Manajemen
Sarana dan Prasarana
Sebagai
lembaga pendidikan, sekolah memerlukan dukungan sarana dan prasarana. Sarana
dan prasarana pendidikan merupakan material pendidikan yang sangat penting.
Banyak sekolah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap sehingga
sangat menunjang proses pendidikan di sekolah. Baik guru maupun siswa, merasa
terbantu dengan adanya fasilitas tersebut. Namun sayangnya, kondisi tersebut
tidak berlangsung lama. Tingkat kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana
tidak dapat di pertahankan secara terus-menerus. Sementara itu, bantuan sarana
dan prasarana pun tidak datang setiap saat. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya
pengelolaan sarana dan prasarana secara baik agar kualitas dan kuantitas sarana
dan prasarana dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif lebih lama.[1]
A.
Pengertian Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Manajemen
(Stooner: 1982) adalah proses perencanaan, pengrganisasian, pengarahan dan
pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber –sumber
daya oragnisasi lainnya agar dapat mencapai tujuan organisasi yang telah
ditetapkan.[2]
Menurut
(The Liang Gie, 1996) manajemen adalah segenap perbuatan untuk menggerakkan
orang atau mengarahkan segala fasilitas dalam suatu usaha kerja sama untuk
mencapai tujuan. Sedangkan (Siagian, 1996) berpendapat, manajemen adalah
kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil untuk mencapai tujuan.[3]
Adapun
mengenai Sarana dan prasarana pendidikan, keduanya tidaklah sama. Sarana
pendidikan ialah semua fasilitas (pralatan, perlengkapan, bahan dan perabotan)
yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, baik yang
bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat
berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien, contohnya seperti: gedung, ruang
kelas, meja, kursi serta alat-alat media pengajaran, perpustakaan, kantor
sekolah, ruang osis, tempat parkir dan ruang laboratotium. Adapun prasarana
pendidikan ialah fasilitas secara tidak langsung menunjang jalannya proses
pendidikan atau pengajaran, contohnya seperti: halaman, kebun/taman sekolah,
jalan menuju ke sekolah, tata tertib sekolah dan sebagainya. Penekanan pada
pengertian tersebut ialah pada sifatnya, sarana bersifat langsung dan prsarana
bersifat tidak langsung dalam menunjang proses pendidikan.[4]
Dengan
demikian, manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat diartikan sebagai
segenap proses pengadaan dan pendayagunaan komponen-komponen yang secara
langsung maupun tidak langsung menunjang proses pendidikan untuk mencapai
tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Proses-proses yang dilakukan
dalam upaya pengadaan dan pendayagunaan, meliputi perencanaan, pengadaan,
pengaturan, penggunaan dan penghapusan.[5]
Sarana
dan prasarana dalam lembaga pendidikan itu sebaiknya dikelola dengan sebaik
mungkin dengan mengikuti kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut:
1.
Lengkap,
siap dipakai setiap saat, kuat dan awet
2.
Rapi,
indah, bersih, anggun dan asri sehingga menyejukkan pandangan dan perasaan
siapa pun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan
3.
Kreatif,
inovatif, responsif dan bervariasi sehingga dapat merangsang timbulnya
imajinasi peserta didik
4.
Memiliki
jangkauan waktu yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghindari
kecendrungan bongkar pasang bangunan
5.
Memiliki
tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-relegius,
seperti musholla atau masjid.
Ketentuan ini ketika diterapkan pada jenjang pendidikan yang
berbeda, maka akan menghasilkan keputusan yang berbeda pula, seperti pada
ketentuan harus kreatif, inovatif, responsif dan bervariasi. Untuk penataan
lingkungan dalam kompleks sekolah/madrasah/perguruan tinggi atau pesantren
seharusnya rapi, indah, bersih, anggun dan asri. Keadaan ini setidaknya
menjadikan peserta didik merasa betah (kerasan) berada di lembaga pendidikan,
baik sewaktu proses pembelajaran berlangsung di kelas, waktu istirahat, ketika
berkunjung ke sekolah, bahkan tamu-tamu dari luar juga diharapkan merasakan hal
yang sama.[6]
B.
Tujuan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Tujuan dari pengelolaan sarana dan
prasarana adalah untuk memberikan layanan secara profesional berkaitan dengan sarana
dan prasarana pendidikan agar proses pembelajaran bisa berlangsung secara
efektif dan efesien.
Pada dasarnya manajemen sarana dan
prasarana pendidikan memiliki tujuan sebagai; 1) menciptakan sekolah atau
madrash yang bersih, rapi, indah sehingga menyenangkan bagi warga sekolah atau
madrasah, 2) tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, baik secara
kualitas maupun kuantitas dan relevan dengan kepentingan dan kebutuhan
pendidikan.
Berkaitan dengan tujuan ini, Bafadal
(2003) menjelaskan secara rinci tentang tujuan manajemen sarana dan prasarana
pendidikan, ialah: 1) untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana sekolah
melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan saksama, sehingga
sekolah memiliki sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan, 2) untuk
mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien,
3) untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga
keadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel
sekolah.
Secara lebih rinci tim pakar
manajemen Universitas Negeri Malang mengidentifikasi beberapa hal mengenai
tujuan sarana dan prasarana pendidikan, yaitu: 1) untuk mengupayakan pengadaan
sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang
hati-hati dan saksama, sehingga sekolah atau madrasah memiliki sarana dan prasarana sesuai dengan
kebutuhan dana yang efisien, 2) untuk mengupayakan pemakaian sarana dan
prasarana sekolah secara tepat dan efisien, 3) untuk mengupayakan pemeliharaan
sarana dan prasarana pendidikan secara teliti dan tepat, sehingga keberadaan
sarana dan prasarana tersebut akan selalu dalam keadaan siap pakai ketika akan
digunakan diperlukan atau diperlukan.
Jadi, tujuan dari manajemen sarana
dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap
proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[7]
C. Klasifikasi Sarana dan Prasarana
Pendidikan
Sarana pendidikan diklasifikasikan
menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan habis tidaknya, berdasarkan bergerak
tidaknya dan berdasarkan hubungan dengan proses pembelajaran. Apabila dilihat
dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam yaitu sarana pendidikan yang habis
dipakai dan tahan lama. Dilihat dari bergerak atau tidaknya pada saat
pembelajaran ada dua macam, yaitu bergerak dan tidak bergerak. Sementara jika
dilihat dari hubungan sarana tersebut terhadap proses pembelajaran, ada tiga
macam yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pembelajaran.[8]
Menurut Bafadal, sarna adalah semua
perangkat peralatan, bahan dan perabot secara langsung digunakan dalam proses
pendidikan. Sara pendidikan dapat diklasifikasikan berdasarkan tigal hal,
yaitu:
1.
Habis
tidaknya
2.
Berdasarkan
bergerak tidaknya
3.
Berdasarkan
hubungan dengan proses belajar mengajar.[9]
Sarana
pendidikan habis pakai (tidaknya) merupakan bahan atau alat yang jika digunakan
dapat habis dalam waktu relatif singkat. Contohnya, kapur tulis, tinta printer,
kertas tulis dan bahan kimia untuk praktik. Kemudian, ada pula sarana
pendidikan yang berubah bentuk misalnya, kayu, besi, dan kertas karton yang
sering digunakan guru dalam mengajar. Selain itu, sarana pendidikan tahan lama
adalah bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus-menerus atau
berkali-kali dalam waktu yang relatif lama. Contohnya, meja dan kursi,
komputer, atlas, globe dan alat-alat olahraga.
Sara
pendidikan bergerak merupakan sarana pendidikan yang dapat digerakkan atau
dipindah-tempatkan sesuai dengan kebutuhan para pemakainya. Contohnya, meja dan
kuris, almari arsip dan alat-alat praktik. Kemudian, untuk sarana pendidika
yang tidak bergerak adalah sarana pendidikan yang tidak dapat dipindahkan atau
sangat sulit jika dipindahkan, misalnya saluran dari Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM), saluran kabel listrik dan LCD yang dipasang permanen.
Dalam
hubungannya dengan proses pembelajaran, sarana pendidikan dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran. Alat
pelajaran adalah alat yang dapat digunakan secara langsung dalam proses
pembelajaran, misalnya buku, alat peraga, alat tulis dan alat praktik. Alat
peraga merupakan alat bantu pendidikan yang dapat berupa perbuatan-perbuatan
atau benda-benda yang dapat mengkonkretkan meteri pembelajaran. Materi
pelajaran yang tadinya abstrak dapat dikonkretkan melalui alat peraga sehingga
siswa lebih mudah dalam menerima pelajaran. Media pengajaran adalah sarana
pendidikan yang berfungsi sebagai perantara (medium) dalam proses
pembelajaran sehingga meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam mencapai
tujuan pendidikan. Media pengajaran ada tiga jenis, yaitu visual, audio dan
audiovisual.[10]
Adapun
prasaran pendidikan bisa diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu prasarana
langsung dan prasarana tidak langsung; 1) prasarana pendidikan secara langsung
digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang kelas, ruang
perpustakaan, ruang praktik keterampilan, ruang komputer dan ruang
laboratorium, 2) prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk
menunjang belajar mengajar, tetapi secara tidak langsung sangat menunjang
proses belajar mengajar, seperi ruang kantor, kantin sekolah, tanah, jalan
menuju sekolah, kamar kecil, ruang UKS, ruang guru, ruang kepala sekolah, taman
dan tempat parkir kendaraan.[11]
KESIMPULAN
Manajemen
sarana dan prasarana pendidikan sebagai segenap proses pengadaan dan
pendayagunaan komponen-komponen yang secara langsung maupun tidak langsung
menunjang proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan
efisien.
Dan tujuan dari manajemen sarana dan
prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap
proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Adapun
Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan habis
tidaknya, berdasarkan bergerak tidaknya dan berdasarkan hubungan dengan proses
pembelajaran. Adapun prasaran pendidikan bisa diklasifikasikan menjadi dua
macam yaitu prasarana langsung dan prasarana tidak langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Barnawi
& Arifin, M. 2014. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media)
Handoko, Tani. 2016. Manajemen, (Yogyakarta: BPFE) cet. Ke
3.
Mutohar, Prim Masrokan. 2013. Manajemen Mutu Sekolah. (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media)
Indrawan,
Irjus. 2015. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. (Yogyakarta:
Deepublish)
[1] Barnawi
& M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2014). Hal. 47
[2] Tani
Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[3] Prim
Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media,
2013. )Hal. 34
[4] Irjus
Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. (Yogyakarta:
Deepublish, 2015). Hal 10
[5] Barnawi
& M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah.
................... Hal. 48
[6] Irjus
Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal.
10-11
[7] Irjus
Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal.
12-13
[8] Barnawi
& M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah.
................... Hal. 49
[9] Irjus
Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal.
13-14
[10] Barnawi
& M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. ...................
Hal. 50
[11] Irjus
Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal.
15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar