MAKALAH
DASAR DAN PERILAKU KELOMPOK
Dosen
Pengampu : Agus Fawait, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun
oleh : 1. Nur Fadilah
2.
Nur Aini
3.
Munawwaroh Nur M
4.
Elok Firdausiyah
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai. Dan tidak lupa kami banyak terima kasih kepada
pihak yang banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih
prestasi yang gemilang. Kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah dan
juga teman-teman sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam
belajar pada masa mendatang.
Penyusun
Bondowoso,
21 November 2018
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................ i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB
I PENDAHULUAN ........................................................... 1
A. Latar Belakang.............................................................................
1
B.
Rumusan
Masalah ....................................................................... 2
C.
Tujuan Masakah .......................................................................... 2
BAB
II PEMBAHASAN……………………………………….. 3
A. Pengertian
dan Klasifikasi Kelompok ....................................... 3
B. Tahap -
tahap dalam Pengembangan Kelompok ....................... 4
C. Properti Kelompok
.................................................................... 6
D. Pengambilan Keputusan Kelompok
......................................... 9
BAB
III PENUTUP……………………………………………... 12
A. Kesimpulan
.................................................................................
12
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................
13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia diciptakan Tuhan
sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam menjalankan peran sebagai
makhluk sosial, manusia cenderung untuk hidup berkelompok satu sama lain. Di
dalam kelompok yang terbentuk, pasti terjadi suatu interaksi yang menghasilkan
suatu konflik sebagai bentuk dari dinamika kelompok itu sendiri. Ketika
dinamika kelompok terjadi secara terus menerus, sedikit demi sedikit konflik
yang ada dalam kelompok akan menjadi suatu dorongan tersendiri untuk
mengembangkan kelompok tersebut.
Kelompok sosial atau sosial group dapat diartikan sebagai himpunan atau
kesatuan manusia yang hidup bersama karena adanya hubungan antar mereka, di
mana hubungan tersebut menyangkut hubungan timbal balik yang saling
mempengaruhi dan juga suatu kesadaran untuk saling menolong. Namun kelompok
sosial itu dapat pula mirip dengan dengan situasi massa jika suatu perkumpulan
yang berstruktur telah mempunyai anggota cukup banyak, misalnya suatu
organisasi massa yang anggotanya satu persatu jarang mengadakan interaksi serba
intensif dan yang kadang-kadang saja berkumpul dalam jumlah yang lengkap,
sehingga interaksi antara anggotapun terbatas.Untuk membedakan kelompok sosial
dengan kelompok-kelompok lainnya, maka ada beberapa persyaratan untuk kelompok
sosial, diantaranya sebagai berikut :
1.
Setiap anggota kelompok harus sadar bahwa dia
merupakan bagian dari kelompok.
2.
Adanya hubungan timbal balik antara anggota yang
satu dengan yang lain.
3.
Suatu faktor yang dimiliki bersama, sehingga
hubungan antara mereka bertambah erat, faktor tersebut berupa kesamaan
nasib,kepentingan tujuan, ideologi dan politik.
4.
Memiliki struktur, kaidah, dan
mempunyai pola perilaku.
5.
Memiliki sistem dan melalui proses.
Kelompok sosial bukan
merupakan kelompok yang statis. Setiap kelompok sosial selalu mengalami
perkembangan atau perubahan. Beberapa kelompok sosial sifatnya lebih stabil
daripada kelompok lainnya. Strukturnya tidak banyak mengalami perubahan yang
mencolok. Namun, adapila kelompok sosial yang mengalami perubahan yang cepat,
walaupun tidak ada pengaruh dari luar. Berkembangnya kelompok sosial yang
terbentuk di masyarakat akan memberikan pengaruh terhadap kestabilan kondisi
lingkungan di masyarakat, baik pengaruh yang positif maupun negatif.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud
Pengertian dan Mengklasifikasikan Kelompok ?
2. Bagaimana Tahap - tahap dalam Pengembangan Kelompok ?
3. Bagaimana properti
kelompok ?
4. Bagaimana
pengambilan Keputusan Kelompok ?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui pengertian dan Klasifikasi Kelompok
2. Mengetahui Tahap - tahap dalam Pengembangan Kelomok
3. Mengetahui Properti Kelompok
4. Mengetahui Pengambilan Keputusan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Klasifikasi Kelompok
Kelompok merupakan bagian dari kehidupan
manusia. Tiap hari manusia akan terlibat dalam aktifitas kelompok demikian pula
kelompok merupakan bagian dari kehidupan organisasi. Dalam organisasi akan
banyak dijumpai kelompok-kelompok ini. Hampir manusia menjadi anggota dari
suatu organisasi besar atau kecil adalah sangat kuat kecendrungannya untuk
mencari keakraban dalam kelompok-kelompok tertentu. Dimulai dari adanya
kesamaan tugas pekerjaan yang dilakukan, kedekatan tempat kerja, seringnya
berjumpa, dan barangkali adanya kesamaan kesenangan bersama, maka timbullah
kedekatan satu sama lain. Mulailah mereka berkelompok dalam organisasi
tertentu.[1]
Dalam literatur ilmu administrasi dan
manajemen, istilah kelompok tidak sama dengan pengertian sehari-hari.
Sekelompok orang yang sama-sama antri membeli karcis kereta api, dari segi ilmu
administrasi bukanlah kelompok (group), karena pada mereka tidak ada
ikatan psikologis. Oleh sebab itu, para ahli ilmu perilaku sering menamakan
dengan istilah “psychological group”, atau kelompok yang mempunyai
ikatan psikologis.
Schein
mengatakan bahwa: “ A psychological group is any number of people who (1)
interact whith another, (2) are psychologically aware to another, and (3)
perceive themselves to be a group.” Maksudnya, kelompok yang mempunyai
ikatan psikologis adalah sejmlah orang yang: (1) saling berhubungan, (2) saling
memperhatikan (secara psikologis), (3) menerima kenyataan sebagai suatu
kelompok. Dari rumusan tersebut , Hammar dan Organ menambahkan, bahwa: “ A
psychological group works toward a common goal.”
Jadi,
menurut Hammar dan Organ ada 4 hal penting dari kelompok, yaitu adanya
saling berhubungan (interaksi), saling memerhatikan, merasa sabagai satu
kelompok, dan untuk pencapaian tujuan bersama.
Sedangka
Duncan mengatakan bahwa, “ A group is defined as two or more people who
interact to accomplish a common goals, the interaction is lasting and display
at least some structure.” Yang artinya, suatu kelompok terdiri dari dua
orang atau lebih yang berinteraksi untuk tujuan bersama, interaksi tersebut
bersifat relatif tetap dan mempunyai struktur tertentu.”
Adapun klasifikasi
kelompok, anatara lain:
1. Kelompok formal
Ialah
kelompok yang keanggotaannya terjadi menurut struktur resmi. Contoh, kelompok
kerja, panitia dan team dosen, panitia penerimaan mahasiswa baru
merupakan beberapa contoh kelompok formal. Sebagaimana yang dikutip oleh
Duncan, mengatakan bahwa ciri khas kelompok ini ialah: adanya peranan khusu,
norma yang kaku, dan adanya sanksi untuk menjamin konformitas (kesesuaian).
2. Kelompok Informal
Ialah
kelompok yang berkembang atas dasar perasaan saling tertarik, karena kebutuhan
akan tukar-menukar informasi, untuk saling melengkapi ataupun karena kesamaan
sikap. Ciri khas kelompok ini antara lain ialah: Spontanitas, emosional, dan
luwes dalam arti terbatas pada kepentingan tertentu saja, dan biasanya untuk
jangka waktu yang tidak tertentu. Persahabatan, rasa setia kawan, dan sedaerah
merupakan unsur pendorong terbentuknya kelompok informal ini.
Kesimpulan dari pengertian tersebut,
kelompok merupakan dua
orang atau lebih yang saling berinteraksi seta bergabung bersama untuk mencapai
tujuan-tujuan bersama.
B. Tahap - tahap dalam
pengembangan kelompok
Tuckman (1965) mengemukakan lima tahap dalam proses kelompok
yaitu forming, storming, norming,
performing, dan terkahir adjourning.
Berikut Tahapan proses perkembangan kelompok :
a. Tahap Pembentuksan (Forming)
Tuckman
menggambarkan tahap ini adalah tahap percobaan atau partisipasi dengan keragu –
raguan, karena anggota kelompok mencari tahu tingkah laku apa yang dapat
diterima oleh kelompok dan awal individu untuk menyesuaikan diri dengan yang
lainnya.. Pada saat ini anggota kelompok masih sangat tergantung oleh pemimpin
kelompok. Tahap ini dicirikan oleh banyak sekali ketidakpastian mengenai
maksud, struktur, kepemimpinan kelompok. Tahap ini akan selesai ketika para
anggota mulai berpikir tentang diri mereka sendiri bahwa mereka juga termasuk
dari suatu kelompok. Karakteristik pada tahap ini adalah interaksi sementara,
wacana kesopanan, perhatian melalui ambiguitas dan lebih cenderung diam.
b. Tahap Timbulnya Konflik (Storming)
Tahap
storming dicirikan dengan adanya
konflik dalam kelompok, ketidakpuasan dengan yang lainnya, persaingan antar
anggota, dan ketikdaksetujuan akan prosedur yang ada. Anggota kelompok
mengalami konflik baik dengan sesama anggota kelompok atau pemimpin kelompok.
Berbeda dengan tahap forming pada
tahap ini anggota kelompok lebih cenderung menunjukkan masing – masing
pribadinya dan ketegangan dalam kelompok cenderung meningkat. Didalam tahap ini
memiliki karakteristik terdapat ide-ide yang dikritisi, pembiacara yang
diinterupsi, kurangnya kehadiran anggota, dan permusuhan dalam kelompok.
c. Tahap Normalisasi (Norming)
Norming
merupakan massa penenangan setelah konflik Tuckman mendeskripsikannya sebagai
tahap kohesif dimana anggota sudah dapat menerima keunikan dan perbedaandalam
kelompok. Anggota kelompok merasa bagian dari kelompok dan menerima norma –
norma dalam kelompok. Walaupun setiap anggota memiliki interpretasi dan
persepsi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, tetapi penekanannya
adalah pada harmoni. Anggota mengesampingkan konflik yang ada dan lebih
mengembangkan norma – norma dalam kelompok. Dalam tahap ini mulai terbentuk
struktur, peran, dan rasa kebersamaan. Karakteristik tahap ini adalah persetujuan
dalam peranan, pencarian mufakat, dan peningkatan suportivitas.
d.
Tahap Kinerja (Performing)
Performing
merupakan tahapan dimana kelompok berfokus pada tujuan kelompok. Pada tahap ini
anggota kelompok saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang mereka
anut bersama. Menurut Tuckman, dalam tahap performing
struktur interpersonal yang terbentuk dan berkembang pada tahap – tahap sebelumnya menjadi modal
dan sangat berpengaruh dalam penyelesaian masalah dan tugas untuk mencapai
tujuan tersebut. Masalah interpersonal merupakan bagian dari masa lalu dan
sebagai pembelajaran bersama, seluruh anggota kelompok menuangkan energinya
untuk mencapai tujuan bersama. Tahap ini memiliki karakteristik fokus terhadap
hasil, orientasi tugas yang tinngi, menekankan pada penampilan dan
produktivitas.
e. Tahap Pembubaran (Adjourning)
Tahap adjouning adalah tahap akhir dari proses dinamika kelompok. Saat
kelompok berakhir seringkali anggota kelompok mengalami kesedihan dan
kekhawatiran. Mereka cenderung menraik diri dan mengurangi partisipasi diri
mereka dalam kelompok, sebagai antisipasi dari isu berakhirnya kelompok. Tahap ini memiliki karakteristik penghentian
tugas, pengurangan ketergantungan, penyelesaian tugas, penolakan, dan peningkatan
emosional.[2]
C. Properti Kelompok
1. Peranan
Peranan
merupakan pola tugas dan kewajiban anggota kelompok serta tentang
cara bagaimana suatu tugas dibagi-bagi antar anggota kelompok. Menurut Thibaut
dan Kelley, peranan adalah suatu pola prilaku yang diharapkan dari seseorang
oleh orang-orang lain bila ia melakukan interaksi dengan mereka ( A role is
a behaviornpettern that the others expect of a person when he orvshe interact
with them).[3]
Torrance
pernah melakukan suatu penelitian pada tahun 1954 terhadap 62norang awak
pesawat yang berstatus tetap dan 32 orang yang berstatus sementara. Dalam
jumlah tersebut, termasuk pilot, penembak meriam dan navigator, yang jelas
sangat berbeda peranannya. Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa besar
atau kecilnya pengaruh setiap anggota kelompok umumnya tergantung pada peranan
yang dipegang oleh masing-masing. Ternyata bahwa pilotlah yang mempunyai
peranan besar, sedangkan juru tembak meriam mempunyai peranan yang kecil.
2. Norma
Norma
kelompok merupakan suatu cara melihat atau memandang sesuatu yang dimiliki
suatu kelompok, berupa sikap, nilai ataupun aturan permainan bersama.Norma
kelompok memberikan arah dan isi bagaimana anggota kelompok berinteraksi dan
berprilaku.
Hackman
menyebutkan beberapa persyaratan yang diperlukan bagi terbentuknya suatu norma kelompok,
yaitu:
a. Norma merupakan ciri struktural dari
kelompok yang menyimpulkan dan menyederhanakan proses saling memengaruhi ( Norms
are structural characteristics of group wich summarize and simplify group
influence processes)
b. Norma hanya berlaku terhadap perilaku
dalam kelompok dan tidak terhadap pikiran dan perasaan perseorangan (Norms
apply only to behavior – not to private thoughs and feelings)
c. Norma secara umum dikembangkan dalam
rangka mengatur perilaku yang dianggap penting oleh anggota kelompok (Norms
are generally developed only for behavior which are viewed as important by most
group members)
d. Norma biasanya berkembang secara
bertahap, tetapi bila perlu dapat dipersingkat oleh para anggotanya (Norms
usually develop gradually, but the process can be shortcutted if members so
desire)
e. Tidak semua norma dapat berlaku bagi
setiap orang (Not all norms apply to everyone).[4]
3. Status
Status merupakan faktor yang
menentukan pula dalam daya tarik antar individu. Siapa berintegrasi dengan
siapa, seringkali status merupakan faktor penentu. Ada dua tendensi di bidang
status ini, yakni seseorang tertarik kepada orang lain karena adanya kesamaan
status, dan seseorang itu lebih suka berintegrasi dengan orang lain yang
mempunyai status lebih tinggi.[5]
Status merupakan suatu
posisi secara sosial atau peringkat yang diberikan kepada kelompok oleh orang
lain. Teori karestirtik status merupakan suatu teori yang menyatakan bahwa
perbedaan-bedaan dalam karakteristik status akan menciptakan hierarki status
dalam kelompok. hal-hal yang menentukan status:
a. Kekuasaan seseorang yang dimiliki atas
orang lain.
b. Kemampuan seseorang untuk memberikan
kontribusi bagi tujuan kelompok.
c. Karakteristik pribadi individu.
4. Besaran
Salah satu dari temuan
yang paling penting mengenai besaran kelompok dengan memperhatikan kemalasan
sosial.
Kemalasan sosian (social
loafing) adalah kecendrungan bagi para individu untuk mengeluarkan sedikit
upaya ketika bekerja secara kolektid daripada ketika bekerja secara individu.
5. Kekompakan
Kekompakan (cohesiveness)
adalah keadaan yang mana para anggota kelompok tertarik satu sama lain dan
termotivasi untuk tetap bertahan dalam kelompok.
6. Keragaman
Keragaman (diversity)
adalah sejauh aman para anggota dari suatu kelompok memiliki kesamaan, atau
berbeda satu sama lain.
Lini kesalahan (faultlines)
adalah divisi yang dipandang membagi kelompok menjadi dua atau lebih
subkelompok yang didasarkan pada perbedaan individu, misalnya jenis kelamin,
ras, umur, pengalaman kerja, dan pendidikan.[6]
D. Pengambilan Keputusan Kelompok
Pengambilan keputusan
merupakan suatu proses memilih di antara beberapa pilihan dengan pertimbangan
yang matang, menjatuhkan pilihan. Menurut Dermawan (2004) menyebutkan bahwa
pengambilan keputusan adalah ilmu dan seni pemilihan alternatif solusi atau
alternatif tindakan dari sejumlah alternatif solusi dan tindakan yang tersedia
guna menyelesaikan masalah. Selain itu, pengambilan keputusan juga dapat
berarti seseorang atau sekelompok yang berwenang untuk membuat pilihan akhir
atau keputusan memilih diantara beberapa alternatif solusi terhadap masalah
atau pencapaian tujuan.[7]
Dalam pengambilan suatu
keputusan, terdapat suatu teknik yang digunakan. Antara lain:
1. Kelompok Interaktif, yaitu anggota
berinteraksi secara langsung dengan anggota lain.
2. Kelompok Nominal, yaitu membatasi
komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan keputusan, karena
masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
Adapun proses kegiatan
pengambilan keputusan pada prinsipnya meliputi setidaknya empat aktivitas,
aktivitas yang pertama adalah kegiatan inteligensi. Kegiatan inteligensi yang
dimaksud disini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk kepentingan
membuat keputusan. Yang kedua, kegiatan perancangan. Yaitu kegiatan menemukan,
mengembangkan dan analisis berbagai kemungkinan tindakan dalam rangka pembuatan
keputusan. Ketiga, kegiatan pemilihan, merupakan kegiatan memilih atau
menentukan tindakan tertentu dari berbagai alternatif tindakan yang dapat
diambil. Keempat, kegiatan peninjauan. Tindakan yang telah dipilih kemudian
dilaksanakan dan dievaluasi.
a.
Kelebihan
Pengambilan Keputusan Kelompok
Berikut beberapa
kelebihan pengambilan keputusan:
1) Informasi yang lengkap lebih mungkin
diadakan. Dalam kelompok terhimpun banyak
pengalaman dan pandangan daripada seseorang.
2) Banyak alternatif yang muncul, karena
kelompok mempunyai informasi banyak dalam jumlah dan ragamnya serta dapat
mengidentifikasi lebih banyak kemungkinan. Lebih-lebih suatu kelompok terdiri
atas berbagai keahlian dan latar belakang pengalaman.
3) Keputusan kelompok lebih diterima.
Karena keputusan kelompok lebih menelaah banyak pandangan dan pendapat,
sehingga keputusannya lebih besar kemungkinan mendapat persetujuan lebih dari
banyak orang.
4) Meningkatkan kesempatan terlaksananya
hak orang banyak. Keputusan kelompok lebih sesuai dengan hak demokrasi.
b.
Kekurangan
Pengambilan Keputusan Kelompok
Selain
mempunyai kelebihan, pengambilan keputusan kelompok juga mempunyai beberapa
kelemahan, diantanya ialah:
1) Memakan Waktu. Keputusan kelompok
diperoleh dari hasil diskusi yang panjang, banyak waktu dipakai untuk rapat.
2) Dominasi Minoritas. Tidak mungkin dalam
satu kelompok terwakili semua kepentingan dalam organisasi dan seringkali hanya
terdiri atas segelintir orang saja.
3) Tekanan untuk menyesuaikan. Dalam kelompok
ada saja golongan yang mempunyai pengaruh dan menekan kelompok untuk
menyesuaikan diri dengan kehendaknya.
Tanggungjawab tersamar.
Pada keputusan individual jelas siapa yang bertanggungjawab, tapi pada
keputusan kelompok dari mereka (para anggota) tidak bisa dimintai
pertanggungjawaban perorangan. Tanggungjawab perorangan luluh dalam
tanggungjawab bersama.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kelompok
adalah sekelompok orang yang beranggotakan lebih dari dua orang/lebih, Mereka
berkerjasama atau berinteraksi untuk mencapai tujuan bersama dan terstruktur.
Kelompok diklasifikasikan menjadi dua, yang pertama formal; kelompok yang
kenggotaannya terstruktur resmi, yang kedua informal; yang berkembang atas
saling tertarik, akan kebutuhan, saling melengkapi/karena kesamaan sikap.
Menurut Tuckman tahapan –
tahapan dalam pengembangan kelompok ada lima
pertama, Tahap Pembentuksan (Forming). Kedua, Tahap Timbulnya
Konflik (Storming. Ketiga, Tahap nomalisasi (Norming). Keempat, Tahap Kinerja
(Performing). Kelima, Tahap Pembubaran (Adjourning).
Dalam pengambilan suatu
keputusan, terdapat suatu teknik yang digunakan. Antara lain: Kelompok
Interaktif, yaitu anggota berinteraksi secara langsung dengan anggota lain. Kelompok
Nominal, yaitu membatasi komunikasi antar pribadi selama proses pengambilan
keputusan, karena masing-masing individu mengemban tugas secara independen.
proses kegiatan pengambilan keputusan meliputi
setidaknya empat aktivitas, aktivitas yang pertama adalah kegiatan inteligensi.
Kegiatan inteligensi
yang dimaksud disini merupakan kegiatan mengamati lingkungan untuk kepentingan
membuat keputusan. Yang kedua, kegiatan perancangan. Yaitu kegiatan menemukan,
mengembangkan dan analisis berbagai kemungkinan tindakan dalam rangka pembuatan
keputusan. Ketiga, kegiatan pemilihan, merupakan kegiatan memilih atau
menentukan tindakan tertentu dari berbagai alternatif tindakan yang dapat
diambil. Keempat, kegiatan peninjauan.
DAFTAR PUSTAKA
Thoha, Miftah. 2014. Organisasi. Jakarta: PT
RajaGrafindo.
Ibrahim I, Adam. 2014. Teori,
Prilaku, Dan Budaya Organisasi. Bandung: PT Refika Aditama
Yaumil
Ulfah K, My Blog :Perilaku keoragnisasian, http://yaumilulfahkamila.blogspot.com, Minggu, 12 april 2015.
[1] Miftah Thoha,Organisasi,(Jakarta: PT RajaGrafindo, 2014),
hlm. 79.
[3] Adam Ibrahim I, Teori, Prilaku, Dan Budaya Organisasi,
(Bandung: PT Refika Aditama, 2014), hlm. 90-92.
[4] Adam Ibrahim I, Teori, Prilaku, Dan Budaya Organisasi,
........................................, hlm. 78-79.
[6] Yaumil Ulfah K, My Blog :Perilaku keoragnisasian, http://yaumilulfahkamila.blogspot.com,
Minggu, 12 april 2015.
