Tampilkan postingan dengan label manusia unggul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manusia unggul. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Agustus 2019

Pendidikan Islam dan Manusia Unggul


Pendidikan Islam dan Manusia Unggul
A.      Pengertian Pendidikan Unggul
Pendidikan adalah suatu proses generasi muda untuk dapat menjalankan kehidupan serta memenuhi tujuan hidupnya secara lebih efektif dan efisensi. Adapun secara umum pendidikan dapat dipahami dalam dua pengertian, yang pertama secara luas atau tidak terbatas dan kedua secara sempit atau terbatas. Pengertian pendidikan secara luas adalah hidup. Karena pendidikan merupakan segala macam pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Dan pendidikan, segala sesituasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Umur pendidikan sama tuanya dengan kehidupan manusia, dari pengertian tersebut menyiratkan bahwasanya pendidikan telah dimulai sejak manusia berada di muka bumi, atau bahkan dalam sejak dalam kandungan. Masa pendidika dalam pengertian luas berlangsung seumur hidup dalam setiap saat selama ada pengaruh lingkungan. Pendidikan berlangsung dalam beraneka ragam, pola dan lembaga. Pendidikan terjadi di sembarang, kapan, dan di mana saja dalam hidup. Tujuannya adalah tergantung dalam setiap pengalaman belajar, tidak ditentukan di luar. Tujuan pendidikan adalah pertumbuhan, tidak terbatas dan sebagaimana dengan tujuan hidup.
Pengertian pendidikan secara sempit atau sederhana adalah persekolahan. Pendidikan adalah pengajaran yang diselenggarakab di sekolah sebagai lembaga pendidikan formal. Dan, segala pengaruh yang diupayakan sekolah terhadap anak dan remaja yang diserahkan kepadanya agar mempunyai kemampuan yang sempurna serta kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses belajar yang dilalui seseorang dalam kehidupan untuk terus tumbuh secara lebih efektif dan efisien agar mempunyai kemampuan yang sempurna serta kesadaran penuh terhadap hubungan-hubungan dan tugas sosial di lingkungan masyarakat.
Adapun kata unggul dalam KBBI diartikan lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet dan sebagainya) daripada yang lain, utama (terbaik, terutama). Sedangkan keunggulan artinya keadaan unggul, kecakapan, kebaikan dan sebagaimana yang lebih dari pada yang lain.
Sedangkan secara ontologis sekolah unggulan dalam perspektif Departemen Pendidikan Nasional adalah sekolah yang dikembangkan untuk mencapai keunggulan dalam keluaran output pendidikannya. Untuk mencapai keunggulan tersebut, maka masukan input, proses pendidikan, guru, tenaga kependidikan, manajemen, layanan pendidikan, serta sarana penunjangnya harus diarahkan untuk menunjang tercapainya tujuan tersebut.
Dengan demikian sekolah atau madrasah unggulan dapat didefinisikan sekolah yang dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lususan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lain.
B.       Hakikat Manusia
Bangsa Indonesia mempunyai visi dan misi luhur. Cita-cita pendidikan nasional kita adalah pembentukan kecerdasan manusia dalam berbagai aspek. Dikemukakan oleh UU Sisdiknas (No.20 Tahun2003), bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( Pasal 3).
Manusia adalah makhluk yang terdiri dari jasmani dan ruh, ruh merupakan simbol bahwa ada esensi yang menciptakan manusia dan perilaku manusia harus tunduk kepada-Nya. Dua hal itu yang membentuk sebuah jati diri manusia. Dalam diri manusia terdapat bukan saja ruh, jiwa tetapi juga kalbu dan akal. Manusia di dalam kehidupannya mengalami perubahan bukan saja dalam bentuk fisik, tetapi juga mengalami perkembangan kerohaniannya yang berbentuk kalbu serta akal melalui khazanah pendidikan.
 Manusia memiliki ciri akal, hikmah, tabiat nafsu dibandingkan dengan makhluk lain yang diciptakan Allah Swt yakni malaikat, ia hanya memiliki akal dan hikmahtanpa tabiat dan nafsu. Karenanya malaikat senantiasa bertasbih dan bertahmid. Malaikat tidak pernah mengingkari perintah Allah Swt, karena tidak memiliki tabiat dan nafsu itu, hal inilah yang membedakannya dengan sesosolk manusia.
Dari segi rohani manusia, maka yang terpenting ialah Pendidikan terhadap seluruh potensi rohani manusia yang telah diberikan Allah kepadanya. Ada empat potensi rohani manusia: akal, Kalbu, nasf dan roh. Keempat potensi ini perlu dididik agar menjadi Muslim dalam arti sesungguhnya. Tugas dari pendidikanlah untuk memberdayakan potensi yang ada itu semua. Akal manusia diarahkan untuk memperoleh tingkat kecerdasan semaksimal mungkin, mengisinya dengan bermacam ilmu pengetahuan dan keterampilan. Sehingga manusia yang pada awal kelahirannya tidak mengetahui apa-apa menjadi mengetahu:
واللهُ اخرَجكُمْ منْ بطُونِ امَّهتكُمْ لاتعلمونَ شيأً وجعلَ لكُمْ السمعَ والابصرَوَالاَفئدةَ لعلكُمْ تشْكرُونَ (78)
Artinya: Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Allah  memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl: 78)
Kalbu manusia dididik supaya melahirkan watak dan sifat-sifat terpuji, mengisi hati dengan segala akhlak mahmudah dan menjauhi akhlak mahmuzah. Membuat hidup manusia lebih bermakna dan berarti serta dapat melahirkan kecerdasan emosional yang tinggi.
Nafs, manusia perlu pula dididik agar ia dapat mengendalikan tarikan hawa nafsu negatif yang merusak kehidupan manusia. Nafs yang telah melenceng dari relnya harus dikembalikan dan dikendalikan sehingga tetap berjalan di jalan lurus.
Adapun roh manusia perlu dididik agar tetap bersih sebagaimana pada waktu roh itu ditiupkan yang pertama kalai kepada manusia. Roh yang asalnya suci bersih dapat terkotori oleh daya tarik hawa nafsu manusia. Ada pendapat lain, bahwa manusia itu terdiri dari tiga dimensi yakni akal, ruhani, dan jasmani. Di jasmani terdapat mata, kaki, tangan dan organ tubuh lainnya. Di kepala ada yang namanya otak gunanya untuk berfikir dan mengambil keputusan, dan di wajah ada dua mata gunanya untuk melihat dan dua tangan untuk melakukan pekerjaan sesuai dengan perintah otak.
Dalam kontek itu pula ada tiga kategori manusia; pertama sebagai makhluk biologis (al Basyar) yang menunjukkan bahwa manusia itu sama dengan makhluk lainnya meskipun struktur organnya berbeda. Yang membedakan manusia lebih sempurna dibanding makhluk lain. Kedua, sebagai makhluk psikis (al Insan) yang ditandai dengan berohani dengan fitrah, kalbu dan akal. Hal tersebut membedakan manusia sebagai makhluk bermartabat dan mulia di banding dengan makhluk lainnya. Dan yang membedakan manusia dengan yang lain adalah iman dan amalnya. Ketiga, manusia sebagai makhluk sosial pembawa amanah untuk mengelola bumi atau khalifah yang bertugas mengelola kehidupan serta alam sekitarnya.
Sejatinya manusia tunduk kepada Allah sebagaimana fitrahnya. Al-Qur’an menyatakan:
فاَقِمْ وجهَكَ للدِينِ حنيْفًا فِطْرَتَ اللّهِ الّتي فطرَالنَّاسَ عليهَا لاَتبدِيلَ لخلْقِ اللّهِ ذلكَ الدِّينُ القَيِّمُ ولكِنَّ اكثَرَ النَّاسِ لاَيَعلَمُوْنَ (30)
Artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar-Rum: 30).    
Fitrah Allah itu maksudnya manusia mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid, dimanapun ia dilahirkan dan siapa pun yang melahirkannya, tetapi ini dapat dibentuk oleh lingkungan, orang tua atau hal lainnya.
C.      Karakteristik Manusia Unggul Menurut Islam
Manusia muslim yang sempurna atau unggul memiliki ciri-ciri pokok antara lain, yakni: pertama, jasmani yang sehat serta kuat. Hal tersebut diperlukan guna untuk keperluan menjalankan fungsinya sebagai khalifah untuk mengelola kehidupan, juga ikut menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan meningkatkan manusia dari jalan yang salah (aman ma’ruf nahi mungkar).
Islam menghendaki muslim itu sehat mentalnya, kesehatan mental berkaitan erat dengan kesehatan jasmani. Pendidikan jasmani telah diisyaratkan nabi Muhammad contoh seperti latihan memanah, berenang, menggunakan senjata, menunggang kuda, lari cepat. Pada saat tertentu diperlukan seperti dalam surat Al-Anfal ayat 60 disebutkan agar seorang muslim mempersiapkan kekuatan serta pasukan berkuda untuk menghadapi musuh-musuh Allah Swt. selain itu, ada beberapa hadist yang menerangkan perlunya keterampilan memanah dimiliki oleh muslim. Pada masa Umar bin Khathab memerintahkan gubernu-gubernurnya agar meltih anak-anak mereka berenang dan menunggang kuda.
Kedua, cerdas serta pandai. Muslim harus cerdas, di kehidupan kini ditandai oleh adanya kemampuan menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat, berpengetahuan dan berwawasan luas. Seorang muslim hendaknya selain menguasasi teori-teori sains juga dapat menciptakan teori-teori baru; mampu memahami dan menghasilkan teori filsafat dengan hal itu akan mampu memecahkan masalah yang berfilosofis. Dalam kaitan tersebut dengan ayat Al-Qur’an dan hadist Nabi Muhammad Saw. biasanya diungkapkan dalam bentuk perintah agar belajar atau perintah menggunakan indera dan akal, atau pujian kepada mereka yang menggunakan indera dan akalnya, seperti:
Artinya: Katakanlah, samakah antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (Al-Zumar: 9)
Nabi Muhammad Saw menyatakan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan cara belajar (HR. Bukhari)
Jelaslah bahwa Islam menghendaki agar muslim berpengetahuan luas.
Ketiga, ruhani yang berkualitas tinggi. Ruhani atau kalbu yang dimaksud di sini adalah aspek manusia selain jasmani dan akal. Ruhani tidak real, belum jelas seperti apa, manusia tidak memiliki cukup pengetahuan untuk mengetahui hakikatnya. Kalbu lebih dekat pada istilah rasa. Melalui kalbu manusia mampu meraih iman kepada Tuhan. Iman di kalbu dapat ditandai dengan orangnya sholat dengan khusyuk (al-Mu’min:1-2), dan lain-lain. Tanda-tanda kalbu yang penuh dengan iman atau takwa, membentuk manusia yang berpikir dan berprilaku sesuai kehendak tuhan. Demikian, manusia yang sempurna dalam pandangan Islam adalah manusia yang hatinya penuh iman dan takwa kepada tuhan, manusia yang jasmaninya sehat serta kuat, akalnya cerdas serta pandai, dan hatinya (kalbunya) penuh iman kepada Allah Swt.
 Perpaduan dari hal tersebut akan menumbuhkan manusia yang berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah Swt, berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain ia seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah Swt, berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan. Dalam kehidupan ia menjadi khalifahdi bumi dengan kualitas-kualitas itu dan ia pun memilikisifat-sifat berani, jujur, bertanggung jawab, mandiri, toleran, dan sifat-sifat utama lainnya dalam mengarungi kehidupannya, ia fungsional di tengah hiruk pikuk kehidupan itu.
D.  Karakteristik Sekolah Unggul
Beberapa ciri-ciri khusus sebagai karakteristik adanya sekolah unggulan yang menjadi pembeda dengan sekolah-sekolah lain pada umunya adalah sebagaimana menurut Moedjirto, ada tiga tipe madrasah atau sekolah Islam unggulan. Pertama, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis anak cerdas. Tujuannya untuk mendapat input yang baik maka menggunakan seleksi akademis di mana posisi ini prestasi dalam bentuk angka menjadi satu pijakan, dengan berdalil bahwa dengan adanya input yang baik walaupun pada kenyataannya dalam berproses sekolah menggunakan aturan yang sama dengan sekolah lain, maka output  yang dihasilakan akan berkualitas.
Kedua, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasis pada fasilitas. Sekolah yang demikian lebih mengedepankan keberadaan sarana prasaranayang sangat menunjang, sehingga peserta didik akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas-fasilitas yang ada, walaupun untuk mendapatkannya mereka harus membayar mahal.
Ketiga, tipe madrasah atau sekolah Islam berbasi pada iklim belajar. Tipe ini cenderung menekankan pada suasana belajar positif di lingkungan sekolah/madrasah. Lembaga pendidikan dapat menerima dan mampu memproses siswa yang masuk (input) dengan prestasi rendah menjadi (output) yang bermutu tinggi. Tipe ketiga ini termasuk kategori langka, karena untuk merealisasikan dan menghasilkan kualitas jurusan yang bagus, konsekuwensinya lembaga harus berupaya keras, tentu akan memiliki banyak resiko-resiko yang dihadapi. Namun sebagaimana yang telah ada, madrasah/sekolah semacam inilah yang akan dapat bertahan dalam menjaga kualitas/mutu sekolah.
Adapun menurut Abuddin Nata, mengungkapkan empat karakteristik sistem pendidikan Islam unggulan adalah: pengembangan tradisi ilmiah, memadukan ilmu agama dan ilmu umum, berpusat pada murid dan kerja sama dengan pemakai lulusan.
  Demikian, kesimpulannya ciri khusus yang dimiliki sekolah unggulan ialah sekolah Islam berbasis anak cerdas, berbasis pada fasilitas, berbasi pada iklim belajar semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.

Kesimpulan
sekolah atau madrasah unggulan adalah sekolah yang dikembangkan serta dikelola sebaik-baiknya dengan mengarahkan semua komponennya untuk mencapai hasil lususan yang lebih baik dan cakap daripada lulusan sekolah lain.
Tujuannya guna menumbuhkan manusia yang berakhlakul karimah dalam spektrum yang luas, ia berakhlak kepada Allah Swt, berakhlak kepada manusia dan berakhlak kepada lingkungan. Dengan kata lain ia seorang yang muttaqien, manusia yang bersyukur dan beribadah kepada Allah Swt, berinteraksi dengan sesamanya dan lingkungan dengan nilai-nilai keutamaan. Dengan ciri-ciri sehat jasmaninya, pandai serta ruhani yang berkualitas tinggi. semuanya bertujuan untuk menunjang aktivitas peserta didik agar semakin berkembang serta terus unggul dalam bidang apapun.

Daftar Pustaka
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Muhammad, “Konsep Pengembangan Sekolah Unggul”, Kreatif, Vol. 4, No. 1 (Januari 2009)
Indra, Hasbi. 2017. Pendidikan Keluarga Islam Membangun Generasi Unggul. Yogyakarta: DEEPUBLISH
Tafsir, Ahmad. 2015. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Rosdakarya
Nurokhim. Merancang Sekolah Islam/Madrasah Unggulan. ejournal.kopertais4.id. diakses 29/0819
Nata, Abuddin. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Jakarta: Grasindi.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...