Tampilkan postingan dengan label manajemen pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label manajemen pendidikan Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 September 2019

Manajemen Pendidikan Islam


Manajemen Pendidikan Islam
A.    Pengertian Manajemen (umum) dan Menurut Islam
1.    Pengertian Manajemen (umum)
Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola.  Menurut S. P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam manajemen, terdapat dua sistem, yaitu sistem organisasi dan sistem administrasi.[1]
Kamus Webster’s New Cooligiate Dictionary menjelaskan bahwa kata manage berasal dari bahasa italia managgio dari kata managgiare yang selanjutnya kata ini berasal dari bahasa latin manus yang berarti tangan (hand). Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti membimbing dan mengawasi, memperlakukan dengan saksama, mengurus perniagaan atau urusan-urusan, mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata manage  berarti tindakan untuk membimbing atau pemimpin. Manajer berarti pembina yang melakukan tindakan pengendalian, bimbingan dan pengarahan dari sebuah rumah tangga dengan berbuat ekonomis sehingga mencapai tujuan. Pengertian “rumah tangga” di sini luas, mencakup rumah tangga perusahaan, rumah tangga pemerintah dan lain-lain.[2]
Mary Parker Follen mendefinisikan manajemen sebgai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.  Defisini ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan, atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri.
Adapun Stoner mengemukakan bahwa; manajemen adalah proses perencanaan, pengroganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya oragnisasi lainnya agar mencapai tujuan oragnisasi yang telah ditetapkan.[3] Terlihat bahwa Stoner menggunakan kata proses, bukan seni.  Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi suatu didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa memperdulikan keterampilan atau kecakapan khusus  mereka, harus melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.
Ramayulis (2008: 326) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al_Qur’an seperti firman Allah SWT:
يُدَبِّرُالاَمْرَمنَ السَّمَآءِاِلى الارْضِ ثُمَّ يعرُجُ اِليهِ في يومٍ كانَ مقدَارُه الْفَ سنةٍ مِمَّاتعُدُّونَ (5)
Artinya:
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. As-Sajadah: 5)
Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah SWT. Merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sabagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT. Mengatur alam raya ini.[4]
Secara terminologis, pengertian manajemen telah diajukan oleh banyak tokoh manajemen. Pengertian-pengertian yang diajukan berbeda-beda dan sangat terpengaruh dengan latar kehidupan, pendidikan, dasar filsafah, tujuan dan sudut pandang tokoh dalam melihat persoalan yang di hadapi. Dari banyak pengertian tersebut, manajemen dapat diartikan dengan tujuh sudut pandang berikut:
a.    Manajemen sebagai Alat atau Cara (Means)
Millon Brown mengatakan “manajemen adalah alat atau cara untuk menggunakan prang-orang, uang, perlengkapan, bahan-bahan dan metode secara efektif untuk mencapai tujuan.”
b.    Manajemen sebagai Tenaga atau Daya (Force)
Albert Lepawsky berpendapat, “manajemen adalah tenaga atau kekuatan yang memimpin, memberi petunjuk dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.”
c.    Manajemen sebagai Sistem (system)
Sanusi mengartikan manajemen sebagai sistem tingkah laku manusia yang kooperatif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu melalui tindakan-tindakan rasional yang dilakukan secara terus menerus.”
d.   Manajemen sebagai Proses (Process)
George R. Terry menyatakan, “manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.”
e.    Manajemen sebagai Fungsi (Fuction)
Menurut R.C. Devis “manajemen merupakan fungsi dari kepemimpinan eksekutif pada organisasi apa pun”
f.     Manajemen sebagai Tugas (Task)
Didefinisikan oleh Vermon A. Musselman yang dikutip oleh Maman Ukas mengungkapkan, “manajemen sebagai tugas dari perencanaan, pengorganisasian dan penyetafan serta pengawasan pekerjaan yang lainnya agar mencapai satu atau lebih tujuan.”
g.    Manajemen sebagai Aktivitas dan Usaha (Activity/Effort)
Koontz dan Donnel mengatakan, “manajemen adalah usaha mendapatkan sesuatu melalui kegiatan orang lain.”
 Berbagai sudut pandang dan variasi pengertian manajemen tersebut memberi gambaran inti bahwa manajemen adalah usaha menage (mengatur) organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik (doing the right thing), sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar (doing thing right).[5]
2.    Manajemen Menurut Islam
Abu sin merumuskan empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen Islam, yaitu:
a. Landasan nilai-nilai dan akhlak islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai, yaitu: kasih sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insani.
b. Seluruh aktivitas manajemen merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Nilai-nilai ibadah harus dibangun dengan landasan ketauhidan.
c. Hubungan atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Manajemen Islam yang dilandasi oleh etika dan nilai-nilaiagama, menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan problem individu dan sosial di tengah-tengah zaman yang semakin tidak menentu secara moral.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad SAW. adalah sorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. menempatkan manusia sebagai postulatnya atau fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.
Nabi Muhammad SAW. mengelolal (manage) serta mempertahankan (mantain) kerja sama dengan sahabatnya dalam waktu yang lama. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas kreativitas serta prestasi yang ditunjukkan sahabtanya. Ada empat pilar etika manajemen yang ada dalam Islam, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. yaitu: 1) ketauhidan, berarti memandang segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi di dunia adalah milik Allah SWT. manusia hanya mendapatkan amanah untuk mengelolanya. 2) keadilan, artinya segala keputusan menyangkut transaksi dan interaksi dengan orang lain didasarkan pada kesepakatan kerja yang dilandasi oleh akad saling setuju dengan sistem profit and lost sharing. 3) kehendak bebas, artinya manajemen Islam mempersilahkan manusia untuk menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi dan interaksi kemanusiannya sepanjang memenuhi asas hukum yang baik dan benar. 4) pertanggungjawaban, yaitu semua keputusan seorang pimpinan harus di pertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan.
Keempat pilar tersebut membentuk konsep manajemen yang fair ketika melakukan kontrak kerja dengan perusahaan lain ataupun antara pimpinan dan bawahan. Ciri manajemen islami adalah amanah. Jabatan merupakan amanah yang harus di pertanggungjawabkan kepada Allah SWT. seorang manajer harus memberikan hak-hak orang lain, baik mitra bisnisnya ataupun karyawannya. Pimpinan harus memberikan hak untuk beristirahat dan hak untuk berkumpul dengan keluarganya kepada bawahannya . ini merupakan nilai-nilai yang dianjurkan manajemen Islam.[6] 

B.     Pengertian Pendidikan
Perlu diketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan paedagoiek. Pedagogi berarti pendidikan, sedangkan paeda artinya ilmu pendidikan. Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, merenung tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari Yunani dan kata pedagogia berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan, yang menggunakan istilah paidagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno, yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekelolah. Paidagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing/memimpin).
Perkataan paidagogos yang pada mulanya berarti pelayan, kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena, pengertian pai (dari paidagogos) berarti seorang yang bertugas membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah mandiri dan bertanggung jawab.
Pengertian secara sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dsn mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu poses pendidikan. Karena itu, bagaimana pun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.[7]  
John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Dalam Dictionary of Education disebutkan bahwa pendidikan adalah 1) keseluruhan proses ketika seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat tempat mereka hidup. 2) proses sosial ketika orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.
Pendidikan dalam perspektif (sudut pandang tertentu) keindonesiaan, pengertian, fungsi dan tujuan pendidikan dirumuskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara .”
Adapun dalam perspektif Islam, pengertian pendidikan (pendidikan Islam) merujuk pada beberapa istilah, yaitu al-tarbiyah, al-ta’dib, al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut, yang paling populer digunakan dalam menyebutkan praktik pendidikan Islam adalah terminologim al-tarbiyah, seperti penggunaan istilah at-Tarbiyah al-Islamiyah yang berarti pendidikan Islam.
Syeh Muhammad Al-Naquib Al-Attas seorang tokoh pemikiran pendidikan Islam berpendapat bahwa sesungguhnya istilah yang paling tepat untuk pendidikan Islam adalah ta’dib sebab struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu intruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah).
Pendidikan Islam sesungguhnya menghendaki terbentuknya manusia yang berkepribadian Muslim yang semua aspek-aspek kehidupannya berlandaskan kepada ajaran Islam dan seluruh aktivitasnya diyakini sebagai ibadah dalam rangka pengabdian kepada Allah dan penyerahan diri kepada-Nya.[8]
Adapun Pengertian Manajemen Pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008; 260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang miliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya), melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efesiensi dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat. [9]
Daftar Pustaka
Saefullah, U. 2019. Manajemen Pendidikan Islam. Cet. Ke 3. (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA)
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, Cet. Ke 3.  (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Handoko, Tani. 2016. Manajemen, Cet. Ke 3.  (Yogyakarta: BPFE)
Anwar, Muhammad. 2017. Filsafat Pendidikan. Cet. Ke 2. (Depok: KENCANA)




[1] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1
[2] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 23-24
[3] Tani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[4] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1-2
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal.  25-29.
[6] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 48-50.
[7] Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Depok: KENCANA, 2017) cet. Ke 2. Hal. 19-20.
[8] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 114-116 
[9] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 2



Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...