Tampilkan postingan dengan label Manajemen sumber daya manusia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen sumber daya manusia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Manajemen Sumber Daya Manusia

MAKALAH
MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA
KINERJA


Abdul Goffar, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun Oleh :
HUSNUL KHOTIMAH
NUR AINI
SITI KHOLILAH
AYU APRILIANA

PROGRAM MANAJMEN PENDIDIKAN ISLAM
STAI AT – TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017/2018


KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Dan tidak lupa kami banyak terima kasih kepada pihak yang banyak membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan senantiasa menjadi sahabat dalam belajar untuk meraih prestasi yang gemilang. Kritik dan saran dari dosen pengampu mata kuliah dan juga teman-teman sangat kami harapkan untuk perbaikan dan penyempurnaan dalam belajar pada masa mendatang.

                                                                        Bondowoso, 15  Mei  2018


                                                                                    Penyusun

DAFTAR ISI
JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A.    Latar Belakang................................................................................. 1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................... 1
C.     Tujuan Masalah ............................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 3
A.    Berapa Pendapat tentang Kinerja ................................................... 3
B.     Pengertian Kinerja dan Manajemen Kinerja ................................... 3
C.     Penilaian Kinerja ............................................................................. 4
BAB III PENUTUP ................................................................................... 19
A.    Kesimpulan ..................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 20



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Produktivitas kerja/kinerja telah menjadi pusat perhatian dari berbagai kalangan baik pemerintahan maupun perusahaan atau organisasi secara umum. Perhatian yang begitu besar terhadap produktivitas/kinerja dapat dipahami karena menyangkut efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya manusia dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi. Dari berbagai sistem yang dapat mempengaruhi produktivitas sumber daya manusia adalah sistem manajemen kinerja dan pengembangan karir.
Sistem manajemen kinerja pada dasarnya adalah apa yang secara umum sering disebut dengan penilaian prestasi kerja. Pengertian manajemen kinerja dimulai sejak tahap perencanaan prestasi dengan menetapkan apa atau yang bagaimana yang harus dicapai, dan kegiatan apa saja yang harus dilakukan untuk dicapainya, dan akhirnya evaluasi prestasi itu sendiri. Sistem manajemen kinerja sendiri memiliki beberapa fokus  yang dapat dinilai, yaitu penilaian yang berfokus pada individu karyawan, penilaian yang berfokus pada proses melakukan pekerjaan, dan penilaian yang berfokus pada hasil atau output.
Disamping sistem manajemen kinerja, sistem lain yang diharapkan dapat mempengaruhi produktivitas/kerja karyawan adalah sistem pengembangan karir. Sistem pengembangan karir yang baik akan dapat memberikan motivasi yang tinggi kepada karyawan, dimana karyawan yang kinerjanya  baik akan mendapatkan karir yang baik demikian sebaliknya sehingga karyawan terpacu untuk meningkatkan produktivitas/kinerja.
B.   Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Pendapat tentang Kinerja?
2.      Apa Pengertian Kinerja dan Manajemen Kinerja?
3.      Bagaimana Penilaian tentang Kinerja?
C.  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui Pendapat tentang Kinerja
2.      Untuk mengetahui Pengertian Kinerja dan Manajemen Kinerja
3.      Untuk mengetahui Penilaian Kenerja



BAB II
PEMBAHASAN
A.  Beberapa Pendapat tentang Kinerja
Menurut Seymour dalam Swasto, kinerja merupakan tindakan-tindakan atau pelaksaaan yang dapat diukur. Sedangkan Stoner, mendifinisikan kinerja sebagai kuantitas dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan oleh individu, kelompok atau organisasi.[1]
Definisi diatas menunjukkan hasil-hasil prilaku yang dinilai dengan kriteria atau standart mutu. Ketika membicarakan kinerja, biasanya berfikir tentang dimensi baik-buruk. Artinya, apabila seseorang memberikan  hasil pekerjaan yang sesuai deiteria yang telah dilakukan oleh organisasi, maka kinerja yang dimiliki orang tersebut tergolong baik, jika tidak, berarti berkinerja buruk.
Beragamnya definisi kinerja  menunjukkan konsep kinerja belom mendapatkan kata sepakat diantara para peneliti. Secara umum, menurut Mitchell (1988), kinerja bisa menunjukkan dalam berbagai cara:
1.    Kinerja bisa menunjukkan prilaku yang sama yang berlangsung sepanjang waktu (misalnya, rata-rata pukulan)
2.    Kinerja bisa menunjukkan prilaku yang berbeda yang ditunjukkan dengan tingkat konseptualisasi yang tinggi (misalnya, kehadiran)
3.    Kinerja bisa menunjukkan perolehan-perolehan (outcomes) yang tidak erat kaitannya dengan tindakan-tindakan tertentu (misalnya, penjualan)
4.    Kinerja bisa didefinisikan dalam istilah yang umum yang menujjukan sifat-sifat global daripada prilaku spesifik (misalnya, ketegasah, keramah tamahan)
5.    Kinerja busa didefinisikan sebagai hasil-hasil prilaku kelompok dari pada prilaku individu (seperti, kemenangan permainan)
B.  Pengertian Kinerja dan Manajemen Kinerja
Anwar Prabu Mangkunegara mengemukakan bahwa kinerja merupakan hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggun jawab yang diberikan kepadanya.[2]
Mondy mengemukakan bahwa manajemen kinerja adalah proses beriorentasi tujuan yang diarahkan untuk memastikan bahwa proses-proses keorganisasian ada pada tempatnya untuk memaksimalkan produktivitas para karyawan, tim dan akhirnya organisasi.[3]
As’ad (1998:47) memberikan batasan bahwa prestasi kerja sebagai kesuksesan seseorang dalam melaksakan pekerjaan atau “successful role achievement” dimana seseorang memperolehnya dari perbuataqnnya sendiri. Artinya prestasi kerja merupakan hasil yang dicapai seseorang menurut ukuran yang berlaku terhadap pekerjaan yang bersangkutan.
Soeprihanto (2000:7) memberikan pendapat tentang prestasi kerja merupakan hasil kerja seseorang selama periode tertentu dibandingkan dengan berbagai kemungkinan, misalnya standar, target/sasaran atau kriteria yang telah disepakati bersama. Maka dapat disimpulkan bahwa prestasi kerja merupakan taraf  kesuksesan yang dicapai oleh tenaga kerja baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif sesuai dengan kriteria dan ukuran yang ditetapkan untuk pekerjaan itu sendiri.
C.  Penilaian Kinerja
Hampir seluruh perusahaan melakukan tindakan informal ataupun formal dalam menilai kinerja karyawan mereka. Penilaian kinerja berati mengaevaluasi kinerja karyawan ini atau di masa lalu relatif terhadap standar kinerjannya(prestasi). Saat “penilaian kinerja biasanya terlintas alat penilaian khusus seperti formulir penilaian pengajaran, formulir sesusngguhnya hanyalah bagian dari proses penilaian. Penilaian kerja juga selalu mengasumsikan bahwa karyawan memahamai apa standar kinerja mereka, dan penyedia juga memberikan karyawan umpan balik, pengembangan, dan intensif yang diperlukan untuk membantu orang yang bersangkutan menghilangkan kinerja yang kurang baik atau melanjutkan kinerja yang baik.[4]
Mondy mendefinisikan penilaian kinerja sebagai suatu sistem formal untuk menilai dan mengevaluasi kinerja tugas karyawan, baik individu maupun tim. Penilaian kinerja seringkali dianggap sebagai tindakan rutunitas yang tidak disukai dan negatif serta dianggap tidak memerlukan keahlian. Padahal penilaian kinerja merupakan kegiatan penting dan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan.[5]
Sedangkan menurut Desseler, penilaian kinerja berarti mengevaluasi kinerja keryawan saat ini atau di masa lalu relatif terhadap standar prestasinya.[6]
Handoko, menyatakan bahwa penilaian kinerja (performance apprasional) adalah proses melalui mana organisasi-organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan. Kegiatan ini dapat memeperbaiki keputusan-keputusan personalia dan memberikan umpan balik kepada karyawan tenteng pelaksaan kerja mereka. Artinya penilaian kerja merupakan suatu tahapan-tahapan yang dilakukan untuk melakukan penilaian terhadap hasil kerja karyawan.
Alewine, menyatakan bahwa penialain kinerja adalah untuk membuat karyawan memandang diri mereka sendiri seperti adanya, mengenali kebutuhan perbaikan kinerja kerja dan untuk berperan serta dalam membuat rencana perbaikan kinerja.
Dari uraian-uraian tentang penilaian kinerja dapat disimpulkan bahwa setiap penilaian prestasi kerja karyawan haruslah benar-benar memiliki tujuan yang jelas, seperti apa yang ingin dicapai, sehingga manfaat penilaian prestasi kerja menjadi lebih dirasakan organisasi dan karyawan yang bersangkutan.
Setiap perusahaan, lembaga pndidikan, yayasan pendidikan perlu melakukan penilaian prestasi kerja para karyawannya, untuk mengetahui prestasi yang dapat dicapai oleh setiap karyawan. Apakah prestasinya termasuk kategori baik, cukup atau kurang. Dengan melaksakan penilaian berarti karyawan mendapat perhatian dari pimpinan, sehingga akan mendorong mereka lebih giat dalam bekerja. Kesemuanya itu dapat terjadi bila penialaian dilakukan secara jujur dan objektif.
Selanjutnya timpe menguraikan adanya empat alasan mengapa harus dilakukan penilaian kinerja para karyawan, yaitu:
1.    Sebagai alat memotivasi karyawan yang berorientasi prestasi
2.    Sebagai dasar pemberian ganjaran (kenaikan gaji), kompensasi, insentif, hadiah pelayanan, liburan, dan promosi
3.    Sebagai dasar disiplin (status pekerjaan tetap, penurunan pangkat, pemecatan)
4.    Sebagai pedoman untuk persyaratan pelatihan dan pengembangan perorangan.[7]
Suatu tinjauan sepintas lalu saja mengenai alasan diatas segera mengungkapkan bahwa alasan itu langsung menuju jangtung syarat keberhasilan kelompok manajamen. Alasan tersebut mengakut segi-segi yang bisa mendorong atau bisa menghambat kemajuan organisasi.
Handoko, menyatakan kegunaan-kegunaan penilaian prestasi kerja dapat dirinci sebagai berikut:
1.    Perbaikan Prestasi Kerja
Umpan balik pelaksaan kerja memungkinkan karyawan, manajer dan departemen personalia dapat membetulkan kegiatan-kegiatan mereka untuk memperbaiki prestasi
2.    Penyesuaian-penyasuaian Kompensasi
Evaluasi prestasi kerja membantu para pengembil keputusan dalam menetukan kenaikan upah, pemberian bonus dan bentuk kompensasi lainnya
3.    Keputusan-keputusan Penempatan
Promosi, transfer dan demosi biasanya didasarkan pada prestasi kerja masa lalu atau intisipasinya. Promosi sering merupakan bentuk merupakan penghargaan terhadap prestasi kerja masa lalu
4.    Kebutuhan-kebutuhan Latian dan Pengembangan
Prestasi kerja yang jelek mungkin menunjukkan kebutuhan latihan. Demikian prestasi yang baik mungkin mencerminkan potensi yang harus dikembangkan
5.    Perencanaan dan Pengembangan Karier
Umpan balik prestasi mengarahkan keputusan-keputusan karier, yaitu tentang jalur karier tertentu yang harus diteliti
6.    Penyimpangan-penyimpangan Proses Staffing
Prestasi kerja yang baik atau jelek mencerminkan kekuatan atau kelemahan prosedur staffing departemen personalia
7.    Ketidakakuratan Informasional
Prestasi kerja yang jelek mungkin menunjukkan kesalahan-kesalahan dalam informasional. Jabatan, rencana-rencana, sumber daya manusia, atau komponen-komponen lain sistem informasi manajemen personalia. Menggantungkan diri pada informasi yang tidak akurat dapat menyebabkan keputusan-keputusan personalia yang diambil tidak tepat
8.    Kesalahan-kesalahan Desain Pekerjaan
Prestasi kerja yang jelek mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam mendesain pekerjaan. Penilaian prestasi membantu diagnose kesalahan-kesalahan tersebut
9.    Kesempatan Kerja yang Adil
Penilaian prestasi kerja yang akurat akan menjamin keputusan-keputusan penempatan internal diambil tanpa deskriminasi
   10. Tantangan-tantangan Eksternal
Kadang-kadang prestasi kerja dipengaruhi oleh factor-faktor diluar lingkungan kerja, sepeerti keluarga, kesehatan, kondisi finansial atau masalah-masalah pribadi lainnya. Dengan penilaian prestasi departemen personalia mungkin dapat menawarkan bantuan.[8]
1.    Tujuan penilaian kinerja
Moekiyat, mengemukakan ada 5 tujuan penilaian prestasi kerja yaitu:
a.       Untuk mengadakan hubungan antara karyawan dan pengawas mereka yang akan mengahasilkan tingkat produktivitas yang tinggi.
b.      Untuk membantu memperkirakan secara seksama apakah yang dapat dihasilkan oleh masing-masing pegawai dalam suatu keseluruhan.
c.       Mengupayakan agar karyawan mengetahui dengan tepat apa yang diharapkan dari mereka, dan seberapa jauh mereka memenuhi harapan ini.
d.      Melakukan upaya tertentu untuk perbaikan-perbaikan.
e.       Untuk sampai kepada suatu penilaian kecakapan pegawai apabila hal ini dibutuhkan oleh perusahaan.[9]
Dari uraian moekiyat dapat disimpulkan bahwa setiap penilaian prestasi kerja karyawan haruslah benar-benar memiliki tujuan yang jelas, seperti apa yang ingin dicapai, sehingga manfaat penilaian prestasi kerja menjadi lebih dirasakan oleh perusahaan lembaga pendidikan dan karyawan yang bersangkutan.
Bagai pegawai, penilaian berguna untuk memberikan umpan balik tentang berbagai hal seperti kemampuan, kekurangan, potensi yang pada akhirnya berguna untuk menentukan jalur, rencana dalam pengembangan karier.
Bagi organisasi hasil penelitian prestasi kerja bermanfaat untuk pengambilan keputusan tentang berbagai hal seperti kebutuhan program pelatihan, rekruitmen ,seleksi, penempatan, promosi, sistem imbalan dan keseluruhan proses manajemen sumber daya manusia secara efektif. 
2.    Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penilaian Kinerja
Mondy mengemukakan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi penilaian kinerja, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor eksternal misalnya legislasi hukum yang mewajibkan sistem-sistem penilaian kinerja baik tidak bersifat diskriminatif, serikat pekerja yang menekankan seniorotas sebagai dasar kenaikan gaji dan promosi. Sedangkan faktor internal misalnya budaya perusahaan yang dapat menjadi faktor penghambat atau faktor pendukung dalam penilaian kinerja.[10]
Sedangkan menurut Dessler ada 5 faktor dalam penilaian kinerja, yaitu:
a.       Kualitas pekerjaan, meliputi: akuisi, ketelitian, penampilan dan penerimaan keluaran;
b.      Kuantitas pekerjaan, meliputi: volume keluaran dan kontribusi;
c.       Supervisi yang diperlukan, meliputi: membutuhkan saran, arahan, atau perbaikan;
d.      Kehadiran, meliputi: regularitas, dapat dipercaya/ diandalkan dan ketepatan waktu;
e.       Konservasi, meliputi: pencegahan, pemborosan, kerusakan, dan pemeliharaan. [11]
Menurut mondy  kriteria penilaian yang paling umum adalah sifat, prilaku, kompetensi, pencapaian tujuan potensi perbaikan.[12]
3.    Metode Penilaian Kinerja
Ada berbagai metode yang bisa digunakan dalam pelaksanaan penilaian prestasi kerja. Metode-metode  penilaian prestasi kerja pada dasarnya dibagai menjadi tiga, yaitu:
a.    Penilaian secara “kebetulan” tidak sistematis dan sering membahayakan.
b.    Metode tradisonal yang sistematis, yang mengukur karakteristik individu, sumbangan karyawan kepada organisasi atau keduanya.
c.    Penilaian yang berdasarkan pada tujuan yang ditetapkan bersama sengan menggunakan “manajemen berdasarkan sasaran” (MBS) atau dikenal dengan “management by objective” (MBO).[13]
1)   Cara Penilaian yang tidak Sistematis
Cara penilaian yang tidak sistematis dan dilakukan secara kenetulan, sering berbahaya didalam penerapannya. Misalnya ada suatu jabatan yang kosong pada suatu organisasi, baru kemudian diakan penilaian seketika terhadap karyawan untuk kemungkinan pengisisan jabatan tersebut. Tentu saja cara ini kurang sistematis karena baru dilakukan pada saat ada lowongan dan tidak konsisten. Karena itu perusahaan yang teratur sebaliknya menggunakan pendekatan yang sistematis.
2)   Penilaian sistematis yang tradisional
Penilaian yang sistematis dan dilakukan secara berkala mempunyai banyak manfaat bagi organisasi. Manfat pertaman dan yang paling penting adalah memberikan informasi yang sangat membantu didalam keputusan-keputusan yang menyangkut masalah-masalah seperti, promosi “lay off dan transfer”. Penilaian yang sistematis ini memberikan informasi sebelum sesuatu itu mungkin diperlukan. Jadi menghindari kemungkinan digunakan “judgement” sesaat. Juga penilaian sistem memberikan informasi didalam bentuk yang memungkinkan dilakukannya perbandingan, dan bisa menopang berbgai keputusan dalam bidang personalia.
Manfaat yang kedua adalah bisa dugunakan untuk mendorong dan mempimpin pengembangan karyawan. Kebanyakan orang ingin mengetahui apa dan bagaimana mereka keberja. Program penilaian kecakapan kerja memberikan informasi ini dalam bentuk yang biasanya bisa dikomunikasikan kepada karyawan.
Persyaratan untuk melakukan penilaian yang akurat dan perodik akan memberikan dorongan kepada pihak atasan untuk melakukan penilaian yang lebih baik. Setiap atasan haruslah mengetahui apa dan bagaimana pekerjaan para bawahannya.
Pada penelitian ini menggunakan metode penilaian manajemen berdasarkan sasaran. Manajemenberdasarkan sasaran meliputi pendefinisian apa yang diharapkan dari para karyawan, ,memperoleh komitmen mereka terhadap sasaran-sasaran yang ditetapkan, dan memastikan bahwa sasaran-sasaran tersebut terpenuhi.
Bagian dasar manajemen melalui sasaran adalah kinerja karyawan dapa diperbaiki bila para karyawanmengetahui apa yang diharapkan dari mereka, kapan mereka diperbolehkan berperan serta dalam proses menetapkan harapan-harapan tersebut dan kapan mereka dinilai dari hasil-hasilnya.
Manajemen Tujuan(mangement by objektives-MBO)
MBO mengharuskan para manajer untuk menetapkan tujuan-tujuan terukur yang spesifik untuk setiap karyawan lalu secara periodik membahas kemajuan tujuan-tujuan tersebut. Istilah MBO secara umum mengacu pada program penilaian dan penetapan tujuan formal keseluruhan organisasi yang komprehensif dan formal, terdiri dari enam langkah :
1)      Menetapkan tujuan organisasi. Menyusun rencana keseluruhan organisasi untuk tahun depan dan menetapkan tujuan spesifik perusahaan berdasarkan rencana strategis perusahaan.
2)      Menetapkan tujuan departemen. Kemudian, kepala departemen mengambil tujuan-tujuan perusahaan (seperti meningkatkan keuntungan 2004 sampai 20%) dan, dengan superioritas mereka, menetapkan bersama-sama tujuan departemen mereka.
3)      Membahas tujuan departemen. Kepala departemen mendiskusikan tujuan departemen dengan semua bawahan, biasanya pada rapat seluruh departemen. Mereka bertanya pada karyawan untuk menetapkan tujuan awal individual mereka sendiri; dengan kata lain, bagaimana setiap karyawan memberikan kotribusi pada tujuan departemen mereka?
4)      Mendefinisikan hasil yang diharapkan (menetapkan tujuan perorangan). Kepala departemen dan bawahannya menetapkan target kinerja individual jangka pendek.
5)      Meninjau kinerja. Kepala departemen membandingkan kinerja aktual dan target dari setiap karyawan.
6)      Memmemberikan umpan balik. Kepala departemen dan karyawan mendiskusikan dan mengevaluasi kemajuan terakhir.
Terdapat tiga masalah dalam menggunakan MBO. Yang utama adalah penetapan sasaran yang tidak jelas, dan tidak dapat diukur. Sasaran seperti “akan melakukan pelatihan pekerjaan yang lebih baik” adalah sasaran yang tidak jelas. Di sisi lain, “akan mempromosikan empat bawahan dalam setahun ini” adalah sasaran yang terukur.
Kedua, MBO memakan waktu. Menetapkan sasaran, mengukur kemajuan, dan memberikan umpan balik membutuhkan beberapa jam per karyawan per tahun, melebihi waktu yang telah anda habiskan untuk melakukan penilaian bagi setiap karyawan.
Ketiga, menetapkan tujuan dengan bawahan terkadang menjadi seperti tarik tambang saat Anda menuntut kuota yang lebih tinggi sementara bawahan Anda menuntut kuota yang lebih rendah. Memahami pekerjaan dan kemampuan perorangan adalah hal yang penting. Untuk memotivasi kinerja, sasaran harus adil dan dapat dicapai. Lebih banyak Anda tahu mengenai pekerjaan dan kemampuan seseorang, lebih percaya diri Anda berurusan dengan standar yang Anda tetapkan.[14] 
4.    Mempersiapkan Penilaian Kinerja
Penilaian sering tidak berhasil untuk tidak melibatkan emosionalnya dalam penilaian prestasi kerja karyawan. Ini menyebabkan evaluasi menjadi bias. Bias adalah distorsi pengukuran yang tidak akurat. Masalah kemungkinan bias terutama bila ukuran-ukuran digunakan bersifat subjektif.
Handoko, menyakan bahwa berbagai bias penilaian yang paling umum terjadi adalah:
a.    Hallo Effect
Hallo effect terjadi bilapendapat pribadi penilaian tentang karyawan mempengaruhi pengukuran prestasi kerja. Sebagai contoh, bila seorang atasan senang kapada seseorang karyawan. Maka pandangan ini bisa mengubah etimasi atasan terhadap prestasi kerja karyawan. Masalah ini paling mudah terjadi bila para penilai harus mengevaluasi teman-teman mereka.
b.    Kesalahan Cenderung Terpusat
Banyak penilai yang tidak suka menilai para karyawan sebagai yang efektif atau tidak efektif, dan sangat tidak baik atau sangat jelek, sehingga penilaian prestasi kerja cenderung dibuat rata-rata. Pada formulir penilaian “ekstrim” tersebut dan menempatkan penilaian pada atau dekat dengan nilai-nilai tengah.
c.    Bias Terlalu Lunak dan Terlalu Keras
Kesalahan terlalu lunak (leniency bias) disebabkan oleh kecenderungan penilai untuk terlalu mudah memberikan nilai baik dalam evaluasi prestasi kerja karyawan. Kesalahan terlalu keras (strickness bias) adalah sebaliknya, yang terjadi karena penilai cenderung terlalu ketat dalam evaluasi mereka. Kedua kesalahan ini pada umumnya terjadi bila standar-standar prestasi tidak jelas.
d.   Prasangka Pribadi
Factor-faktor yang membentuk prasangka pribadi terhadap seseorang atau kelompok bisa mengubah penilaian. Sebagai contoh, seorang atasan pria mungkin senderung memberi penilaian rendah kepada karyawan wanita karena suatu hal. Sebab-sebab prasangka pribadi lain yang mempengaruhi penilaian mencakup factor senioritas, kesukuan, agama, kesamaan kelompok dan status sosial.
e.    Pengaruh Kesan Kerakhir
Bila menggunakan ukuran-ukuran prestasi kerja subjektif, penilaian sangat dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan karyawan yang paling akhir (recently effect). Kegiatan-kegiatan terakhir baik atau buruk, cenderung lebih diingat oleh penilai.[15]
5.    Membandingkan Penilaian Kinerja dan Manajemen Kinerja
Penilaian kinerja berarti mengevaluasi kinerja karyawan saat ini atau di masa lalu relatif terhadap standar prestasinya. Manajemen kinerja adalah proses mengonsolidasikan penetapan tujuan, penilaian dan pengembangan kinerja ke dalam satu sistem tunggal bersama, yang bertujuan memastikan kinerja karyawan mendukung tujuan strategis perusahaan.
Meskipun ide bahwa penilaian harus meningkatkan kinerja karyawan bukan hal baru, banyak manajer melakukan sifat terintegrasi dari proses penetapan tujuan, pelatihan karyawan, kemudian penilaian, dan pemberian penghargaan dengan lebih serius saat ini dibandingkan masa lalu. Mereka menamakannya proses manajemen kinerja yang menyeluruh dan terintegrasi. Kita dapat mendefenisikan manajemen kinerja sebagai proses mengonsolidasikan penetapan tujuan, penilaian dan pengembangan kinerja, ke dalam sistem tunggal bersama, yang bertujuan memastikan bahwa kinerja karyawan mendukung tujuan strategis perusahaan. Manajemen kinerja termasuk praktik manajer mendefinisikan tujuan dan pekerjaan karyawan, mengembangkan kemampuan karyawan, serta mengevaluasi dan memberikan penghargaan pada usaha seseorang yang keseluruhannya ada dalam kerangka bagaimana seharusnya kinerja karyawan berkontribusi untuk mencapai tujuan-tujuan perusahaan.
Ketika telah direncanakan dengan benar, manajemen kinerja tidak hanya melibatkan kepastian rapat dengan bawahan satu atau dua tahun sekali untuk “meninjau kinerja”. Manajemen kinerja berarti penetapan tujuan masuk akal mengenai kebutuhan strategis perusahaan. Yang berarti interaksi harian atau mingguan untuk memastikan perbaikan kinerja dan kapasitas karyawan terus-menerus. Juga melibatkan kepastian secara terus-menerus bahwa karyawan memiliki pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaannya.[16]
Berikut ringkasan komponen proses manajemen kinerja efektif secara rinci:
a.    Berbagi arah berarti mengomunikasikan tujuan-tujuan pada tingkat yang lebih tinggi dalam organisasi (termasuk visi, misi, nilai-nilai, dan strategi) ke seluruh organisasi dan kemudian menerjemahkannya ke dalam tujuan-tujuan departemen yang dapat dilaksanakan.
b.   Klarifikasi pesan berarti mengklarifikasikan peran setiap karyawan berkenaan dengan pekerjaan mereka sehari-hari.
c.    Penetapam tujuan dan perencanaan berarti menerjemahkannya tujuan-tujuan organisasional dan departemen ke dalam tujuan-tujuan yang spesifik bagi setiap karyawan.
d.   Penggabungan tujuan berarti memiliki proses yang  memungkinkan manajer mana pun melihat keterkaitan antara tujuan perorangan karyawan dengan tujuan-tujuan organisasi dan departemen.
e.    Menyusun penetapan tujuan termasuk memastikan bahwa setiap karyawan “berpikir ke depan, pada awal periode kinerja apa pun” “apa yang harus saya lakukan untuk mencapai tujuan-tujuan saya”.
f.    Memonitor kinerja berlanjut termasuk menggunakan sistem berbasis komputer yang mengukur dan kemudian mengemail kemajuan dan pengecualian kemajuan seseorang agar dapat mencapai tujuan kinerjanya.
g.   Umpan balik berlanjut termasuk umpan balik secara langsung ataupun berbasis komputer berkenaan dengan kemajuan untuk mencapai tujuan.
h.   Pelatihan dan dukungan haruslah menjadi bagian yang terintegrasi dari proses umpan balik.
i.     Penilaian kinerja (appraisal) hanyalah satu elemen dalam proses manajemen kinerja. Fokus dalam manajemen kinerja haruslah pada perencanaan dan memengaruhi bagaimana kinerja karyawan memberikan peningkatan pada hasil/keluaran perusahaan.
j.     Penghargaan, pengenalan, dan kompensai semuanya memainkan peranan dalam memberikan konsekuensi yang dibutuhkan untuk menjaga agar tujuan karyawan tersebut tetap pada jalurnya.
k.   Alur kerja dan proses kontrol dan manajemen tingkat pengembalian investasi berarti memastikan bahwa knerja karyawan terhubung dengan benar pada seluruh kinerja terukur perusahaan melalui penetapan tujuan.[17]
Mengapa Manajemen Kinerja?
            Meningkatnya pemanfaatan manajemen kinerja oleh pengusaha menunjukkan beberapa hal. Pertama, makin populernya konsep TQM (Total Quality Manajement) yang disarankan beberapa tahun yang lalu oleh ahli manajemen seperti W. Edwards Deming. Deming berargumen bahwa pada dasarnya, kinerja karyawan lebih merupakan fungsi dari pelatihan, komunikasi, alat, dan pengawasan daripada motivasi pribadi. Kedua, manajemen kinerja memberikan fakta bahwa jangkauan luas dari studi telah menunjukkan bahwa penilaian kinerja tradisional sering tidak hanya tak berguna, tapi kontraproduktif. Ketiga, manajemen kinerja sebagai proses juga mengenali secara eksplisit bahwa dalam lingkupan industri yang kompetitif global saat ini, setiap usaha karyawan harus fokus seperti laser dalam membantu perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuan strategisnya. Berkaitan dengan hal itu, mengadopsi pendekatan manajemen kinerja yang terintegrasi untuk memberikan pedoman, pengembangan, dan penilaian karyawan juga membantu usaha peningkatan secara terus-menerus oleh pengusaha. Perbaikan yang terus-menerus mengacu pada filosofi manajemen yang mengharuskan pengusaha untuk secara terus-menerus bararti menetapkan dan mengupayakan dengan ketat pencapaian kualitas, biaya, pengiriman, dan ketercapaian tujuan yang lebih baik untuk seterusnya. Perbaikan yang terus-menerus berarti menghilangkan yang terbuang di mana pun itu terjadi, termasuk tujuh hal yang terbuang, yaitu produksi lebih, produk rusak, waktu terbuang saat mesin rusak, transportasi, biaya pemrosesan, mekanisme pergerakan, dan persediaan. Inti dari filosofi ini adalah pemikiran bahwa setiap karyawan harus secara terus-menerus meningkatkan kinerjanya, dari satu priode penilaian ke periode penilaian berikutnya. Manajemen kinerja sangat penting dalam proses ini, karena ia mengonsolidasikan penetapan tujuan, penilaian dan pengembangan kinerja menjadi sistem tunggal bersama, yang tujuannya adalah memastikan bahwa kinerja karyawan mendukung tujuan strategis perusahaan (perbaikan yang terus-menerus).[18]

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
Menurut Seymour dalam Swasto, kinerja merupakan tindakan-tindakan atau pelaksaaan yang dapat diukur. Sedangkan Stoner, mendifinisikan kinerja sebagai kuantitas dan kualitas pekerjaan yang dihasilkan oleh individu, kelompok atau organisasi.
Mondy mengemukakan bahwa manajemen kinerja adalah proses beriorentasi tujuan yang diarahkan untuk memastikan bahwa proses-proses keorganisasian ada pada tempatnya untuk memaksimalkan produktivitas para karyawan, tim dan akhirnya organisasi.
Mondy mendefinisikan penilaian kinerja sebagai suatu sistem formal untuk menilai dan mengevaluasi kinerja tugas karyawan, baik individu maupun tim. Sedangkan menurut Desseler, penilaian kinerja berarti mengevaluasi kinerja keryawan saat ini atau di masa lalu relatif terhadap standar prestasinya.
penilaian prestasi kerja karyawan haruslah benar-benar memiliki tujuan yang jelas, seperti apa yang ingin dicapai, sehingga manfaat penilaian prestasi kerja menjadi lebih dirasakan oleh perusahaan lembaga pendidikan dan karyawan yang bersangkutan.
Sedangkan menurut Dessler ada 5 faktor dalam penilaian kinerja, yaitu: Kualitas pekerjaan, meliputi: akuisi, ketelitian, penampilan dan penerimaan keluaran. Kuantitas pekerjaan, meliputi: volume keluaran dan kontribusi. Supervisi yang diperlukan, meliputi: membutuhkan saran, arahan, atau perbaikan. Kehadiran, meliputi: regularitas, dapat dipercaya/ diandalkan dan ketepatan waktu. Konservasi, meliputi: pencegahan, pemborosan, kerusakan, dan pemeliharaan.


DAFTAR PUSTAKA
Priyono. 2010. MANAJEMEN Sumber Daya Manusia. Sidoarjo: Zifatama Publisher.
Prabu M, Anwar. 2005. Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia. Bandung: Refika Aditama.
Mondy, R Wayne. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Erlangga.
Dessler, Gary. 2008. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta Barat: PT INDEKS.


[1] Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 185.
[2] Anwar Prabu M, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia (Bandung: Refika Aditama, 2005), hlm. 67.
[3] R Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 256.
[4] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 222.
[5] R Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 257.
[6] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 322.
[7] Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 188.
[8]Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 188-190.
[9]Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 190-191.
[10] R Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 259.
[11] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 514.
[12] R Wayne Mondy, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta: Erlangga, 2008), hlm. 260.
[13]Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 191-192.
[14] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 337-338.
[15] Priyono, MANAJEMEN Sumber Daya Manusia (Sidoarjo: Zifatama Publisher, 2010), hlm. 193-195
[16] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 322.
[17] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 324.
[18] Gary Dessler, Manajemen Sumber Daya Manusia (Jakarta Barat: PT INDEKS, 2008), hlm. 322-324.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...