Tampilkan postingan dengan label Dasar dan Perilaku Kelompok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dasar dan Perilaku Kelompok. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Dasar dan Perilaku Kelompok



MAKALAH
DASAR DAN PERILAKU KELOMPOK




Dosen Pengampu : Agus Fawait, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun oleh : 1. Nur Fadilah
2. Nur Aini
3. Munawwaroh Nur M
4. Elok Firdausiyah



PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan tidak lupa kami banyak terima kasih kepada pihak yang banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih prestasi yang gemilang. Kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah dan juga teman-teman sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam belajar pada masa mendatang.






                                                                                Penyusun

                                                                  Bondowoso, 21 November 2018







DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................ i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I     PENDAHULUAN ........................................................... 1
A.  Latar Belakang.............................................................................  1
B.   Rumusan Masalah .......................................................................  2
C.   Tujuan Masakah ..........................................................................  2

BAB II    PEMBAHASAN……………………………………….. 3
A.   Pengertian dan Klasifikasi Kelompok ....................................... 3
B.    Tahap - tahap dalam Pengembangan Kelompok ....................... 4
C.    Properti Kelompok .................................................................... 6
D.    Pengambilan Keputusan Kelompok ......................................... 9

BAB III   PENUTUP……………………………………………... 12
A.  Kesimpulan ................................................................................. 12

DAFTAR PUSTAKA..................................................................... 13
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam menjalankan peran sebagai makhluk sosial, manusia cenderung untuk hidup berkelompok satu sama lain. Di dalam kelompok yang terbentuk, pasti terjadi suatu interaksi yang menghasilkan suatu konflik sebagai bentuk dari dinamika kelompok itu sendiri. Ketika dinamika kelompok terjadi secara terus menerus, sedikit demi sedikit konflik yang ada dalam kelompok akan menjadi suatu dorongan tersendiri untuk mengembangkan kelompok tersebut.
Kelompok sosial atau sosial group dapat diartikan sebagai himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan antar mereka, di mana hubungan tersebut menyangkut hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong. Namun kelompok sosial itu dapat pula mirip dengan dengan situasi massa jika suatu perkumpulan yang berstruktur telah mempunyai anggota cukup banyak, misalnya suatu organisasi massa yang anggotanya satu persatu jarang mengadakan interaksi serba intensif dan yang kadang-kadang saja berkumpul dalam jumlah yang lengkap, sehingga interaksi antara anggotapun terbatas.Untuk membedakan kelompok sosial dengan kelompok-kelompok lainnya, maka ada beberapa persyaratan untuk kelompok sosial, diantaranya sebagai berikut :
1.    Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok.
2.    Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang satu dengan yang lain.
3.    Suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga hubungan antara mereka bertambah erat, faktor tersebut berupa kesamaan nasib,kepentingan tujuan, ideologi dan politik.
4.    Memiliki struktur, kaidah, dan mempunyai pola perilaku.
5.    Memiliki sistem dan melalui proses.
Kelompok sosial bukan merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok sosial selalu mengalami perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok sosial sifatnya lebih stabil daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami perubahan yang mencolok. Namun, adapila kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat, walaupun tidak ada pengaruh dari luar. Berkembangnya kelompok sosial yang terbentuk di masyarakat akan memberikan pengaruh terhadap kestabilan kondisi lingkungan di masyarakat, baik pengaruh yang positif maupun negatif.

B.     Rumusan Masalah
1.       Apa yang dimaksud Pengertian dan Mengklasifikasikan Kelompok ?
2.       Bagaimana Tahap - tahap dalam Pengembangan Kelompok ?
3.       Bagaimana properti kelompok ?
4.       Bagaimana pengambilan Keputusan Kelompok ?

C.    Tujuan Masalah
1.      Mengetahui pengertian dan Klasifikasi Kelompok
2.      Mengetahui Tahap - tahap dalam Pengembangan Kelomok
3.      Mengetahui Properti Kelompok
4.      Mengetahui Pengambilan Keputusan














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Klasifikasi Kelompok
Kelompok merupakan bagian dari kehidupan manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktifitas kelompok demikian pula kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan banyak dijumpai kelompok-kelompok ini. Hampir manusia menjadi anggota dari suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecendrungannya untuk mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya berjumpa, dan barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi tertentu.[1]
Dalam literatur ilmu administrasi dan manajemen, istilah kelompok tidak sama dengan pengertian sehari-hari. Sekelompok orang yang sama-sama antri membeli karcis kereta api, dari segi ilmu administrasi bukanlah kelompok (group), karena pada mereka tidak ada ikatan psikologis. Oleh sebab itu, para ahli ilmu perilaku sering menamakan dengan istilah “psychological group”, atau kelompok yang mempunyai ikatan psikologis.
            Schein mengatakan bahwa: “ A psychological group is any number of people who (1) interact whith another, (2) are psychologically aware to another, and (3) perceive themselves to be a group.” Maksudnya, kelompok yang mempunyai ikatan psikologis adalah sejmlah orang yang: (1) saling berhubungan, (2) saling memperhatikan (secara psikologis), (3) menerima kenyataan sebagai suatu kelompok. Dari rumusan tersebut , Hammar dan Organ menambahkan, bahwa: “ A psychological group works toward a common goal.
            Jadi, menurut Hammar dan Organ ada 4 hal penting dari kelompok, yaitu adanya saling berhubungan (interaksi), saling memerhatikan, merasa sabagai satu kelompok, dan untuk pencapaian tujuan bersama.
            Sedangka Duncan mengatakan bahwa, “ A group is defined as two or more people who interact to accomplish a common goals, the interaction is lasting and display at least some structure.” Yang artinya, suatu kelompok terdiri dari dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk tujuan bersama, interaksi tersebut bersifat relatif tetap dan mempunyai struktur tertentu.”
Adapun klasifikasi kelompok, anatara lain:
1.      Kelompok formal
Ialah kelompok yang keanggotaannya terjadi menurut struktur resmi. Contoh, kelompok kerja, panitia dan team dosen, panitia penerimaan mahasiswa baru merupakan beberapa contoh kelompok formal. Sebagaimana yang dikutip oleh Duncan, mengatakan bahwa ciri khas kelompok ini ialah: adanya peranan khusu, norma yang kaku, dan adanya sanksi untuk menjamin konformitas (kesesuaian).
2.      Kelompok Informal
Ialah kelompok yang berkembang atas dasar perasaan saling tertarik, karena kebutuhan akan tukar-menukar informasi, untuk saling melengkapi ataupun karena kesamaan sikap. Ciri khas kelompok ini antara lain ialah: Spontanitas, emosional, dan luwes dalam arti terbatas pada kepentingan tertentu saja, dan biasanya untuk jangka waktu yang tidak tertentu. Persahabatan, rasa setia kawan, dan sedaerah merupakan unsur pendorong terbentuknya kelompok informal ini. 
Kesimpulan dari pengertian tersebut, kelompok merupakan dua orang atau lebih yang saling berinteraksi seta bergabung bersama untuk mencapai tujuan-tujuan bersama.
B.     Tahap - tahap dalam pengembangan kelompok
Tuckman (1965)  mengemukakan lima tahap dalam proses kelompok yaitu forming, storming, norming, performing, dan terkahir adjourning. Berikut Tahapan proses perkembangan kelompok :
a.     Tahap Pembentuksan (Forming)
Tuckman menggambarkan tahap ini adalah tahap percobaan atau partisipasi dengan keragu – raguan, karena anggota kelompok mencari tahu tingkah laku apa yang dapat diterima oleh kelompok dan awal individu untuk menyesuaikan diri dengan yang lainnya.. Pada saat ini anggota kelompok masih sangat tergantung oleh pemimpin kelompok. Tahap ini dicirikan oleh banyak sekali ketidakpastian mengenai maksud, struktur, kepemimpinan kelompok. Tahap ini akan selesai ketika para anggota mulai berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka juga termasuk dari suatu kelompok. Karakteristik pada tahap ini adalah interaksi sementara, wacana kesopanan, perhatian melalui ambiguitas dan lebih cenderung diam.
b.    Tahap Timbulnya Konflik (Storming)
Tahap storming dicirikan dengan adanya konflik dalam kelompok, ketidakpuasan dengan yang lainnya, persaingan antar anggota, dan ketikdaksetujuan akan prosedur yang ada. Anggota kelompok mengalami konflik baik dengan sesama anggota kelompok atau pemimpin kelompok. Berbeda dengan tahap forming pada tahap ini anggota kelompok lebih cenderung menunjukkan masing – masing pribadinya dan ketegangan dalam kelompok cenderung meningkat. Didalam tahap ini memiliki karakteristik terdapat ide-ide yang dikritisi, pembiacara yang diinterupsi, kurangnya kehadiran anggota, dan permusuhan dalam kelompok.
c.    Tahap Normalisasi (Norming)
Norming merupakan massa penenangan setelah konflik Tuckman mendeskripsikannya sebagai tahap kohesif dimana anggota sudah dapat menerima keunikan dan perbedaandalam kelompok. Anggota kelompok merasa bagian dari kelompok dan menerima norma – norma dalam kelompok. Walaupun setiap anggota memiliki interpretasi dan persepsi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, tetapi penekanannya adalah pada harmoni. Anggota mengesampingkan konflik yang ada dan lebih mengembangkan norma – norma dalam kelompok. Dalam tahap ini mulai terbentuk struktur, peran, dan rasa kebersamaan. Karakteristik tahap ini adalah persetujuan dalam peranan, pencarian mufakat, dan peningkatan suportivitas.
d.   Tahap Kinerja (Performing)
Performing merupakan tahapan dimana kelompok berfokus pada tujuan kelompok. Pada tahap ini anggota kelompok saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang mereka anut bersama. Menurut Tuckman, dalam tahap performing struktur interpersonal yang terbentuk dan berkembang  pada tahap – tahap sebelumnya menjadi modal dan sangat berpengaruh dalam penyelesaian masalah dan tugas untuk mencapai tujuan tersebut. Masalah interpersonal merupakan bagian dari masa lalu dan sebagai pembelajaran bersama, seluruh anggota kelompok menuangkan energinya untuk mencapai tujuan bersama. Tahap ini memiliki karakteristik fokus terhadap hasil, orientasi tugas yang tinngi, menekankan pada penampilan dan produktivitas.
e.    Tahap Pembubaran (Adjourning)
        Tahap adjouning adalah tahap akhir dari proses dinamika kelompok. Saat kelompok berakhir seringkali anggota kelompok mengalami kesedihan dan kekhawatiran. Mereka cenderung menraik diri dan mengurangi partisipasi diri mereka dalam kelompok, sebagai antisipasi dari isu berakhirnya kelompok.  Tahap ini memiliki karakteristik penghentian tugas, pengurangan ketergantungan, penyelesaian tugas, penolakan, dan peningkatan emosional.[2]
C.    Properti Kelompok
1.    Peranan
Peranan merupakan pola tugas dan kewajiban anggota kelompok serta tentang cara bagaimana suatu tugas dibagi-bagi antar anggota kelompok. Menurut Thibaut dan Kelley, peranan adalah suatu pola prilaku yang diharapkan dari seseorang oleh orang-orang lain bila ia melakukan interaksi dengan mereka ( A role is a behaviornpettern that the others expect of a person when he orvshe interact with them).[3]
Torrance pernah melakukan suatu penelitian pada tahun 1954 terhadap 62norang awak pesawat yang berstatus tetap dan 32 orang yang berstatus sementara. Dalam jumlah tersebut, termasuk pilot, penembak meriam dan navigator, yang jelas sangat berbeda peranannya. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa besar atau kecilnya pengaruh setiap anggota kelompok umumnya tergantung pada peranan yang dipegang oleh masing-masing. Ternyata bahwa pilotlah yang mempunyai peranan besar, sedangkan juru tembak meriam mempunyai peranan yang kecil.
2.    Norma
Norma kelompok merupakan suatu cara melihat atau memandang sesuatu yang dimiliki suatu kelompok, berupa sikap, nilai ataupun aturan permainan bersama.Norma kelompok memberikan arah dan isi bagaimana anggota kelompok berinteraksi dan berprilaku. 
Hackman menyebutkan beberapa persyaratan yang diperlukan bagi terbentuknya suatu norma kelompok, yaitu:
a.       Norma merupakan ciri struktural dari kelompok yang menyimpulkan dan menyederhanakan proses saling memengaruhi ( Norms are structural characteristics of group wich summarize and simplify group influence processes)
b.    Norma hanya berlaku terhadap perilaku dalam kelompok dan tidak terhadap pikiran dan perasaan perseorangan (Norms apply only to behavior – not to private thoughs and feelings)
c.    Norma secara umum dikembangkan dalam rangka mengatur perilaku yang dianggap penting oleh anggota kelompok (Norms are generally developed only for behavior which are viewed as important by most group members)
d.      Norma biasanya berkembang secara bertahap, tetapi bila perlu dapat dipersingkat oleh para anggotanya (Norms usually develop gradually, but the process can be shortcutted if members so desire)
e.       Tidak semua norma dapat berlaku bagi setiap orang (Not all norms apply to everyone).[4]
3.    Status
Status merupakan faktor yang menentukan pula dalam daya tarik antar individu. Siapa berintegrasi dengan siapa, seringkali status merupakan faktor penentu. Ada dua tendensi di bidang status ini, yakni seseorang tertarik kepada orang lain karena adanya kesamaan status, dan seseorang itu lebih suka berintegrasi dengan orang lain yang mempunyai status lebih tinggi.[5]
Status merupakan suatu posisi secara sosial atau peringkat yang diberikan kepada kelompok oleh orang lain. Teori karestirtik status merupakan suatu teori yang menyatakan bahwa perbedaan-bedaan dalam karakteristik status akan menciptakan hierarki status dalam kelompok. hal-hal yang menentukan status:
a.    Kekuasaan seseorang yang dimiliki atas orang lain.
b.    Kemampuan seseorang untuk memberikan kontribusi bagi tujuan kelompok.
c.    Karakteristik pribadi individu.
4.    Besaran
Salah satu dari temuan yang paling penting mengenai besaran kelompok dengan memperhatikan kemalasan sosial.
Kemalasan sosian (social loafing) adalah kecendrungan bagi para individu untuk mengeluarkan sedikit upaya ketika bekerja secara kolektid daripada ketika bekerja secara individu.
5.    Kekompakan
Kekompakan (cohesiveness) adalah keadaan yang mana para anggota kelompok tertarik satu sama lain dan termotivasi untuk tetap bertahan dalam kelompok.
6.    Keragaman
Keragaman (diversity) adalah sejauh aman para anggota dari suatu kelompok memiliki kesamaan, atau berbeda  satu sama lain.
Lini kesalahan (faultlines) adalah divisi yang dipandang membagi kelompok menjadi dua atau lebih subkelompok yang didasarkan pada perbedaan individu, misalnya jenis kelamin, ras, umur, pengalaman kerja, dan pendidikan.[6]
D.    Pengambilan Keputusan Kelompok
Pengambilan keputusan merupakan suatu proses memilih di antara beberapa pilihan dengan pertimbangan yang matang, menjatuhkan pilihan. Menurut Dermawan (2004) menyebutkan bahwa pengambilan keputusan adalah ilmu dan seni pemilihan alternatif solusi atau alternatif tindakan dari sejumlah alternatif solusi dan tindakan yang tersedia guna menyelesaikan masalah. Selain itu, pengambilan keputusan juga dapat berarti seseorang atau sekelompok yang berwenang untuk membuat pilihan akhir atau keputusan memilih diantara beberapa alternatif solusi terhadap masalah atau pencapaian tujuan.[7]
Dalam pengambilan suatu keputusan, terdapat suatu teknik yang digunakan. Antara lain:
1.      Kelompok Interaktif, yaitu anggota berinteraksi secara langsung dengan anggota lain.
2.      Kelompok Nominal, yaitu membatasi komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan keputusan, karena masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
Adapun proses kegiatan pengambilan keputusan pada prinsipnya meliputi setidaknya empat aktivitas, aktivitas yang pertama adalah kegiatan inteligensi. Kegiatan inteligensi yang dimaksud disini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk kepentingan membuat keputusan. Yang kedua, kegiatan perancangan. Yaitu kegiatan menemukan, mengembangkan dan analisis berbagai kemungkinan tindakan dalam rangka pembuatan keputusan. Ketiga, kegiatan pemilihan, merupakan kegiatan memilih atau menentukan tindakan tertentu dari berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil. Keempat, kegiatan peninjauan. Tindakan yang telah dipilih kemudian dilaksanakan dan dievaluasi.
a.         Kelebihan Pengambilan Keputusan Kelompok
Berikut beberapa kelebihan pengambilan keputusan:
1)   Informasi yang lengkap lebih mungkin diadakan. Dalam kelompok   terhimpun banyak pengalaman dan pandangan daripada seseorang.
2)   Banyak alternatif yang muncul, karena kelompok mempunyai informasi banyak dalam jumlah dan ragamnya serta dapat mengidentifikasi lebih banyak kemungkinan. Lebih-lebih suatu kelompok terdiri atas berbagai keahlian dan latar belakang pengalaman.
3)   Keputusan kelompok lebih diterima. Karena keputusan kelompok lebih menelaah banyak pandangan dan pendapat, sehingga keputusannya lebih besar kemungkinan mendapat persetujuan lebih dari banyak orang.
4)   Meningkatkan kesempatan terlaksananya hak orang banyak. Keputusan kelompok lebih sesuai dengan hak demokrasi.
b.         Kekurangan Pengambilan Keputusan Kelompok
Selain mempunyai kelebihan, pengambilan keputusan kelompok juga mempunyai beberapa kelemahan, diantanya ialah:
1)   Memakan Waktu. Keputusan kelompok diperoleh dari hasil diskusi yang panjang, banyak waktu dipakai untuk rapat.
2)   Dominasi Minoritas. Tidak mungkin dalam satu kelompok terwakili semua kepentingan dalam organisasi dan seringkali hanya terdiri atas segelintir orang saja.
3)   Tekanan untuk menyesuaikan. Dalam kelompok ada saja golongan yang mempunyai pengaruh dan menekan kelompok untuk menyesuaikan diri dengan kehendaknya.
Tanggungjawab tersamar. Pada keputusan individual jelas siapa yang bertanggungjawab, tapi pada keputusan kelompok dari mereka (para anggota) tidak bisa dimintai pertanggungjawaban perorangan. Tanggungjawab perorangan luluh dalam tanggungjawab bersama.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
            Kelompok adalah sekelompok orang yang beranggotakan lebih dari dua orang/lebih, Mereka berkerjasama atau berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama dan terstruktur. Kelompok diklasifikasikan menjadi dua, yang pertama formal; kelompok yang kenggotaannya terstruktur resmi, yang kedua informal; yang berkembang atas saling tertarik, akan kebutuhan, saling melengkapi/karena kesamaan sikap.
Menurut Tuckman tahapan – tahapan dalam pengembangan kelompok ada lima  pertama, Tahap Pembentuksan (Forming). Kedua, Tahap Timbulnya Konflik (Storming. Ketiga, Tahap nomalisasi (Norming). Keempat, Tahap Kinerja (Performing). Kelima, Tahap Pembubaran (Adjourning).
Dalam pengambilan suatu keputusan, terdapat suatu teknik yang digunakan. Antara lain: Kelompok Interaktif, yaitu anggota berinteraksi secara langsung dengan anggota lain. Kelompok Nominal, yaitu membatasi komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan keputusan, karena masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
proses kegiatan pengambilan keputusan meliputi setidaknya empat aktivitas, aktivitas yang pertama adalah kegiatan inteligensi. Kegiatan inteligensi yang dimaksud disini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk kepentingan membuat keputusan. Yang kedua, kegiatan perancangan. Yaitu kegiatan menemukan, mengembangkan dan analisis berbagai kemungkinan tindakan dalam rangka pembuatan keputusan. Ketiga, kegiatan pemilihan, merupakan kegiatan memilih atau menentukan tindakan tertentu dari berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil. Keempat, kegiatan peninjauan.
DAFTAR PUSTAKA

Thoha, Miftah.  2014. Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo.
Ibrahim I, Adam. 2014. Teori, Prilaku, Dan Budaya Organisasi. Bandung: PT Refika Aditama
Kho, Budi, Tahap-tahap Perkembangan Kelompok, https://ilmumanajemenindustri.com. 8 juli    2016. 
Yaumil Ulfah K, My Blog :Perilaku keoragnisasian, http://yaumilulfahkamila.blogspot.com, Minggu, 12 april 2015.
Wienur A, Laksmi. Pengambilan Keputusan.  http://PDFrepository.ump.ac.id. .2016.



[1] Miftah Thoha,Organisasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2014), hlm. 79.
[2] Budi Kho, Tahap-tahap Perkembangan Kelompok, https://ilmumanajemenindustri.com. 8 juli    2016. 
[3] Adam Ibrahim I, Teori, Prilaku, Dan Budaya Organisasi, (Bandung: PT Refika Aditama, 2014), hlm. 90-92.
[4] Adam Ibrahim I, Teori, Prilaku, Dan Budaya Organisasi, ........................................, hlm. 78-79.
[5] Miftah Thoha, Organisasi, (Jakarta: PT RajaGrafindo, 2014), hlm. 97.
[6] Yaumil Ulfah K, My Blog :Perilaku keoragnisasian, http://yaumilulfahkamila.blogspot.com, Minggu, 12 april 2015.
[7] Laksmi Wienur A, Pengambilan Keputusan, http://PDFrepository.ump.ac.id. .2016.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...