MAKALAH
KEMUNCULAN
AGAMA ISLAM (KONDISI JAZIRAH ARAB DAN DAKWAH RASUL)
Dosen Pembimbing:
Abdul
Wasil, M.HI
Disusun
oleh
:
1. Aynul Masturoh
2. Elok Firdausyiah
3. Nur Aini
4. Radinal Walidah
5. Wahidatul
hasanah
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
BAB
2
PEMBAHASAN
A. Kondisi
Jazirah Arab
Makkah
adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di
negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui
oleh jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di
utara. Dengan adanya ka’bah di tengah kota, Mekkah menjadi pusat keagamaan
Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah didalamnya terdapat 360 berhala
mengelilingi berhala utama yaitu Hubal. Agama dan masyarakat Arab mencerminkan
realitas kesukuan jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi. Sebagian
besar daerah jazirah adalah padang pasir sahara yang terletak di tengah dan
memiliki kedaan dan sifat berbeda-beda. ( Badri Yatim: 2005, 9)
Ka’bah
pada masa sebelum islam sudah menjadi tempat yang disucikan dan banyak dikunjungi
oleh penganut-penganut asli Mekkah dan orang-orang yahudi yang bermukim di
sekitarnya. Untuk mengamanka para peziarah yang datang ke kota itu,
didirikanlah suatu pemrintahan yang pada mulanya berada ditangan dua suku yang
berkuasa yaitu Jurhum (sebagai pemegang kuasaan politik) dan Ismail (keturunan
Nabi Ibrahim). Kekuasaan politik kemudian berpindah ke suku Khuza’ah dan
akhirnya ke suku quraisy di bawah pimpinan Qushai. Suku terakhir inilah yang
kemudian mengatur urusan-urusan politik dan urusan-urusan yang berhubungan
dengan Ka’bah. ( Badri Yatim: 2005, 4)
Bila
dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab di bagi menjadi dua
golongan besar yaitu Qahthaniyah (keturunan qahthan) dan Adnaniyun (keturunan
Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat, baik yang nomadik maupun yang menetap hidup
dalam budaya kesukuan badui. Beberapa keluarga membentuk kabilah (clan).
Peperangan antar Clan sering terjadi, sikap ini telah menjadi tabiat yang
mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang
tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini masih terus
berlangsung sampai agama islam lahir.
Akibat
peperangan yang terus menerus kebudayaan mereka tidak berkembang karena itu
bahan-bahan sejarah Arab pra islam sangat langka di dapatkan di dunia Arab.
Ahmad syalabi menyebutkan, sejarah arab hanya dapat diketahui dari masa
kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama islam. ( Badri Yatim: 2005, 10)
Kehidupan
sosial bangsa Arab pada masa itu dengan adanya syair-syair Arab. Syair adalah
salah satu seni yang paling indah yang sangat di hargai dan dimuliakan oleh
bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam
masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa
syair itu dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya
dapat menghina-hinakan orang yang tadinya mulia. ( Fatah Syukur NC: 2009, 24)
Berkembangnya
budaya di daerah Arab menjelang kebangkitan Islam berasal dari pengaruh budaya
bansa-bangsa seitarnya yang lebih awal maju dari kebudayaan dan peradaban Arab.
Pengaruh tersebut masuk kedaerah Arab melalui beberapa jalur di antaranya ialah
melalui hubungan dagnag dengan bangsa lain, melalui kerajaan-kerajaan
protektoral, Hirah dan Ghasasan dan melalui masuknya misi yahudi dan kristen.
Walaupun
agama yahudi dan kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan
masih menganut agama asli mereka yaitu percaya kepada dewa yang di wujudkan
dalam bentuk berhala dan patung. ( Badri Yatim,t,t., 15). Bangsa arab memiliki
karakteristik tersendiri lugas polos keras bagaimana tercermin dari masyarakat
primitive dan perawan. Akan tetapi mereka memiliki kelebihan terutama dalam hal
berperang, persaudaraan (suku). Bahkan dalam bahasa dan kesusastraan, sehingga
mereka dikenal dengan bangsa yang memiliki hafalan yang kuat. Oleh al-qur’an
mereka di sebut bangsa yang ummi.
1. Perjanjian
dan Persekutuan
Perjanjian awal antara kaum muslim mekkah dan
para peziarah dari Yatstrib di Aqabah memberikan kesempatan bagi dakwah Nabi
Muhammad SAW untuk berkembang di semenanjung tersebut melalui hijrah yang
disepakati di kota Yastrib. Suku-suku Aus dan Khazraj dari Yastrib bukan
pemeluk Yahudi maupun Kristen, dan perjanjian itu merupakan pengalaman
bermanfaat bagi kaum muslim dalam membangun persekutuan dan menyebarkan ajaran
islam kepada suku-suku yang lebih bersahabat di Arab.
Begitu
kekuasaan muslim di Madinah termantapkan. Nabi Muhammad SAW dengan cepat
menjalin hubungan erat dengan komunitas-komunitas tetangga. Guna memenuhi
panggilan beliau untuk menyebarkan islam, penting untuk menciptakan
kondisi-kondisi yang tepat bagi dialog agama. Demi tujuan ini, utusan utusan
Nabi Muhammad SAW mendatangi para penguasa Abisinia, Mesir, Persia, Suriah, dan
Yaman.
2. Orang-orang
Kristen Najran
Sekitar
tahun 630, Nabi Muhammad SAW menerima delegrasi sekitar 60 rohaniwan dan
pemimpin kristen dari Najran dari Yaman. Mereka adalah Trinitarian ortodoks
yang dilindungi kekaisaran Bizantian, dan Nabi Muhammad SAW mengizinkan mereka
menggunakan masjid untuk beribadah secara Kristen. Ia juga memanfaatkan
kunjungan mereka sebagai kesempatan mengundang kaum Yahudi Madinah untuk
berdialog agama tiga pihak.
Selama
pertemuan mereka, Nabi Muhammad SAW mengkritik kedua agama, meyatakan bahwa
mereka menyelewengkan monoteise dan mengutak-atik kitab suci sehingga
menyimpangkan ajaran para Nabi terdahulu.
Kaum
Najran mengakui kasahihan Muhammad sebagai Nabi namun kebanyakan di antara
mereka saat itu menolak masuk agama islam. Akan tetapi, mereka mengizinkan
salah satu sahabat beliau, Abu Ubaydah bin Al-Jarrah untuk menyertai mereka ke
Yaman sebagai duta pendakwah islam. Dalam beberapa tahun, mayoritas orang
Yaman, termasuk kaum Kristen dari Najran, telah masuk islam.
3. Pendeta-pendeta
Abisinia
Kerajaan
Kristen Abisinia menjadi tempat pelarian bagi sejumlah kaum muslim awal yang
disebut pelaksana hijrah pertama dalam islam Negus dari Abisinia dan Nabi
Muhammad SAW saling menghormati, dan sang raja mengirimkan delegasi tujuh
pendeta dan lima biarawan ke Madinah. Mereka diperintahkan mengamati Nabi
Muhammad SAW dan mempelajari wahyu-wahyunya.
Para
rohaniawan Abisinia amat tersentuh oleh ayat-ayat yang mereka dengar dan
peristiwa itu nantinya disebutkan dalam Al-Qur’an; ‘’Dan pasti akan kamu dapati
orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah
orang-orang yang berkata, ‘sesungguhnya kami adalah orang Nasrani. ‘yang
demikian itu karena diantara mereka terdapat para pendeta dan para rahip,
(juga) karena mereka tidak menyombongkan diri ‘’
Sebagai
tanggapan, Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat yang mengundang sang raja untuk
menerima islam. Tak jelas apakah Negus betul-betul masuk islam, namun ketika
dia wafat, Nabi Muhammad SAW mengumumkan kematiannya dan melaksanakan shalat
Gaib untuknya. Setelah ‘hijrah pertama’, islam terus berkembang diseluruh
Abisinia.
4. Kaum
Yahudi Di Madinah
Hubungan
kaum muslim dan yahudi di Madinah kerap kali getir, meskipun banyak diantara
mereka banyak yang masuk islam. Dalam upaya memastikan perdamaian di kota itu,
ditandatangani perjanjian dengan kaum Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, walaupun
bebas melaksanakan agama mereka sendiri dan terbebas dari kewajiban bagi kaum
muslim, sejumlah orang yahudi melanggar perjanjian mereka. Mereka diberi dua
pilihan; ikut berperang melawan kaum musyrik Mekkah yang sempat bersekutu
dengan mereka untuk melawan muslim, atau angkat kaki. Setelah pada awalnya
menolak melakukan kedua hal itu, mereka meninggalkan Madinah menuju wilayah
Khaybar dan menyerang kaum muslim berkali-kali. Pengkhianatan ini dituntaskan
pada pertempuran ahzab(konfederasi) dan serangan kaum muslim setelahnya
terhadap Khaybar. Suku-suku dan sekutu-sekutu mereka ditundukkan.
Begitu
Mekkah dan sekutu-sekutu mereka takluk, Nabi Muhammad SAW mengalihkan perhatian
beliau kepada perjanjian-perjanjian damai dengan suku-suku Badui disekitar
mekkah guna memfasilitasi penyebaran islam ke seluruh Jazirah Arab dan lebih
jauh lagi.
B. Dakwah
Rasul
1. Masa
Kerasulan
Beberapa kilometer di Utara Makkah,
bertepatan pada tanggal 17 ramadlan 611 M, di Gua Hira malaikat Jibril mucul di
hadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan Wahyu Allah yang pertama. ( Dedi
Supriyadi: 2008, 61) pada usia Nabi yang menjelang 40 itu Allah telah memilih
Muhammad sebagai Nabi. Pada wahyu kedua Nabi di perintahkan untuk menyeru
manusia kepada satu agama, yaitu agama Islam. ( Badri Yatim: 18-19)
2. Perjuangan
Dakwah Rasul
sebagaimana
telah di sebutkan di atas bahwasanya perjuangan dakwah Rosulullah itu ada dua
tahapan, yaitu secara sirriyah
(secara rahasia) dan terang-terangan. Yang
mana dalam hal tersebut Rasulullah menjalaninya tak hanya dengan waktu yang
singkat, harus melaui perjuangan yang ekstara penuh kesabaran dalam menghadapi
musuh-musuh islam. Apa yang di maksud dakwah secara sirriyah dan terang-terangan?
a. Tahapan
Dakwah Sirriyah
Sebagaimana
diketahui, kota Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat
para pengabdi Ka’bah pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci
oleh seluruh bangsa Arab. Fanatisme bangsa quraisy tehadap agama nenek moyang
telah membuat islam sulit berkembang di Makkah walaupun Nabi Muhammad sendiri
berasal dari suku yang sama. Dalam menghadapi hal tersebut Nabi Muhammad
mumulai dakwah secara sirriyah(sembunyi-sembunyi)
agar penduduk Makkah tidak di kagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing
emosi mereka ( Hanif Yahya: 2016, 92)
1.) as-Sabiqunal
al-Awwalun
Merupakan hal wajar bila yang
pertama-tama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan islam kepada
orang-orang yang hubungannya dekat dengan beliau, keluarga serta
sahabat-sahabat karib beliau. Karena itulah, orang yang pertama menerima
dakwahnya adalah keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Mereka semua didakwahi
oleh beliau untuk memeluk islam. seorang demi seorang diajak agar mau
meninggalkan agama berhala agar menyembah Allah yang maha Esa. Usaha yang
dilakukan itupun berhasil, dalam sejarah islam mereka dikenal sebagai as-Sabiqunal al-Awwalun (orang-orang
pertama masuk islam). Di barisan
terdepan terdaftar istri Rosulullah, Ummul Mukminin, Khadijah binti khuwalid,
kalangan pemuda sekaligus keponakan Rosulullah Ali bin Abi Thalib Yang ketika itu Sy. Ali bin
Abi Thalib masih kanak-kanak dan berada di bawah asuhan Rasulullah, Zaid bin
Haristah, tokoh masyarakat yaitu Abu Bakar as-Siddiq. Mereka semua memeluluk
islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Sy. Abu Bakar dengan sangat giat mengajak
orang-orang kepada agama islam. Beliau merupaka sosol laki-laki yang lembut,
disenangi, luwes, tegas dan berbudi luhur serta berbuat baik. Beliau terus
berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu
beriteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk islamlah Usman
bin Affan al-Umawi, az-Zubair bin Awwam al-Asadi, Abdurrahman bin Auf az-Zuhri,
Sa’ad bin Abi Waqash as-Zuhri dan Thalhah bin ubaidillah at-Taimi. Diantara
orang-orang pertama lainnya yang masuk islam ialah Bilal bin Rabah al-Habasyi
kemudian di ikuti oleh Abu Ubaidah, nama beliau adalah Amir bin Jarrah, beliau
berasal dari suku Bani Al-Harist bin Fihr. Selanjutnya menyusul keduanya, Abu
Salamah bi Abdul Asad, Al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku
Makhzum), Ustman bin Ma’zun serta kedua saudaranya; Qudamah dan Abdullah,
Ubaidah bin al-Harist bin Abdul-Muthalib bin Abdu Manaf, Sa’id bi Zaid al-Adawi
dan istrinya; Fatimah binti al-Khaththab al-Adawiyah saudara perempuan umar bin
khattab, Khabbab bin al-Arat, Abdullah bin Mas’ud al-Huzali , mereka itulah
yang dinamakan as-Sabiqun al-Awwalun. ( Hanif Yahya, 2016, 93-94)
