Tampilkan postingan dengan label Kondisi Jazirah Arab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kondisi Jazirah Arab. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2020

Kemunculan Agama islam


MAKALAH
KEMUNCULAN AGAMA ISLAM (KONDISI JAZIRAH ARAB DAN DAKWAH RASUL)




Dosen Pembimbing:
Abdul Wasil, M.HI

Disusun oleh :
1.    Aynul Masturoh
2.    Elok Firdausyiah
3.    Nur Aini
4.    Radinal Walidah
5.    Wahidatul hasanah




PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

BAB 2
PEMBAHASAN
A.    Kondisi Jazirah Arab
Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui oleh jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya ka’bah di tengah kota, Mekkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah didalamnya terdapat 360 berhala mengelilingi berhala utama yaitu Hubal. Agama dan masyarakat Arab mencerminkan realitas kesukuan jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi. Sebagian besar daerah jazirah adalah padang pasir sahara yang terletak di tengah dan memiliki kedaan dan sifat berbeda-beda. ( Badri Yatim: 2005, 9) 
Ka’bah pada masa sebelum islam sudah menjadi tempat yang disucikan dan banyak dikunjungi oleh penganut-penganut asli Mekkah dan orang-orang yahudi yang bermukim di sekitarnya. Untuk mengamanka para peziarah yang datang ke kota itu, didirikanlah suatu pemrintahan yang pada mulanya berada ditangan dua suku yang berkuasa yaitu Jurhum (sebagai pemegang kuasaan politik) dan Ismail (keturunan Nabi Ibrahim). Kekuasaan politik kemudian berpindah ke suku Khuza’ah dan akhirnya ke suku quraisy di bawah pimpinan Qushai. Suku terakhir inilah yang kemudian mengatur urusan-urusan politik dan urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah. ( Badri Yatim: 2005, 4)
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab di bagi menjadi dua golongan besar yaitu Qahthaniyah (keturunan qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat, baik yang nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui. Beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Peperangan antar Clan sering terjadi, sikap ini telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini masih terus berlangsung sampai agama islam lahir.
Akibat peperangan yang terus menerus kebudayaan mereka tidak berkembang karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra islam sangat langka di dapatkan di dunia Arab. Ahmad syalabi menyebutkan, sejarah arab hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama islam. ( Badri Yatim: 2005, 10)
Kehidupan sosial bangsa Arab pada masa itu dengan adanya syair-syair Arab. Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang sangat di hargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya dapat menghina-hinakan orang yang tadinya mulia. ( Fatah Syukur NC: 2009, 24)
Berkembangnya budaya di daerah Arab menjelang kebangkitan Islam berasal dari pengaruh budaya bansa-bangsa seitarnya yang lebih awal maju dari kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk kedaerah Arab melalui beberapa jalur di antaranya ialah melalui hubungan dagnag dengan bangsa lain, melalui kerajaan-kerajaan protektoral, Hirah dan Ghasasan dan melalui masuknya misi yahudi dan kristen.
Walaupun agama yahudi dan kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu percaya kepada dewa yang di wujudkan dalam bentuk berhala dan patung. ( Badri Yatim,t,t., 15). Bangsa arab memiliki karakteristik tersendiri lugas polos keras bagaimana tercermin dari masyarakat primitive dan perawan. Akan tetapi mereka memiliki kelebihan terutama dalam hal berperang, persaudaraan (suku). Bahkan dalam bahasa dan kesusastraan, sehingga mereka dikenal dengan bangsa yang memiliki hafalan yang kuat. Oleh al-qur’an mereka di sebut bangsa yang ummi.
1.      Perjanjian dan Persekutuan
   Perjanjian awal antara kaum muslim mekkah dan para peziarah dari Yatstrib di Aqabah memberikan kesempatan bagi dakwah Nabi Muhammad SAW untuk berkembang di semenanjung tersebut melalui hijrah yang disepakati di kota Yastrib. Suku-suku Aus dan Khazraj dari Yastrib bukan pemeluk Yahudi maupun Kristen, dan perjanjian itu merupakan pengalaman bermanfaat bagi kaum muslim dalam membangun persekutuan dan menyebarkan ajaran islam kepada suku-suku yang lebih bersahabat di Arab.
Begitu kekuasaan muslim di Madinah termantapkan. Nabi Muhammad SAW dengan cepat menjalin hubungan erat dengan komunitas-komunitas tetangga. Guna memenuhi panggilan beliau untuk menyebarkan islam, penting untuk menciptakan kondisi-kondisi yang tepat bagi dialog agama. Demi tujuan ini, utusan utusan Nabi Muhammad SAW mendatangi para penguasa Abisinia, Mesir, Persia, Suriah, dan Yaman.
2.      Orang-orang Kristen Najran
Sekitar tahun 630, Nabi Muhammad SAW menerima delegrasi sekitar 60 rohaniwan dan pemimpin kristen dari Najran dari Yaman. Mereka adalah Trinitarian ortodoks yang dilindungi kekaisaran Bizantian, dan Nabi Muhammad SAW mengizinkan mereka menggunakan masjid untuk beribadah secara Kristen. Ia juga memanfaatkan kunjungan mereka sebagai kesempatan mengundang kaum Yahudi Madinah untuk berdialog agama tiga pihak.
Selama pertemuan mereka, Nabi Muhammad SAW mengkritik kedua agama, meyatakan bahwa mereka menyelewengkan monoteise dan mengutak-atik kitab suci sehingga menyimpangkan ajaran para Nabi terdahulu.
Kaum Najran mengakui kasahihan Muhammad sebagai Nabi namun kebanyakan di antara mereka saat itu menolak masuk agama islam. Akan tetapi, mereka mengizinkan salah satu sahabat beliau, Abu Ubaydah bin Al-Jarrah untuk menyertai mereka ke Yaman sebagai duta pendakwah islam. Dalam beberapa tahun, mayoritas orang Yaman, termasuk kaum Kristen dari Najran, telah masuk islam.
3.      Pendeta-pendeta Abisinia
Kerajaan Kristen Abisinia menjadi tempat pelarian bagi sejumlah kaum muslim awal yang disebut pelaksana hijrah pertama dalam islam Negus dari Abisinia dan Nabi Muhammad SAW saling menghormati, dan sang raja mengirimkan delegasi tujuh pendeta dan lima biarawan ke Madinah. Mereka diperintahkan mengamati Nabi Muhammad SAW dan mempelajari wahyu-wahyunya.
Para rohaniawan Abisinia amat tersentuh oleh ayat-ayat yang mereka dengar dan peristiwa itu nantinya disebutkan dalam Al-Qur’an; ‘’Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘sesungguhnya kami adalah orang Nasrani. ‘yang demikian itu karena diantara mereka terdapat para pendeta dan para rahip, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri ‘’
Sebagai tanggapan, Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat yang mengundang sang raja untuk menerima islam. Tak jelas apakah Negus betul-betul masuk islam, namun ketika dia wafat, Nabi Muhammad SAW mengumumkan kematiannya dan melaksanakan shalat Gaib untuknya. Setelah ‘hijrah pertama’, islam terus berkembang diseluruh Abisinia.
4.      Kaum Yahudi Di Madinah
Hubungan kaum muslim dan yahudi di Madinah kerap kali getir, meskipun banyak diantara mereka banyak yang masuk islam. Dalam upaya memastikan perdamaian di kota itu, ditandatangani perjanjian dengan kaum Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, walaupun bebas melaksanakan agama mereka sendiri dan terbebas dari kewajiban bagi kaum muslim, sejumlah orang yahudi melanggar perjanjian mereka. Mereka diberi dua pilihan; ikut berperang melawan kaum musyrik Mekkah yang sempat bersekutu dengan mereka untuk melawan muslim, atau angkat kaki. Setelah pada awalnya menolak melakukan kedua hal itu, mereka meninggalkan Madinah menuju wilayah Khaybar dan menyerang kaum muslim berkali-kali. Pengkhianatan ini dituntaskan pada pertempuran ahzab(konfederasi) dan serangan kaum muslim setelahnya terhadap Khaybar. Suku-suku dan sekutu-sekutu mereka ditundukkan.
Begitu Mekkah dan sekutu-sekutu mereka takluk, Nabi Muhammad SAW mengalihkan perhatian beliau kepada perjanjian-perjanjian damai dengan suku-suku Badui disekitar mekkah guna memfasilitasi penyebaran islam ke seluruh Jazirah Arab dan lebih jauh lagi.
B.     Dakwah Rasul

1.      Masa Kerasulan
            Beberapa kilometer di Utara Makkah, bertepatan pada tanggal 17 ramadlan 611 M, di Gua Hira malaikat Jibril mucul di hadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan Wahyu Allah yang pertama. ( Dedi Supriyadi: 2008, 61) pada usia Nabi yang menjelang 40 itu Allah telah memilih Muhammad sebagai Nabi. Pada wahyu kedua Nabi di perintahkan untuk menyeru manusia kepada satu agama, yaitu agama Islam. ( Badri Yatim: 18-19)
2.      Perjuangan Dakwah Rasul
            sebagaimana telah di sebutkan di atas bahwasanya perjuangan dakwah Rosulullah itu ada dua tahapan, yaitu secara sirriyah (secara rahasia) dan terang-terangan. Yang mana dalam hal tersebut Rasulullah menjalaninya tak hanya dengan waktu yang singkat, harus melaui perjuangan yang ekstara penuh kesabaran dalam menghadapi musuh-musuh islam. Apa yang di maksud dakwah secara sirriyah dan terang-terangan?
a.       Tahapan Dakwah Sirriyah
Sebagaimana diketahui, kota Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Fanatisme bangsa quraisy tehadap agama nenek moyang telah membuat islam sulit berkembang di Makkah walaupun Nabi Muhammad sendiri berasal dari suku yang sama. Dalam menghadapi hal tersebut Nabi Muhammad mumulai dakwah secara sirriyah(sembunyi-sembunyi) agar penduduk Makkah tidak di kagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka ( Hanif Yahya: 2016, 92)
1.)    as-Sabiqunal al-Awwalun
Merupakan hal wajar bila yang pertama-tama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan islam kepada orang-orang yang hubungannya dekat dengan beliau, keluarga serta sahabat-sahabat karib beliau. Karena itulah, orang yang pertama menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Mereka semua didakwahi oleh beliau untuk memeluk islam. seorang demi seorang diajak agar mau meninggalkan agama berhala agar menyembah Allah yang maha Esa. Usaha yang dilakukan itupun berhasil, dalam sejarah islam mereka dikenal sebagai as-Sabiqunal al-Awwalun (orang-orang pertama masuk islam).  Di barisan terdepan terdaftar  istri Rosulullah, Ummul Mukminin, Khadijah binti khuwalid, kalangan pemuda sekaligus keponakan Rosulullah  Ali bin Abi Thalib Yang ketika itu Sy. Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak dan berada di bawah asuhan Rasulullah, Zaid bin Haristah, tokoh masyarakat yaitu Abu Bakar as-Siddiq. Mereka semua memeluluk islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Sy. Abu Bakar dengan sangat giat mengajak orang-orang kepada agama islam. Beliau merupaka sosol laki-laki yang lembut, disenangi, luwes, tegas dan berbudi luhur serta berbuat baik. Beliau terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu beriteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk islamlah Usman bin Affan al-Umawi, az-Zubair bin Awwam al-Asadi, Abdurrahman bin Auf az-Zuhri, Sa’ad bin Abi Waqash as-Zuhri dan Thalhah bin ubaidillah at-Taimi. Diantara orang-orang pertama lainnya yang masuk islam ialah Bilal bin Rabah al-Habasyi kemudian di ikuti oleh Abu Ubaidah, nama beliau adalah Amir bin Jarrah, beliau berasal dari suku Bani Al-Harist bin Fihr. Selanjutnya menyusul keduanya, Abu Salamah bi Abdul Asad, Al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), Ustman bin Ma’zun serta kedua saudaranya; Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin al-Harist bin Abdul-Muthalib bin Abdu Manaf, Sa’id bi Zaid al-Adawi dan istrinya; Fatimah binti al-Khaththab al-Adawiyah saudara perempuan umar bin khattab, Khabbab bin al-Arat, Abdullah bin Mas’ud al-Huzali , mereka itulah yang dinamakan as-Sabiqun al-Awwalun.  ( Hanif Yahya, 2016, 93-94)


Kemunculan Agama Islam


MAKALAH
KEMUNCULAN AGAMA ISLAM
(KONDISI JAZIRAH ARAB DAN DAKWAH RASUL)



Dosen pembimbing               : Abdul Wasik,M.Hi
Kelompok                              : 2
Anggota                                  :  Aynul Masturoh
                                                   Elok Firdausiyah
                                                   Nur Aini
                                                   Radinal Walidah
                                                   Wahidatul Hasanah
                                               


MANAGEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AT TAQWA
KABUPATEN BONDOWOSO
TAHUN AJARAN 2017-2018


DAFTAR ISI

Kata Pengantar.................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN................................................................................1
A.    Latar Belakang.....................................................................................1
B.     Rumusan Masalah................................................................................2
C.    Tujuan Penulisan..................................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................................3
A.    Kondisi Jazirah Arab...........................................................................3
B.     Dakwah Rasul.......................................................................................7
BAB III PENUTUP.........................................................................................16
A.    Kesimpulan...........................................................................................16
B.     Saran.....................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................ii
BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Secara esensial kehadiran Nabi Muhammad untuk menyebarkan ajaran agama islam pada masyarakat Arab adalah terjadinya kristalisasi pengalaman baru pada dimensi ketuhanan yang mempengaruhi segala aspek kehidupan masyarakat Arab, termaksud hukum-hukum yang digunakan pada masa itu. Keberhasilan Nabi Muhammad dalam memenangkan kepercayaan bangsa Arab relative singkat. Kemampuannya dalam memodifikasi jalan hidup orang-orang Arab yang sebelumnya jahiliah kejalan orang-orang yang bermoral Islam.  
Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad telah membawa bangsa arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak beradab dan tidak terkenal serta diabaikan oleh bangsa lain, menjadi bangsa yang maju, ia dengan cepat bergerak mengembangkan dunia, membina suatu kebudayaan dan peradaban yang sangat penting artinya dalam sejarah manusia hingga sekarang.
Dalam berdakwah Nabi Muhammad tidak hanya menggunakan aspek kenabiannya namun juga menggunakan strategi politik dengan memunculkan aspek-aspek keteladanannya dalam menyelesaikan persoalan. Seperti, dakwah di Mekkah yang terbagi menjadi dua yaitu secara diam-diam dan dakwah secara terbuka. Disini dapat kita lihat adanya strategi Nabi dalam menyeru umat manusia untuk beribadah kepada Allah Swt. Walaupun dalam menjalankan perintah Allah, Nabi mendapat banyak tantangan yang besar dari berbagai pihak namun atas izin Allah segala hal yang dilakukan Nabi dapat berjalan lancar.



B. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dakwah Rasul secara sirriyah dan secara terang-terangan?
2.      Bagaimana kondisi jazirah Arab?
C. Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian dakwah Rasul secara sirriyah dan secara terang-terangan
2.      Untuk mengetahui kondisi jazirah Arab
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Kondisi Jazirah Arab
Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal diantara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui oleh jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya ka’bah di tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah didalamnya terdapat 360 berhala mengelilingi berhala utama yaitu Hubal. Agama dan masyarakat Arab mencerminkan realitas kesukuan jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi. Sebagian besar daerah jazirah adalah padang pasir sahara yang terletak di tengah dan memiliki kedaan dan sifat berbeda-beda. ( Badri Yatim: 2005, 9) 
Ka’bah pada masa sebelum islam sudah menjadi tempat yang disucikan dan banyak dikunjungi oleh penganut-penganut asli Makkah dan orang-orang yahudi yang bermukim di sekitarnya. Untuk mengamankan para peziarah yang datang ke kota itu, didirikanlah suatu pemerintahan yang pada mulanya berada ditangan dua suku yang berkuasa yaitu Jurhum (sebagai pemegang kuasaan politik) dan Ismail (keturunan Nabi Ibrahim). Kekuasaan politik kemudian berpindah ke suku Khuza’ah dan akhirnya ke suku Quraisy di bawah pimpinan Qushai. Suku terakhir inilah yang kemudian mengatur urusan-urusan politik dan urusan-urusan yang berhubungan dengan Ka’bah. ( Badri Yatim: 2005, 4)
Bila dilihat dari asal usul keturunan, penduduk jazirah Arab di bagi menjadi dua golongan besar yaitu Qahthaniyah (keturunan qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat, baik yang nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui. Beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Peperangan antar Clan sering terjadi, sikap ini telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini masih terus berlangsung sampai agama islam lahir.
Akibat peperangan yang terus menerus kebudayaan mereka tidak berkembang karena itu bahan-bahan sejarah Arab pra islam sangat langka di dapatkan di dunia Arab. Ahmad syalabi menyebutkan, sejarah Arab hanya dapat diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama islam. ( Badri Yatim: 2005, 10)
Kehidupan sosial bangsa Arab pada masa itu dengan adanya syair-syair Arab. Syair adalah salah satu seni yang paling indah yang sangat di hargai dan dimuliakan oleh bangsa Arab. Seorang penyair mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam masyarakat bangsa Arab. Salah satu pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat seseorang yang tadinya hina atau sebaliknya dapat menghina-hinakan orang yang tadinya mulia.   ( Fatah Syukur NC: 2009, 24)
Berkembangnya budaya di daerah Arab menjelang kebangkitan Islam berasal dari pengaruh budaya bangsa-bangsa sekitarnya yang lebih awal maju dari kebudayaan dan peradaban Arab. Pengaruh tersebut masuk kedaerah Arab melalui beberapa jalur di antaranya ialah melalui hubungan dagang dengan bangsa lain, melalui kerajaan-kerajaan protektoral, Hirah dan Ghasasan dan melalui masuknya misi Yahudi dan Kristen.
Walaupun agama Yahudi dan Kristen sudah masuk ke jazirah Arab, bangsa Arab kebanyakan masih menganut agama asli mereka yaitu percaya kepada dewa yang di wujudkan dalam bentuk berhala dan patung. ( Badri Yatim,t,t., 15). Bangsa arab memiliki karakteristik tersendiri lugas polos keras bagaimana tercermin dari masyarakat primitive dan perawan. Akan tetapi mereka memiliki kelebihan terutama dalam hal berperang, persaudaraan (suku). Bahkan dalam bahasa dan kesusastraan, sehingga mereka dikenal dengan bangsa yang memiliki hafalan yang kuat. Oleh al-qur’an mereka di sebut bangsa yang ummi.
1.      Perjanjian dan Persekutuan
Perjanjian awal antara kaum muslim mekkah dan para peziarah dari Yatstrib di Aqabah memberikan kesempatan bagi dakwah Nabi Muhammad SAW untuk berkembang di semenanjung tersebut melalui hijrah yang disepakati di kota Yastrib. Suku-suku Aus dan Khazraj dari Yastrib bukan pemeluk Yahudi maupun Kristen, dan perjanjian itu merupakan pengalaman bermanfaat bagi kaum muslim dalam membangun persekutuan dan menyebarkan ajaran islam kepada suku-suku yang lebih bersahabat di Arab.
Begitu kekuasaan muslim di Madinah termantapkan. Nabi Muhammad SAW dengan cepat menjalin hubungan erat dengan komunitas-komunitas tetangga. Guna memenuhi panggilan beliau untuk menyebarkan islam, penting untuk menciptakan kondisi-kondisi yang tepat bagi dialog agama. Demi tujuan ini, utusan utusan Nabi Muhammad SAW mendatangi para penguasa Abisinia, Mesir, Persia, Suriah, dan Yaman.
2.      Orang-orang Kristen Najran
Sekitar tahun 630, Nabi Muhammad SAW menerima delegrasi sekitar 60 rohaniwan dan pemimpin kristen dari Najran dari Yaman. Mereka adalah Trinitarian ortodoks yang dilindungi kekaisaran Bizantian, dan Nabi Muhammad SAW mengizinkan mereka menggunakan masjid untuk beribadah secara Kristen. Ia juga memanfaatkan kunjungan mereka sebagai kesempatan mengundang kaum Yahudi Madinah untuk berdialog agama tiga pihak.
Selama pertemuan mereka, Nabi Muhammad SAW mengkritik kedua agama, meyatakan bahwa mereka menyelewengkan monoteise dan mengutak-atik kitab suci sehingga menyimpangkan ajaran para Nabi terdahulu.
Kaum Najran mengakui kasahihan Muhammad sebagai Nabi namun kebanyakan di antara mereka saat itu menolak masuk agama islam. Akan tetapi, mereka mengizinkan salah satu sahabat beliau, Abu Ubaydah bin Al-Jarrah untuk menyertai mereka ke Yaman sebagai duta pendakwah islam. Dalam beberapa tahun, mayoritas orang Yaman, termasuk kaum Kristen dari Najran, telah masuk islam.
3.      Pendeta-pendeta Abisinia
Kerajaan Kristen Abisinia menjadi tempat pelarian bagi sejumlah kaum muslim awal yang disebut pelaksana hijrah pertama dalam islam Negus dari Abisinia dan Nabi Muhammad SAW saling menghormati, dan sang raja mengirimkan delegasi tujuh pendeta dan lima biarawan ke Madinah. Mereka diperintahkan mengamati Nabi Muhammad SAW dan mempelajari wahyu-wahyunya.
Para rohaniawan Abisinia amat tersentuh oleh ayat-ayat yang mereka dengar dan peristiwa itu nantinya disebutkan dalam Al-Qur’an; ‘’Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, ‘sesungguhnya kami adalah orang Nasrani. ‘yang demikian itu karena diantara mereka terdapat para pendeta dan para rahip, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri ‘’
Sebagai tanggapan, Nabi Muhammad SAW mengirimkan surat yang mengundang sang raja untuk menerima islam. Tak jelas apakah Negus betul-betul masuk islam, namun ketika dia wafat, Nabi Muhammad SAW mengumumkan kematiannya dan melaksanakan shalat Gaib untuknya. Setelah ‘hijrah pertama’, islam terus berkembang diseluruh Abisinia.
4.      Kaum Yahudi Di Madinah
Hubungan kaum muslim dan Yahudi di Madinah kerap kali getir, meskipun banyak diantara mereka banyak yang masuk islam. Dalam upaya memastikan perdamaian di kota itu, ditandatangani perjanjian dengan kaum Yahudi dan Kristen. Akan tetapi, walaupun bebas melaksanakan agama mereka sendiri dan terbebas dari kewajiban bagi kaum muslim, sejumlah orang Yahudi melanggar perjanjian mereka. Mereka diberi dua pilihan; ikut berperang melawan kaum musyrik Mekkah yang sempat bersekutu dengan mereka untuk melawan muslim, atau angkat kaki. Setelah pada awalnya menolak melakukan kedua hal itu, mereka meninggalkan Madinah menuju wilayah Khaybar dan menyerang kaum muslim berkali-kali. Pengkhianatan ini dituntaskan pada pertempuran ahzab(konfederasi) dan serangan kaum muslim setelahnya terhadap Khaybar. Suku-suku dan sekutu-sekutu mereka ditundukkan.
Begitu Mekkah dan sekutu-sekutu mereka takluk, Nabi Muhammad SAW mengalihkan perhatian beliau kepada perjanjian-perjanjian damai dengan suku-suku Badui disekitar mekkah guna memfasilitasi penyebaran islam ke seluruh Jazirah Arab dan lebih jauh lagi.
B.    Dakwah Rasul
1.      Masa Kerasulan
Beberapa kilometer di Utara Makkah, bertepatan pada tanggal 17 ramadhan 611 M, di Gua Hira malaikat Jibril muncul di hadapan Nabi Muhammad untuk menyampaikan Wahyu Allah yang pertama. pada usia Nabi yang menjelang 40 itu Allah telah memilih Muhammad sebagai Nabi. Pada wahyu kedua Nabi di perintahkan untuk menyeru manusia kepada satu agama, yaitu agama Islam. ( Badri Yatim: 18-19)
2.      Perjuangan Dakwah Rasul
Sebagaimana telah di sebutkan di atas bahwasanya perjuangan dakwah Rosulullah itu ada dua tahapan, yaitu secara sirriyah (secara rahasia) dan terang-terangan. Yang mana dalam hal tersebut Rasulullah menjalaninya tak hanya dengan waktu yang singkat, harus melaui perjuangan yang ekstara penuh kesabaran dalam menghadapi musuh-musuh islam. Apa yang di maksud dakwah secara sirriyah dan terang-terangan?
a.       Tahapan Dakwah Sirriyah
Sebagaimana diketahui, kota Makkah merupakan pusat agama bagi bangsa Arab. Di sana terdapat para pengabdi Ka’bah pengurus berhala serta patung-patung yang dianggap suci oleh seluruh bangsa Arab. Fanatisme bangsa Quraisy tehadap agama nenek moyang telah membuat islam sulit berkembang di Makkah walaupun Nabi Muhammad sendiri berasal dari suku yang sama. Dalam menghadapi hal tersebut Nabi Muhammad memulai dakwah secara sirriyah(sembunyi-sembunyi) agar penduduk Makkah tidak di kagetkan dengan hal yang (bisa saja) memancing emosi mereka ( Syaikh Shafiyyurrahman : 2016, 92)
1.)    as-Sabiqunal al-Awwalun
Merupakan hal wajar bila yang pertama-tama yang dilakukan oleh Rasulullah adalah menawarkan islam kepada orang-orang yang hubungannya dekat dengan beliau, keluarga serta sahabat-sahabat karib beliau. Karena itulah, orang yang pertama menerima dakwahnya adalah keluarga dan sahabat-sahabat beliau. Mereka semua didakwahi oleh beliau untuk memeluk islam. seorang demi seorang diajak agar mau meninggalkan agama berhala agar menyembah Allah yang maha Esa. Usaha yang dilakukan itupun berhasil, dalam sejarah islam mereka dikenal sebagai as-Sabiqunal al-Awwalun (orang-orang pertama masuk islam).  Di barisan terdepan terdaftar  istri Rosulullah, Ummul Mukminin, Khadijah binti khuwalid, kalangan pemuda sekaligus keponakan Rosulullah  Ali bin Abi Thalib Yang ketika itu Sy. Ali bin Abi Thalib masih kanak-kanak dan berada di bawah asuhan Rasulullah, Zaid bin Haristah, tokoh masyarakat yaitu Abu Bakar as-Siddiq. Mereka semua memeluluk islam pada permulaan dakwah.
Kemudian, Sy. Abu Bakar dengan sangat giat mengajak orang-orang kepada agama islam. Beliau merupakan sosok laki-laki yang lembut, disenangi, luwes, tegas dan berbudi luhur serta berbuat baik. Beliau terus berdakwah kepada orang-orang dari kaumnya yang dia percayai dan selalu beriteraksi dan bermajlis dengannya. Berkat hal itu, maka masuk islamlah Usman bin Affan al-Umawi, az-Zubair bin Awwam al-Asadi, Abdurrahman bin Auf az-Zuhri, Sa’ad bin Abi Waqash as-Zuhri dan Thalhah bin ubaidillah at-Taimi. Diantara orang-orang pertama lainnya yang masuk islam ialah Bilal bin Rabah al-Habasyi kemudian di ikuti oleh Abu Ubaidah, nama beliau adalah Amir bin Jarrah, beliau berasal dari suku Bani Al-Harist bin Fihr. Selanjutnya menyusul keduanya, Abu Salamah bi Abdul Asad, Al-Arqam bin Abil Arqam (keduanya berasal dari suku Makhzum), Ustman bin Ma’zun serta kedua saudaranya; Qudamah dan Abdullah, Ubaidah bin al-Harist bin Abdul-Muthalib bin Abdu Manaf, Sa’id bi Zaid al-Adawi dan istrinya; Fatimah binti al-Khaththab al-Adawiyah saudara perempuan umar bin khattab, Khabbab bin al-Arat, Abdullah bin Mas’ud al-Huzali , mereka itulah yang dinamakan as-Sabiqun al-Awwalun.  ( Syaikh Shafiyyurahman, 2016, 93-94)
2.)    Perintah Shalat
Termasuk wahyu pertama yang turun adalah peintah mendirikan shalat Ibnu Hajar berkata, “sebelum isra’ terjadi, beliau Rasulullah berdasarkan riwayat yang qath’i (pasti) pernah melakukan shalat, demikian pula para sahabat beliau.
Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa bila waktu shalat telah masuk, Rasulullah SAW dan para sahabat pergi ke lereng-lereng perbukitan dan menjalankan shalat disana secara sembunyi-sembunyi jauh dari pandangan kaum mereka. Abu Thalib pernah sekali waktu melihat Rasulullah SAW dan Ali melakukan shalat lantas menegur keduanya namun manakala dia mengetahui bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang serius, dia memerintahkan keduanya untuk berketetapan hati (tsabat).(Syaikh Shafiyyurahman,2016,95)
3.)    Kaum Quraisy Mendengar Perihal Dakwah Secara Global
Meskipun dakwah pada tahapan ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan bersifat secara individu, namun akhirnya, perihal beritanya sampai juga ke telinga kaum Quraisy. Hanya saja, mereka belum mempermasalahkannya karena Rasulullah SAW tidak pernah menyinggung agama mereka ataupun tuhan-tuhan mereka.
Tiga tahun pun berlalu sementara dakwah masih bisa berjalan secara smbunyi-sembunyi dan individu. Dalam tempo waktu ini, terbentuklah suatu kelompok kaum mukminin yang dibangun atas pondasi ukhuwah (persaudaraan) dan ta’awun (solidaritas) serta penyampaian risalah dan pemantapan posisinya. Kemudian turunlah wahyu yang menugaskan Rasulullah SAW agar menyampaikan dakwah kepada kaumnya secara terang-terangan (jahriyyah), dan menentang kebatilan mereka serta menyerang berhala-berhala mereka.( Syaikh Shafiyyurahman,2016,95)
b.      Dakwah terang-terangan
1.)    Perintah Pertama untuk Menampakkan Dakwah
Sehubungan dengan hal ini, ayat yang pertama turun adalah:
وأنذرعشيرتك الأقربين (٢١٤)                                                               
Wa andzir ‘asyirotakal aqrobin
“ Dan berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat.”(asy-Syu’ara’:214)
Sebelumnya terdapat alur cerita yang menyinggung kisah Musa dari permulaan kenabiannya hingga hijrahnya bersama bani Israil, lolosnya mereka dari kejaran Fir’aun dan kaumnya serta tenggelamnya Fir’aun bersama kaumnya. Kisah ini mengandung semua tahapan yang dilalui oleh Musa dalam dakwahnya terhadap Fir’aun dan kaumnya agar menyembah Allah. ( Syaikh Shafiyyurrahman : 2016, 96)
Seakan-akan rincian ini semata-mata dipaparkan seiring dengan perintah kepada Rasulullah untuk berdakwah kepada Allah secara terang-terangan, agar dihadapan beliau dan para sahabatnya terdapat contoh atas pendustaan dan penindasan yang akan mereka alami nantinya manakala mereka melakukan dakwah tersebut secara terang-terangan. Demikian pula, agar mereka mengetahui resiko dari hal itu semenjak awal memulai dakwah mereka tersebut.
Selain itu, surat tersebut(Asy-Syu’ara’) juga berbicara mengenai nasib yang dialami oleh para pendusta para Rasul, diantaranya sebagaimana yang dialami oleh kaum nabi Lut, serta kaum nabi Syu’aib disamping yang berkaitan dengan perihal Fir’aun dan kaumnya semua itu dimaksudkan agar mereka yang akan melakukan pendustaan menyadari apa yang akan terjadi terhadap mereka dan siksaan Allah yang akan mereka alami bila terus melakukan pendustaan. Sebaliknya, agar kaum mukminin mengetahui bahwa kesudahan yang baik dari itu semua akan berpihak kepada mereka bukan kepada para pendusta tersebut.
2.)    Berdakwah di Kalangan Kaum Kerabat
Setelah turunnya ayat tersebut, Rasulullah mengundang para kerabat terdekatnya, Bani Hasyim. Mereka pun datang memenuhi undangan itu disertai oleh beberapa orang dari Bani Al-Munthalib bin Abdi Manaf. Mereka semua berjumlah sekitar 45 orang laki-laki. Namun tatkala Rasulullah akan berbicara, tiba-tiba Abu Lahab memotongnya seraya berkata ”Mereka itu adalah paman-pamanmu dan para sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah menganut agama baru. Ketahuilah! Bahwa kaummu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab. Aku adalah orang yang paling pantas mencegahmu. Cukuplah bagimu suku-suku dari pihak bapakmu. Bagi mereka, jika engkau bersikeras melakukan apa yang engkau lakukan sekarang, adalah lebih mudah ketimbang bila seluruh marga Quraisy bersama-sama bangsa Arab bergerak memusuhimu. Aku tidak pernah melihat ada orang yang membawa kepada suku-suku dari pihak bapaknya sesuatu yang lebih jelek dari apa yang telah engkau bawa ini.” Rasulullah hanya diam dan tidak berbicara pada pertemuan itu.
Sekali waktu, beliau mengundang mereka lagi, lantas berbicara, ”Alhamdulillah, aku memuji-Nya, meminta pertolongan, beriman serta bertawakkal kepada-Nya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan (yang haq) melainkan Allah semata Yang tiada sekutu bagi-Nya.
Selanjutnya beliau berkata, ”Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan (yang haq) selainNya! Sesungguhnya aku adalah utusan Allah yang datang kepada kalian secara khusus, dan kepada manusia manusia secara umum. Demi Allah! Sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun dari tidur. Sungguh kalian akan dihisab (dimintai pertanggungjawaban) terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang kekal.”
Kemudian Abu Thalib berkomentar,”Alangkah senangnya kami membantumu, menerima nasihatmu, dan sangat membenarkan kata-katamu. Mereka, yang merupakan suku-suku dari pihak bapakmu telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka, namun aku adalah orang yang paling cepat merespek apa yang engkau inginkan. Oleh karena itu, teruskan apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah! Aku hanya senantiasa melindungi dan membelamu, hanya saja diriku tidak memberikan cukup keberanian kepadaku untuk berpisah dengan agama Abdul Muhthalib.”
Ketika itu, Abu Lahab berkata.” Demi Allah! Ini benar-benar merupakan aib yang besar, ayo cegahlah dia sebelum orang lain yang turun tangan yang mencegahnya!”
Abu Thalib menjawab, “ Demi Allah! Sungguh selama kami masih hidup, kami akan membelanya.”
3.)    Di Atas Bukit Shafa
Setelah Nabi merasa yakin dengan semua janji pamannya, Abu Thalib yang akan melindungi dalam tugasnya menyampaikan wahyu Rabbnya, suatu hari beliau berdiri diatas bukit Shafa seraya berteriak, “ Ya Shabahah!” (seruan untuk menarik perhatian orang agar berkumpul di waktu pagi dan biasa digunakan untuk perang). Lalu berkumpullah suku-suku Quraisy. Kemudian nabi mengajak mereka untuk bertauhid (kepada Allah), beriman kepada risalah yang dibawanya dan Hari Akhir.
Nabi naik ketas bukit Shafa, lalu menyeru, “Wahai bani Fihr! Wahai bani Adi! Seruan ini diarahkan kepada marga-marga Quraisy. Kemudian tak berapa lama, mereka pun berkumpul. Karena begitu pentingnya panggilan itu, seorang yang tidak bisa keluar memenuhinya, mengirimkan utusan untuk melihat apa gerangan yang terjadi.? Maka,tak terkecuali Abu Lahab dan kaum Quraisy pun berkumpul juga. Kemudian beliau berbicara, “ Bagaimana menurut pendapat kalian kalau aku beri tahukan bahwa  ada segeombolan pasukan kuda di lembah sana yang ingin menyerang kalian, apakah kalian akan mempercayaiku?”
Mereka menjawab, ‘Ya, Kami tidak pernah tahu dari dirimu selain kejujuran.’
Beliau berkata,’Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan azab yang amat pedih.’
Abu Lahab menanggapi,”celakalah engkau sepanjang hari ini! Apakah hanya untuk ini engkau kumpulkan kami?
Maka ketika itu turunlah ayat:
تبت يدآأبى لهب وتب (1)           
Tabbad yadaa abiy lahabiwwatab
“Binasalah kedua tangan Abu Lahab...” (al-Masad: 1).
Sedangkan  Imam Muslim meriwayatkan satu sisi yang lain dari kisah tersebut, yaitu riwayat dari Abu Hurairah , dia berkata,
“Tatkala ayat turun, Rasulullah mendakwahi meraka, sesekali bersifat umum, dan selesai yang lain bersifat khusus, Beliau berkata, “Wahai Bani Ka’b! Selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fatimah binti Muhammad! Selamatkanlah dirimu dari api neraka. Demi Allah! Sesungguhnya aku tidak memiliki sesuatu pun (untuk menyelamatkan kalian) dari azab Allah, hanya saja kalian memiliki ikatan kerabat (denganku) yang senantiasa akan aku sambung.
Teriak yang keras ini merupakan bentuk dari esensi penyampaian dakwah yang optimal, di mana Rasulullah telah menjelaskan kepada orang-orang yang memiliki hubungan terdekat dengannya bahwa membenarkan risalah yang dibawanya tersebut dengan bentuk efektifitas semua hubungan antara dirinya dan meraka. Demikian pula, bahwa fanatisme kekerabatan yang dibudidayakan oleh orang-orang Arab akan melelehkan di dalam panasnya peringatan yang datang dari Allah tersebut.
4.)    Menyampaikan al-Haq Secara Terang-terangan dan Sikap Kaum Musyikin Terhadapnya
Teriakan lantang yang dipekikkan oleh Rasulullah tersebut masih terasa gaungnya di seluruh penjuru Makkah. Puncaknya saat turunnya Firman Allah,
فاصدع بماتؤمروٲعرض عن المشركين(۹٤)
Fasda’ bima tu’maru wa a’rid ‘anil musyrikin
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadanya) dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.
Lalu Rasulullah melakukan dakwah Islam secara terang-terangan di tempat-tempat berkumpul dan bertemunya kaum Musyrikin. Beliau membacakan Kitabullah kepada mereka dan menyampaikan ajakan yang selalu disampaikan oleh para Rasul terdahulu kepada kaum mereka,” Wahai kaumku! Sembahlah Allah kalian tidak memiliki Tuhan selainNya. Beliau juga mulai memamerkan praktek ibadahnya kepada Allah didepan mata mereka, melakukan di halaman Ka’bah pada siang hari secara terang-terangan dan disaksikan khalayak ramai.
Dakwah yang beliau lalukan tersebut semakin mendapatkan sambutan sehingga banyak orang yang masuk ke dalam agama Allah satu  persatu. Namun kemudian antara mereka (yang sudah memeluk Islam) dan keluarga mereka yang belum memeluk Islam terjadi gap, saling membenci dan saling menjauhi. Melihat hal ini kaum Quraisy merasa gerah dan pemandangan semacam ini amat menyakitnya mereka.
5.)    Sidang Majelis Membahas Upaya Menghalangi Jamaah Haji Agar Tidak Mendengarkan Dakwah ( Rasulullah)
      Sepanjang hari-hari tersebut, ada hal lain yang membuat kaum Quraisy  gundah gulana, yaitu hanya berselang beberapa hari atau bulan saja dakwah jahiliyyah tersebut berlangsung hingga (tak terasa) medekati musim haji/ dalam hal ini, kaum Quraisy mengetahui bahwa delegasi Arab akan datang ke negeri mereka. Oleh karena itu, mereka melihat perlunya merangkai satu pernyataan yang nantinya (secara sepakat) mereka sampaikan  kepada delegasi tersebut perihal Muhammad agar dakwah yang disiarkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jiwa-jiwa delegasi Arab tersebut. Maka berkumpullah mereka dirumah al-Wahid binal-Mughirah untuk membicarakan satu pernyataan yang tepat dan disepakatin bersama tetsebut. Lalu al-Wahid bekata” Bersepakatlah mengenai perihal( Muhammad) dalam satu pendapat dan janganlah berselisih sehingga membuat sebagai kalian mendustakan pendapat sebagian yang lain dan sebagai lagi mementahkan pendapat sebagai yang lain.
      Mereka berkata kepadanya, “Katakanlah kepada kami pendapatmu yang akan kami jadikan acuan”.
      Lalu dia berkata,”Justru kalian yang harus mengemukakan pendapat kalian dan aku sebagai pendengar.”
      Meraka berkata” (Kita Katakan ) dia adalah dukun.”
      Al-Wahid  menjawab,”Tidak!Demi Allah dia bukanlah seorang dukun. Kita telah menyaksikan bagaimana (praktek) para dukun, sedangkan yang dikatakan bukan seperti komat-kamit ataupun sajak (mantera-mantera) para dukun.”
      Mereka berkata lagi,”Kita katakan saja, dia orang gila.”
      Dia menjawab,”Tidak! Demi Allah, dia bukan orang gila. Kita telah mengetahui esensi gila dan telah mengenalnya, sedangkan yang dikatakan bukan dalam kategori tertekan, kerasukan ataupun was-was sebagaimana kondisi kegilaan tersebut.”
      Mereka berkata lagi, “Kalau begitu kita katakan saja, dia adalah seorang penyair.”
      Dia menjawab,”Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengenal semua bentuk syair, rajaz, hazaj, qaridh, maqbudh dan mabsuthnya, sedangkan yang dikatakan bukanlah syair.”
      Mereka berkata lagi,”Kalau begitu,dia adalah tukang sihir.”
      Dia menjawab, “Dia bukanlah seorang tukang sihir, Kita telah menyaksikan para tukang sihir dan macam-macam sihir mereka, sedangkan yang dikatakannya bukanlah jenis nafts (hembusan penyihir) ataupun uqad (buhul-buhul) mereka.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
       penduduk jazirah Arab di bagi menjadi dua golongan besar yaitu Qahthaniyah (keturunan qahthan) dan Adnaniyun (keturunan Islam Ibnu Ibrahim). Masyarakat, baik yang nomadik maupun yang menetap hidup dalam budaya kesukuan badui. Beberapa keluarga membentuk kabilah (clan). Peperangan antar Clan sering terjadi, sikap ini telah menjadi tabiat yang mendarah daging dalam diri orang Arab. Dalam masyarakat yang suka berperang tersebut, nilai wanita menjadi sangat rendah. Situasi ini masih terus berlangsung sampai agama islam lahir. Kehidupan sosial bangsa Arab pada masa itu dengan adanya syair-syair Arab.
Dakwah rasul dibagi menjadi 2 yaitu, secara sirriyah dan secara terang     terangan.
           
B.     Saran
Kami menyadari, dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sebagai penyusun berharap agar ada kritik dan saran dari semua pihak terutama dosen. Kami hanyalah manusia biasa. Jika ada kesalahan, itu datangnya dari kami sendiri. Dan jika ada kebenaran, itu datangnya dari Allah SWT.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. 2016. Sirah Nabawiyah. Jakarta: Darul Haq.
Yatim, Badri. 2005. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Syukur NC, Fatah. 2009. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT Pustaka Riski. 




Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...