Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Masyarakat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan dan Masyarakat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2020

Pendidikan dan Masyarakat



MAKALAH
PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT



Dosen Pengampu : Fitri Nur Hidayat, S.Th.I, M.Pd.I
Disusun oleh : 1. Husnul Khotimah
2. Liddini Hanifatur R
3. Nur Aini
4. Nurifkiyah Nur L



PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami  panjatkan kehadirat Allah SWT  karena berkat rahmat dan hidayah-Nya akhirnya makalah Studi Lembaga Pendidikan Islam yang berjudul “Pendidikan dan Masyarakat” dapat diselesaikan dengan baik dan lancar.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyusun makalah ini. Sehingga dapat terselesaikan sebagaimana mestinya. Kami berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai pendidikan dan masyarakat dilingkugan masyarakat.
Kami menyadari dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan dan kelemahan, oleh sebab itu kami menerima kritik dan saran yang bersifat membangun untuk memperbaiki makalah ini. Mudah - mudahan penulisan makalah ini ada manfaatnya khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.





                                                                                Penyusun

                                                                  Bondowoso, 09 Oktober 2018


DAFTAR ISI

Halaman Sampul............................................................................................ i
Kata Pengantar............................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I     PENDAHULUAN ..................................................... 1
A.  Latar Belakang........................................................................ 1
B.   Rumusan Masalah ..................................................................  1
C.   Tujuan Masalah ......................................................................  1

BAB II    PEMBAHASAN……………………………………….  2
A.  Pengertian dan Ciri-ciri Masyarakat ...........................................  2
B.   Fungsi Sekolah dan Masyarakat..................................................  4
C.   Pendidikan dan Perannya bagi Masyarakat................................. .5

BAB III   PENUTUP…………………………………………….. 9
A.  Kesimpulan.................................................................................. 9

DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………… 10
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
          Pendidikan berhubungan dengan transmisi pengetahuan, sikap, kepercayaan, keterampilan dan aspek-aspek kelakuan lainnya kepada generasi muda. Kelakuan manusia pada hakikatnya hampir seluruhnya bersifat sosial, yakni dipelajari dalam interaksi dengan manusia lainnya. Hampir semua yang kita pelajari merupakan hasil hubungan kita dengan orang lain di rumah, di sekolah, di tempat bermain, di pekerjaan dan sebagainya.
Dalam pengertian ini pendidikan dimulai dengan interaksi individu dengan masyarakat lainnya. Dalam masyarakat primitive tidak ada pendidikan formal yang tersendiri. Setiap anak harus belajar dari lingkungan sosialnya dan harus menguasai sejumlah kekuatan yang dibutuhkan pada saatnya tanpa adanya guru tertentu yang bertanggung jawab atas kelakuannya. Juga dalam masyarakat yang maju kebanyakan kebiasaan dan pola kelakuan yang pokok dalam kebudayaan dipelajari melalui proses pendidikan atau sosialisasi informal, bahasa, kebiasan makan, dan kepribadian fundamental sebagian besar diperoleh melalui pendidikan tak formal.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apakah pengertian dan ciri-ciri masyarakat?
2.    Apa saja fungsi sekolah bagi masyarakat?
3.    Bagaimanakah peran pendidikan bagi masyarakat?

C.   Tujuan Masalah
1.    Untuk mengetahui pengertian dan ciri-ciri masyarakat
2.    Untuk mengetahui fungsi sekolah bagi masyarakat
3.    Untuk mengetahui peran pendidikan bagi masyarakat

BAB II
PEMBAHASAN

  1. Pengertian dan Ciri-ciri Masyarakat
Mac Iver dan Page menyatakan bahwa masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan antara berbagai kelompok dan penggolongan, dari pengawasan dan tingkah laku serta kebebasan manusia. Keseluruhan yang selalu berubah. Sedangkan Ralp Linton menyatakan, masyarakat merupakan setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerjasama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan secara jelas. Sedangkan Selo Soemarjan, menyatakan bahwa masyarakat adalah orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan.[1]
Peter L Berge mendefenisikan masyarakat suatu keseluruhan yang kompleks hubungan manusia yang luas sifatnya, didalamnya terdiri atas bagian-bagian yang membentuk hubungan sosial. Hubungan-hubungan tersebut tidak terjadi sembarangan, tetapi memiliki keteraturan. Singkatnya semua berjalan menurut suatu sistem. Berger mendefenisikan juga, masyarakat sebagai yang menunjukkan kepada suatu sistem interaksi, atau tindakan yang terjadi minimal 2 (dua) orang yang saling mempengaruhi prilakunya.[2]
Dari defenisi diatas, terdapat beberapa unsur esensial yang terdapat dalam sebuah masyarakat sebagai berikut; (1) sekelompok manusia yang hidup bersama, (2) hidup dan bergaul secara bersama  dalam jangka waktu yang cukup lama, (3) adanya kesadaran bahwa mereka adalah suatu kesatuan sehingga merupakan kelompok yang dapat bertindak secara otonom, (4) suatu sistem kehidupan bersama yang menghasilkan kebudayaan, dan (5) adanya seperangkat norma yang mengikat kehidupan bersama.
Ciri-ciri Masyarakat sebagai berikut:
1.      Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih
2.      Tinggal pada suatu daerah atau wilayah tertentu (ikatan geografis)
3.      Hidup bersama dalam arti luas
4.      Mengadakan hubungan atau interaksi satu sama lain yang teratur dan tetap
5.      Sebagai akibat antar hubungan atau interaksi antar manusia
6.      Mereka akan terikat satu sama lainnya karena mereka memiliki kepentingan bersama
7.      Mempunyai tujuan bersama, dan oleh karenanya mereka memiliki kepentingan bersama
8.      Mengadakan ikatan/kesatuan atas dasar unsur-unsur sebelumnya
9.      Atas dasar pengalaman mereka mempunyai perasaan solidaritas perasaan untuk membagi sesuatu secara bersama
10.  Sadar akan ketergantungan (interpendensi) satu sama lain
11.  Berdasarkan sistem yang terbentuk mereka dengan sendirinya membentuk norma-normanya.
12.  Atas dasar unsur-unsur diatas akhirnya membentuk kebudayaan bersama antar manusia.[3]
Dalam perspektif sosiologis, masyarakat terbentuk karena beberapa faktor berikut ini, (1) faktor yang berkaitan dengan naluri biologis untuk mengembangkan keturunan dari sesama, (2) faktor kelemahan manusia yang mendesak untuk mencari kekuatan bersama dan memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari, (3) manusia adalah zoon politicon, yaitu makhluk sosial yang secara kodrati mencari kehidupan yang secara kolektif, (4) faktor yang menurut Bergson, terkait perbedaan manusia secara fisik maupun psikis berupa bakat, sifat, kemampuan, kedudukan, dan sebagainya.[4]
  1. Fungsi Sekolah dan Masyarakat
1.    Fungsi Hubungan  Sekolah dengan  Masyarakat
fungsi sekolah dalam masyarakat dan fungsi masyarakat dalam pendidikan sekolah.
a.    Fungsi sekolah dalam masyarakat
1)   Sekolah sebagai lembaga pembaru (agent of change), yang mengintroduksi perubahan pengetahuan , cara perpikir, pola hidup,  kebiasaan, tata cara pergaulan, dan sebagainya.
2)   Sekolah sebagai lembaga seleksi (selecting agency), yang memilih atau membeda-bedakan anggota masyarakat menurut kemampuan dan potensinya dalam memberikan pembinaan sesuai dengan kemampuan itu, agar setiap individu/anggota masyarakat dapat dikembangkan dan dimanfaatkan potensinyasemaksimal mungkin.
3)   Sekolah sebagai lembaga penongkat (clas leveling agency), yang membantu meningkatkan taraf sosial warga Negara dan dengan demikian mengurangi/menghilangkan perbedaan-perbedaan atas tradisi, adat, dan kebudayaan, sehingga terdapat usaha penyesuaian diri yang lebih besar dalam kesatuan bangsa.
4)   Sekolah sebagai lembaga pemeliharaan kelestarian (agen of preservation), yang memelihara dan meneruskan sifat-sifat budaya yang patut dipelihara dan diteruskan.[5]
b.    Fungsi masyarakat dalam pendidikan di Sekolah
Sekolah adalah dari dan untuk masyarakat, merupakan lembaga sosial yang diselenggarakan dan dimiliki oleh masyarakat itu, baik secara bagian/komponen maupun tidak langsung melalui pemerintahnya. Karena itu sekolah merupakan suatu bagian/komponen dari keseluruhan sistem kehidupan masyarakat.
Dalam keseluruhan sistem di atas masyarakat merupakan:
1)   Sumber (supplier) yang menyediakan peserta didik, guru, sarana dan prasarana penyelenggaraan sekolah
2)   Konsumen hasil pendidikan sekolah, yang menerima kembali dan menyediakan lapangan kerja bagi lulusan sekolah itu
3)   Peserta dalam proses pendidikan di sekolah, yang terus menerus mengikuti dan turut memengaruhi proses pendidikan disekolah.[6]
c.    Manfaat hubungan sekolah dengan masyarakat
1)   Penentuan sumber dan kebutuhan belajar
2)   Tersedianya tempat-tempat penelitian
3)   Pemenuhan sarana dan prasarana
4)   Pemenuhan sumber dana dan daya manusia yang terungkap dalam cipta, rasa, karsa, dan karyanya.
2.    Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Elsbree mengemukakan tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai berikut:
a)    untuk meningkatkan kualitas belajar dan pertumbuhan anak
b)   untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat
c)    untuk mengembangkan antusiasme/semangat saling bantu antara sekolah dengan masyarakat demi kemajuan kedua belah pihak.
  1. Pendidikan dan Perannya bagi Masyarakat
Pendidikan merupakan faktor penentu dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan masyarakat telah mendorong para pendidik untuk mengembangkan institusi kependidikan yang semakin hari semakin kompleks. Masyarakat yang dimaksudkan disini adalah sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang relatif sama membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai satu kesatuan (kelompok).[7]
Masyarakat pada dasarnya sama dengan gejala alam, dipengaruhi oleh kekuatan yang tidak dapat dihindari yang menyebabkan masyarakat berubah. Meskipun kecepatan dan keleluasaan dan kecepatan perubahan itu sudah tentu tidak sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Menurut Buchori, pendidikan bukan hanya sekedar menyiapkan peserta didik menjadi tenaga yang siap pakai di pasar kerja. Lebih daripada itu pendidikan harus membantu anak didik untuk menjadi manusia.
Peran pendidikan semakin strategis. Karena itu pendidikan yang bermutu suatu investasi yang mahal. Masyarakat maju menyadari hal tersebut dan karenanya akan menanamkan investasi besar untuk industri pendidikan itu. Akselerasi dan apreasiasi masyarakat terhadap pendidikan Islam sangat tergantung pada link and match  pendidikan pendidikan Islam dengan tuntutan perubahan. Tututan masyarakat akan lembaga yang bermutu, sejalan dengan itu menggambarkan ciri-ciri masyarakat kini yang akan datang. Pertama, terjadinya tekhnologisasi sebagai akibat adanya loncatan revolosi dalam bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang ditandai dengan pembakuan kerja dan perubahan nilai yakni makin dominannya pertimbangan efisiensi dan produktifitas. Kedua, kecendrungan prilaku masyarakat yang semakin fungsional. Dalam masyarakat seperti ini hubungan sosila hanya dilihat dari sudut kegunaan dan kepentingan semata.
Keberadaan seseorang sangat ditentukan sejauh mana dapat berfungsi bagi orang lain dan masyarakatnya. Oleh karenanya kemampuan seseorang sangat dibutuhkan. Jadi dalam masyarakat yang seperti ini terjadi pergeseran pola sosial dari offective ke effective neutral, sebagaimana dikatakan oleh parson, yakni dari hubungan yang mempribadi dan emosional ke perubahan hubungan yang tidak mempribadi dan berjarak. Ketiga, masyarakat padat informasi. Dalam masyarakat seperti ini keberadaan seseorang sangat ditentukan seberapa banyak seseorang menguasai informasi. Keempat, kehidupan yang sistemik dan terbuka, masyarakat sepenuhnya berjalan dan diatur oleh open system (sistem terbuka). Perubahan kehidupan masyarakat sebagaimana dijelaskan diatas, akan mempengaruhi pilihan masyarakat terhadap pendidikan.[8]
Masyarakat sangat mendambakan model sekolah yang memiliki kunggulan dalam bidang sains maupun bidang agama. Selain bidang sain maupun bidang umum lainnya, pendidikan agama juga harus mendapatkan keunggulannya. Sadar akan ketertinggalan dalam bidang pendidikan, maka muncul keinginan dikalangan umat Islam untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Menurut abraham Maslow, salah satu kebutuhan manusia adalah kesempatan mengembangkan potensi. Artinya, rupanya sudah mejadi kodrat manusia bahwa suatu kebutuhan yang sudah terpenuhi adalah normal dan wajar apabila seseorang terus berusaha meningkatkan pemuasan kebutuhannya yang selalu sering berwujud peningkatan kuantitas dan kualitas.
Masyarakat sangat mendambakan model sekolah yang memiliki keunggulan selain bidang sains dan bidang umum lainnya, pendidikan agama juga perlu dikemas sehingga menemukan keunggulannya. Sejalan dengan kebangkitan Islam di Indonesia, terutama pada dua dekade terakhir, ada sejumlah faktor yang memiliki kontribusi bagi proses santrinisasi masyarakat Indonesia belakangan ini, di antaranya tumbuh dan berkembangnya kecintaan sejati pada Islam sebagai hasil dari kegiatan dakwah, kondisi ekonomi yang semakin baik, meningkatnya kelas menengah muslim dan menyebarluasnya pengaruh kebangkitan Islam pada tinggkat global. Munculnya kelas menengah perkotaan dengan tingkat perekonomian yang semakin kuat, memiliki konsekuensi pada kebutuhan pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Artinya pendidikan yang lebih menjamin bidang akidah, dan sekaligus mampu menwarkan mode pendidikan yang berkualitas. Keterpaduan dua sisi ini, yakni dimensi keislaman dan guaranti seperti yang ditawarkan akhirnya menjadikan model pendidikan yang diidolakan bagi masyarakat Islam kelas menengah. 
            Empat sumber masalah yang terdapat pada masnyarakat akan pendidikan :
1.      Rendahnya kesadaran multikultural.
2.      Penafsiran otonomi daerah yang masih lemah.
3.      Kurangnya sikap kreatif dan produktif.
4.      Rendahnya kesadaran moral dan hukum.[9]

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.    Masyarakat merupakan sekelompok manusia yang hidup bersama, hidup dan bergaul secara bersama  dalam jangka waktu yang cukup lama, adanya kesadaran bahwa mereka adalah suatu kesatuan sehingga merupakan kelompok yang dapat bertindak secara otonom, suatu sistem kehidupan bersama yang menghasilkan kebudayaan, dan adanya seperangkat norma yang mengikat kehidupan bersama.
2.    Sekolah sebagai lembaga pembaru (agent of change, Sekolah sebagai lembaga seleksi (selecting agency), Sekolah sebagai lembaga penongkat (clas leveling agency), Sekolah sebagai lembaga pemeliharaan kelestarian (agen of preservation).
3.      Pendidikan merupakan faktor penentu dalam kehidupan masyarakat. Kebutuhan masyarakat telah mendorong para pendidik untuk mengembangkan institusi kependidikan yang semakin hari semakin kompleks. Masyarakat yang dimaksudkan disini adalah sekelompok manusia yang hidup bersama di suatu wilayah dengan tata cara berfikir dan bertindak yang relatif sama membuat warga masyarakat itu menyadari diri mereka sebagai satu kesatuan (kelompok).

DAFTAR PUSTAKA
Rosmita, Dkk. 2011. ilmu kesejahteraan social. Pekanbaru: yayasan Pusaka Riau.
Zaitun. 2015. sosiologi pendidikan. Pekanbaru: publishing and consulting company.
Ismaya, Bambang. 2015. Pengelolaan Pendidikan. Bandung: PT Refika Aditama.
Gunawa. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.


[1] Rosmita Dkk, ilmu kesejahteraan sosial,( Pekanbaru: yayasan Pusaka Riau, 2011), Hlm 19.
[2] Zaitun, sosiologi pendidikan. (Pekanbaru: publishing and consulting company, 2015), hlm 14.
[3] Zaitun, sosiologi pendidikan..............................................., hlm 17.
[4] Zaitun, sosiologi pendidikan............................................................), hlm. 14
[5] Bambang Ismaya, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2015), hlm 159.
[6] Ibid, hlm 159-160.
[7] Zaitun, sosiologi pendidikan. ......................................................., hlm 19.
[8]Zaitun, sosiologi pendidikan. ................................................., hlm 20-21.
[9] Gunawa, sosiologi pendidikan,(Jakarta: Rineka Cipta, 200), hlm 43.

Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...