MAKALAH
PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT
Dosen
Pengampu : Fitri Nur Hidayat, S.Th.I, M.Pd.I
Disusun
oleh : 1. Husnul Khotimah
2.
Liddini Hanifatur R
3.
Nur Aini
4.
Nurifkiyah Nur L
PROGRAM STUDI MANAJEMEN
PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK
2018/2019
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya
makalah Studi Lembaga Pendidikan Islam yang berjudul “Pendidikan dan Masyarakat”
dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami
mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyusun
makalah ini. Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap
makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai pendidikan dan
masyarakat dilingkugan masyarakat.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih
terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kami menerima kritik dan
saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini. Mudah - mudahan
penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi
pembaca.
Penyusun
Bondowoso,
09 Oktober 2018
DAFTAR ISI
Halaman Sampul............................................................................................ i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB
I PENDAHULUAN ..................................................... 1
A. Latar Belakang........................................................................ 1
B.
Rumusan
Masalah .................................................................. 1
C.
Tujuan Masalah ...................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN………………………………………. 2
A. Pengertian
dan Ciri-ciri Masyarakat ........................................... 2
B. Fungsi
Sekolah dan Masyarakat.................................................. 4
C. Pendidikan
dan Perannya bagi Masyarakat................................. .5
BAB
III PENUTUP…………………………………………….. 9
A. Kesimpulan.................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………… 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan
aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Kelakuan manusia pada
hakikatnya hampir
seluruhnya bersifat sosial, yakni dipelajari dalam interaksi dengan manusia
lainnya. Hampir
semua yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain di
rumah, di sekolah, di tempat bermain, di pekerjaan dan sebagainya.
Dalam pengertian ini pendidikan dimulai dengan
interaksi individu dengan masyarakat lainnya. Dalam masyarakat primitive tidak
ada pendidikan formal yang tersendiri. Setiap anak harus belajar dari
lingkungan sosialnya dan harus menguasai sejumlah kekuatan yang dibutuhkan pada
saatnya tanpa adanya guru tertentu yang bertanggung jawab atas kelakuannya.
Juga dalam masyarakat yang maju kebanyakan kebiasaan dan pola kelakuan yang
pokok dalam kebudayaan dipelajari melalui proses pendidikan atau sosialisasi
informal, bahasa, kebiasan makan, dan kepribadian fundamental sebagian besar
diperoleh melalui pendidikan tak formal.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dan ciri-ciri
masyarakat?
2. Apa saja fungsi sekolah bagi masyarakat?
3. Bagaimanakah peran pendidikan bagi
masyarakat?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dan
ciri-ciri masyarakat
2. Untuk mengetahui fungsi sekolah bagi
masyarakat
3. Untuk mengetahui peran pendidikan bagi
masyarakat
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian dan Ciri-ciri Masyarakat
Mac Iver dan Page menyatakan bahwa masyarakat ialah suatu sistem dari
kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok
dan penggolongan, dari pengawasan antara berbagai kelompok dan penggolongan,
dari pengawasan dan tingkah laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang
selalu berubah. Sedangkan Ralp Linton menyatakan, masyarakat merupakan setiap
kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka
dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan
sosial dengan batas-batas yang dirumuskan secara jelas. Sedangkan Selo
Soemarjan, menyatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama,
yang menghasilkan kebudayaan.[1]
Peter
L Berge mendefenisikan masyarakat suatu keseluruhan yang kompleks hubungan
manusia yang luas sifatnya, didalamnya terdiri atas bagian-bagian yang
membentuk hubungan sosial. Hubungan-hubungan tersebut tidak terjadi
sembarangan, tetapi memiliki keteraturan. Singkatnya semua berjalan menurut
suatu sistem. Berger mendefenisikan juga, masyarakat sebagai yang menunjukkan
kepada suatu sistem interaksi, atau tindakan yang terjadi minimal 2 (dua) orang
yang saling mempengaruhi prilakunya.[2]
Dari defenisi diatas, terdapat beberapa unsur esensial yang terdapat dalam
sebuah masyarakat sebagai berikut; (1) sekelompok manusia yang hidup bersama,
(2) hidup dan bergaul secara bersama
dalam jangka waktu yang cukup lama, (3) adanya kesadaran bahwa mereka
adalah suatu kesatuan sehingga merupakan kelompok yang dapat bertindak secara
otonom, (4) suatu sistem kehidupan bersama yang menghasilkan kebudayaan, dan
(5) adanya seperangkat norma yang mengikat kehidupan bersama.
Ciri-ciri
Masyarakat sebagai berikut:
1. Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya
berjumlah dua orang atau lebih
2. Tinggal pada suatu daerah atau wilayah tertentu (ikatan geografis)
3. Hidup bersama dalam arti luas
4. Mengadakan hubungan atau interaksi satu sama lain yang teratur dan
tetap
5. Sebagai akibat antar hubungan atau interaksi antar manusia
6. Mereka akan terikat satu sama lainnya karena mereka memiliki
kepentingan bersama
7. Mempunyai tujuan bersama, dan oleh karenanya mereka memiliki
kepentingan bersama
8. Mengadakan ikatan/kesatuan atas dasar unsur-unsur sebelumnya
9. Atas dasar pengalaman mereka mempunyai perasaan solidaritas
perasaan untuk membagi sesuatu secara bersama
10. Sadar akan ketergantungan (interpendensi) satu sama lain
11. Berdasarkan sistem yang terbentuk mereka dengan sendirinya
membentuk norma-normanya.
12. Atas dasar unsur-unsur diatas akhirnya membentuk kebudayaan bersama
antar manusia.[3]
Dalam perspektif
sosiologis, masyarakat terbentuk karena beberapa faktor berikut ini, (1) faktor
yang berkaitan dengan naluri biologis untuk mengembangkan keturunan dari
sesama, (2) faktor kelemahan manusia yang mendesak untuk mencari kekuatan
bersama dan memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari, (3) manusia adalah zoon
politicon, yaitu makhluk sosial yang secara kodrati mencari kehidupan yang
secara kolektif, (4) faktor yang menurut Bergson, terkait perbedaan manusia
secara fisik maupun psikis berupa bakat, sifat, kemampuan, kedudukan, dan
sebagainya.[4]
- Fungsi
Sekolah dan Masyarakat
1. Fungsi Hubungan Sekolah
dengan Masyarakat
fungsi sekolah dalam
masyarakat dan fungsi masyarakat dalam pendidikan sekolah.
a. Fungsi sekolah dalam masyarakat
1) Sekolah sebagai lembaga pembaru (agent of change), yang mengintroduksi perubahan pengetahuan , cara
perpikir, pola hidup, kebiasaan, tata
cara pergaulan, dan sebagainya.
2) Sekolah sebagai lembaga seleksi (selecting agency), yang memilih atau membeda-bedakan anggota
masyarakat menurut kemampuan dan potensinya dalam memberikan pembinaan sesuai
dengan kemampuan itu, agar setiap individu/anggota masyarakat dapat
dikembangkan dan dimanfaatkan potensinyasemaksimal mungkin.
3) Sekolah sebagai lembaga penongkat (clas leveling agency), yang
membantu meningkatkan taraf sosial warga Negara dan dengan demikian
mengurangi/menghilangkan perbedaan-perbedaan atas tradisi, adat, dan
kebudayaan, sehingga terdapat usaha penyesuaian diri yang lebih besar dalam kesatuan
bangsa.
4) Sekolah sebagai lembaga pemeliharaan kelestarian (agen of preservation), yang memelihara
dan meneruskan sifat-sifat budaya yang patut dipelihara dan diteruskan.[5]
b. Fungsi masyarakat dalam pendidikan di Sekolah
Sekolah adalah dari
dan untuk masyarakat, merupakan lembaga sosial yang diselenggarakan dan
dimiliki oleh masyarakat itu, baik secara bagian/komponen maupun tidak langsung
melalui pemerintahnya. Karena itu sekolah merupakan suatu bagian/komponen dari
keseluruhan sistem kehidupan masyarakat.
Dalam keseluruhan
sistem di atas masyarakat merupakan:
1) Sumber (supplier) yang
menyediakan peserta didik, guru, sarana dan prasarana penyelenggaraan sekolah
2) Konsumen hasil pendidikan sekolah, yang menerima kembali dan
menyediakan lapangan kerja bagi lulusan sekolah itu
3) Peserta dalam proses pendidikan di sekolah, yang terus menerus
mengikuti dan turut memengaruhi proses pendidikan disekolah.[6]
c. Manfaat hubungan sekolah dengan masyarakat
1) Penentuan sumber dan kebutuhan belajar
2) Tersedianya tempat-tempat penelitian
3) Pemenuhan sarana dan prasarana
4) Pemenuhan sumber dana dan daya manusia yang terungkap dalam cipta,
rasa, karsa, dan karyanya.
2. Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Elsbree mengemukakan tujuan hubungan sekolah dengan
masyarakat sebagai berikut:
a) untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak
b) untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan
dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
c) untuk mengembangkan antusiasme/semangat saling bantu antara sekolah
dengan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak.
- Pendidikan
dan Perannya bagi Masyarakat
Pendidikan merupakan
faktor penentu dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan masyarakat telah mendorong
para pendidik untuk mengembangkan institusi kependidikan yang semakin hari
semakin kompleks. Masyarakat yang dimaksudkan disini adalah sekelompok manusia
yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang relatif sama membuat warga masyarakat itu
menyadari diri mereka sebagai satu kesatuan (kelompok).[7]
Masyarakat pada dasarnya sama dengan gejala alam, dipengaruhi oleh kekuatan
yang tidak dapat dihindari yang menyebabkan masyarakat berubah. Meskipun kecepatan
dan keleluasaan dan kecepatan perubahan itu sudah tentu tidak sama antara satu
masyarakat dengan masyarakat lainnya. Menurut Buchori, pendidikan bukan hanya
sekedar menyiapkan peserta didik menjadi tenaga yang siap pakai di pasar kerja.
Lebih daripada itu pendidikan harus membantu anak didik untuk menjadi manusia.
Peran
pendidikan semakin strategis. Karena itu pendidikan yang bermutu suatu
investasi yang mahal. Masyarakat maju menyadari hal tersebut dan karenanya akan
menanamkan investasi besar untuk industri pendidikan itu. Akselerasi dan
apreasiasi masyarakat terhadap pendidikan Islam sangat tergantung pada link
and match pendidikan pendidikan
Islam dengan tuntutan perubahan. Tututan masyarakat akan lembaga yang bermutu,
sejalan dengan itu menggambarkan ciri-ciri masyarakat kini yang akan datang. Pertama,
terjadinya tekhnologisasi sebagai akibat adanya loncatan revolosi dalam bidang
ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang ditandai dengan pembakuan kerja dan
perubahan nilai yakni makin dominannya pertimbangan efisiensi dan
produktifitas. Kedua, kecendrungan prilaku masyarakat yang semakin
fungsional. Dalam masyarakat seperti ini hubungan sosila hanya dilihat dari
sudut kegunaan dan kepentingan semata.
Keberadaan
seseorang sangat ditentukan sejauh mana dapat berfungsi bagi orang lain dan
masyarakatnya. Oleh karenanya kemampuan seseorang sangat dibutuhkan. Jadi dalam
masyarakat yang seperti ini terjadi pergeseran pola sosial dari offective ke
effective neutral, sebagaimana dikatakan oleh parson, yakni dari
hubungan yang mempribadi dan emosional ke perubahan hubungan yang tidak
mempribadi dan berjarak. Ketiga, masyarakat padat informasi. Dalam
masyarakat seperti ini keberadaan seseorang sangat ditentukan seberapa banyak
seseorang menguasai informasi. Keempat, kehidupan yang sistemik dan
terbuka, masyarakat sepenuhnya berjalan dan diatur oleh open system (sistem
terbuka). Perubahan kehidupan masyarakat sebagaimana dijelaskan diatas, akan
mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap pendidikan.[8]
Masyarakat
sangat mendambakan model sekolah yang memiliki kunggulan dalam bidang sains
maupun bidang agama. Selain bidang sain maupun bidang umum lainnya, pendidikan
agama juga harus mendapatkan keunggulannya. Sadar akan ketertinggalan dalam
bidang pendidikan, maka muncul keinginan dikalangan umat Islam untuk
menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Menurut abraham Maslow, salah
satu kebutuhan manusia adalah kesempatan mengembangkan potensi. Artinya,
rupanya sudah mejadi kodrat manusia bahwa suatu kebutuhan yang sudah terpenuhi
adalah normal dan wajar apabila seseorang terus berusaha meningkatkan pemuasan
kebutuhannya yang selalu sering berwujud peningkatan kuantitas dan kualitas.
Masyarakat
sangat mendambakan model sekolah yang memiliki keunggulan selain bidang sains
dan bidang umum lainnya, pendidikan agama juga perlu dikemas sehingga menemukan
keunggulannya. Sejalan dengan kebangkitan Islam di Indonesia, terutama pada dua
dekade terakhir, ada sejumlah faktor yang memiliki kontribusi bagi proses
santrinisasi masyarakat Indonesia belakangan ini, di antaranya tumbuh dan
berkembangnya kecintaan sejati pada Islam sebagai hasil dari kegiatan dakwah,
kondisi ekonomi yang semakin baik, meningkatnya kelas menengah muslim dan
menyebarluasnya pengaruh kebangkitan Islam pada tinggkat global. Munculnya
kelas menengah perkotaan dengan tingkat perekonomian yang semakin kuat,
memiliki konsekuensi pada kebutuhan pendidikan yang bermutu dan berkualitas.
Artinya pendidikan yang lebih menjamin bidang akidah, dan sekaligus mampu menwarkan
mode pendidikan yang berkualitas. Keterpaduan dua sisi ini, yakni dimensi
keislaman dan guaranti seperti yang ditawarkan akhirnya menjadikan model
pendidikan yang diidolakan bagi masyarakat Islam kelas menengah.
Empat sumber masalah yang
terdapat pada masnyarakat akan pendidikan :
1.
Rendahnya kesadaran
multikultural.
2.
Penafsiran otonomi
daerah yang masih lemah.
3.
Kurangnya sikap
kreatif dan produktif.
4.
Rendahnya kesadaran
moral dan hukum.[9]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Masyarakat merupakan
sekelompok manusia yang hidup bersama, hidup dan bergaul secara bersama dalam jangka waktu yang cukup lama, adanya
kesadaran bahwa mereka adalah suatu kesatuan sehingga merupakan kelompok yang
dapat bertindak secara otonom, suatu sistem kehidupan bersama yang menghasilkan
kebudayaan, dan adanya seperangkat norma yang mengikat kehidupan bersama.
2.
Sekolah sebagai
lembaga pembaru (agent of change, Sekolah
sebagai lembaga seleksi (selecting agency), Sekolah sebagai lembaga penongkat (clas leveling agency), Sekolah
sebagai lembaga pemeliharaan kelestarian (agen
of preservation).
3. Pendidikan merupakan faktor penentu dalam kehidupan masyarakat.
Kebutuhan masyarakat telah mendorong para pendidik untuk mengembangkan
institusi kependidikan yang semakin hari semakin kompleks. Masyarakat yang
dimaksudkan disini adalah sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu
wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang relatif sama membuat warga
masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai satu kesatuan (kelompok).
DAFTAR PUSTAKA
Rosmita, Dkk. 2011. ilmu kesejahteraan
social. Pekanbaru: yayasan Pusaka Riau.
Zaitun. 2015. sosiologi pendidikan. Pekanbaru: publishing and consulting company.
Ismaya, Bambang. 2015. Pengelolaan
Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Gunawa. 2000. Sosiologi
Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
[4] Zaitun, sosiologi pendidikan............................................................), hlm. 14
