MAKALAH
PERENCANAAN
DAN PENGENDALIAN
Dosen Pembimbing :
M. Yazid
Mubarok, S.Pd.I, M.Pd.I
Disusun oleh :
1. Ainul Qomariyah
2. Dian Retno
Fitasari
3. Idamatul Marfuah
4. Nur Aini
5. Sahemi
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
makalah Manajemen
Akutansi Pendidikan yang berjudul “Perencanaan dan Pengendalian”
dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyusun
makalah ini. Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap
makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai perencanaan dan pengendalian.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih
terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kami menerima kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini. Mudah-mudahan
penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi
pembaca.
Penyusun
Bondowoso, 23 November 2018
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................
i
Kata
Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................... 1
A. Latar Belakang............................................................................
1
B.
Rumusan
Masalah ....................................................................... 1
C.
Tujuan ......................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………………… 2
A. Pengertian Pendidikan
................................................................ 2
a. Pengertian Perencanaan.......................................................... 2
b. Tujuan Perencanaan................................................................ 3
c. Manfaat Perencanaan.............................................................. 3
d. Metode Perencanaan.............................................................. 4
B. Pengertian
Mobilitas Sosial......................................................... 6
a. Pengertian Pengendalian......................................................... 6
b. Tujuan Wasdal........................................................................ 6
c. Manfaat Wasdal...................................................................... 7
d. Bentuk Pengawasan............................................................... 7
e. Prosedur Wasdal..................................................................... 10
BAB
III PENUTUP……………………………………………………….. 11
A. Kesimpulan.................................................................................. 11
B.
Saran
........................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 12
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam suatu perusahaan atau
organisasi yang didirikan pastilah memiliki suatu tujuan yang ingin dicapai
dengan cara yang efektif dan efisien. Pencapaian tujuan tersebut memerlukan
perencanaan dan pengendalian kegiatan-kegiatan kerja yang baik. Dari perencanaan
dan kegiatan yang baik diharapkan mampu membantu dan mempermudah organisasi
dalam mencapa tujuannya secara efektif dan efisien. Oleh karena itu
setiap organisasi diharapkan menyusun anggaran, karena penganggaran itu penting
untuk membuat perencanaan dan mengendalikan kegiatan perusahaan. Pengendalaian
dan perencanaan harus disusun secara teliti,penuh pertimbangan dan serta
disesuakaan dengan kondisi perkembangan yang terjadi saat ini.
Perlunya anggaran bagi manajemen
adalah dapat menjabarkan perencanaan, pengawasan, pengendlian, koordinasi dan
sebagai pendomankerja secara sistematis, juga digunakan untuk mengetahui
penyimpangan penyimpangan yang terjadi dan terpenting untuk meningkatkan
tanggung jawab dari masing-masing karyawan atas pekerjaan yang menjadi
kewajibannya.
B. Rumusan Masalah
Untuk
memudahkan penyusunan makalah ini, dibuatlah rumusan masalah sebagaimana
berikut :
- Apa yang dimaksud dengan
perencanaan?
- Apa yang dimaksud dengan
pengendalian?
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui tentang perencanaan
2.
Untuk mengetahui tentang pengendalian
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perencanaan
1. Pengertian
Perencanaan
Perencanaan adalah kegiatan yang akan dilaksanakan. Perencanaan adalah
pengambilan keputusan. Perencanaan menurut Handoko (2003) meliputi (1)
pemilihan atau penetapan tujuan-tujuan organisasi, (2) penentu strategi,
kebijakan, proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran, dan standar
yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Perbedaan perencanaan (planning) dan rencana (plan) menurut Zajda & Gamage (2009),
“planning is a process that precedes
decision making. A plan is can be defined as a decision, with regard to cause
of action.”
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut
perencanaan adalah kegiatan yang akan dilakukan di masa yang akan datang untuk
mencapai tujuan. Dari definisi ini perencanaan mengandung unsur-unsur (1)
sejumlah kegiatan yang ditetapkan sebelumnya, (2) adanya proses, (3) hasil yang
ingin dicapai, dan (4) menyangkut masa depan dalam waktu tertentu.
Perencanaan tidak lepas dari unsur pelaksanaan dan pengawasan termasuk
pemantauan, penilaian, dan pelaporan. Pengawasan diperlukan dalam perencanaan
agar tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan. Pengawasan dalam perencanaan
dapat dilakukan secara preventif dan represif. Pengawasan preventif merupakan
pengawasan yang melekat dengan perencanaannya, sedangkan pengawasan represif
merupakan pengawasan fungsional atas pelaksanaan rencana, baik yang dilakukan
secara internal maupun secara eksternal oleh aparat pengawasan yang ditugasi.[1]
2.
Tujuan
Perencanaan
Perencanaan bertujuan untuk:
a.
Standar
pengawasan, yaitu mencocokkan pelaksanaan dengan perencanannya,
b.
Mengetahui
kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan,
c.
Mengetahui
siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik kualifikasinya maupun
kuantitasnya,
d.
Mendapatkan
kegiatan yang sistematis termasuk biaya dan kualitas pekerjaan,
e.
Meminimalkan
kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga, dan waktu,
f.
Memberikan
gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan,
g.
Menyerasikan
dan memadukan beberapa subkegiatan,
h.
Mendeteksi
hambatan kesulitan yang bakal ditemui, dan
i.
Mengarahkan
pada pencapaian tujuan.[2]
3.
Manfaat
Perencanaan
Perencanaan bermanfaat sebagai:
a.
Standar
pelaksanaan dan pengawasan (memfasilitasi monitoring dan evaluasi),
b.
Pemilihan
berbagai alternatif terbaik (pedoman pengambilan keputusan),
c.
Penyusunan
skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan,
d.
Menghemat
pemanfaatan sumber daya organisasi,
e.
Membantu
manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan,
f.
Alat
memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak terkait,
g.
Alat
menimalkan pekerjaan yang tidak pasti (untuk mengantisipasi masalah yang akan
muncul), dan
h.
Meningkatkan
kinerja (keberhasilan organisasi tergantung keberhasilan perencanaannya).[3]
4.
Metode
Perencanaan
Walaupun Smith (1982) secara umum menyebutkan
delapan metode perencanaan, namun metode ini dapat digunakan untuk perencanaan
pendidikan.
a.
Analisis
sumber-cara-tujuan (mean-ways-goal
analysis)
Metode ini dipakai untuk meneliti sumber-sumber dan
alternatif mencapai tujuan tertentu. Tiga faktor yang perlu dianalisis antara
lain (1) sumber, (2) cara untuk mencapai tujuan, dan (3) tujuan. Ketiga faktor
ini dikaji secara timbal balik.
b.
Analisis
masukan-keluaran (input-output analysis)
Metode ini dipakai untuk mengkaji faktor-faktor
input pendidikan yang mempengaruhi proses dan akibatnya terhadap keluaran
secara interaksi interpendensi. Metode ini untuk menilai alternatif dalam
proses transformasi.
c.
Analisis
ekonomitrik (economitrik analysis)
Metode ini memakai data empiris, statistik, dan
teori ekonomi dalam mengukur perubahan dalam hubungannya dengan ekonomi. Metode
ini dekat dengan pendekatan untung rugi. Metode ini menggunakan persamaan yang
mendeskripsikan hubungan interpendensi variabel-variabel yang ada dalam suatu
sistem.
d.
Diagram
sebab-akibat (cause-effect diagram)
Metode ini dipakai dalam persamaan yang menggunakan
sekuen hipotetik untuk mendapatkan gambaran masa depan. Metode ini mirip dengan
perencanaan stratejik.
e.
Delphi
Metode ini dipakai untuk menentukan sejumlah
alternatif program, mendapatkan asumsi atau fakta yang melandasi pertimbangan
tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai consensus.
Dimulai dengan mengemukakan suatu masalah umum kemudian dijabarkan secara khusus
untuk dipecahkan masing-masing ahlinya.
f.
Heuristik
Metode ini dipakai untuk mendapatkan isu-isu dan
mengakomodasi pendapat yang bertentangan. Metode ini didasarkan atas prinsip
dan prosedur yang mensistematikan langkah-langkah pemecahan masalah.
g.
Analisis
siklus kehidupan (life-cycle analysis)
Metode ini dipakai untuk mengalokasi sumber daya
dengan memperhatikan siklus kehidupan produksi (lulusan), proyek, program, dan
kegiatan pendidikan. Tahapannya meliputi (1) konseptualisasi, (2) spesifikasi,
(3) pengembangan prototype, (4) pengujian dan evaluasi, (5) operasi, dan (6)
produksi (lulusan).
h.
Analisis
nilai tambah (value added analysis)
Metode ini dipakai untuk mengukur keberhasilan
peningkatan lulusan atau pelayanan pendidikan sehingga diperoleh gambaran
konstribusi aspek tertentu terhadap aspek lainnya. Metode ini mirip dengan
teori incremental. Sebagai tambahan, metode yang paling banyak dalam
perencanaan pendidikan tingkat mikro adalah metode proyeksi.[4]
B. Pengendalian
1.
Pengertian
pengendalian
Pengendalian
(Pengawasan) atau controlling adalah bagian terakhir dari fungsi manajemen yang
dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian
itu sendiri. Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam organisasi adalah akibat
masih lemahnya pengendalian sehingga terjadilah berbagai penyimpangan antara
yang direncanakan dengan yang dilaksanakan.
Pengendalian
adalah proses pemantauan, penilaian, dan pelaporan rencana atas pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan untuk tindakan korektif guna penyempurnaan lebih
lanjut. Beda pengendalian dengan pengawasan adalah pada wewenang dari
pengembang kedua istilah tersebut, pengendalian memiliki wewenang turun tangan
yang tidak dimiliki oleh pengawas, pengawas hanya sebatas memberi saran,
sedangkan tindak lanjutnya dilakukan oleh pengendali. Jadi, pengendalian lebih
luas daripada pengawasan. Dalam penerapannya dari pemerintah, pengawasan
sebagai tugas disebut supervisi pendidikan yang dilakukan oleh pengawasan
sekolah ke sekolah-sekolah yang menjadi tugasnya. Kepala sekolah juga berperan
sebagai supervisor di sekolah yang dipimpinnnya, dilingkungan pemerintahan,
lebih banyak dipakai istilah pengawasan dan pengendalian (wasdal).[5]
2. Tujuan wasdal
Tujuan
dan manfaat wasdal antara lain:
a. Menghentikan atau meniadakan kesalahan,
penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidak adilan;
b. Mencegah terulangnya kembali kesalahan,
penyimpangan, penyelewengan, pemborosan, hambatan, dan ketidak adilan;
c. Mendapatkan cara-cara yang lebih baik
atau membina yang telah baik;
d. Menciptakan suasana keterbukaan,
kejujuran, partisipasi, dan akuntabilitas organisasi;
e. Meningkatkan kelancaranoperasi
organisasi
f. Menungkatkan kinerja organisasi
g. Memberikan opini atas kinerja organisasi
h. Mengarahkan manajemen untuk melakukan
koreksi atas maslah-masalah pencapaian kinerja yang ada
i. Menciptakan terwujudnya pemerintahan
yang bersih[6]
3. Manfaat wasdal
Wasdal
dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas dan keterbukaan. Wasdal pada
dasarnya menekankan langkah-langkah pembenahan atau koreksi yang objektif jika
terjadi pembedaan atau penyimpangan antara pelaksanaan dengan perencanaan. [7]
4. Bentuk pengawasan
a. Pengawasan melekat
Istilah
pengawasan melekat (waskat) pertama kali muncul dalam impres No. 15 tahun 1983 tentang
pedoman pelaksanaan pengawasan dan impress No. 1 tahun 1983 tentang pedoman
pengawasan melekat yang menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pengawasan
melekat adalah serangkaian kegiatan yang bersifat sebagai pengendalian yang
terus-menerus, dilakukan langsung terhadap bawahannya, secara perventif dan
represif agar pelaksanaan tugas bawahan tersebut berjalan secara efektif dan
efesien sesuai dengan rencana kegiatan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Dalam
waskat, pelaku pengawsaan adalah atasan yang dianggap memiliki kekuasaan
(power) dan dapat bertindak bebas dari konflik kepentingan. Dalam konsep
waskat, para pelaku pengawasan lainnya seperti bawahan, orang lain, sistem, dan
masyarakat kurang diperhatikan dengan anggapan atasan dapat menjalankan
kekuasaannya sehingga bebas mengawasi bawahannya.[8]
b. Pengawasan fungsional
Istilah
pengawasan fungsional (wasnal) secara resmi pertama kali muncul dalam impress
No.15 tahun 1983 tentang pedoman pelaksanaan pengawasan yang menyebutkan bahwa
pengawasan fungsional ialah setiap upaya pengawasan yang dilakukan oleh aparat
yang ditunjuk khusus untuk melakukan audit secara bebas terhadap objek yang
diawasinya.aparat wasnal malakukan tugas berupa pemeriksaan, verifikasi,
konfirmasi, survey, penilaian, audit, dan pemantauan. Verifikasi ialah
mencocokan jumlah dan kualitas barang/jasa dengan kwitansinya. Sedangkan
investigasi ialah menyemukan penyimpangan mengapa kualitas, jumlah, dan
harganya tidak wajar.
Dalam
organisasi besar, wasnal berperan penting untuk membantu manajemen puncak
melakukan pengendalian organisasi dalam mencapai tujuannya. Wasnal dilakukan
manajemen puncak ataupun satuan pengawasan internal dengan dibantu teknologi
informasi yang canggih sebagai kegiatan yang pemantauan. Jadi, fungsi
pemantauan ini tidak dapat dilakukan oleh inkator eksternal dan hanyab dapat
dilakukan oleh manajemen atau wasnal internal yang berwewenang. Wasnal terdiri
atas pengawsan internal dan eksternal.
a) Pengawasan internal
Pengawsan
internal adalah suatu penilaian yang objektif dan sistematis oleh pengawsan
internal atas pelaksanaan dan pengendalian organisasi.
Peran
pengawsaan internal adalah sebagai watchdog dan sebagai agen perubahan (agent
of change). Sebagai watchdog artinya melakukan pemantauan kinerja untuk
mendorong pencapaian rencana dan tugas-tugas organisasi.
Manfaat
pengawsaan internal antara lain:
1) Menyembatani hubungan pimpinan tertinggi
dengan para manajer dan staf dalam rangka memperkecil ketimpangan informasi
2) Mendapat informasi keuangan dan
penggunaan yang tepat dan dapat dipercaya
3) Menghindari atau mengurangi resiko
organisasi
4) Memenuhi standar yang memuaskan
5) Mengetahui penerimaan/ketaatan terhadap
kebijakan dan prosedur internal
6) Mengetahui efisien penggunaan sumber
daya organisasi atau kepastian
terwujudnya penghematan
7) Efektifitas pencapaian organisasi
b) Pengawasan ekternal
Manfaat pengawasan
eksternal adalah untuk meningkatkan kredibilitas keberhasilan dan kemajuan
organisasi.[9]
c. Pengawasan masyarakat
Wasmas dalah
pengawsan yang dilakukan masyarakat atas penyelenggaraan suatu kegiatan. Wasmas
tercipta karena adanya kepatuhan masyarakat terhadap norma, idiologi,
kepercayaan, dan budaya tertentu yang berlaku dalam masyarakat. Wasnal
dilakukan dengan tiga jalur:
a) Langsung oleh masyarakat
b) Pemberitaan di media massa
c) DPR RI/DPRD[10]
d. Pengawasan legislatif
DPR
RI/DPRD adalah lembaga pengawasan yang bertugas mengawasi tindakan eksekutif.
Pengawasan legislatif ini mengawasi tata cara penyelenggaraan pemerintahan dan
keuangan negara. Pengawasan legislatif merupakan pengawasan politik terhadap
eksekutif. DPR RI/DPRD sebagai mitra kerja eksekutif perlu member bantuan agar
amanah Program Pembangunan Nasional (Propenas/Program Pembangunan Daerah
(Propeda) oleh eksekutif dapat dicapai secara efektif dan efisien dari berbagai
sudut pandang termasuk politik.[11]
5. Prosedur wasdal
Langkah-langkah
wasdal seyogianya lebih ditekankan pada hal-hal yang bersifat pencegahan. Untuk
maksud wasdal, setiap wasdal memerlukan indicator kinerja (dalam perencanaan)
yang dapat digunakan sebagai pembanding dengan kinerja yang dihasilkan.
Setiap
wasdal terdiri atas:
a. Pedoman atau rencana waktu, inkator
kinerja, program pembiayaan, dan prosedur pelaksanaannya
b. Umpan balik melalui sistem pelaporan
yang baik
c. Mengevaluasi hasil pemantauan untuk
mendapatkan permasalah permasalahan pelaksanaanya yang harus dipecahkan
d. Tindak lanjut korektif[12]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Perencanaan adalah kegiatan yang
akan dilakukan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan. Dari definisi
ini perencanaan mengandung unsur-unsur (1) sejumlah kegiatan yang ditetapkan
sebelumnya, (2) adanya proses, (3) hasil yang ingin dicapai, dan (4) menyangkut
masa depan dalam waktu tertentu.
Pengendalian (Pengawasan) atau controlling adalah bagian terakhir
dari fungsi manajemen yang dikendalikan adalah perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengendalian itu sendiri. Kasus-kasus yang banyak terjadi dalam
organisasi adalah akibat masih lemahnya pengendalian sehingga terjadilah
berbagai penyimpangan antara yang direncanakan dengan yang dilaksanakan.
B.
Saran
Menyadari bahwa
penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis akan lebih fokus dan
detail dalam menjelaskan tentang makalah diatas dengan sumber-sumber yang lebih
banyak yang tentunya dapat di pertanggung jawabkan.
Semoga makalah yang kami buat dafat bermanfaat bagi kita semua yang
membacanya. Kritik dan saran yang sifatnya membangun kami harapkan untuk masukan dalam pembuatan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Usman, Husaini. 2013. Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset
Pendidikan. Jakarta Timur: PT Ikrar Mandiriabadi.
[1] Husaini
Usman, Manajemen, Teori, Praktik, dan
Riset Pendidikan, (Jakarta Timur: PT Ikrar Mandiriabadi, 2013), hlm. 77.
