal (manage) serta mempertahankan (mantain) kerja sama dengan sahabatnya dalam waktu yang lama. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas kreativitas serta prestasi yang ditunjukkan sahabtanya. Ada empat pilar etika manajemen yang ada dalam Islam, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. yaitu: 1) ketauhidan, berarti memandang segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi di dunia adalah milik Allah SWT. manusia hanya mendapatkan amanah untuk mengelolanya. 2) keadilan, artinya segala keputusan menyangkut transaksi dan interaksi dengan orang lain didasarkan pada kesepakatan kerja yang dilandasi oleh akad saling setuju dengan sistem profit and lost sharing. 3) kehendak bebas, artinya manajemen Islam mempersilahkan manusia untuk menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi dan interaksi kemanusiannya sepanjang memenuhi asas hukum yang baik dan benar. 4) pertanggungjawaban, yaitu semua keputusan seorang pimpinan harus di pertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan.
Keempat pilar tersebut membentuk konsep manajemen yang fair ketika melakukan kontrak kerja dengan perusahaan lain ataupun antara pimpinan dan bawahan. Ciri manajemen islami adalah amanah. Jabatan merupakan amanah yang harus di pertanggungjawabkan kepada Allah SWT. seorang manajer harus memberikan hak-hak orang lain, baik mitra bisnisnya ataupun karyawannya. Pimpinan harus memberikan hak untuk beristirahat dan hak untuk berkumpul dengan keluarganya kepada bawahannya . ini merupakan nilai-nilai yang dianjurkan manajemen Islam.[6] 

B.     Pengertian Pendidikan
Perlu diketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan paedagoiek. Pedagogi berarti pendidikan, sedangkan paeda artinya ilmu pendidikan. Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, merenung tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari Yunani dan kata pedagogia berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan, yang menggunakan istilah paidagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno, yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekelolah. Paidagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing/memimpin).
Perkataan paidagogos yang pada mulanya berarti pelayan, kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena, pengertian pai (dari paidagogos) berarti seorang yang bertugas membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah mandiri dan bertanggung jawab.
Pengertian secara sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dsn mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu poses pendidikan. Karena itu, bagaimana pun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.[7]  
John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Dalam Dictionary of Education disebutkan bahwa pendidikan adalah 1) keseluruhan proses ketika seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat tempat mereka hidup. 2) proses sosial ketika orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.
Pendidikan dalam perspektif (sudut pandang tertentu) keindonesiaan, pengertian, fungsi dan tujuan pendidikan dirumuskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara .”
Adapun dalam perspektif Islam, pengertian pendidikan (pendidikan Islam) merujuk pada beberapa istilah, yaitu al-tarbiyah, al-ta’dib, al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut, yang paling populer digunakan dalam menyebutkan praktik pendidikan Islam adalah terminologim al-tarbiyah, seperti penggunaan istilah at-Tarbiyah al-Islamiyah yang berarti pendidikan Islam.
Syeh Muhammad Al-Naquib Al-Attas seorang tokoh pemikiran pendidikan Islam berpendapat bahwa sesungguhnya istilah yang paling tepat untuk pendidikan Islam adalah ta’dib sebab struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu intruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah).
Pendidikan Islam sesungguhnya menghendaki terbentuknya manusia yang berkepribadian Muslim yang semua aspek-aspek kehidupannya berlandaskan kepada ajaran Islam dan seluruh aktivitasnya diyakini sebagai ibadah dalam rangka pengabdian kepada Allah dan penyerahan diri kepada-Nya.[8]
Adapun Pengertian Manajemen Pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008; 260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang miliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya), melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efesiensi dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat. [9]
Daftar Pustaka
Saefullah, U. 2019. Manajemen Pendidikan Islam. Cet. Ke 3. (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA)
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, Cet. Ke 3.  (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Handoko, Tani. 2016. Manajemen, Cet. Ke 3.  (Yogyakarta: BPFE)
Anwar, Muhammad. 2017. Filsafat Pendidikan. Cet. Ke 2. (Depok: KENCANA)




[1] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1
[2] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 23-24
[3] Tani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[4] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1-2
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal.  25-29.
[6] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 48-50.
[7] Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Depok: KENCANA, 2017) cet. Ke 2. Hal. 19-20.
[8] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 114-116 
[9] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 2



Sabtu, 31 Agustus 2019

Pendidikan Islam dan Manusia Unggul


Pendidikan Islam dan Manusia Unggul
A.      Pengertian Pendidikan Unggul
Pendidikan adalah suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan serta memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisensi. Adapun secara umum pendidikan dapat dipahami dalam dua pengertian, yang pertama secara luas atau tidak terbatas dan kedua secara sempit atau terbatas. Pengertian pendidikan secara luas adalah hidup. Karena pendidikan merupakan segala macam pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dan pendidikan, segala sesituasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Umur pendidikan sama tuanya dengan kehidupan manusia, dari pengertian tersebut menyiratkan bahwasanya pendidikan telah dimulai sejak manusia berada di muka bumi, atau bahkan dalam sejak dalam kandungan. Masa pendidika dalam pengertian luas berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan. Pendidikan berlangsung dalam beraneka ragam, pola dan lembaga. Pendidikan terjadi di sembarang, kapan, dan di mana saja dalam hidup. Tujuannya adalah tergantung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan di luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas dan sebagaimana dengan tujuan hidup.
Pengertian pendidikan secara sempit atau sederhana adalah persekolahan. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakab di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Dan, segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna serta kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses belajar yang dilalui seseorang dalam kehidupan untuk terus tumbuh secara lebih efektif dan efisien agar mempunyai kemampuan yang sempurna serta kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial di lingkungan masyarakat.
Adapun kata unggul dalam KBBI diartikan lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet dan sebagainya) daripada yang lain, utama (terbaik, terutama). Sedangkan keunggulan artinya keadaan unggul, kecakapan, kebaikan dan sebagaimana yang lebih dari pada yang lain.
Sedangkan secara ontologis sekolah unggulan dalam perspektif Departemen Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran output pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut, maka masukan input, proses pendidikan, guru, tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Dengan demikian sekolah atau madrasah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lususan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lain.
B.       Hakikat Manusia
Bangsa Indonesia mempunyai visi dan misi luhur. Cita-cita pendidikan nasional kita adalah pembentukan kecerdasan manusia dalam berbagai aspek. Dikemukakan oleh UU Sisdiknas (No.20 Tahun2003), bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( Pasal 3).
Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasmani dan ruh, ruh merupakan simbol bahwa ada esensi yang menciptakan manusia dan perilaku manusia harus tunduk kepada-Nya. Dua hal itu yang membentuk sebuah jati diri manusia. Dalam diri manusia terdapat bukan saja ruh, jiwa tetapi juga kalbu dan akal. Manusia di dalam kehidupannya mengalami perubahan bukan saja dalam bentuk fisik, tetapi juga mengalami perkembangan kerohaniannya yang berbentuk kalbu serta akal melalui khazanah pendidikan.
 Manusia memiliki ciri akal, hikmah, tabiat nafsu dibandingkan dengan makhluk lain yang diciptakan Allah Swt yakni malaikat, ia hanya memiliki akal dan hikmahtanpa tabiat dan nafsu. Karenanya malaikat senantiasa bertasbih dan bertahmid. Malaikat tidak pernah mengingkari perintah Allah Swt, karena tidak memiliki tabiat dan nafsu itu, hal inilah yang membedakannya dengan sesosolk manusia.
Dari segi rohani manusia, maka yang terpenting ialah Pendidikan terhadap seluruh potensi rohani manusia yang telah diberikan Allah kepadanya. Ada empat potensi rohani manusia: akal, Kalbu, nasf dan roh. Keempat potensi ini perlu dididik agar menjadi Muslim dalam arti sesungguhnya. Tugas dari pendidikanlah untuk memberdayakan potensi yang ada itu semua. Akal manusia diarahkan untuk memperoleh tingkat kecerdasan semaksimal mungkin, mengisinya dengan bermacam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sehingga manusia yang pada awal kelahirannya tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahu:
واللهُ اخرَجكُمْ منْ بطُونِ امَّهتكُمْ لاتعلمونَ شيأً وجعلَ لكُمْ السمعَ والابصرَوَالاَفئدةَ لعلكُمْ تشْكرُونَ (78)
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Allah  memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78)
Kalbu manusia dididik supaya melahirkan watak dan sifat-sifat terpuji, mengisi hati dengan segala akhlak mahmudah dan menjauhi akhlak mahmuzah. Membuat hidup manusia lebih bermakna dan berarti serta dapat melahirkan kecerdasan emosional yang tinggi.
Nafs, manusia perlu pula dididik agar ia dapat mengendalikan tarikan hawa nafsu negatif yang merusak kehidupan manusia. Nafs yang telah melenceng dari relnya harus dikembalikan dan dikendalikan sehingga tetap berjalan di jalan lurus.
Adapun roh manusia perlu dididik agar tetap bersih sebagaimana pada waktu roh itu ditiupkan yang pertama kalai kepada manusia. Roh yang asalnya suci bersih dapat terkotori oleh daya tarik hawa nafsu manusia. Ada pendapat lain, bahwa manusia itu terdiri dari tiga dimensi yakni akal, ruhani, dan jasmani. Di jasmani terdapat mata, kaki, tangan dan organ tubuh lainnya. Di kepala ada yang namanya otak gunanya untuk berfikir dan mengambil keputusan, dan di wajah ada dua mata gunanya untuk melihat dan dua tangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah otak.
Dalam kontek itu pula ada tiga kategori manusia; pertama sebagai makhluk biologis (al Basyar) yang menunjukkan bahwa manusia itu sama dengan makhluk lainnya meskipun struktur organnya berbeda. Yang membedakan manusia lebih sempurna dibanding makhluk lain. Kedua, sebagai makhluk psikis (al Insan) yang ditandai dengan berohani dengan fitrah, kalbu dan akal. Hal tersebut membedakan manusia sebagai makhluk bermartabat dan mulia di banding dengan makhluk lainnya. Dan yang membedakan manusia dengan yang lain adalah iman dan amalnya. Ketiga, manusia sebagai makhluk sosial pembawa amanah untuk mengelola bumi atau khalifah yang bertugas mengelola kehidupan serta alam sekitarnya.
Sejatinya manusia tunduk kepada Allah sebagaimana fitrahnya. Al-Qur’an menyatakan:
فاَقِمْ وجهَكَ للدِينِ حنيْفًا فِطْرَتَ اللّهِ الّتي فطرَالنَّاسَ عليهَا لاَتبدِيلَ لخلْقِ اللّهِ ذلكَ الدِّينُ القَيِّمُ ولكِنَّ اكثَرَ النَّاسِ لاَيَعلَمُوْنَ (30)
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum: 30).    
Fitrah Allah itu maksudnya manusia mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid, dimanapun ia dilahirkan dan siapa pun yang melahirkannya, tetapi ini dapat dibentuk oleh lingkungan, orang tua atau hal lainnya.
C.      Karakteristik Manusia Unggul Menurut Islam
Manusia muslim yang sempurna atau unggul memiliki ciri-ciri pokok antara lain, yakni: pertama, jasmani yang sehat serta kuat. Hal tersebut diperlukan guna untuk keperluan menjalankan fungsinya sebagai khalifah untuk mengelola kehidupan, juga ikut menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan meningkatkan manusia dari jalan yang salah (aman ma’ruf nahi mungkar).
Islam menghendaki muslim itu sehat mentalnya, kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani. Pendidikan jasmani telah diisyaratkan nabi Muhammad contoh seperti latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda, lari cepat. Pada saat tertentu diperlukan seperti dalam surat Al-Anfal ayat 60 disebutkan agar seorang muslim mempersiapkan kekuatan serta pasukan berkuda untuk menghadapi musuh-musuh Allah Swt. selain itu, ada beberapa hadist yang menerangkan perlunya keterampilan memanah dimiliki oleh muslim. Pada masa Umar bin Khathab memerintahkan gubernu-gubernurnya agar meltih anak-anak mereka berenang dan menunggang kuda.
Kedua, cerdas serta pandai. Muslim harus cerdas, di kehidupan kini ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, berpengetahuan dan berwawasan luas. Seorang muslim hendaknya selain menguasasi teori-teori sains juga dapat menciptakan teori-teori baru; mampu memahami dan menghasilkan teori filsafat dengan hal itu akan mampu memecahkan masalah yang berfilosofis. Dalam kaitan tersebut dengan ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. biasanya diungkapkan dalam bentuk perintah agar belajar atau perintah menggunakan indera dan akal, atau pujian kepada mereka yang menggunakan indera dan akalnya, seperti:
Artinya: Katakanlah, samakah antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Al-Zumar: 9)
Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan cara belajar (HR. Bukhari)
Jelaslah bahwa Islam menghendaki agar muslim berpengetahuan luas.
Ketiga, ruhani yang berkualitas tinggi. Ruhani atau kalbu yang dimaksud di sini adalah aspek manusia selain jasmani dan akal. Ruhani tidak real, belum jelas seperti apa, manusia tidak memiliki cukup pengetahuan untuk mengetahui hakikatnya. Kalbu lebih dekat pada istilah rasa. Melalui kalbu manusia mampu meraih iman kepada Tuhan. Iman di kalbu dapat ditandai dengan orangnya sholat dengan khusyuk (al-Mu’min:1-2), dan lain-lain. Tanda-tanda kalbu yang penuh dengan iman atau takwa, membentuk manusia yang berpikir dan berprilaku sesuai kehendak tuhan. Demikian, manusia yang sempurna dalam pandangan Islam adalah manusia yang hatinya penuh iman dan takwa kepada tuhan, manusia yang jasmaninya sehat serta kuat, akalnya cerdas serta pandai, dan hatinya (kalbunya) penuh iman kepada Allah Swt.
 Perpaduan dari hal tersebut akan menumbuhkan manusia yang berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah Swt, berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain ia seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah Swt, berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan. Dalam kehidupan ia menjadi khalifahdi bumi dengan kualitas-kualitas itu dan ia pun memilikisifat-sifat berani, jujur, bertanggung jawab, mandiri, toleran, dan sifat-sifat utama lainnya dalam mengarungi kehidupannya, ia fungsional di tengah hiruk pikuk kehidupan itu.
D.  Karakteristik Sekolah Unggul
Beberapa ciri-ciri khusus sebagai karakteristik adanya sekolah unggulan yang menjadi pembeda dengan sekolah-sekolah lain pada umunya adalah sebagaimana menurut Moedjirto, ada tiga tipe madrasah atau sekolah Islam unggulan. Pertama, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis anak cerdas. Tujuannya untuk mendapat input yang baik maka menggunakan seleksi akademis di mana posisi ini prestasi dalam bentuk angka menjadi satu pijakan, dengan berdalil bahwa dengan adanya input yang baik walaupun pada kenyataannya dalam berproses sekolah menggunakan aturan yang sama dengan sekolah lain, maka output  yang dihasilakan akan berkualitas.
Kedua, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada fasilitas. Sekolah yang demikian lebih mengedepankan keberadaan sarana prasaranayang sangat menunjang, sehingga peserta didik akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas-fasilitas yang ada, walaupun untuk mendapatkannya mereka harus membayar mahal.
Ketiga, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasi pada iklim belajar. Tipe ini cenderung menekankan pada suasana belajar positif di lingkungan sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan dapat menerima dan mampu memproses siswa yang masuk (input) dengan prestasi rendah menjadi (output) yang bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk kategori langka, karena untuk merealisasikan dan menghasilkan kualitas jurusan yang bagus, konsekuwensinya lembaga harus berupaya keras, tentu akan memiliki banyak resiko-resiko yang dihadapi. Namun sebagaimana yang telah ada, madrasah/sekolah semacam inilah yang akan dapat bertahan dalam menjaga kualitas/mutu sekolah.
Adapun menurut Abuddin Nata, mengungkapkan empat karakteristik sistem pendidikan Islam unggulan adalah: pengembangan tradisi ilmiah, memadukan ilmu agama dan ilmu umum, berpusat pada murid dan kerja sama dengan pemakai lulusan.
  Demikian, kesimpulannya ciri khusus yang dimiliki sekolah unggulan ialah sekolah Islam berbasis anak cerdas, berbasis pada fasilitas, berbasi pada iklim belajar semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.

Kesimpulan
sekolah atau madrasah unggulan adalah sekolah yang dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lususan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lain.
Tujuannya guna menumbuhkan manusia yang berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah Swt, berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain ia seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah Swt, berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan. Dengan ciri-ciri sehat jasmaninya, pandai serta ruhani yang berkualitas tinggi. semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.

Daftar Pustaka
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Muhammad, “Konsep Pengembangan Sekolah Unggul”, Kreatif, Vol. 4, No. 1 (Januari 2009)
Indra, Hasbi. 2017. Pendidikan Keluarga Islam Membangun Generasi Unggul. Yogyakarta: DEEPUBLISH
Tafsir, Ahmad. 2015. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya
Nurokhim. Merancang Sekolah Islam/Madrasah Unggulan. ejournal.kopertais4.id. diakses 29/0819
Nata, Abuddin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindi.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...