MAKALAH
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Pengertian,
Ruang lingkup dan Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Dosen Pembimbing:
La
Mahidin, S.pd.I, M.pd
Disusun
oleh
:
1. Nabila Arifiyana
2. Nur Aini
3. Lumatul fajriyah
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Filsafat merupakan ilmu
istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh
ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud berada di luar atau di
atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Filsafat ialah hasil daya upaya manusia
dengan akal baiknya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan
integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada yaitu: hakikat tuhan, hakikat
alam semesta, hakikat manusia, serta sikap manusia termaksud sebagai
konsekuensi dari tuhan (pemahaman)-nya tersebut.
Filsafat tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan
terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan
sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan (Bertrand Russel).
Dapat disingkat bahwa filsafat merupakan hasil akal seorang manusia yang
mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata
lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat
kebenaran dalam sesuatu. Meskipun pendefinisian filsafat memunculkan berbagi
perbedaan antar satu tokoh dengan tokoh lain.
Dalam analisis Ahmad Tafsir, perbedaan definisi dapat disebabkan
oleh perbedaan konotasi filsafat, pengaruh lingkungan dan pandangan hidup yang
berbeda serta akibat perkembangan filsafat itu sendiri. Konotasi filsafat pada
pemikiran tentang sesuatu yang tidak dapat lagi diusahakan oleh sains. Oleh
karena itu, filsafat dikatakan sebagai kumpulan pertanyaan yang tidak pernah
terjawab oleh sains secara memuaskan.
Dengan mengesampingkan segala unsur-unsur perbedaan yang terdapat
dalam definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat
adalah proses berfikir secara sistematis yang menerangkan bagaimana upaya
manusia yang melalui akal budi dan pengalamannya terus-menerus hendak mencari
dan menemukan kebenaran, baik pengertian filsafat sebagai sebuah ilmu dan
sebagai sebuah metode berpikir. Oleh karena itu didalam makalah ini akan
dibahas tentang pengertian, ruang lingkup serta kegunaan filsafat pendidikan
islam.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan islam?
2.
Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan islam?
3.
Apa saja kegunaan dari filsafat pendidikan islam?
C. Tujuan Masalah
1.
Untuk mengetahui pengertian dari filsafat pendidikan islam.
2.
Untuk mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan islam.
3.
Untuk mengetahui kegunaan dari filsafat pendidikan islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Nabila Arifiyana
Kata “filsafat” berasal dari bahasa inggris dan bahasa yunani.
Dalam bahasa inggris, yaitu philosophy,
sedangkan dalam bahasa Yunani philein atau
philos artinya cinta dan sofein, sophi atau
Sophia artinya kebijeksanaan. Dengan demikian, filsafat dapat diartikan cinta
kebijaksanaan. Kata kebijaksanaan dalam bahasa arab diistilahkan dengan al-hikmah. Oleh karena itu, filsafat
adalah al-hikmah.[1]
Filsafat dapat diartikan sebagai pola berpikir dengan ciri-ciri
tertentu, yakni kritis, sistematis, logis, kontemplatif, radikal, dan spekulatif.
Filsafat merupakan semacam kritik penuh estetik yang tidak pernah mau membatasi
diri. Bahkan, terkadang penuh dengan pemikiran destruktif sekaligus
dekonstruktif. Pendefinisian ini menggambarkan kesejatian filsafat yang tidak
memuaskan dirinya sendiri, melainkan menantang dialektika yang tidak berujung
pangkal. Oleh karena itu, dalam setiap penggambaran filsafat akan ditemukan
berbagai pandangan yang tingkat deferiansiasinya sangat tinggi dan luas. Tidak
ada kata “pasti”. Semuanya serba ”mungkin” dan kemungkinan filosofisnya serba
pasti sebagaimana kepastiannya yang serba mungkin.
Secara formal, filsafat masih
bersifat umum, lalu lahir filsafat yang khusus, seperti filsafat sejarah,
filsafat hukum, filsafat sosial, filsafat agama, filsafat politik, filsafat
agama, dan filsafat pendidikan. Di dalam Filsafat Pendidikan Islam.
Pertama-tama dibutuhkan pengertian yang logis tentang ilmu pendidikan islam.
Apa itu ilmu? Apa itu pendidikan? Dan apa itu Islam? Ketika dipertanyakan
tentang apa itu ilmu pendidikan islam, pengertiannya harus memenuhi tiga makna
yang dimaksudkan, yaitu konsep ilmu, konsep pendidikan, dan konsep islam.
Kata “ilmu” berasal Dari bahasa arab, yakni al-‘ilmu, artinya pengetahuan. Secara ontologis, ilmu dan
pengetahuan bukan hanya berbeda makna, tetapi subtansinya pun berbeda. Ilmu
adalah akumulasi pengetahuan yang dapat berasal dari ide, pengalaman,
observasi, intuisi, dan yang berasal dari wahyu dalam suatu ajaran manusia.
Sedangkan pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh seseorang melalui
berbagai cara, misalnya dengan mendengar, melihat, merasakan, mengalami,
membaca dan cara-cara lain.[2]
Ilmu yang tersebar luas disosialisasikan melalui pendidikan.
Pendidikan merupakan usaha yang bersifat mendidik, membimbing, mempengaruhi,
membina dan mengarahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal
maupun informal. Lembaga pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat serta
lingkungan sekitar dapat menjadi media pendidikan atau penyebaran ilmu
pengetahuan.
Apabila dibicarakan soal ilmu pendidikan islam, karena islam
sebagai agama Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ilmu
pendidikan islam adalah kumpulan pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan
AS-Sunnahyang dijadikan landasan pendidikan. Secara aplikatif pendidikan islam
artinya mentransformasikan nilai-nilai islam terhadap anak didik dilingkungan
keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam penerapan ini bertujuan untuk membentuk
peserta didik yang berkpribadian muslim.
Pendidikan islam mengisyaratkan
adanaya tiga macam dimensi dalam upaya mengembangkan kehidupan manusia,
yaitu:
1.
Dimensi kehidupan duniawi yang mendorong kehidupan manusiasebagai
hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan,
dan nilai-nilai islam yang mendasari kehidupan.
2. Dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong manusia untuk
mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan
tuhan. Dimensi inilah yang melahirkan berbagai usaha agar seluruh aktivitas
manusia senantiasa sesuai dengan nilai-nilai islam.
3. Dimensi hubungan antara kehidupan dunia dan ukhrawi yang mendorong
manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan
paripurna dalam bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta menjadi
pendukung dan pelaksana ajaran islam.
Sedangkan pendidikan adalah usaha yang bersifat mendidik,
membimbing, membina, mempengaruhi, dan mengerahkan setiap anak didik yang dapat
dilakukan secara formal maupun informal. Lembaga pendidikan sekolah, keluarga
dan masyarakat serta lingkungan sekitar dapat menjadi media pendidikan atau
penyebaran ilmu pengetahuan.
Secara luas pendidikan adalah segala situasi dalam hidup
yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman belajar.
Oleh karena itu, pendidikan dapat pula didefenisikan sebagai keseluruhan
pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Dalam pengertian yang maha
luas, pendidikan berlangsung tidak dalam batasan tertentu, tetapi berlangsung
sepanjang hidup, sejak lahir (bahkan sejak hidup dalam kandungan) hingga mati.
Dengan demikian, tidak ada batas waktu berlangsungnya pendidikan. Pendidikan
berlangsung pada usia balita, usia anak, usia remaja, dan usia dewasa, atau
seumur hidup manusia itu sendiri.[3]
Islam sebagai ideologi pendidikan yang fungsinya mempertautkan
semua ilmu pengetahuan kepada sang pemilik Ilmu
atau rab ‘alalamin. Dengan demikian,
pendidikan islam merupakan tanggung jawab umat islam sebagai kewajiban yang
tidak dapat ditawar-tawar. Lalu, apa sebenarnya filsafat pendidikan islam?
Sebagaimana telah dikemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah pengetahuan
tentang sistem berpikir yang sistematis, radiakal, kontemplatif, dan spekulatif
tentang metode pendekatan, pola, dan berbagai model pendidikan yang islami yang
diterapkan secara formal maupun non fomal, baik di sekolah, keluarga dan
lingkungan masyarakat.
Filsafat pendidikan islam mengkaji hakikat dan seluk-beluk
pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, merumuskan strategi
pembelajaran , kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang
digali dari ajaran islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan islam
yang khusus maupun yang umum. [4]
B. Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Nur Aini
Filsafat Pendidikan Islam
merupakan pengetahuan yang memperbincangkan masalah-masalah pendidikan Islam.
Masalah pendidikan tidak dibatasi oleh ideologi tertentu karena semua masalah
pendidikan berkaitan dengan hal-hal berikut :
1. Lembaga
pendidikan
2. Pendidik
3. Anak didik
4. Kurikulum
5. Tujuan
pendidikan
6. Proses
pembelajaran
7. Metode dan
strategi pembelajaran
8. Kepustakaan
9. Evaluasi
pendidikan
10. Alat-alat
pendidikan
Secara filosofis, hakikat pendidikan berkaitan dengan
hakikat para pendidik, anak didik, lembaga pendidikan, dasar-dasar dan tujuan
pendidikan, hak dan kewajiban, tugas dan kedudukan semua yang terlibat dalam
pendidikan. Selain itu, secara epistemologis sumber-sumber dan tolak ukur
pendidikan dikaji secara kritis dan mendalam sehingga akan berjalan harmonis
dengan tujuan pendidikan yang dimaksudkan.
Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan Islam sebagai
usaha untuk membimbing keterampilan jasmaniah dan rohaniah berdasarkan
nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam menuju terbentuknya kepribadian
utama menurut ukuran-ukuran Islam. Ukuran-ukuran Islam ditujukan pada akhlak
anak didik, perilaku konkret yang memberi manfaat kepada kehidupannya di masyarakat.
Hasan Langgung mengatakan bahwa pendidikan Islam ialah
pendidikan yang memiliki 4 macam fungsi, yaitu:
1. Fungsi
edukatif, artinya mendidik dengan tujuan memberikan ilmu pengetahuan kepada
anak didik agar terbebas dari kebodohan
2. Fungsi
pengembangan kedewasaan berfikir melalui proses transmisi ilmu pengetahuan
3. Fungsi
penguatan keyakinan terhadap kebenaran yang diyakini dengan pemahaman ilmiah
4. Fungsi ibadah
sebagai bagian dari pengabdian hamba kepada sang pencipta yang telah
menganugerahkan kesempurnaan jasmani dan rohani kepada manusia.[5]
Sebagaimana Allah SWT berfirman didalam surat
At-Tin ayat 4 :
لقدخلقناالانسن
في احسن تقويم (التين:4)
Artinya:
“sesungguhnya kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S.At-Tin:4)
Apabila pengertian
pendidikan Islam sebagaimana di atas dipahami lagi secara lebih mendalam, dapat
dipetik beberapa komponen penting dalam pendidikan Islam, yaitu:
1. Pendidikan
dalam arti mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia,
baik terhadap aktivitas jasmaninya, pikiran –pikirannya maupun terhadap
ketajaman dan kelembutan hati nuraninya
2. Islam dalam
arti yang seluas-luasnya sebagai bahan utama dan materi yang amat luas untuk
diajarkan kepada semua manusia, baik secara formal sebagai anak didik maupun
pandangan universal bahwa semua manusia adalah murid yang tidak berhenti untuk
belajar sepanjang kehidupannya
3. Sumber ajaran
Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ajaran-ajaran Ilahi yang
tertulis maupun tidak tertulis, serta suri teladan Nabi Muhammad SAW. yang luar biasa sebagai
Nabi dan Rasul yang dijaga perilaku oleh Allah SWT. Sehingga terhindar dari
kesalahan.
Ilmu pendidikan Islam
adalah seperangkat pengetahuan yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang dijadikan landasan untuk pembelajaran dalam kehidupan. Bagi umat Islam,
hidup adalah ibadah, mencari ilmu atau belajar adalah ibadah. Maka setiap
proses pembelajaran mengandung makna isoterik dan esoterik, makna lahir dan
batin, jasmanai dan rohani. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran
tercermin dalam kehidupan materiil dan spiritual manusia.[6]
Sebagaimana telah
diuraikan sebelumnya bahwa ilmu pendidikan Islam adalah paradigma atau model
pendidikan yang merujuk kepada nilai-nilai ajaran Islam. Yang menjadikan
Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber formal dan materiil pendidikan.
Yang dimaksud dengan
perbuatan mendidik adalah seluruh
kegiatan, tindakan atau perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh pendidik ketika
menghadapi dan mengasuh anak didik. Pendidik adalah pelaku utama dalam
memengaruhi anak didik dengan materi-materi pembelajaran sehingga citra pendidikan,
salah satunya, ditentukan oleh para pendidik.
Ruang lingkup filsafat
pendidikan tidak akan jauh dari beberapa hal dibawah ini :
1. Hakikat para
pendidik dan anak didik
2. Hakikat materi
pendidikan dan metode penyampaian materi
3. Hakikat tujuan
pendidikan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
4. Hakikat
model-model pendidikan
5. Hakikat lembaga
formal dan nonformal dalam pendidikan
6. Hakikat sistem
pendidikan
7. Hakikat
evaluasi pendidikan
8. Hakikat
hasil-hasil pendidikan.
Secara filosofis, materi
pendidikan yang perlu disampaikan kepada anak didik adalah semua hal yang
berhubungan dengan alam semesta dan kehidupan manusia serta segala sesuatu yang
dihadapi oleh manusia yang sifatnya
fisikal maupun metafisikal, yang lahiriah maupun yang batiniah.
Pemahaman mendalam yang
dijadikan fokus utama kepada anak didik adalah filsafat tentang Tuhan, yakni
Allah SWT. Sebagai pencipta segala sesuatu, dan segala sesuatu yang
diciptakannya akan musnah, kecuali Allah. Paham ini akan melahirkan teori
relativitas atau kenisbian. Bahkan, manusia sendiri merupakan bagian dari alam
yang sifatnya relatif, dan kaerena relativitasnya, manusia dididik untuk
memiliki kesadran tentang saat-saat menuju ketiadaannya, yakni kematian yang
menjadi pintu menuju ke alam yang kekal. Dengan demikian, menyajikan materi
ketauhidan dan spiritual anak didik.
Pandangan di atas
sekaligus memberikan wacana baru tentang pendidikan sebagai bagian dari
kewajiban manusia, sebagaimana disebutkan dalam ajaran Islam melalui hadist
Nabi Muhammad SAW. yang mengatakan bahwa
mencari ilmu hukumnya wajib, sehingga setiap manusia yang tidak ada niat untuk
mencari ilmu memperoleh konsekuensi dosa, sedangkan yang mewujudkannya
memperoleh pahala.
Lingkup kedua setelah
pendidikan ketauhidan adalah pendidikan tentang manusia. Secara filosofis,
pendidikan tentang manusia berkaitan dengan jati diri manusia sebagai
satu-satunya makhluk Allah yang diciptakan dengan sangat sempurna, ideal, dan
makhluk yang berfikir. Betapa mengherankan apabila manusia sebagai makhluk yang
berfikir, tetapi enggan menuntut ilmu. Itu artinya, manusia telah
menyia-nyiakan jati dirinya sendiri. Dengan akal, manusia memperoleh pendidikan
dan pendidikan pun diwujudkan karena manusia berakal.
Setelah manusia sebagai
bagian penyajian kedua dari filsafat pendidikan selanjutnya adalah tentang alam
dan ilmu pengetahuan. Alam diciptakan Allah untuk manusia, dan manusia
berkewajiban memelihara dan mengambil manfaat sebaik mungkin dari alam. Akan
tetapi, manusia tidak akan mampu memberdayakan alam apabila tidak dibekali ilmu
pengetahuan. Oleh karena itu, alam dengan ilmu pengetahuan tidak dapat
dipisahkan.
Dalam filsafat pendidikan
Islam, selain ruang lingkup yang diterangkan di atas, terdapat subtansi
pendidikan yang sangat penting, bahkan menetukan nilai sebuah proses
pendidikan, yaitu:
1. Al-Qur’an dan
As-Sunnah sebagai sumber ajaran dalam pendidikan Islam
2. Akhlak Nabi
Muhammad Saw. yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk membentuk
akhlak anak didik
3. Keimanan kepada
seluruh ajaran Islam yang dapat diterima oleh hati dan akal yang sehat
4. Kehidupan dunia
yang oleh ajaran Islam dibebaskan pengembangannya
5. Alam semesta
yang diciptakan untuk kemakmuran manusia
6. Baik dan buruk
7. Pahala dan dosa
8. Ikhtiar dan
takdir yang menjdai bagian dari rencana kehidupan manusia dan kehendak Allah
yang pasti adanya.[7]
Dalam filsafat pendidikan
Islam, anak didik adalah objek para pendidik. Anak didik dilihat dari beberapa
segi, yaitu dilihat dari usia anak didik, minat dan bakat, latar belakang
kehidupan dan lingkungan keluarga, dan kondisi psikologisnya. Kondisi-kondisi
yang terdapat pada anak didik akan dijadikan barometer awal untuk menentukan
proses pembelajaran, terutama berkaitan dengan pengembangan pendidikan ke arah
yang lebih aplikatif.
Semua seluk-beluk yang
berhubungan dengan pendidikan dan pengetahuan berlandaskan pada kemampuan
kognitif atau kemampuan rasio yang disebut dengan rasionalitas. Pada dasarnya (an
sich), rasionalitas bersifat netral, dengan kemampuan menyamakan dan
membedakan. melakukan inferensi dengan logika dedukatif atau induktif.
Kemampuan tersebut diistilahkan dengan kecerdasan yang oleh Plato disebut inmate
ideas.
Ilmu pendidikan Islam
mengajarkan kesadaran dalam keimanan manusia terhadap seluruh ilmu yang
diciptakan Allah SWT dan ketaatan terhadap Allah SWT sebagai pemilik ilmu.
Secara epistimologis, sumber ilmu adalah
Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Hukum-hukum yang diciptakan-Nya
dapat dipahami dengan berbagai metode dan pendekatan. Wahyu membicarakan
peristiwa yang memiliki daya jangkau universal apabila dilihat dari penggunaan
kalilat-kalimatnya, sehingga hukum-hukum Allah SWT tidak mengenal kadarluarsa.
Hal tersebut terjadi karena kebenaran dalam hukum-hukum Allah SWT seirama
dengan fitrah alamidan fitrah manusiawi yang bergerak di atas hak prerogatif
Allah SWT. Sebaliknya, yang mangkir dari hukum-hukumnya yang eternal senantiasa
mengalami keputusasaan, rasa takut, dan semakin melemah daya pikirnya dalam
menyelesaikan masalah duniawi. Akhdiyat mengatakan bahwa fitrah manusia yang
berjalan seirama dengan hukum-hukum Allah SWT akan menemui dirinya sendiri yang
awalnya tercipta dalam keadaan suci dari dosa.
Ruang lingkup filsafat
pendidikan Islam berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan sebagai berikut:
1. Otologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat subtansi dan pola organisasi ilmu pendidikan
Islam.
2. Epistimologi
ilmu pendidikan, yaitu membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan
Islam.
3. Metodologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu
pendidikan Islam.
4. Aksiologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu
pendidikan Islam.[8]
Secara ontologis,
pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang
berakal dan berfikir. Jika manusia bukan makhluk yang berfikir, tidak ada
pendidikan. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan diri manusia dijadikan
alat untuk mendidik selain manusia, tidak terkecuali diterapkan kepada
binatang. Jika seekor monyet dapat dididik dan dilatih, apalagi manusia.
Epistemologi pendidikan
Islam adalah seluk-beluk dan simber-sumber pendidikan Islam, sebagaimana telah
ditegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai segala sumber hukum dalam ajaran Islam.
Pendidikan Islam merujuk paa nilai-nilai Al-Qur’an yang universal dan abadi.
Adapun metode pendidikan
Islam, yaitu strategi yang relevan yang dilakukan oleh pendidikan untuk menyampaikan
materi pendidikan Islam kepada anak didik. Metode berfungsi mengolah, menyusun,
dan menyajikan materi pendidikan Islam agar materi pendidikan Islma
tersebut dapat dengan mudah diterima dan
dimiliki oleh anak dididik. Dalam pendidikan Islam, metode pendidikan ini
disebut dengan istilah tariqotut tarbiyah atau taariqotur tahzib.
Aksiologi pendidikan Islam
berkaitan dengan visi dan misi, etika, estetika, tujuan dan target yang akan
dicapai dalam pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dilihat setelah dilakukan
suatu evaluasi pendidikan, sebagai sistem penilaian yang diterapkan kepada anak
didik, untuk mengetahui keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan. Apabila
tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak didik yang berakhlakul karimah,
cerdas, terampil, beriman dan bertakwa, sistem evaluasi yang diterapkan harus
mengarah pada tujuan yang dimaksudkan.
Aksiologi merupakan cabang
filsafat yang secara khusus mengkaji cita-cita, sistem nilai atau nilai-nilai
mutlak (tertinggi), yaitu nilai-nilai yang dianggap sebagai “tujuan utama”.
Nilai-nilai ini adalah al-haq (kebenaran), kebaikan dan keindahan. Oleh
karena itu, pembahasan tentang nilai dibagi ke dalam tiga cabang seperti yang
telah disebutkkan diatas:
1. Logika,
membahas tentang nilai kebenaran yang membantu kita untuk berkomitmen pada
kebenaran dan menjauhi kesalahn, serta menerangkan bagaimana seharusnya
berfikir secara benar.
2. Etika, membahas
nilai kebaikan dan berusaha membantu kita dalam mengarahkan perilaku. Ia
mengarahkan kita kepada apa yang seharusnya dilakukan, membatasi makna
kebaikan, keburukan, kewajiban, perasaan serta tanggung jawab moral.
3. Ilmu Estetika,
membahas nilai keindahan dan berusaha membantu kita dalam meningkatkan rasa
keindahan dengan membatasi tingkatan-tingkatan yang menjadi standar dari
sesuatu yang indah.[9]
C. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Lumatul Fajriyah
Kegunaan
filsafat secara umum ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk
menjelaskan gejala atau peristiwa dalam sosial. Itu berarti orang yang
berfilsafat harus berfikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, buka menghayal.
Dari situlah para ahli dibidang tersebut telah banyak meneliti secara teoritis
mengenai kegunaan Filsafat Pendidikan Islam.
Tomi Al-Saidany
misalnya mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari Filsafat Pendidikan Islam
tersebut sebagai berikut :
1. Filsafat pendidikan iitu dapat menolong para
perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu Negara
untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan. Disamping itu dapat
menolong terhadap tujuan-tujuan dan fungsi-fungsinya serta meningkatkan mutu
penyelesaian masalah pendidikan dan peningkatan tindakan dan keputusan termasuk
rancangan-rancangan pendidikan mereka. Selain itu juga berguna untuk memprbaiki
peningkatan pelaksanaan pendidikan serta
faedah dan cara mereka mengajar yang mencakup penilaian, pembimbingan dan
penyuluhan.
2. Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang
terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh. Penilaian
pendidikan itu dianggap persoalan yang perlu bagi setiap pengajaran yang baik.
Dalam pengertian yang terbaru penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan
kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, institusi pendidikan secara umum untuk
mendidik angkatan baru dan warga Negara dan segala yang berkaitan dengan
filsafat.
3. Filsafat pendidikan akan menolong dalam
memberikan pendalaman pemikiran bagi faktor-faktor spiritual, kebudayaan,
sosial, ekonomi, dan politik dinegara kita.
Selain hal-hal
tersebut diatas, kegunaan Filsafat Pendidikan Islam menurut Prof. Muhammad
Athiyah Abrosyi dalam kajian tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5
kegunaan yang asasi bagi pendidikan Islam, yaitu:
1. Dapat membantu pembentukan akhlak yang mulia.
Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan islam.
2. Berguna untuk Persiapan kehidupan dunia dan
kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi
keagamaan saja dn tidak hanya dari segi kehidupan keduniaan saja, tetapi dia
menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan
memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu. Bukan sekedar
sebagai ilmu. Juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam
berbagai jenisnya.
4. Menyiapkan pelajar dari segi profesional,
teknis dan perusahaannsupaya ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis
tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat mencari rezeki dalam hidup
dengan mulia. Disamping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5. Persiapan mencari rezeki dan pemeliharaan
segi-segi kemanfaatan. Pendidikan islam tidaklah semuanya bersifat agama atau
akhlak, spritual semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi
kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, aktivitasnya.
Tidak jauh dari
hal diatas, Sumber yang lain juga menjelaskan bahwa mempelajari filsafat
pendidikan Islam memiliki beberapa kegunaan sebagai berikut :
1. Filsafat pendidikan islam dapat membantu para
perencana dan para pelaksana pendidikan untuk membentuk suatu pemikiran yang
sehat tentang pendidikan.
2. Filsafat pendidikan Islam merupakan asas bagi
upaya menentukan berbagai kebijakan pendidikan.
3. Filsafat pendidikan dapat dijadikan asas bagi
upaya menilai keberhasilan pendidikan.
4. Filsafat pendidikan dapat dijadikan sandran
intelektual bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia praksis pendidikan.
Sandaran ini digunakan sebagai bimbingan ditengah-tengah maraknya berbagai
aliran atau system pendidikan yang ada.
5. Filsafat pendidikan Islam dapat dijadikan
dasar bagi upaya pemberian pemikiran pendidikan dalam hubungannya dengan
masalah spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik.
Berdasarkan
pada kutipan diatas timbul kesan bahwa kegunaan dan fungsi filsafat
pendidikan Islam ternyata sangat
strategis, seolah-olah menjadi acuan dalam memecahkan permasalahan dalam
pendidikan. Hal ini disebabkan karena yang diselesaikan filsafat pendidikan
Islam itu adalah bidang filosifinya yang menjadi akar dari setap permasalahan kependidikan.
Dalam
berpedoman pada filsafat pendidikan setiap masalah pendidikan akan dapat dipecahkan
secara benar, dan tidak asal asalan, tambah sulam atau sepotong-potong. Melihat
demikian besar jasa yang dimainkan oleh filsafat, tidak mengherankan jika
seharusnya filsafat pendidikan, amaliah pendidikan, dan pengajaran mendapat
penghargaan dan penghormatan dari pihak-pihak pelajar, para guru, dan
orang-orang yang berkiprah dalam bidang pendidikan. Dengan penghargaan dalam
arti memanfaatkan jasa filsafat pendidikan sebaik-baiknya, mereka akan memiliki
sandaran dan rujukan intelektual yang berguna untuk membela
tindakan-tindakannya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Filsafat
pendidikan dapat menjadi pegangan pelaksanaan pendidikan yang menghasilkan
generasi-generasi baru yang berkepribadian Muslim. Generasi-generasi baru ini
selanjutnya akan mengembangkan usaha-usaha pendidikan dan mungkin mengandalkan
penyempurnaan atau penyusunan kembali filsafat yang mendasari usaha-usaha
pendidikan itu sehingga membawa hasil yang lebih besar.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Filsafat pendidikan islam mengkaji hakikat dan seluk-beluk
pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, merumuskan strategi
pembelajaran, kurikulum, dan
sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran islam, serta
mengkaji maksud dan tujuan pendidikan islam yang khusus maupun yang umum.
Adapun Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam
berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan sebagai berikut:
1. Otologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat subtansi dan pola organisasi ilmu pendidikan
Islam.
2. Epistimologi ilmu
pendidikan, yaitu membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan
Islam.
3. Metodologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu
pendidikan Islam.
4. Aksiologi ilmu
pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu
pendidikan Islam.
Kegunaan
filsafat secara umum ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk
menjelaskan gejala atau peristiwa dalam sosial. Itu berarti orang yang
berfilsafat harus berfikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, buka menghayal.
Dari situlah para ahli dibidang tersebut telah banyak meneliti secara teoritis
mengenai kegunaan Filsafat Pendidikan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Basri, Hasan. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka
Setia
Mudyahardjo,
Redja. 2012. Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Farid I, Fu’adi
& Hamid M, Abdul. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat, yogyakarta:
IRCiSoD.
