Manajemen Pendidikan Islam
A.
Pengertian Manajemen (umum) dan Menurut Islam
1.
Pengertian Manajemen (umum)
Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage yang berarti
mengatur, mengurus atau mengelola.
Menurut S. P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh
sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam
manajemen, terdapat dua sistem, yaitu sistem organisasi dan sistem
administrasi.[1]
Kamus Webster’s New Cooligiate Dictionary menjelaskan bahwa
kata manage berasal dari bahasa italia managgio dari kata
managgiare yang selanjutnya kata ini berasal dari bahasa latin manus yang
berarti tangan (hand). Kata manage dalam kamus tersebut diberi
arti membimbing dan mengawasi, memperlakukan dengan saksama, mengurus
perniagaan atau urusan-urusan, mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata manage berarti tindakan untuk membimbing atau
pemimpin. Manajer berarti pembina yang melakukan tindakan pengendalian,
bimbingan dan pengarahan dari sebuah rumah tangga dengan berbuat ekonomis
sehingga mencapai tujuan. Pengertian “rumah tangga” di sini luas, mencakup
rumah tangga perusahaan, rumah tangga pemerintah dan lain-lain.[2]
Mary Parker Follen mendefinisikan
manajemen sebgai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Defisini ini mengandung arti bahwa para
manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain
untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan, atau berarti dengan
tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri.
Adapun Stoner mengemukakan bahwa; manajemen adalah proses
perencanaan, pengroganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para
anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya oragnisasi lainnya
agar mencapai tujuan oragnisasi yang telah ditetapkan.[3] Terlihat
bahwa Stoner menggunakan kata proses, bukan seni. Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung
arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi suatu
didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa memperdulikan
keterampilan atau kecakapan khusus
mereka, harus melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan
untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.
Ramayulis (2008: 326) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan
hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan
derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam
Al_Qur’an seperti firman Allah SWT:
يُدَبِّرُالاَمْرَمنَ السَّمَآءِاِلى الارْضِ ثُمَّ يعرُجُ اِليهِ في
يومٍ كانَ مقدَارُه الْفَ سنةٍ مِمَّاتعُدُّونَ (5)
Artinya:
“Dia
mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik
kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut
perhitunganmu” (Q.S.
As-Sajadah: 5)
Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah SWT. Merupakan pengatur
alam. Akan tetapi, sabagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan
mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT. Mengatur alam raya
ini.[4]
Secara terminologis, pengertian manajemen telah diajukan oleh
banyak tokoh manajemen. Pengertian-pengertian yang diajukan berbeda-beda dan
sangat terpengaruh dengan latar kehidupan, pendidikan, dasar filsafah, tujuan
dan sudut pandang tokoh dalam melihat persoalan yang di hadapi. Dari banyak
pengertian tersebut, manajemen dapat diartikan dengan tujuh sudut pandang
berikut:
a.
Manajemen
sebagai Alat atau Cara (Means)
Millon
Brown mengatakan “manajemen adalah alat atau cara untuk menggunakan
prang-orang, uang, perlengkapan, bahan-bahan dan metode secara efektif untuk
mencapai tujuan.”
b.
Manajemen
sebagai Tenaga atau Daya (Force)
Albert
Lepawsky berpendapat, “manajemen adalah tenaga atau kekuatan yang memimpin,
memberi petunjuk dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.”
c.
Manajemen
sebagai Sistem (system)
Sanusi
mengartikan manajemen sebagai sistem tingkah laku manusia yang kooperatif
diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu melalui tindakan-tindakan rasional
yang dilakukan secara terus menerus.”
d.
Manajemen
sebagai Proses (Process)
George
R. Terry menyatakan, “manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari
tindakan-tindakan dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran
yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber
lainnya.”
e.
Manajemen
sebagai Fungsi (Fuction)
Menurut
R.C. Devis “manajemen merupakan fungsi dari kepemimpinan eksekutif pada
organisasi apa pun”
f.
Manajemen
sebagai Tugas (Task)
Didefinisikan
oleh Vermon A. Musselman yang dikutip oleh Maman Ukas mengungkapkan, “manajemen
sebagai tugas dari perencanaan, pengorganisasian dan penyetafan serta
pengawasan pekerjaan yang lainnya agar mencapai satu atau lebih tujuan.”
g.
Manajemen
sebagai Aktivitas dan Usaha (Activity/Effort)
Koontz
dan Donnel mengatakan, “manajemen adalah usaha mendapatkan sesuatu melalui
kegiatan orang lain.”
Berbagai sudut pandang dan variasi pengertian
manajemen tersebut memberi gambaran inti bahwa manajemen adalah usaha menage
(mengatur) organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif
dan efisien. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik (doing the
right thing), sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar (doing
thing right).[5]
2.
Manajemen Menurut Islam
Abu sin merumuskan empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen
Islam, yaitu:
a. Landasan nilai-nilai dan akhlak
islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai, yaitu: kasih
sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insani.
b. Seluruh aktivitas manajemen
merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Nilai-nilai ibadah
harus dibangun dengan landasan ketauhidan.
c. Hubungan
atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan
antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai
universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan dan keseimbangan antara hak
dan kewajiban.
d. Manajemen Islam yang dilandasi
oleh etika dan nilai-nilaiagama, menjadi salah satu alternatif dalam
menyelesaikan problem individu dan sosial di tengah-tengah zaman yang semakin
tidak menentu secara moral.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan
kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad SAW.
adalah sorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya.
Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. menempatkan manusia sebagai
postulatnya atau fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas
tenaganya untuk mengejar target produksi.
Nabi Muhammad SAW. mengelolal (manage)
serta mempertahankan (mantain) kerja sama dengan sahabatnya dalam waktu
yang lama. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas
kreativitas serta prestasi yang ditunjukkan sahabtanya. Ada empat pilar etika
manajemen yang ada dalam Islam, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
yaitu: 1) ketauhidan, berarti memandang segala aset dari transaksi bisnis yang
terjadi di dunia adalah milik Allah SWT. manusia hanya mendapatkan amanah untuk
mengelolanya. 2) keadilan, artinya segala keputusan menyangkut transaksi dan
interaksi dengan orang lain didasarkan pada kesepakatan kerja yang dilandasi
oleh akad saling setuju dengan sistem profit and lost sharing. 3)
kehendak bebas, artinya manajemen Islam mempersilahkan manusia untuk
menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi dan interaksi kemanusiannya
sepanjang memenuhi asas hukum yang baik dan benar. 4) pertanggungjawaban, yaitu
semua keputusan seorang pimpinan harus di pertanggungjawabkan oleh yang
bersangkutan.
Keempat pilar tersebut membentuk
konsep manajemen yang fair ketika melakukan kontrak kerja dengan
perusahaan lain ataupun antara pimpinan dan bawahan. Ciri manajemen islami
adalah amanah. Jabatan merupakan amanah yang harus di pertanggungjawabkan
kepada Allah SWT. seorang manajer harus memberikan hak-hak orang lain, baik
mitra bisnisnya ataupun karyawannya. Pimpinan harus memberikan hak untuk
beristirahat dan hak untuk berkumpul dengan keluarganya kepada bawahannya . ini
merupakan nilai-nilai yang dianjurkan manajemen Islam.[6]
B.
Pengertian Pendidikan
Perlu diketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering
digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan paedagoiek.
Pedagogi berarti pendidikan, sedangkan paeda artinya ilmu
pendidikan. Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, merenung
tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari Yunani dan
kata pedagogia berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan, yang
menggunakan istilah paidagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada
zaman Yunani Kuno, yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan
dari sekelolah. Paidagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge
(saya membimbing/memimpin).
Perkataan paidagogos yang pada mulanya berarti pelayan,
kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena, pengertian pai (dari paidagogos)
berarti seorang yang bertugas membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah
mandiri dan bertanggung jawab.
Pengertian secara sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai
usaha manusia untuk menumbuhkan dsn mengembangkan potensi-potensi pembawaan,
baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan
norma-norma tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk
dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu poses
pendidikan. Karena itu, bagaimana pun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya
berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk
melestarikan hidupnya.[7]
John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pembentukan
kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam
dan sesama manusia. Dalam Dictionary of Education disebutkan bahwa
pendidikan adalah 1) keseluruhan proses ketika seseorang mengembangkan
kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif
dalam masyarakat tempat mereka hidup. 2) proses sosial ketika orang dihadapkan
pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang
dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan
kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.
Pendidikan dalam perspektif (sudut pandang tertentu) keindonesiaan,
pengertian, fungsi dan tujuan pendidikan dirumuskan dalam Undang-undang Sistem
Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3, “Pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran
agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara .”
Adapun dalam perspektif Islam, pengertian pendidikan (pendidikan
Islam) merujuk pada beberapa istilah, yaitu al-tarbiyah, al-ta’dib,
al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut, yang paling populer digunakan
dalam menyebutkan praktik pendidikan Islam adalah terminologim al-tarbiyah, seperti
penggunaan istilah at-Tarbiyah al-Islamiyah yang berarti pendidikan
Islam.
Syeh Muhammad Al-Naquib Al-Attas seorang tokoh pemikiran pendidikan
Islam berpendapat bahwa sesungguhnya istilah yang paling tepat untuk pendidikan
Islam adalah ta’dib sebab struktur konsep ta’dib sudah mencakup
unsur-unsur ilmu intruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah).
Pendidikan Islam sesungguhnya menghendaki terbentuknya manusia yang
berkepribadian Muslim yang semua aspek-aspek kehidupannya berlandaskan kepada ajaran
Islam dan seluruh aktivitasnya diyakini sebagai ibadah dalam rangka pengabdian
kepada Allah dan penyerahan diri kepada-Nya.[8]
Adapun
Pengertian Manajemen Pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis
(2008; 260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang miliki (umat
Islam, lembaga pendidikan atau lainnya), melalui kerja sama dengan orang lain
secara efektif, efesiensi dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan,
baik di dunia maupun di akhirat. [9]
Daftar Pustaka
Saefullah,
U. 2019. Manajemen Pendidikan Islam. Cet. Ke 3. (Bandung: CV.
PUSTAKA SETIA)
Kurniadin,
Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip
Pengelolaan Pendidikan, Cet. Ke 3. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Handoko,
Tani. 2016. Manajemen, Cet. Ke 3. (Yogyakarta: BPFE)
Anwar,
Muhammad. 2017. Filsafat Pendidikan. Cet. Ke 2. (Depok: KENCANA)
[1]
U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA,
2019) cet. Ke 3. Hal. 1
[2] Didin
Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip
Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal.
23-24
[3] Tani
Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[4] U.
Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA,
2019) cet. Ke 3. Hal. 1-2
[5] Didin
Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip
Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3.
Hal. 25-29.
[6] U.
Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA,
2019) cet. Ke 3. Hal. 48-50.
[7] Muhammad
Anwar, Filsafat Pendidikan, (Depok: KENCANA, 2017) cet. Ke 2. Hal.
19-20.
[8] Didin
Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip
Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal.
114-116
[9] U.
Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA,
2019) cet. Ke 3. Hal. 2
