Tampilkan postingan dengan label ontologi filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ontologi filsafat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Ontologi Filsafat


FILSAFAT ILMU
ONTOLOGI FILSAFAT
Agus Fawait, S. Pd. M. Pd. I
Disusun Oleh :
Alfiatul Hasanah
Dewi Ludviah Andiyani
Nur Aini
Nurifkiyah Nailatul Lailih
Siti Qomariya
PROGRAM MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM (MPI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018

KATA PENGANTAR

             Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan tidak lupa kami banyak terima kasih kepada pihak yang banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih prestasi yang gemilang. Kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah dan juga teman-teman sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam belajar pada masa mendatang.


                                                                        Bondowoso, 30  April  2018


                                                                                    Penyusun


DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR.................................................................................  i
DAFTAR ISI...............................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN...........................................................................  1
A.    Latar Belakang.................................................................................   1
B.     Rumusan Masalah............................................................................   1
C.     Tujuan Masalah................................................................................   2
BAB II PEMBAHASAN............................................................................  3
A.    Pengertian Filsafat...........................................................................   3
B.     Pengertian Ontologi.........................................................................   4
C.     Hakikat Ontologi.............................................................................   7
D.    Aliran Ontologi................................................................................   14
BAB III PENUTUP....................................................................................   23
A.    Kesimpulan......................................................................................   23
DAFTAR PUSAKA

BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari yunani. Studi tersebut membahas keberadaan yang konkret. Tokoh yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Pembicaraan mengenai hakikat sangatlah luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya bukan kenyataan sementara atau berubah-ubah.
Secara ringkas Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Ontologi juga merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada (Being), baik berupa wujud fisik (al-Thobi’ah) maupun metafisik (maba’da al-Thobi’ah). Sedangkan Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal dengan benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya. Dalam pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, seperti Monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisme.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang di maksud dengan Pengertian Filsafat?
2.      Apa yang di maksud dengan Pengertian Ontologi?
3.      Apa saja Hakikat Ontologi?
4.      Apa saja Aliran Ontologi?

C.    Tujuan Rumusan Masalah
1.    Untuk Mengetahui Pengertian Filsafat
2.    Untuk Mengetahui Pengertia Ontologi
3.    Untuk Mengetahui Hakikat Ontologi
4.    Untuk Mengetahui Aliran Ontologi
  
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat
Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan bukan untung-untungan. Perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami dir kita sendiri. Perenungan kefisafatn dapat merupakan karya satu orang yang dikerjakannya sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras menemukan alasan dan penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri sendiri. Atau, perenungan itu dapat dilakukan oleh dua atau lebih dari dalam suatu percakapan ketika mereka melakukan analisa, melakukan kritik dan menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik.[1]
Biarpun sebagian sistem-sistem filsafat yang besar, misalnya sistem filsafat Aristoteles yang hidup pada abad IV SM atau sistem hegel (1770-1831), merupakan karya-karya perseorangan, namun sistem-sistem tersebut menunjukkan adanya saling pertukaran yang ajek dengan pikiran serta kritik orang-orang lain. Sesungguhnya tidak ada filsafat yang disusun dari ketiadaan tanpa hal-hal yang mendahuluinya yang telah dipelajarinya, dan oleh rekan-rekan sesama hidupnya yang mengajukan kritik terhadapnya. Sejumlah karya kefilsafatan yang besar tertulis sebagai dialog, yakni dalam bentuk percakapan diantara dua orang atau lebih, yang memiliki penyelesaian-penyelesaian yang berupa alternatif, dan yang dengan pembicaraan secara rasional berusaha berusaha memperoleh kesimpulan yang memuaskan. Contoh-contoh karya semacam itu ialah dialog-dialog yang ditulis oleh Plato, sang tokoh abadi (427-347 SM), dan lama kemudian, sejumlah karya fisuf Britania yang termasyhur, Uskup Berkeley (1685-1753).
Perenungan kefilsafatan ialah sejenis ialah sejenis percakapan yang di lakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Itulah sebabnya, mengapa seorang filsuf tampak selalu berhubungan dengan polemik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada usaha merusak atau menentang dibandingkan dengan usaha membangun. Dalam arti tertentu, perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai pertentangan di antara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan pada unsur atau segi yang penting, dan mencoba untuk mengujinya pada pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Hal ini mudah ditunjukkan dalam masalah filsafat pengetahuan.
Ada yang berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melaui pengalman, dan ada yang berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal. Yang terdahulu disebut ‘pengikut empiris’, yang terakhir dinamakan ‘pengikut rasionalisme’. Kedua pendirian ini dapat diuraikan secara panjang lebar sampai salah satu di antaranya terbukti salah atau sampai tercapai suatu sentesa. Soalnya ialah, uraian-uraian itu berusaha menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal yang tidak runtut, dengan maksud agar tercapai penyelasaian-penyelasaian yang lebih memadai.[2]  
Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Secara sederhana tujuan filsafat ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta mengatur semua itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.[3]  
B.     Pengertian Ontologi
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno, studi tersebut membahas sesuatu yang bersifat konkret. Awal mula pikiran barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang tertua diantara segenap filsuf Barat yang kita kenal ialah orang Yunani yang bijak dan arif bernama Thales. Atas, perenungannya terhadap air yang terdapat dimana-mana, ia sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Yang penting bagi kita sesungguhnya bukanlan ajaran-ajarannya yang mengatakan bahwa air itulah asal mula segala sesuatu, melainkan pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu berasal dari subtansi belaka.[4]
Thales merupakan orang pertama yang berpendirian sangat berbeda di tengah-tengah pandangan umum yang berlaku saat itu. Di sinilah letak pentingnya tokoh tersebut. Kecuali dirinya, semua orang waktu itu memandang segala sesuatu sebagaimana keadaannya yang wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, besi, air, daging, dan sebagainya, hal-hal tersebut dipandang sebagai subtansi-subtansi (yang terdiri sendiri-sendiri). Dengan kata lain, bagi kebanyakan orang tidaklah ada pemilihan antara kenampakan (appearance) dengan kenyataan (reality). Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Hakekat kenyataan atau realitas bisa didekati dengan dua macam sudut pandang yaitu :
1.    Kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan, “apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.    Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu. Seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum.[5]
Jika penyifatan-penyifatan yang satu dan sama dapat diberikan kepada segenap segi kenyataan, maka kenyataan itu tunggal. Kesimpulan di atas dapat ditarik, karena jika terdapat dua bagian kenyataan yang berbeda-beda, maka karena keadaannya yang berbeda-beda itu, pastilah ada salah satu penyifatan yang tidak dapat diberikan kepada seluruh kenyataan yang ada.
Ontologi Monistik. Lama berselang di Yunani kuno, parmenides mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat semu belaka. Dewasa ini sistem monistik seperti itu tidak umum dianut orang. Karena, justru perbedaanlah yang merupakan kategori dasar segenap kenyataan yang ada yang tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Tetapi, ada juga orang-orang yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu sama hakekatnya. Pendirian ini dianut oleh para pendukung paham monisme dewasa ini. Yaitu kaum idealisme dan kaum materialisme.[6]
Sesungguhnya, yang tersangkut dalam hal ini masalah terdapat atau tidaknya macam-macam kenyataan yang berbeda-beda. Sudah tentu jika kita mengatakan segala sesuatu merupakan kenyataan, maka sampai sejauh itu memang segala sesuatu sama. Perbedaan yang pokok di antara pada penganut monisme dengan para penganut non-monisme ialah dalam sikap mereka masing-masing yang menerima atau menolak pernyataan.
Istilah-istilah dasar dalam bidang  ontologi antara lain :
1.    Yang-Ada (being)
Istilah ada memiliki bermacam makna. Sebagian orang menumbuhkan dengan dua istilah yang lain yaitu esensi dan eksistensi. Sesuatu apapun halnya bersifat yang ada atau singkatnya, barang sesuatu itu ada. Istilah ini diterapkan kepada segala sesuatu hakikat atau jenisnya. Sesuatu yang bereksistensi, misalnya bangku, pertama-tama harus memiliki sifat ada sebelum dapat bereksistensi.[7] 
2.    Kenyataan atau Realitas (reality)
Sessuatu yang ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya. Tangkapan yang dipercaya adalah tangkapan yang tidak mengandung kesalahan.[8]
3.    Eksistensi (existence)
Eksistensi mengandung pengertian ruang dan waktu. Eksistensi merupakan keadaan tertentu yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksistensi tentu ada nyata, tetapi tidak sebaliknya. Sesuatu ha yang dikatakan bereksistensi jika hal itu adalah seuatu yang menurut  W.T. Stace, bersifat publik. Bersifat publik artinya objek itu sendiri harus dialami atau dapat dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.[9]
4.    Perubahan (change)
Perubahan sebagai proses. Kita dapat mendefinikan perubahan sebagai apa yang terjadi bila sesuatu hal menjadi hal yang lain dari hal itu sendiri. Dengan kata lain, perubahan adalah peralihan sesuatu hal dari keadannya (sekarang) menjadi bukan keadaannya, dan dari bukan keadaanya menjadi keadaanya sekarang. Contoh, pada proses perubahan dari keadaan anak-anak menjadi keadaan dewasa.[10]
C.    Hakikat Ontologi
1.    Metafisika
Pemikiran manusia seperti Fariduddin Attar dalam sajak Taufik Ismail ini,[11] tak henti-hentinya terpesona menatap dunia: apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya? Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurnya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekkulasi filsafati tentang hakikatnya.
Tafsiran Metafisika yang paling utama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata. Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme ini; di mana manusia percaya terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam benda-benda sperti batu, pohon dan air terjun. Animisme ini merupakan kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan manusia dan masih dipeluk oleh beberapa masyarakat di muka bumi.
Sebagai lawan dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak pendapat bahwaterdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural ini. Materialisme, yang merupakan paham yang berdasarkan naturalisme ini, berpendapat bahwa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui. Prinsip-prinsip materialisme ini dikembangkan oleh Democritos, dia mengembangkan teori tentang atom yang dipelajarinya dari gurunya Leucippus.[12] Bagi Democritos, unsur utama dari alam ini adalah atom.[13]
2.    Asumsi
Suatu hari pada zaman Wild West, seorang jago tembak yang kenamaan, ditantang oleh seorang petani yang mabuk. Petani ini adalah orang biasa, jadi sama sekali bukan tipe Jango, yang bisa tembak sana tembak sini sambil tutup mata, setelah ia minum wiski dan melahap 16 jenis masakan persia. Cuma karena mabuk saja dia berlagak jadi jagoan disebabkan otaknya yang sedang out dari udara. Kalau waras, mana berani dia menantang penembak profesional yang sudah punya reputasi seantero dunia, dunianya koboi tentu saja.
Nah, apa yang terjadi? Bisik bandar taruhan. Bukankah kejadian semacam ini jarang ditemui seperti menemukan orang bisu sedang menyanyi? Lalu mulailah bandar taruhan ini mengumpulkan data dan informasi mengenai kedua gladiator yang akan bertarung sampai mati.
Nama: Franco Nero, KTP nomor 0941940, RT 010, RW 13. Reputasi: 30 duel, 30 kali menang dengan TM(Tembak Mati, atau KO, dalam boxing). Duilah!
Sedangkan petani kita namanya belum tercatat dalam daftar Guiness Record, kecuali dalam buku Bapak Camat, sebab dia masih menunggak Ipeda.
Beberapa pasaran taruhan kita?
Bila semuanya berjalan beres, saran konsultan kepada bandar taruhan itu, berdasarkan data yang tercatat, maka paling tidak 30 berbanding 1 yang diramalkan petani malang itu akan mendapatkan one way ticket ke surga.
Lantas apanya yang mungkin tak beres? Tanya bandar kita, yang benar-benar ingin aman menanam modalnya.
Ya, bemacam-macam, jawab konsultan yang sedang ngobyek ini yang pekerjaan sebenarnya adalah dosen filsafat ilmu di universitas swasta, umpamanya katakan sajalah bahwa pistol si Jango itu punya kehendak sendiri (free will), kan berabe!
Berabe, gimana?
Ya, mungkin saja pistol itu tidak mau menembak orang berdosa , apa lagi seorang nomprofesional yang belum diakreditasi. Jadi, nembak ya nembak namun nembaknya ngawur seperti tendangan PSSI.
Ah, itu nonsens, jawab bandar taruhan, itu bersifat akademik sangat spekulatif, mana ada pistol punya pilihan bebas. Sekiranya pistol ditembakkan dan tepat pada sasaran maka secara deterministik sasaran itu akan kena. (Rupanya bandar taruhan ini waktu kuliah di sekolah bisnis mengambil juga matakuliah etika berniaga).
Oke, jawab konsultan kita, namun bagaimana kalau pistolnya macet?
Macet bagaimana? Ya, macet, klik! Jawab konsultan itu. Dari data yang dapat dikumpulkan ternyata bahwa dari 100 peluru yang ditembakkan sebuah pistol maka satu diantaranya adalah macet. Artinya, secara probabilistik, meskipun peluangnya 1 dalam 100, mungkin saja pistol jago kita itu macet, yan menyebabkan dia tersambar “chance” (kebetulan) berupa nasib.
Nah, lalu merenunglah bandar taruhan kita, seperti juga merenungnya para filsafat ilmu sesudah itu. Mereka menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme, yakni hukum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas, ataukah keumuman memang ada namun berupa peluang, sekedar tangkapan probabilistik? Ketiga masalah ini yakni determinisme, pilihan bebas dan probabilistik merupakan permasalahan fisafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal tiga aspek ini, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan kompromi, akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Nanti dulu, potong konsultan yang merangkap menjadi filsuf ilmu, pembahasan mengenai determinisme, pilihan bebas dan probalistik itu baru dapat dilakukan sekiranya bahwa hukum semacam itu memang ada. Sekiranya hukum yang mengatur kejadian alam itu tidak ada maka masalah determinisme, probabilistik dan kehendak bebas itu sama sekali tidak akan  muncul, kan?
Benar juga, ya, sekiranya hukum alam itu memang benar-benar tidak ada maka tidak akan ada permasalahan dengan determinisme, probabilistik atau pilihan bebas. Dengan demikian maka tidak ada masalah tentang hubungan logam dengan panas, tekanan dengan volume, atau IQ dengan keberhasilan belajar. Alhasil lalu ilmu itu sendiri pun tidak ada sebab ilmu itu justru mempelajari hukum alam seperti ini.
Jadi, marilah kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengatur berbagai kejadian itu memang ada, sebab tanpa asumsi ini maka pembicaraan kita semuanya lantas sia-sia, tukas teoretikus filsafat ilmu. Hukum di sini diartikan sebagai suatu aturan main atau pola kejadian yang diikuti oleh sebagian besar peserta, gejalanya berulang kali dapat diamati yang tiap kali memberikan hasil yang sama, yang dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum itu, seperti kata Coca Cola, berlaku kapan saja dan di mana saja. Bagaimana?
Boleh saja, sahut seorang yang pikirannya sangat pragmatis, asalkan hukum di sini jangan ditafsirkan dalam pengertian moral, sebab ilmu tidak mempelajari kejadian yang seharusnya melainkan kejadian alam sebagaimana adanya.  “Sayang sekali perkataan hukum terlanjur dipergunakan dalam filsafat ilmu,” uajar Kemeny, “penggunaan kata hukum ini memberikan konotasi bahwa hal ini bisa saja tidak ditaati, padahal masalah taat atau tidak taat seharusnya tidak termasuk ke dalam diskusi semacam ini.”  [14] Malahan dalam rangka pengembangan bahasa, sela teman saya, terdapat ahli bahasa yang menyarankan kata “taat asas” sebagaimana padanan kata “konsisten”, yang sebenarnya kurang dapat dibenarkan, sebab hal ini membawa konotasi yang sama.
Paham determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran filsafat ini merupakan lawan dari paham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Demikian juga paham determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat kepada hukum  alam yang tidak memberikan alternatif.
Untuk meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri apakah sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Apakah ilmu ingin mempelajari hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, seperti yang dicoba dijangkau dalam ilmu-ilmu sosial, ataukah cukup yang berlaku bagi sebagian besar dari mereka? Atau bahkan mungkin juga kita tidak mempelajari hal-hal yang berlaku umum melainkan cukup mengenai tiap individu belaka?
Konsekuensi dari pilihan ini adalah jelas, sebab sekiranya kita memilih hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka kita harus bertolak dari paham determinisme. Sekiranya, kita memilih hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu manusia maka kita berpaling kepada paham pilihan bebas. Sedangkan posisi tengah yang terletak diantara keduanya mengantarkan kita kepada paham yang bersifat probabilistik.
Ahli filsafat menyimpulkan bahwa pengetahuan yang bersifat umum itu adalah tidak perlu. Bahkan filsuf eksistensial berpendapat bahwa adalah merupakan kekejaman untuk meletakkan hakikat manusia yang bersifat khas dan individual di bawah tirani pengetahuan yang bersifat umum. Pengetahuan haruslah bersifat individual yang berorientasi kepada pengalaman pribadi.
3.    Peluang
        Jadi berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapatkan hal yang pasti mengenai suatu kejadian, tanya seorang awam kepada seorang ilmuan. Ilmuan itu menggelengkan kepalanya. Tidak, jawab ilmuan itu sambil tersenyum apologetik, hanya kesimpulan yang probabilistik.
Jadi berdasarkan meteorologi dan geofisika saya tidak pernah merasa pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan, sambung orang awam, kita kian penasaran. Tidak, jawab ilmuan kita, tetap tersenyum sebab dia termasuk kepada golongan “orang yang tahu ditahunya dan tahu ditidak tahunya”, jadi tidak pernah groggy bila di serang: saya hanya bisa mengatakan, umpamanya, bahwa dengan probabilitas 0.8 esok tidak akan hujan.
“apakah artinya peluang 0.8 ini?” tanya orang awam
Peluang 0.8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian). Atau sekiranya saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok akan turun hujan maka akan berikan peluang 0.1 atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang 0.8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan, 8 kali memang itu turun dan dua kali ramalan itu meleset.
Jadi, biarpun kita mempunyai peluan 0.8 bahwa hari ini akan hujan, namun masih terbuka kemungkinan bahwa hari ini tidak akan hujan?
“Benar demikian,” sahut ilmuan
“Lalu apa kegunaan pengetahuan semacam itu?” seru orang awam kita sambil memukulkan baju.
Pertama harus saudara sadari ilmu itu tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. (Dalam soal pretensi seperti ini maka ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan). Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi saudara untuk mengambil keputusan, dimana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif. Dengan demikian maka kata akhir dari suatu keputusan terletak di tangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan. (Itulah mungkin sebabnya orang yang tidak pernah mau mengambil keputusan sendiri lebih senang pergi ke dukun. Berkonsultasi pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil; sedangkan dukun dengan pasti akan berkata: Pilih jalan ini, saya jamin, pasti berhasil.)
Oleh sebab itu sekiranya kita mempunyai pengetahuan ilmiah yang menyatakan bahwa “sekiranya hari mendung maka terdapat peluang 0.8 akan turun hujan”, maka pengetahuan itu harus kita letakkan paada permasalahan hidup kita yang mempunyai perspektif dan bobot berbeda-beda. Katakanlah umpamanya saudara besok akan piknik, kemudian saudara mengetahui bahwa esok punya peluang 0.8 bahwa hari tidak akan hujan, akankah saudara urungkan piknik saudara?
“Tidak,” jawab orang awam itu dengan pasti, “Tidak akan saya urungkan sebab takut hujan.”
“Mengapa?” tanya ilmuan kita, “bukankah masih terdapat peluang 0.2 bahwa hari akan hujan”.
Orang awam itu mengangkat bahu. “Mungkin,” sambungnya sambil tersenyum, (dia sudah mulai tersenyum; kelihatannya dia sudah mulai melihat perspektif ilmu), “bagi saya cukup tersedia jaminan (dengan peluang 0.8) bahwa sangat bisa jadi kemungkinan besar esok tidak akan hujan.”
“Baik,” sambung ilmuan kita, “itu pilihan saudara sendiri, saya tidak akan ikut campur.” Sekarang bagaimana sekiranya saudara pedagang garam. Beranikah saudara mengangkut garam saudara dengan peluang 0.8 hari tidak akan hujan dari Tanjung Priyok ke (pusat pergudangan) Cakung?”
D.    Aliran Ontolgi
            Sebagaimana telah dikatakan, terdapat dua macam mengenai pernyataan, secara kuantitatif dan secara kualitatif. Tetapi hendaknya diingat, kali ini saya berbicara kenyataan dan bukan mengenai yang-ada. Karena dalam arti tertentu, ada merupakan dasar segala sesuatu, dan dalam hal ini segala sesuatu mempunyai kesamaan.
Sejumlah pernyataan mengenai kenyataan, sebagai berikut:
1.    Naturalisme
Kejadian sebagai kategori pokok. Wiliam R. Dennes, seorang paham penganut naturalisme sekarang ini, mengatakan, naturalisme modern- ketika berpendirian bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealmaan – beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan ialah kejadian. Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa. Hanya satuan-satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada.[15]
Jika naturalisme modern mengatakan bahwa kejadian merupakan hakekat terdalam dari kenyataan, dengan menggunakan istilah kita, yang demikian ini sama dengan mengatakan bahwa apapun yang bersifat nyata pasti merupakan sesuatu yang terdapat dalam ruang dan waktu tertentu, yang dapat dijumpai oleh manusia, dan dapat pula dipelajari dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan oleh ilmu.
Analisa terhadap kejadian-kejadian. Marilah kita kembali kepada uangkapan ‘kategori-kategori yang diajarkan naruralisme’. Mereka yang menganut paham naturalisme mengatakan bahwa faktor-faktor penyusun segenap kejadian ialah proses, kualitas dan relasi. Perhatikanlah butiran salju. Butiran ini senantiasa mengalami prosesyang berkesinambungan; mempunyai atau terdiri dari kualitas-kualitas tertentu atau senantiasa berhubungan dengan hal-hal lain. Apa saja yang merupakan kenyataan pasti menggambarkan ketiga hal tersebut. Di manapun, tidak mungkin terdapat satuan secara mutlak bersifat statis atau tidak dapat rusak, satua yang tanpa kualitas, atau satuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan hal lain, baik yang semacam dirinya maupun yang tidak semacam dirinya sendiri. Selain itu, kualitas-kualitas maupun hubungan-hubungan hanya dapat dialami dengan kejadian-kejadian yang didekati oleh kedua hal tadi. Di bawah ini merupakan kutipan tentang apa yang dikatakan oelh Dennes.
“... oleh karena itu para penganut paham naturalisme dewasa ini berpendirian bahwa ketiga kategori dasar (yaitu proses, kualitas, relasi) yang mereka gunakan menunjukkan segi-segi segala hal yang bereksistensi yang memang terdapat dalam pengalaman”
Masalah hakekat terdalam merupakan masalah ilmu (positif). Yang membedakan para penganut paham naturalisme sekarang ini dengan para pemikir di bidang ontologi yang lain ialah pendirian mereka bahwa segenap kejadian, bahkan juga kejadian yang biasanya dinamakan kejadian ‘kerohanian’, kepribadian, dan sebagainya, dapat dilukiskan berdasarkan kategori-kategori proses, kualitas dan relasi. Masalah satuan penyusun terdalam dari benda-benda mati dianggap masalah yang harus diselesaikan oleh ilmuan. Bahkan pengertian tengtang raga manusia dijelaskan berdasarkan ketiga macam kategori tersebut.
 Bagi seorang naturalisme, yang dinamakan kenyataan ialah suatu susunan proses-proses yang berkualifikasi, berhubungan dan saling bergantung. Bagaimana hubungan itu? Bagaimanakah kualitas-kualitas tersebut? Kesemuanya dapat diketahui melalui penyelidikan secara empiris terhadap kejadian-kejadian. Kejadiab-kejadian tadi dipahami sebagaimana adanya dan yang satu tidak dipulangkan kepada yang lain, kecuali sampai pengalaman menunjukkan bahwa yang satu tidak dipulangkan kepada yang lain, kecuali sampai pengalaman menunjukkan bahwa yang satu memang dapat dipulangkan kepada yang lain. Dan hendaknya digaris bawahi bahwa menurut naturalisme tidak ada kualitas yang ‘lebih tinggi’ atau ‘lebih rendah’ dibandingkan dengan lain-lain.
Pengetahuan ialah memahami kejadian-kejadian yang saling berhubungan. Seorang penganutpaham naturalisme dewasa ini merasa bahwa ia telah memahami suatu kejadian, atau bahkan kenyataan, manakala ia sudah mengetahui kualitas-kualitasnya, segi-seginya, susunan-susunannya, satuan-satuan penyusunnya, sebab-sebabnya, serta akibat-akibatnya. Apa saja yang kita ketahui senantiasa mengenai kejadian-kejadian yang jalin-menjalin dengan kejadian yang lain. Tidak ada apapun yang terdapat di balik kejadian-kejadian yang secara empiris dapat ditentukan keadaanya, kecuali karena adanya kejadian-kejadian lain yang sejenis dan menurut metode-metode serta teknik-teknik yang sama, yaitu metode-metode ilmiah. Jadi bagi seorang naturalisme, pengetahuan ilmiah merupakan satu-satunya pengetahuan[16]
Dalam atian tertentu seorang naturalis merupakan penganut paham monisme. Ia, berpendirian, segenap kejadian dapat diterangkan berdasarkan ketiga macam pengertian dasar diatas. Tetapi ditinjau secara lebih mendalam, seorang naturalis menganut pluralisme, karena baginya ada berbagai kejadian dengan berbagai kualitas. Dalam hubungannya dengan hakekat alam semesta, seorang naturalisme dewasa ini berpendirian, masalah tersebut harus disingkapkan oleh ilmuan dengan menggunakan metode-metode empiris.
2.    Materialisme
Seorang naturalisme mendasarkan ajarannyan pada pengertian ‘alam’, berusaha melampaui pengertian ‘alam’, dan mendasarkan diri pada macam subtansi atau kenyataan terdalam yang dinamakan ‘materi’. Sebelum berkembangnya fisika modern dengan hasil penyelidikannya yang menunjukkan bahwa subtansi renik yang keras, bulat serta tidak tertembus - yaitu atom – ternyata masih dapat dipecahkan lebih lanjut, maka subtansi semacam itulah yang dipandang sebagai materi. Kaum materialis pada masa lampau memandang alam semesta tersusun dari zat-zat renik yang terdalam tersebut dan memandang alam semesta dapat diterangkan berdasarkan hukum-hukum dinamika. Berangakat dari pemahaman itu, kaum materialis sekarang ini mengenal rumus yang paling mengejutkan di dalam fisika, yaitu E = MC2, yang menggambarkan bahwa tenaga E kedudukannya dapat saling dipertukarkan dengan massa M.[17]
Mengenai masalah hakekat materi, seorang materialis sebagai filsuf tidak dapat menambahkan bahan keterangan apapun terhadap penjelasan yang diberikan oleh ilmuan (positif). Meskipun seorang ilmuan kadang-kadang menggunakan istilah ‘materi’ dalam arti yang terbatas, kaum materrialis berpendirian bahwa para filsuf tidak dapat menambah, dalam arti memperbaiki pengertian mengenai materi yang bersifat deskriptif yang diberikan oleh ilmua (positif) yang sedang bekerja pada masa hidupnya. Ditinjau dari sudut pandang seorang materialis, yang dinamakan kenyataan ialah apa yang oleh ilmu ditetapkan sebagai kenyataan. Hasil-hasil penyelidikan fisika dan kimia mengenai hakekat materi merupakan pelukisan-peukisan yang bersifat pembatasan mengenai apa yang dinamakan materi. Seluruh alam semesta dipandang berasal dari materi yang terdalam.
Maka dapat dikatakan bahwa perbedaan antara materialisme modern dengan materialisme yang lebih tua terletak pada kemajuan ilmu. Materialisme mengambil hasil-hasil ilmu, meningkatkannya kedalam prinsip-psrinsip yang umum dan menerimanya sebagai prinsip-psrinsip kefilsafatan yang dianutnya. Dengan demikian bahan-bahan penopang bagi materialisme ialah hasil-hasil ilmu modern. Menurut Roy Wood Sellars, “pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling memadai yang kita miliki”.[18] Istilah pokok yang melandasi ajaran materialisme ialah ‘materi’. Istilah pokok yang melukiskan proses perkembangan ialah ‘evolusi’. Materialisme modern menolak pengertian mengenai atom-atom yang bersifat keras. 
Ontologi kaum materialis. Dalam hubungan yang lain, Sellars mengungkapkan sejumlah pendirian kaum materialis di bidang ontologi. Yaitu sebagai berikut:
1)      Pengertian yang jelas mengenai ‘materi’ dapat diperoleh berdasarkan sejumlah kategori yang ditetapkan secara empiris, seperti kesinambungan, eksistensi, kegiatan sebab akibat, yang dihubungkan dengan fakta-fakta empiris yang terperinci mengenai struktur, gerak-gerik dan daya pengaruh dalam kerangka ruang-ruang tertentu. Kategori-kategori semacam ini diperoleh dengan cara memahami secara akal serta bekerja atas dasar tangkapan inderawi dan kesadaran diri.
2)      Naturalisme yang sudah dewasa ini tidak akan menjulangkan segala sesuatu kepada satu jenis subtansi belaka dan juga tidak mengajarkan bahwa segala sesuatu tersusun dari atom-atom yang serba ditentukan oleh hukum-hukum mekanika.
3)      Alam semesta bersifat abadi dan keseluruhan tidak terarah secara kurus kepada suatu tujuan tertentu.
4)      Jiwa merupakan kategori rohani maupun jasmani dan berangkut-paut dengan kegiatan-kegiatan serta kemampuan-kemampuan yang melekat pada diri yang bersifat organis yang berada dalam dalam tingkatan penggunaan otak.
5)      Subtansi-subtansi material atau zat-zat yang berkesinambungan terjadi serta rusak dalam kerangka kelestarian segenap hal yang bersifat material sebagai keseluruhan.
6)      Kesadaran merupakan suatu kualitas tersembunyi yang didalamnya manusia mendapatkan sumber bagi kegiatan-kegiatan yang dilkukannya.[19]
Perbandingan antara materalisme dengan naturalisme. Dalam banyak hal seorang materialis sependirian dengan dengan seoranag naturalis. Dalam kenyataannya, dapat dikatakan bahwa pada umumnya seorang naturalis dapat disebut begitu saja sebagai seorang materialis ketika mengatakan bahwa pengertian materi hendaknya tidak dibicarakan dalam bidang ontologi, melainkan dalam ilmu fisika. Keduanya mendasarkan diri pada hasil-hasil ilmu sebagai penopang bagi paham-paham yang dianutnya, dan keduanya menilai tinggi terhadap metode-metode ilmiah.
3.    Idealisme
Definisi idealisme. Para penganut paham naturalisme dan materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan (materi, alam dan sebagainya) sudah cukup untuk memberikan keterangan mengenai segenap kenyataan. Namun kiranya ada banyak orang benar-benar dapat merasakan bahwa ada hal-hal serta gejala-gejala yang tidak dapat semata-mata diterangkan berdasarkan pengertian alam. Lebih-lebih sekadar berdasarkan pengertian materi.[20]
G. Wattas Cunningham, salah seorang di antara kaum idealisme yang terkemuka di Amerika Serikat, memberikan definisi yang paling sederhana mengenai idealisme, yaitu:
“Idealisme merupakan suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukkan agar kita dapat memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Maka ditinjau dari segi logika, kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut.[21]
Alam sebagai sesuatu yang bersifat rohani. Secara umum dapat dikatakan ada dua macam kaum idealis : kaum spiritualis dan kaum dualis. Para penganut paham spiritualisme (jangan dicampuradukkan dengan ilmu pengetahuan semu yang disebut spiritisme). Mereka memandang alam sebagai keseluruhan yang bertingkat-tingkat dan diri kita masing-masing sebagai pusat-puasat. Rohani yang berkesinambungan dengan tingkat-tingkat yang lain. Sebab, kita sendiri merupakan pusat-pusat dan berkesinambungan dengan tingkat-tingkat yang lain dan dapat disimpulkan bahwa tingkat-tingkat yang lain pun tentu merupakan pusat-pusat rohani pula.
Tingkat-tingkat alam. Pendirian bahwa alam semesta dapat dipulangkan kepada atau berasal dari roh ditolak oleh kaum idealis macam kedua, yaitu yang menganut paham dualisme. Kaum idealisme yang dualistis menyatakan bahwa yang terdalam ialah jiwa semesta, tetapi mereka pun menyatakan pendapat umum bahwa alam merupakan tatanan yang mempunyai tingkat-tingkat yang berbeda-beda ditinjau secara sistematis, alam merupakan tatanan yang terdiri dari tingkat-tingkat yang berbeda-beda yang sebagai sistem memang saling berhubungan, namum pada dasarnya yang satu tidak dapat dipulangkan kepada yang lainnya. Materi tidak berasal dari jiwa, meskipun materi berkesinambungan dengan jiwa.
Bagi pendirian kaum idealis bukanlah bahan keterangan yang bersifat inderawi serta hasil-hasil ilmu yang begitu saja diterima tanpa direnungkan lebih lanjut. Namun, ini tidak berarti bahwa kaum idealis menganggap bahan-bahan keterangan yang bersifat inderawi atau yang bersifat ilmiah sebagai sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau merupakan ilusi. Seorang idealis mengatakan bahwa pada hakekatnya untuk dapat memberikan penjelasan terhadap kenyataan, kita memerlukan istilah-istilah seperti ‘jiwa’, ‘nilai’, dan ‘makna’, sebagai tambahan terhadap dan mendahului yang mendahului istilah-istilah yang lain, seperti ‘alam’, ‘kualitas’, ‘ruang’ dan ‘waktu’, ‘materi’, dan sebagainya. Sejumlah kaum idealis berpendirian bahwa semua kenyataan merupakan jiwa. Ajaran semacam ini disebut ‘pan-psikisme’.
Tampaknya barangkali yang paling tepat ialah, kita mendasarkan diri pada semacam eklektisisme, yaitu dengan menggunakan istilah-istilah yang berasal dari bahasa-bahasa yang dipakai oleh para penganut ajaran naturalisme maupun idealisme. Saynganya, setiap perangkat istilah kiranya mengandung pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan  pernyataan-pernyataan yang dikandung oleh perankat istilah yang lainnya. Misalnya, istilah ‘Roh Mutlak’ menunjuk kepada sesuatu yang mengatasi alam. Sedangkan kaum naturalis, karena berpendirian bahwa segenap kenyataan bersifat kealaman, pasti menolah ‘Roh Mutlak’ dan memandangnya tidak mengandung makna. Begitu pula, naturalisme pasti mengajarkan bahwa jiwa merupakan hasil proses alam; kaum idealis pasti menantang pendiriannya semacam ini. Barangkali keputusan menegnai pertentangan ini baru akan tercapai apabila lebih banyak lagi bahan-bahan bukti yang tersedia.[22]
BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan bukan untung-untungan. Perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami dir kita sendiri.
Perenungan kefilsafatan ialah sejenis ialah sejenis percakapan yang di lakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Itulah sebabnya, mengapa seorang filsuf tampak selalu berhubungan dengan polemik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada usaha merusak atau menentang dibandingkan dengan usaha membangun.
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno, studi tersebut membahas sesuatu yang bersifat konkret.
Ontologi Monistik. Lama berselang di Yunani kuno, parmenides mengatakan, kenyataan itu tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat semu belaka.

DAFTAR PUSTAKA
Kattsoff, Louis O, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004)
Ismail, Taufik, Membaca Puisi,  Taman Ismail Marzuki. 30-31 Januari 1980
Radice, Betty, Who’s Who in the Ancient World (Middlesex, U.K.: Penguin, 1977)
Buchler, Justus, Philosophy An Introduction (new york: Barnes & Noble., 1969)
John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959)




[1] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 6.
[2] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 6-7.
[3] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 3.
[4] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 185.
[5] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 185-186.
[6] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 187.
[7] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 47-48.
[8] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 49.
[9] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 50.
[10] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 54.
[11] Taufik Ismail Membaca Puisi. Taman Ismail Marzuki. 30-31 Januari 1980, hlm. 23.
[12] Betty Radice, Who’s Who in the Ancient World (Middlesex, U.K.: Penguin, 1977), hlm. 102.
[13] Dikutip dalam John Herman Randall, Jr, dan Justus Buchler, Philosophy An Introduction (new york: Barnes & Noble., 1969)
[14] John G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959) hal. 37
[15]Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 208.
[16] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 211.
[17] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 212
[18]Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 214. 
[19] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 214-2015.
[20] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 216.
[21] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 217.
[22] Louis O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 210.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...