Pendidikan Islam dan Manusia Unggul
A.
Pengertian Pendidikan Unggul
Pendidikan adalah suatu proses
generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan serta memenuhi tujuan hidupnya
secara lebih efektif dan efisensi. Adapun secara umum pendidikan dapat dipahami
dalam dua pengertian, yang pertama secara luas atau tidak terbatas dan kedua
secara sempit atau terbatas. Pengertian pendidikan secara luas adalah
hidup. Karena pendidikan merupakan segala macam pengalaman belajar yang
berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dan pendidikan, segala
sesituasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Umur pendidikan sama
tuanya dengan kehidupan manusia, dari pengertian tersebut menyiratkan
bahwasanya pendidikan telah dimulai sejak manusia berada di muka bumi, atau
bahkan dalam sejak dalam kandungan. Masa pendidika dalam pengertian luas
berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan.
Pendidikan berlangsung dalam beraneka ragam, pola dan lembaga. Pendidikan
terjadi di sembarang, kapan, dan di mana saja dalam hidup. Tujuannya adalah
tergantung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan di luar. Tujuan
pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas dan sebagaimana dengan tujuan
hidup.
Pengertian pendidikan secara sempit
atau sederhana adalah persekolahan. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakab
di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Dan, segala pengaruh yang
diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar
mempunyai kemampuan yang sempurna serta kesadaran penuh terhadap
hubungan-hubungan dan tugas sosial.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan
merupakan proses belajar yang dilalui seseorang dalam kehidupan untuk terus
tumbuh secara lebih efektif dan efisien agar mempunyai kemampuan yang sempurna
serta kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial di lingkungan
masyarakat.
Adapun kata unggul dalam KBBI
diartikan lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet dan sebagainya)
daripada yang lain, utama (terbaik, terutama). Sedangkan keunggulan artinya
keadaan unggul, kecakapan, kebaikan dan sebagaimana yang lebih dari pada yang
lain.
Sedangkan secara ontologis
sekolah unggulan dalam perspektif Departemen Pendidikan Nasional adalah sekolah
yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran output pendidikannya.
Untuk mencapai keunggulan tersebut, maka masukan input, proses
pendidikan, guru, tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta
sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Dengan demikian
sekolah atau madrasah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang dikembangkan
serta dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk
mencapai hasil lususan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lain.
B.
Hakikat Manusia
Bangsa Indonesia mempunyai visi dan
misi luhur. Cita-cita pendidikan nasional kita adalah pembentukan kecerdasan
manusia dalam berbagai aspek. Dikemukakan oleh UU Sisdiknas (No.20 Tahun2003),
bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk
watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara
yang demokratis serta bertanggung jawab. ( Pasal 3).
Manusia adalah makhluk yang terdiri
dari jasmani dan ruh, ruh merupakan simbol bahwa ada esensi yang menciptakan
manusia dan perilaku manusia harus tunduk kepada-Nya. Dua hal itu yang
membentuk sebuah jati diri manusia. Dalam diri manusia terdapat bukan saja ruh,
jiwa tetapi juga kalbu dan akal. Manusia di dalam kehidupannya mengalami
perubahan bukan saja dalam bentuk fisik, tetapi juga mengalami perkembangan kerohaniannya
yang berbentuk kalbu serta akal melalui khazanah pendidikan.
Manusia memiliki ciri akal, hikmah, tabiat
nafsu dibandingkan dengan makhluk lain yang diciptakan Allah Swt yakni
malaikat, ia hanya memiliki akal dan hikmahtanpa tabiat dan nafsu. Karenanya
malaikat senantiasa bertasbih dan bertahmid. Malaikat tidak pernah mengingkari
perintah Allah Swt, karena tidak memiliki tabiat dan nafsu itu, hal inilah yang
membedakannya dengan sesosolk manusia.
Dari segi rohani manusia, maka yang
terpenting ialah Pendidikan terhadap seluruh potensi rohani manusia yang telah
diberikan Allah kepadanya. Ada empat potensi rohani manusia: akal, Kalbu, nasf
dan roh. Keempat potensi ini perlu dididik agar menjadi Muslim dalam arti
sesungguhnya. Tugas dari pendidikanlah untuk memberdayakan potensi yang ada itu
semua. Akal manusia diarahkan untuk memperoleh tingkat kecerdasan semaksimal
mungkin, mengisinya dengan bermacam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sehingga
manusia yang pada awal kelahirannya tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahu:
واللهُ اخرَجكُمْ منْ بطُونِ امَّهتكُمْ لاتعلمونَ شيأً وجعلَ لكُمْ
السمعَ والابصرَوَالاَفئدةَ لعلكُمْ تشْكرُونَ (78)
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatupun, dan Allah
memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur.
(QS. An-Nahl: 78)
Kalbu manusia dididik supaya
melahirkan watak dan sifat-sifat terpuji, mengisi hati dengan segala akhlak mahmudah
dan menjauhi akhlak mahmuzah. Membuat hidup manusia lebih bermakna
dan berarti serta dapat melahirkan kecerdasan emosional yang tinggi.
Nafs, manusia perlu pula dididik agar ia dapat mengendalikan tarikan
hawa nafsu negatif yang merusak kehidupan manusia. Nafs yang telah
melenceng dari relnya harus dikembalikan dan dikendalikan sehingga tetap
berjalan di jalan lurus.
Adapun roh manusia perlu dididik
agar tetap bersih sebagaimana pada waktu roh itu ditiupkan yang pertama kalai
kepada manusia. Roh yang asalnya suci bersih dapat terkotori oleh daya tarik
hawa nafsu manusia. Ada pendapat lain, bahwa manusia itu terdiri dari
tiga dimensi yakni akal, ruhani, dan jasmani. Di jasmani terdapat mata, kaki,
tangan dan organ tubuh lainnya. Di kepala ada yang namanya otak gunanya untuk
berfikir dan mengambil keputusan, dan di wajah ada dua mata gunanya untuk
melihat dan dua tangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah otak.
Dalam kontek itu pula ada tiga
kategori manusia; pertama sebagai makhluk biologis (al Basyar) yang
menunjukkan bahwa manusia itu sama dengan makhluk lainnya meskipun struktur
organnya berbeda. Yang membedakan manusia lebih sempurna dibanding makhluk
lain. Kedua, sebagai makhluk psikis (al Insan) yang ditandai dengan
berohani dengan fitrah, kalbu dan akal. Hal tersebut membedakan manusia sebagai
makhluk bermartabat dan mulia di banding dengan makhluk lainnya. Dan yang
membedakan manusia dengan yang lain adalah iman dan amalnya. Ketiga, manusia
sebagai makhluk sosial pembawa amanah untuk mengelola bumi atau khalifah yang
bertugas mengelola kehidupan serta alam sekitarnya.
Sejatinya manusia tunduk kepada
Allah sebagaimana fitrahnya. Al-Qur’an menyatakan:
فاَقِمْ
وجهَكَ للدِينِ حنيْفًا فِطْرَتَ اللّهِ الّتي فطرَالنَّاسَ عليهَا لاَتبدِيلَ لخلْقِ
اللّهِ ذلكَ الدِّينُ القَيِّمُ ولكِنَّ اكثَرَ النَّاسِ لاَيَعلَمُوْنَ (30)
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah;
(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah)
itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi
kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum: 30).
Fitrah Allah itu
maksudnya manusia mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid, dimanapun ia
dilahirkan dan siapa pun yang melahirkannya, tetapi ini dapat dibentuk oleh
lingkungan, orang tua atau hal lainnya.
C.
Karakteristik Manusia Unggul Menurut Islam
Manusia
muslim yang sempurna atau unggul memiliki ciri-ciri pokok antara lain, yakni: pertama,
jasmani yang sehat serta kuat. Hal tersebut diperlukan guna untuk keperluan
menjalankan fungsinya sebagai khalifah untuk mengelola kehidupan, juga ikut
menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan meningkatkan manusia dari jalan yang
salah (aman ma’ruf nahi mungkar).
Islam
menghendaki muslim itu sehat mentalnya, kesehatan mental berkaitan erat dengan
kesehatan jasmani. Pendidikan jasmani telah diisyaratkan nabi Muhammad contoh
seperti latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda, lari
cepat. Pada saat tertentu diperlukan seperti dalam surat Al-Anfal ayat 60
disebutkan agar seorang muslim mempersiapkan kekuatan serta pasukan berkuda
untuk menghadapi musuh-musuh Allah Swt. selain itu, ada beberapa hadist yang
menerangkan perlunya keterampilan memanah dimiliki oleh muslim. Pada masa Umar
bin Khathab memerintahkan gubernu-gubernurnya agar meltih anak-anak mereka
berenang dan menunggang kuda.
Kedua, cerdas serta
pandai. Muslim harus cerdas, di kehidupan kini ditandai oleh adanya kemampuan
menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, berpengetahuan dan berwawasan
luas. Seorang muslim hendaknya selain menguasasi teori-teori sains juga dapat
menciptakan teori-teori baru; mampu memahami dan menghasilkan teori filsafat
dengan hal itu akan mampu memecahkan masalah yang berfilosofis. Dalam kaitan
tersebut dengan ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. biasanya
diungkapkan dalam bentuk perintah agar belajar atau perintah menggunakan indera
dan akal, atau pujian kepada mereka yang menggunakan indera dan akalnya,
seperti:
Artinya:
Katakanlah, samakah antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak
mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima
pelajaran (Al-Zumar: 9)
Nabi
Muhammad Saw menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan cara belajar
(HR. Bukhari)
Jelaslah bahwa
Islam menghendaki agar muslim berpengetahuan luas.
Ketiga, ruhani yang
berkualitas tinggi. Ruhani atau kalbu yang dimaksud di sini adalah aspek
manusia selain jasmani dan akal. Ruhani tidak real, belum jelas seperti apa,
manusia tidak memiliki cukup pengetahuan untuk mengetahui hakikatnya. Kalbu
lebih dekat pada istilah rasa. Melalui kalbu manusia mampu meraih iman kepada
Tuhan. Iman di kalbu dapat ditandai dengan orangnya sholat dengan khusyuk
(al-Mu’min:1-2), dan lain-lain. Tanda-tanda kalbu yang penuh dengan iman
atau takwa, membentuk manusia yang berpikir dan berprilaku sesuai kehendak
tuhan. Demikian, manusia yang sempurna dalam pandangan Islam adalah manusia
yang hatinya penuh iman dan takwa kepada tuhan, manusia yang jasmaninya sehat
serta kuat, akalnya cerdas serta pandai, dan hatinya (kalbunya) penuh iman
kepada Allah Swt.
Perpaduan dari hal tersebut akan menumbuhkan manusia yang
berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah Swt,
berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain ia
seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah Swt,
berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan.
Dalam kehidupan ia menjadi khalifahdi bumi dengan kualitas-kualitas itu dan ia
pun memilikisifat-sifat berani, jujur, bertanggung jawab, mandiri, toleran, dan
sifat-sifat utama lainnya dalam mengarungi kehidupannya, ia fungsional di
tengah hiruk pikuk kehidupan itu.
D.
Karakteristik Sekolah Unggul
Beberapa ciri-ciri khusus sebagai
karakteristik adanya sekolah unggulan yang menjadi pembeda dengan
sekolah-sekolah lain pada umunya adalah sebagaimana menurut Moedjirto, ada tiga
tipe madrasah atau sekolah Islam unggulan. Pertama, tipe madrasah atau
sekolah Islam berbasis anak cerdas. Tujuannya untuk mendapat input yang
baik maka menggunakan seleksi akademis di mana posisi ini prestasi dalam bentuk
angka menjadi satu pijakan, dengan berdalil bahwa dengan adanya input yang baik
walaupun pada kenyataannya dalam berproses sekolah menggunakan aturan yang sama
dengan sekolah lain, maka output yang dihasilakan akan berkualitas.
Kedua, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada fasilitas. Sekolah
yang demikian lebih mengedepankan keberadaan sarana prasaranayang sangat menunjang,
sehingga peserta didik akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas-fasilitas yang
ada, walaupun untuk mendapatkannya mereka harus membayar mahal.
Ketiga, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasi pada iklim belajar. Tipe
ini cenderung menekankan pada suasana belajar positif di lingkungan
sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan dapat menerima dan mampu memproses siswa
yang masuk (input) dengan prestasi rendah menjadi (output)
yang bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk kategori langka, karena untuk
merealisasikan dan menghasilkan kualitas jurusan yang bagus, konsekuwensinya
lembaga harus berupaya keras, tentu akan memiliki banyak resiko-resiko yang
dihadapi. Namun sebagaimana yang telah ada, madrasah/sekolah semacam inilah
yang akan dapat bertahan dalam menjaga kualitas/mutu sekolah.
Adapun menurut Abuddin Nata,
mengungkapkan empat karakteristik sistem pendidikan Islam unggulan adalah:
pengembangan tradisi ilmiah, memadukan ilmu agama dan ilmu umum, berpusat pada
murid dan kerja sama dengan pemakai lulusan.
Demikian,
kesimpulannya ciri khusus yang dimiliki sekolah unggulan ialah sekolah Islam
berbasis anak cerdas, berbasis pada fasilitas, berbasi pada iklim belajar
semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin
berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.
Kesimpulan
sekolah atau madrasah unggulan
adalah sekolah yang dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya dengan
mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lususan yang lebih baik dan
cakap daripada lulusan sekolah lain.
Tujuannya guna menumbuhkan manusia
yang berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah
Swt, berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain
ia seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah
Swt, berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan.
Dengan ciri-ciri sehat jasmaninya, pandai serta ruhani yang berkualitas tinggi.
semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin
berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.
Daftar Pustaka
Kurniadin, Didin & Machali, Imam.
2016. Manajemen Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Muhammad, “Konsep Pengembangan
Sekolah Unggul”, Kreatif, Vol. 4, No. 1 (Januari 2009)
Indra, Hasbi. 2017. Pendidikan
Keluarga Islam Membangun Generasi Unggul. Yogyakarta: DEEPUBLISH
Tafsir, Ahmad. 2015. Ilmu
Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya
Nurokhim. Merancang Sekolah
Islam/Madrasah Unggulan. ejournal.kopertais4.id. diakses 29/0819
Nata, Abuddin.
2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindi.