FILSAFAT ILMU
ONTOLOGI FILSAFAT
Agus Fawait, S. Pd. M. Pd. I
Alfiatul Hasanah
Dewi Ludviah
Andiyani
Nur Aini
Nurifkiyah Nailatul
Lailih
Siti Qomariya
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang
Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga
selesai. Dan tidak lupa kami banyak terima kasih kepada pihak yang banyak
membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih prestasi
yang gemilang. Kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah dan juga
teman-teman sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam
belajar pada masa mendatang.
Bondowoso,
30 April
2018
Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL
KATA
PENGANTAR................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN........................................................................... 1
A.
Latar
Belakang................................................................................. 1
B.
Rumusan
Masalah............................................................................ 1
C.
Tujuan
Masalah................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN............................................................................ 3
A.
Pengertian
Filsafat........................................................................... 3
B.
Pengertian
Ontologi......................................................................... 4
C.
Hakikat
Ontologi............................................................................. 7
D.
Aliran
Ontologi................................................................................ 14
BAB III
PENUTUP.................................................................................... 23
A.
Kesimpulan...................................................................................... 23
DAFTAR PUSAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno
dan berasal dari yunani. Studi tersebut membahas keberadaan yang konkret. Tokoh
yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales,
Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan
dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai
pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam yang merupakan
asal mula segala sesuatu. Pembicaraan mengenai hakikat sangatlah luas, meliputi
segala yang ada dan yang mungkin ada. Hakikat ada adalah kenyataan sebenarnya
bukan kenyataan sementara atau berubah-ubah.
Secara ringkas Ontologi membahas realitas atau suatu entitas dengan
apa adanya. Pembahasan mengenai ontologi berarti membahas kebenaran suatu
fakta. Ontologi juga merupakan salah satu dari obyek garapan filsafat ilmu yang
menetapkan batas lingkup dan teori tentang hakikat realitas yang ada (Being),
baik berupa wujud fisik (al-Thobi’ah) maupun metafisik (maba’da al-Thobi’ah).
Sedangkan Ontologi atau bagian metafisika yang umum, membahas segala sesuatu
yang ada secara menyeluruh yang mengkaji persoalan seperti hubungan akal dengan
benda, hakikat perubahan, pengertian tentang kebebasan dan lainnya. Dalam
pemahaman ontologi ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran, seperti
Monoisme, dualisme, pluralisme, nikhilisme, dan agnotisme.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa
yang di maksud dengan Pengertian Filsafat?
2.
Apa
yang di maksud dengan Pengertian Ontologi?
3.
Apa
saja Hakikat Ontologi?
4.
Apa
saja Aliran Ontologi?
C.
Tujuan Rumusan Masalah
1.
Untuk
Mengetahui Pengertian Filsafat
2.
Untuk
Mengetahui Pengertia Ontologi
3.
Untuk
Mengetahui Hakikat Ontologi
4.
Untuk
Mengetahui Aliran Ontologi
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Filsafat
Filsafat
merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan ialah merenung
bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan bukan untung-untungan. Perenungan
kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang
rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk
memahami dir kita sendiri. Perenungan kefisafatn dapat merupakan karya satu
orang yang dikerjakannya sendiri, ketika ia dengan pikirannya berusaha keras
menemukan alasan dan penjelasan dengan cara semacam bertanya kepada diri
sendiri. Atau, perenungan itu dapat dilakukan oleh dua atau lebih dari dalam
suatu percakapan ketika mereka melakukan analisa, melakukan kritik dan
menghubungkan pikiran mereka secara timbal balik.[1]
Biarpun
sebagian sistem-sistem filsafat yang besar, misalnya sistem filsafat
Aristoteles yang hidup pada abad IV SM atau sistem hegel (1770-1831), merupakan
karya-karya perseorangan, namun sistem-sistem tersebut menunjukkan adanya
saling pertukaran yang ajek dengan pikiran serta kritik orang-orang
lain. Sesungguhnya tidak ada filsafat yang disusun dari ketiadaan tanpa hal-hal
yang mendahuluinya yang telah dipelajarinya, dan oleh rekan-rekan sesama
hidupnya yang mengajukan kritik terhadapnya. Sejumlah karya kefilsafatan yang besar
tertulis sebagai dialog, yakni dalam bentuk percakapan diantara dua
orang atau lebih, yang memiliki penyelesaian-penyelesaian yang berupa
alternatif, dan yang dengan pembicaraan secara rasional berusaha berusaha
memperoleh kesimpulan yang memuaskan. Contoh-contoh karya semacam itu ialah
dialog-dialog yang ditulis oleh Plato, sang tokoh abadi (427-347 SM),
dan lama kemudian, sejumlah karya fisuf Britania yang termasyhur, Uskup
Berkeley (1685-1753).
Perenungan
kefilsafatan ialah sejenis ialah sejenis percakapan yang di lakukan dengan diri
sendiri atau orang lain. Itulah sebabnya, mengapa seorang filsuf tampak selalu
berhubungan dengan polemik, dan tampak lebih menaruh perhatian kepada
usaha merusak atau menentang dibandingkan dengan usaha membangun.
Dalam arti tertentu, perenungan kefilsafatan dapat dipandang sebagai
pertentangan di antara alternatif-alternatif yang masing-masing berpegangan
pada unsur atau segi yang penting, dan mencoba untuk mengujinya pada
pengalaman, kenyataan empirik, dan akal. Hal ini mudah ditunjukkan dalam
masalah filsafat pengetahuan.
Ada yang
berpendirian bahwa pengetahuan diperoleh hanya melaui pengalman, dan ada yang
berpendirian bahwa pengetahuan didapat hanya melalui akal. Yang terdahulu
disebut ‘pengikut empiris’, yang terakhir dinamakan ‘pengikut rasionalisme’.
Kedua pendirian ini dapat diuraikan secara panjang lebar sampai salah
satu di antaranya terbukti salah atau sampai tercapai suatu sentesa. Soalnya
ialah, uraian-uraian itu berusaha menyingkirkan kesalahan-kesalahan dan hal-hal
yang tidak runtut, dengan maksud agar tercapai penyelasaian-penyelasaian yang
lebih memadai.[2]
Filsafat
membawa kita kepada pemahaman dan tindakan. Secara sederhana tujuan filsafat
ialah mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta
mengatur semua itu didalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada
pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak.[3]
B.
Pengertian Ontologi
Ontologi
merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan penyelidikan kefilsafatan yang
paling kuno, studi tersebut membahas sesuatu yang bersifat konkret. Awal mula
pikiran barat sudah menunjukkan munculnya perenungan di bidang ontologi. Yang
tertua diantara segenap filsuf Barat yang kita kenal ialah orang Yunani yang
bijak dan arif bernama Thales. Atas, perenungannya terhadap air yang terdapat
dimana-mana, ia sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan subtansi terdalam
yang merupakan asal mula dari segala sesuatu. Yang penting bagi kita
sesungguhnya bukanlan ajaran-ajarannya yang mengatakan bahwa air itulah asal
mula segala sesuatu, melainkan pendiriannya bahwa mungkin segala sesuatu
berasal dari subtansi belaka.[4]
Thales
merupakan orang pertama yang berpendirian sangat berbeda di tengah-tengah
pandangan umum yang berlaku saat itu. Di sinilah letak pentingnya tokoh
tersebut. Kecuali dirinya, semua orang waktu itu memandang segala sesuatu
sebagaimana keadaannya yang wajar. Apabila mereka menjumpai kayu, besi, air,
daging, dan sebagainya, hal-hal tersebut dipandang sebagai subtansi-subtansi
(yang terdiri sendiri-sendiri). Dengan kata lain, bagi kebanyakan orang
tidaklah ada pemilihan antara kenampakan (appearance) dengan kenyataan
(reality). Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang
mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Hakekat kenyataan
atau realitas bisa didekati dengan dua macam sudut pandang yaitu :
1.
Kuantitatif,
yaitu dengan mempertanyakan, “apakah kenyataan itu tunggal atau jamak?
2.
Kualitatif,
yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki
kualitas tertentu. Seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga
mawar yang berbau harum.[5]
Jika
penyifatan-penyifatan yang satu dan sama dapat diberikan kepada segenap segi
kenyataan, maka kenyataan itu tunggal. Kesimpulan di atas dapat ditarik, karena
jika terdapat dua bagian kenyataan yang berbeda-beda, maka karena keadaannya
yang berbeda-beda itu, pastilah ada salah satu penyifatan yang tidak dapat
diberikan kepada seluruh kenyataan yang ada.
Ontologi
Monistik. Lama berselang di Yunani kuno, parmenides mengatakan, kenyataan itu
tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat
semu belaka. Dewasa ini sistem monistik seperti itu tidak umum dianut orang.
Karena, justru perbedaanlah yang merupakan kategori dasar segenap kenyataan
yang ada yang tidak dapat disangkal lagi kebenarannya. Tetapi, ada juga
orang-orang yang berpendirian bahwa pada dasarnya segala sesuatu sama
hakekatnya. Pendirian ini dianut oleh para pendukung paham monisme dewasa
ini. Yaitu kaum idealisme dan kaum materialisme.[6]
Sesungguhnya,
yang tersangkut dalam hal ini masalah terdapat atau tidaknya macam-macam
kenyataan yang berbeda-beda. Sudah tentu jika kita mengatakan segala sesuatu
merupakan kenyataan, maka sampai sejauh itu memang segala sesuatu sama.
Perbedaan yang pokok di antara pada penganut monisme dengan para penganut
non-monisme ialah dalam sikap mereka masing-masing yang menerima atau menolak
pernyataan.
Istilah-istilah dasar dalam
bidang ontologi antara lain :
1.
Yang-Ada
(being)
Istilah ada
memiliki bermacam makna. Sebagian orang menumbuhkan dengan dua istilah yang
lain yaitu esensi dan eksistensi. Sesuatu apapun halnya bersifat yang ada atau
singkatnya, barang sesuatu itu ada. Istilah ini diterapkan kepada segala
sesuatu hakikat atau jenisnya. Sesuatu yang bereksistensi, misalnya bangku,
pertama-tama harus memiliki sifat ada sebelum dapat bereksistensi.[7]
2.
Kenyataan
atau Realitas (reality)
Sessuatu yang
ditangkap dalam tangkapan yang dapat dipercaya. Tangkapan yang dipercaya adalah
tangkapan yang tidak mengandung kesalahan.[8]
3.
Eksistensi
(existence)
Eksistensi
mengandung pengertian ruang dan waktu. Eksistensi merupakan keadaan tertentu
yang lebih khusus dari sesuatu. Apapun yang bereksistensi tentu ada nyata,
tetapi tidak sebaliknya. Sesuatu ha yang dikatakan bereksistensi jika hal itu
adalah seuatu yang menurut W.T. Stace,
bersifat publik. Bersifat publik artinya objek itu sendiri harus dialami atau
dapat dialami oleh banyak orang yang melakukan pengamatan.[9]
4.
Perubahan
(change)
Perubahan
sebagai proses. Kita dapat mendefinikan perubahan sebagai apa yang terjadi bila
sesuatu hal menjadi hal yang lain dari hal itu sendiri. Dengan kata lain,
perubahan adalah peralihan sesuatu hal dari keadannya (sekarang) menjadi bukan
keadaannya, dan dari bukan keadaanya menjadi keadaanya sekarang. Contoh, pada
proses perubahan dari keadaan anak-anak menjadi keadaan dewasa.[10]
C.
Hakikat Ontologi
1.
Metafisika
Pemikiran
manusia seperti Fariduddin Attar dalam sajak Taufik Ismail ini,[11] tak henti-hentinya terpesona menatap dunia: apakah hakikat
kenyataan ini sebenar-benarnya? Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika
ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk
pemikiran ilmiah. Diibaratkan pikiran adalah roket yang meluncur ke
bintang-bintang, menembus galaksi dan awan gemawan, maka metafisika adalah
landasan peluncurnya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan nyata ini, ternyata
menimbulkan berbagai spekkulasi filsafati tentang hakikatnya.
Tafsiran
Metafisika yang paling utama yang diberikan oleh manusia terhadap alam ini
adalah bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud
ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.
Animisme merupakan kepercayaan yang berdasarkan pemikiran supernaturalisme ini;
di mana manusia percaya terdapat roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat dalam
benda-benda sperti batu, pohon dan air terjun. Animisme ini merupakan
kepercayaan yang paling tua umurnya dalam sejarah perkembangan kebudayaan
manusia dan masih dipeluk oleh beberapa masyarakat di muka bumi.
Sebagai lawan
dari supernaturalisme maka terdapat paham naturalisme yang menolak pendapat
bahwaterdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural ini. Materialisme, yang
merupakan paham yang berdasarkan naturalisme ini, berpendapat bahwa
gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib,
melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat
dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui. Prinsip-prinsip materialisme
ini dikembangkan oleh Democritos, dia mengembangkan teori tentang atom yang
dipelajarinya dari gurunya Leucippus.[12] Bagi Democritos, unsur utama dari alam ini adalah atom.[13]
2.
Asumsi
Suatu hari pada
zaman Wild West, seorang jago tembak yang kenamaan, ditantang oleh seorang
petani yang mabuk. Petani ini adalah orang biasa, jadi sama sekali bukan tipe
Jango, yang bisa tembak sana tembak sini sambil tutup mata, setelah ia minum
wiski dan melahap 16 jenis masakan persia. Cuma karena mabuk saja dia berlagak
jadi jagoan disebabkan otaknya yang sedang out dari udara. Kalau waras, mana
berani dia menantang penembak profesional yang sudah punya reputasi seantero
dunia, dunianya koboi tentu saja.
Nah, apa yang
terjadi? Bisik bandar taruhan. Bukankah kejadian semacam ini jarang ditemui
seperti menemukan orang bisu sedang menyanyi? Lalu mulailah bandar taruhan ini
mengumpulkan data dan informasi mengenai kedua gladiator yang akan bertarung
sampai mati.
Nama: Franco
Nero, KTP nomor 0941940, RT 010, RW 13. Reputasi: 30 duel, 30 kali menang
dengan TM(Tembak Mati, atau KO, dalam boxing). Duilah!
Sedangkan
petani kita namanya belum tercatat dalam daftar Guiness Record, kecuali
dalam buku Bapak Camat, sebab dia masih menunggak Ipeda.
Beberapa
pasaran taruhan kita?
Bila semuanya
berjalan beres, saran konsultan kepada bandar taruhan itu, berdasarkan data
yang tercatat, maka paling tidak 30 berbanding 1 yang diramalkan petani malang
itu akan mendapatkan one way ticket ke surga.
Lantas apanya
yang mungkin tak beres? Tanya bandar kita, yang benar-benar ingin aman menanam
modalnya.
Ya,
bemacam-macam, jawab konsultan yang sedang ngobyek ini yang pekerjaan
sebenarnya adalah dosen filsafat ilmu di universitas swasta, umpamanya katakan
sajalah bahwa pistol si Jango itu punya kehendak sendiri (free will),
kan berabe!
Berabe, gimana?
Ya, mungkin
saja pistol itu tidak mau menembak orang berdosa , apa lagi seorang
nomprofesional yang belum diakreditasi. Jadi, nembak ya nembak namun nembaknya
ngawur seperti tendangan PSSI.
Ah, itu
nonsens, jawab bandar taruhan, itu bersifat akademik sangat spekulatif, mana
ada pistol punya pilihan bebas. Sekiranya pistol ditembakkan dan tepat pada
sasaran maka secara deterministik sasaran itu akan kena. (Rupanya bandar taruhan
ini waktu kuliah di sekolah bisnis mengambil juga matakuliah etika berniaga).
Oke, jawab
konsultan kita, namun bagaimana kalau pistolnya macet?
Macet
bagaimana? Ya, macet, klik! Jawab konsultan itu. Dari data yang dapat
dikumpulkan ternyata bahwa dari 100 peluru yang ditembakkan sebuah pistol maka
satu diantaranya adalah macet. Artinya, secara probabilistik, meskipun
peluangnya 1 dalam 100, mungkin saja pistol jago kita itu macet, yan
menyebabkan dia tersambar “chance” (kebetulan) berupa nasib.
Nah, lalu
merenunglah bandar taruhan kita, seperti juga merenungnya para filsafat ilmu
sesudah itu. Mereka menduga-duga apakah gejala dalam alam ini tunduk kepada determinisme,
yakni hukum alam yang bersifat universal, ataukah hukum semacam itu tidak
terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas, ataukah
keumuman memang ada namun berupa peluang, sekedar tangkapan probabilistik?
Ketiga masalah ini yakni determinisme, pilihan bebas dan probabilistik
merupakan permasalahan fisafati yang rumit namun menarik. Tanpa mengenal tiga
aspek ini, serta bagaimana ilmu sampai pada pemecahan masalah yang merupakan
kompromi, akan sukar bagi kita untuk mengenal hakikat keilmuan dengan baik.
Nanti dulu,
potong konsultan yang merangkap menjadi filsuf ilmu, pembahasan mengenai
determinisme, pilihan bebas dan probalistik itu baru dapat dilakukan sekiranya
bahwa hukum semacam itu memang ada. Sekiranya hukum yang mengatur kejadian alam
itu tidak ada maka masalah determinisme, probabilistik dan kehendak bebas itu
sama sekali tidak akan muncul, kan?
Benar juga, ya,
sekiranya hukum alam itu memang benar-benar tidak ada maka tidak akan ada
permasalahan dengan determinisme, probabilistik atau pilihan bebas. Dengan
demikian maka tidak ada masalah tentang hubungan logam dengan panas, tekanan
dengan volume, atau IQ dengan keberhasilan belajar. Alhasil lalu ilmu itu
sendiri pun tidak ada sebab ilmu itu justru mempelajari hukum alam seperti ini.
Jadi, marilah
kita asumsikan saja bahwa hukum yang mengatur berbagai kejadian itu memang ada,
sebab tanpa asumsi ini maka pembicaraan kita semuanya lantas sia-sia, tukas
teoretikus filsafat ilmu. Hukum di sini diartikan sebagai suatu aturan main
atau pola kejadian yang diikuti oleh sebagian besar peserta, gejalanya berulang
kali dapat diamati yang tiap kali memberikan hasil yang sama, yang dengan
demikian dapat kita simpulkan bahwa hukum itu, seperti kata Coca Cola, berlaku
kapan saja dan di mana saja. Bagaimana?
Boleh saja,
sahut seorang yang pikirannya sangat pragmatis, asalkan hukum di sini jangan
ditafsirkan dalam pengertian moral, sebab ilmu tidak mempelajari kejadian yang
seharusnya melainkan kejadian alam sebagaimana adanya. “Sayang sekali perkataan hukum terlanjur
dipergunakan dalam filsafat ilmu,” uajar Kemeny, “penggunaan kata hukum ini
memberikan konotasi bahwa hal ini bisa saja tidak ditaati, padahal masalah taat
atau tidak taat seharusnya tidak termasuk ke dalam diskusi semacam ini.” [14] Malahan dalam rangka pengembangan bahasa, sela teman saya,
terdapat ahli bahasa yang menyarankan kata “taat asas” sebagaimana padanan kata
“konsisten”, yang sebenarnya kurang dapat dibenarkan, sebab hal ini membawa
konotasi yang sama.
Paham
determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas
Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris
yang dicerminkan oleh zat dan gerak yang bersifat universal. Aliran filsafat
ini merupakan lawan dari paham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian
ditentukan oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dulu. Demikian juga paham
determinisme ini bertentangan dengan penganut pilihan bebas yang menyatakan
bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam menentukan pilihannya tidak terikat
kepada hukum alam yang tidak memberikan
alternatif.
Untuk
meletakkan ilmu dalam perspektif filsafat ini marilah kita bertanya kepada diri
sendiri apakah sebenarnya yang ingin dipelajari ilmu. Apakah ilmu ingin
mempelajari hukum kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, seperti yang
dicoba dijangkau dalam ilmu-ilmu sosial, ataukah cukup yang berlaku bagi
sebagian besar dari mereka? Atau bahkan mungkin juga kita tidak mempelajari
hal-hal yang berlaku umum melainkan cukup mengenai tiap individu belaka?
Konsekuensi
dari pilihan ini adalah jelas, sebab sekiranya kita memilih hukum kejadian yang
berlaku bagi seluruh manusia, maka kita harus bertolak dari paham determinisme.
Sekiranya, kita memilih hukum kejadian yang bersifat khas bagi tiap individu
manusia maka kita berpaling kepada paham pilihan bebas. Sedangkan posisi tengah
yang terletak diantara keduanya mengantarkan kita kepada paham yang bersifat
probabilistik.
Ahli filsafat
menyimpulkan bahwa pengetahuan yang bersifat umum itu adalah tidak perlu. Bahkan
filsuf eksistensial berpendapat bahwa adalah merupakan kekejaman untuk
meletakkan hakikat manusia yang bersifat khas dan individual di bawah tirani
pengetahuan yang bersifat umum. Pengetahuan haruslah bersifat individual yang
berorientasi kepada pengalaman pribadi.
3.
Peluang
Jadi
berdasarkan teori-teori keilmuan saya tidak akan pernah mendapatkan hal yang
pasti mengenai suatu kejadian, tanya seorang awam kepada seorang ilmuan. Ilmuan itu menggelengkan kepalanya. Tidak, jawab ilmuan itu sambil
tersenyum apologetik, hanya kesimpulan yang probabilistik.
Jadi berdasarkan meteorologi dan geofisika saya tidak pernah merasa
pasti bahwa esok hari akan hujan atau tidak akan hujan, sambung orang awam,
kita kian penasaran. Tidak, jawab ilmuan kita, tetap tersenyum sebab dia
termasuk kepada golongan “orang yang tahu ditahunya dan tahu ditidak tahunya”,
jadi tidak pernah groggy bila di serang: saya hanya bisa mengatakan,
umpamanya, bahwa dengan probabilitas 0.8 esok tidak akan hujan.
“apakah artinya peluang 0.8 ini?” tanya orang awam
Peluang 0.8 secara sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas
untuk turun hujan esok adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian). Atau
sekiranya saya merasa pasti (100 persen) bahwa esok akan turun hujan maka akan
berikan peluang 0.1 atau dengan perkataan lain yang lebih sederhana, peluang
0.8 mencirikan bahwa pada 10 kali ramalan tentang akan jatuh hujan, 8 kali
memang itu turun dan dua kali ramalan itu meleset.
Jadi, biarpun kita mempunyai peluan 0.8 bahwa hari ini akan hujan,
namun masih terbuka kemungkinan bahwa hari ini tidak akan hujan?
“Benar demikian,” sahut ilmuan
“Lalu apa kegunaan pengetahuan semacam itu?” seru orang awam kita
sambil memukulkan baju.
Pertama harus saudara sadari ilmu itu tidak pernah ingin dan tidak
pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak. (Dalam
soal pretensi seperti ini maka ilmu kalah dengan pengetahuan perdukunan). Ilmu
memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi saudara untuk mengambil keputusan,
dimana keputusan saudara harus didasarkan kepada penafsiran kesimpulan ilmiah
yang bersifat relatif. Dengan demikian maka kata akhir dari suatu keputusan
terletak di tangan saudara dan bukan pada teori-teori keilmuan. (Itulah mungkin
sebabnya orang yang tidak pernah mau mengambil keputusan sendiri lebih senang
pergi ke dukun. Berkonsultasi pada ahli psikologi atau psikiater paling-paling
diberi alternatif-alternatif yang dapat diambil; sedangkan dukun dengan pasti
akan berkata: Pilih jalan ini, saya jamin, pasti berhasil.)
Oleh sebab itu sekiranya kita mempunyai pengetahuan ilmiah yang
menyatakan bahwa “sekiranya hari mendung maka terdapat peluang 0.8 akan turun
hujan”, maka pengetahuan itu harus kita letakkan paada permasalahan hidup kita
yang mempunyai perspektif dan bobot berbeda-beda. Katakanlah umpamanya saudara
besok akan piknik, kemudian saudara mengetahui bahwa esok punya peluang 0.8
bahwa hari tidak akan hujan, akankah saudara urungkan piknik saudara?
“Tidak,” jawab orang awam itu dengan pasti, “Tidak akan saya
urungkan sebab takut hujan.”
“Mengapa?” tanya ilmuan kita, “bukankah masih terdapat peluang 0.2
bahwa hari akan hujan”.
Orang awam itu mengangkat bahu. “Mungkin,” sambungnya sambil
tersenyum, (dia sudah mulai tersenyum; kelihatannya dia sudah mulai melihat
perspektif ilmu), “bagi saya cukup tersedia jaminan (dengan peluang 0.8) bahwa
sangat bisa jadi kemungkinan besar esok tidak akan hujan.”
“Baik,” sambung ilmuan kita, “itu pilihan saudara sendiri, saya
tidak akan ikut campur.” Sekarang bagaimana sekiranya saudara pedagang garam.
Beranikah saudara mengangkut garam saudara dengan peluang 0.8 hari tidak akan
hujan dari Tanjung Priyok ke (pusat pergudangan) Cakung?”
D.
Aliran Ontolgi
Sebagaimana
telah dikatakan, terdapat dua macam mengenai pernyataan, secara kuantitatif dan
secara kualitatif. Tetapi hendaknya diingat, kali ini saya berbicara kenyataan
dan bukan mengenai yang-ada. Karena dalam arti tertentu, ada merupakan
dasar segala sesuatu, dan dalam hal ini segala sesuatu mempunyai kesamaan.
Sejumlah pernyataan mengenai kenyataan, sebagai berikut:
1.
Naturalisme
Kejadian sebagai kategori pokok. Wiliam R. Dennes, seorang paham
penganut naturalisme sekarang ini, mengatakan, naturalisme modern- ketika
berpendirian bahwa apa yang dinamakan kenyataan pasti bersifat kealmaan –
beranggapan bahwa kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan
ialah kejadian. Kejadian-kejadian dalam ruang dan waktu merupakan satuan-satuan
penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat dialami oleh manusia biasa.
Hanya satuan-satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun dasar
bagi segenap hal yang ada.[15]
Jika
naturalisme modern mengatakan bahwa kejadian merupakan hakekat terdalam dari
kenyataan, dengan menggunakan istilah kita, yang demikian ini sama dengan
mengatakan bahwa apapun yang bersifat nyata pasti merupakan sesuatu yang
terdapat dalam ruang dan waktu tertentu, yang dapat dijumpai oleh manusia, dan
dapat pula dipelajari dengan cara-cara yang sama seperti yang dilakukan oleh
ilmu.
Analisa terhadap kejadian-kejadian. Marilah kita kembali kepada uangkapan ‘kategori-kategori yang
diajarkan naruralisme’. Mereka yang menganut paham naturalisme mengatakan bahwa
faktor-faktor penyusun segenap kejadian ialah proses, kualitas dan relasi.
Perhatikanlah butiran salju. Butiran ini senantiasa mengalami prosesyang
berkesinambungan; mempunyai atau terdiri dari kualitas-kualitas tertentu atau
senantiasa berhubungan dengan hal-hal lain. Apa saja yang merupakan kenyataan
pasti menggambarkan ketiga hal tersebut. Di manapun, tidak mungkin terdapat
satuan secara mutlak bersifat statis atau tidak dapat rusak, satua yang tanpa
kualitas, atau satuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan hal lain, baik
yang semacam dirinya maupun yang tidak semacam dirinya sendiri. Selain itu,
kualitas-kualitas maupun hubungan-hubungan hanya dapat dialami dengan
kejadian-kejadian yang didekati oleh kedua hal tadi. Di bawah ini merupakan
kutipan tentang apa yang dikatakan oelh Dennes.
“...
oleh karena itu para penganut paham naturalisme dewasa ini berpendirian bahwa
ketiga kategori dasar (yaitu proses, kualitas, relasi) yang mereka gunakan
menunjukkan segi-segi segala hal yang bereksistensi yang memang terdapat dalam pengalaman”
Masalah hakekat terdalam merupakan masalah ilmu (positif). Yang membedakan para penganut paham naturalisme sekarang ini
dengan para pemikir di bidang ontologi yang lain ialah pendirian mereka bahwa
segenap kejadian, bahkan juga kejadian yang biasanya dinamakan kejadian
‘kerohanian’, kepribadian, dan sebagainya, dapat dilukiskan berdasarkan
kategori-kategori proses, kualitas dan relasi. Masalah satuan penyusun terdalam
dari benda-benda mati dianggap masalah yang harus diselesaikan oleh ilmuan. Bahkan
pengertian tengtang raga manusia dijelaskan berdasarkan ketiga macam kategori
tersebut.
Bagi seorang naturalisme, yang dinamakan
kenyataan ialah suatu susunan proses-proses yang berkualifikasi, berhubungan
dan saling bergantung. Bagaimana hubungan itu? Bagaimanakah kualitas-kualitas
tersebut? Kesemuanya dapat diketahui melalui penyelidikan secara empiris
terhadap kejadian-kejadian. Kejadiab-kejadian tadi dipahami sebagaimana adanya
dan yang satu tidak dipulangkan kepada yang lain, kecuali sampai pengalaman
menunjukkan bahwa yang satu tidak dipulangkan kepada yang lain, kecuali sampai
pengalaman menunjukkan bahwa yang satu memang dapat dipulangkan kepada yang
lain. Dan hendaknya digaris bawahi bahwa menurut naturalisme tidak ada kualitas
yang ‘lebih tinggi’ atau ‘lebih rendah’ dibandingkan dengan lain-lain.
Pengetahuan ialah memahami kejadian-kejadian yang saling
berhubungan. Seorang
penganutpaham naturalisme dewasa ini merasa bahwa ia telah memahami suatu
kejadian, atau bahkan kenyataan, manakala ia sudah mengetahui
kualitas-kualitasnya, segi-seginya, susunan-susunannya, satuan-satuan
penyusunnya, sebab-sebabnya, serta akibat-akibatnya. Apa saja yang kita ketahui
senantiasa mengenai kejadian-kejadian yang jalin-menjalin dengan kejadian yang
lain. Tidak ada apapun yang terdapat di balik kejadian-kejadian yang secara
empiris dapat ditentukan keadaanya, kecuali karena adanya kejadian-kejadian
lain yang sejenis dan menurut metode-metode serta teknik-teknik yang sama,
yaitu metode-metode ilmiah. Jadi bagi seorang naturalisme, pengetahuan ilmiah
merupakan satu-satunya pengetahuan[16]
Dalam
atian tertentu seorang naturalis merupakan penganut paham monisme. Ia,
berpendirian, segenap kejadian dapat diterangkan berdasarkan ketiga macam
pengertian dasar diatas. Tetapi ditinjau secara lebih mendalam, seorang
naturalis menganut pluralisme, karena baginya ada berbagai kejadian dengan
berbagai kualitas. Dalam hubungannya dengan hakekat alam semesta, seorang
naturalisme dewasa ini berpendirian, masalah tersebut harus disingkapkan oleh
ilmuan dengan menggunakan metode-metode empiris.
2.
Materialisme
Seorang naturalisme mendasarkan ajarannyan pada pengertian ‘alam’,
berusaha melampaui pengertian ‘alam’, dan mendasarkan diri pada macam subtansi
atau kenyataan terdalam yang dinamakan ‘materi’. Sebelum berkembangnya fisika
modern dengan hasil penyelidikannya yang menunjukkan bahwa subtansi renik yang
keras, bulat serta tidak tertembus - yaitu atom – ternyata masih dapat
dipecahkan lebih lanjut, maka subtansi semacam itulah yang dipandang sebagai
materi. Kaum materialis pada masa lampau memandang alam semesta tersusun dari
zat-zat renik yang terdalam tersebut dan memandang alam semesta dapat
diterangkan berdasarkan hukum-hukum dinamika. Berangakat dari pemahaman itu,
kaum materialis sekarang ini mengenal rumus yang paling mengejutkan di dalam
fisika, yaitu E = MC2, yang menggambarkan bahwa tenaga E
kedudukannya dapat saling dipertukarkan dengan massa M.[17]
Mengenai
masalah hakekat materi, seorang materialis sebagai filsuf tidak dapat
menambahkan bahan keterangan apapun terhadap penjelasan yang diberikan oleh
ilmuan (positif). Meskipun seorang ilmuan kadang-kadang menggunakan istilah
‘materi’ dalam arti yang terbatas, kaum materrialis berpendirian bahwa para
filsuf tidak dapat menambah, dalam arti memperbaiki pengertian mengenai materi
yang bersifat deskriptif yang diberikan oleh ilmua (positif) yang sedang
bekerja pada masa hidupnya. Ditinjau dari sudut pandang seorang materialis,
yang dinamakan kenyataan ialah apa yang oleh ilmu ditetapkan sebagai kenyataan.
Hasil-hasil penyelidikan fisika dan kimia mengenai hakekat materi merupakan
pelukisan-peukisan yang bersifat pembatasan mengenai apa yang dinamakan materi.
Seluruh alam semesta dipandang berasal dari materi yang terdalam.
Maka
dapat dikatakan bahwa perbedaan antara materialisme modern dengan materialisme
yang lebih tua terletak pada kemajuan ilmu. Materialisme mengambil hasil-hasil
ilmu, meningkatkannya kedalam prinsip-psrinsip yang umum dan menerimanya
sebagai prinsip-psrinsip kefilsafatan yang dianutnya. Dengan demikian
bahan-bahan penopang bagi materialisme ialah hasil-hasil ilmu modern. Menurut
Roy Wood Sellars, “pengetahuan ilmiah merupakan pengetahuan yang paling memadai
yang kita miliki”.[18] Istilah pokok yang melandasi ajaran materialisme ialah ‘materi’.
Istilah pokok yang melukiskan proses perkembangan ialah ‘evolusi’. Materialisme
modern menolak pengertian mengenai atom-atom yang bersifat keras.
Ontologi kaum materialis. Dalam
hubungan yang lain, Sellars mengungkapkan sejumlah pendirian kaum materialis di
bidang ontologi. Yaitu sebagai berikut:
1)
Pengertian
yang jelas mengenai ‘materi’ dapat diperoleh berdasarkan sejumlah kategori yang
ditetapkan secara empiris, seperti kesinambungan, eksistensi, kegiatan sebab
akibat, yang dihubungkan dengan fakta-fakta empiris yang terperinci mengenai
struktur, gerak-gerik dan daya pengaruh dalam kerangka ruang-ruang tertentu.
Kategori-kategori semacam ini diperoleh dengan cara memahami secara akal serta
bekerja atas dasar tangkapan inderawi dan kesadaran diri.
2)
Naturalisme
yang sudah dewasa ini tidak akan menjulangkan segala sesuatu kepada satu jenis
subtansi belaka dan juga tidak mengajarkan bahwa segala sesuatu tersusun dari
atom-atom yang serba ditentukan oleh hukum-hukum mekanika.
3)
Alam
semesta bersifat abadi dan keseluruhan tidak terarah secara kurus kepada suatu
tujuan tertentu.
4)
Jiwa
merupakan kategori rohani maupun jasmani dan berangkut-paut dengan
kegiatan-kegiatan serta kemampuan-kemampuan yang melekat pada diri yang
bersifat organis yang berada dalam dalam tingkatan penggunaan otak.
5)
Subtansi-subtansi
material atau zat-zat yang berkesinambungan terjadi serta rusak dalam kerangka
kelestarian segenap hal yang bersifat material sebagai keseluruhan.
6)
Kesadaran
merupakan suatu kualitas tersembunyi yang didalamnya manusia mendapatkan sumber
bagi kegiatan-kegiatan yang dilkukannya.[19]
Perbandingan antara materalisme dengan naturalisme. Dalam banyak hal seorang materialis sependirian dengan dengan
seoranag naturalis. Dalam kenyataannya, dapat dikatakan bahwa pada umumnya
seorang naturalis dapat disebut begitu saja sebagai seorang materialis ketika
mengatakan bahwa pengertian materi hendaknya tidak dibicarakan dalam bidang
ontologi, melainkan dalam ilmu fisika. Keduanya mendasarkan diri pada
hasil-hasil ilmu sebagai penopang bagi paham-paham yang dianutnya, dan keduanya
menilai tinggi terhadap metode-metode ilmiah.
3.
Idealisme
Definisi idealisme. Para penganut paham naturalisme dan
materialisme mengatakan bahwa istilah-istilah yang mereka sarankan (materi,
alam dan sebagainya) sudah cukup untuk memberikan keterangan mengenai segenap
kenyataan. Namun kiranya ada banyak orang benar-benar dapat merasakan bahwa ada
hal-hal serta gejala-gejala yang tidak dapat semata-mata diterangkan
berdasarkan pengertian alam. Lebih-lebih sekadar berdasarkan pengertian materi.[20]
G. Wattas Cunningham, salah seorang di antara kaum idealisme yang
terkemuka di Amerika Serikat, memberikan definisi yang paling sederhana
mengenai idealisme, yaitu:
“Idealisme
merupakan suatu ajaran kefilsafatan yang berusaha menunjukkan agar kita dapat
memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan
waktu sampai pada hakekatnya yang terdalam. Maka ditinjau dari segi logika,
kita harus membayangkan adanya jiwa atau roh yang menyertainya dan yang dalam
hubungan tertentu bersifat mendasari hal-hal tersebut.[21]
Alam sebagai sesuatu yang bersifat rohani. Secara umum dapat dikatakan ada dua macam kaum idealis : kaum
spiritualis dan kaum dualis. Para penganut paham spiritualisme
(jangan dicampuradukkan dengan ilmu pengetahuan semu yang disebut spiritisme).
Mereka memandang alam sebagai keseluruhan yang bertingkat-tingkat dan diri kita
masing-masing sebagai pusat-puasat. Rohani yang berkesinambungan dengan
tingkat-tingkat yang lain. Sebab, kita sendiri merupakan pusat-pusat dan
berkesinambungan dengan tingkat-tingkat yang lain dan dapat disimpulkan bahwa
tingkat-tingkat yang lain pun tentu merupakan pusat-pusat rohani pula.
Tingkat-tingkat alam.
Pendirian bahwa alam semesta dapat dipulangkan kepada atau berasal dari roh
ditolak oleh kaum idealis macam kedua, yaitu yang menganut paham dualisme. Kaum
idealisme yang dualistis menyatakan bahwa yang terdalam ialah jiwa
semesta, tetapi mereka pun menyatakan pendapat umum bahwa alam merupakan
tatanan yang mempunyai tingkat-tingkat yang berbeda-beda ditinjau secara
sistematis, alam merupakan tatanan yang terdiri dari tingkat-tingkat yang
berbeda-beda yang sebagai sistem memang saling berhubungan, namum pada dasarnya
yang satu tidak dapat dipulangkan kepada yang lainnya. Materi tidak berasal
dari jiwa, meskipun materi berkesinambungan dengan jiwa.
Bagi pendirian kaum idealis bukanlah bahan keterangan yang bersifat
inderawi serta hasil-hasil ilmu yang begitu saja diterima tanpa direnungkan
lebih lanjut. Namun, ini tidak berarti bahwa kaum idealis menganggap
bahan-bahan keterangan yang bersifat inderawi atau yang bersifat ilmiah sebagai
sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan atau merupakan ilusi. Seorang
idealis mengatakan bahwa pada hakekatnya untuk dapat memberikan penjelasan
terhadap kenyataan, kita memerlukan istilah-istilah seperti ‘jiwa’, ‘nilai’,
dan ‘makna’, sebagai tambahan terhadap dan mendahului yang mendahului
istilah-istilah yang lain, seperti ‘alam’, ‘kualitas’, ‘ruang’ dan ‘waktu’,
‘materi’, dan sebagainya. Sejumlah kaum idealis berpendirian bahwa semua
kenyataan merupakan jiwa. Ajaran semacam ini disebut ‘pan-psikisme’.
Tampaknya barangkali yang paling tepat ialah, kita mendasarkan diri
pada semacam eklektisisme, yaitu dengan menggunakan istilah-istilah yang
berasal dari bahasa-bahasa yang dipakai oleh para penganut ajaran naturalisme
maupun idealisme. Saynganya, setiap perangkat istilah kiranya mengandung
pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan
pernyataan-pernyataan yang dikandung oleh perankat istilah yang lainnya.
Misalnya, istilah ‘Roh Mutlak’ menunjuk kepada sesuatu yang mengatasi alam.
Sedangkan kaum naturalis, karena berpendirian bahwa segenap kenyataan bersifat
kealaman, pasti menolah ‘Roh Mutlak’ dan memandangnya tidak mengandung makna.
Begitu pula, naturalisme pasti mengajarkan bahwa jiwa merupakan hasil proses
alam; kaum idealis pasti menantang pendiriannya semacam ini. Barangkali
keputusan menegnai pertentangan ini baru akan tercapai apabila lebih banyak
lagi bahan-bahan bukti yang tersedia.[22]
BAB
III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Filsafat merupakan pemikiran secara sistematis. Kegiatan kefilsafatan
ialah merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan bukan
untung-untungan. Perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun
suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia
tempat kita hidup, maupun untuk memahami dir kita sendiri.
Perenungan kefilsafatan ialah sejenis ialah sejenis percakapan yang
di lakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Itulah sebabnya, mengapa
seorang filsuf tampak selalu berhubungan dengan polemik, dan tampak
lebih menaruh perhatian kepada usaha merusak atau menentang dibandingkan
dengan usaha membangun.
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan-lapangan
penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno, studi tersebut membahas sesuatu
yang bersifat konkret.
Ontologi Monistik. Lama berselang di Yunani kuno, parmenides mengatakan, kenyataan itu
tunggal adanya, dan segenap keanekaragaman, perbedaan serta perubahan, bersifat
semu belaka.
DAFTAR PUSTAKA
Kattsoff, Louis O, Pengantar
Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004)
Ismail, Taufik, Membaca Puisi, Taman Ismail Marzuki. 30-31 Januari 1980
Radice, Betty, Who’s Who in the
Ancient World (Middlesex, U.K.: Penguin, 1977)
Buchler,
Justus, Philosophy An Introduction (new york: Barnes & Noble., 1969)
John
G. Kemeny, A Philosopher Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959)
[1] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 6.
[2] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 6-7.
[3] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 3.
[4] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 185.
[5] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
185-186.
[6] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 187.
[7] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
47-48.
[8] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 49.
[9] Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 50.
[10] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
54.
[11] Taufik
Ismail Membaca Puisi. Taman Ismail Marzuki. 30-31 Januari 1980, hlm. 23.
[12] Betty
Radice, Who’s Who in the Ancient World (Middlesex, U.K.: Penguin, 1977), hlm.
102.
[13] Dikutip
dalam John Herman Randall, Jr, dan Justus Buchler, Philosophy An Introduction
(new york: Barnes & Noble., 1969)
[14] John G.
Kemeny, A Philosopher Looks at Science (New York: Van Nostrand, 1959)
hal. 37
[15]Louis O.
Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm. 208.
[16] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
211.
[17] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
212
[19] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
214-2015.
[20] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
216.
[21] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
217.
[22] Louis
O. Kattsoff, Pengantar Filsafat (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 2004), hlm.
210.
