Rabu, 04 September 2019

Pengertian, Tujuan dan Klasifikasi Manajemen Sarana dan Prasarana


Manajemen Sarana dan Prasarana
Sebagai lembaga pendidikan, sekolah memerlukan dukungan sarana dan prasarana. Sarana dan prasarana pendidikan merupakan material pendidikan yang sangat penting. Banyak sekolah memiliki sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap sehingga sangat menunjang proses pendidikan di sekolah. Baik guru maupun siswa, merasa terbantu dengan adanya fasilitas tersebut. Namun sayangnya, kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Tingkat kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana tidak dapat di pertahankan secara terus-menerus. Sementara itu, bantuan sarana dan prasarana pun tidak datang setiap saat. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pengelolaan sarana dan prasarana secara baik agar kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana dapat dipertahankan dalam waktu yang relatif lebih lama.[1]
A.    Pengertian Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan
Manajemen (Stooner: 1982) adalah proses perencanaan, pengrganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber –sumber daya oragnisasi lainnya agar dapat mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[2]
Menurut (The Liang Gie, 1996) manajemen adalah segenap perbuatan untuk menggerakkan orang atau mengarahkan segala fasilitas dalam suatu usaha kerja sama untuk mencapai tujuan. Sedangkan (Siagian, 1996) berpendapat, manajemen adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil untuk mencapai tujuan.[3]
Adapun mengenai Sarana dan prasarana pendidikan, keduanya tidaklah sama. Sarana pendidikan ialah semua fasilitas (pralatan, perlengkapan, bahan dan perabotan) yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien, contohnya seperti: gedung, ruang kelas, meja, kursi serta alat-alat media pengajaran, perpustakaan, kantor sekolah, ruang osis, tempat parkir dan ruang laboratotium. Adapun prasarana pendidikan ialah fasilitas secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, contohnya seperti: halaman, kebun/taman sekolah, jalan menuju ke sekolah, tata tertib sekolah dan sebagainya. Penekanan pada pengertian tersebut ialah pada sifatnya, sarana bersifat langsung dan prsarana bersifat tidak langsung dalam menunjang proses pendidikan.[4]
Dengan demikian, manajemen sarana dan prasarana pendidikan dapat diartikan sebagai segenap proses pengadaan dan pendayagunaan komponen-komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Proses-proses yang dilakukan dalam upaya pengadaan dan pendayagunaan, meliputi perencanaan, pengadaan, pengaturan, penggunaan dan penghapusan.[5]
Sarana dan prasarana dalam lembaga pendidikan itu sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin dengan mengikuti kebutuhan-kebutuhan sebagai berikut:
1.      Lengkap, siap dipakai setiap saat, kuat dan awet
2.      Rapi, indah, bersih, anggun dan asri sehingga menyejukkan pandangan dan perasaan siapa pun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan
3.      Kreatif, inovatif, responsif dan bervariasi sehingga dapat merangsang timbulnya imajinasi peserta didik
4.      Memiliki jangkauan waktu yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghindari kecendrungan bongkar pasang bangunan
5.      Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-relegius, seperti musholla atau masjid.
Ketentuan ini ketika diterapkan pada jenjang pendidikan yang berbeda, maka akan menghasilkan keputusan yang berbeda pula, seperti pada ketentuan harus kreatif, inovatif, responsif dan bervariasi. Untuk penataan lingkungan dalam kompleks sekolah/madrasah/perguruan tinggi atau pesantren seharusnya rapi, indah, bersih, anggun dan asri. Keadaan ini setidaknya menjadikan peserta didik merasa betah (kerasan) berada di lembaga pendidikan, baik sewaktu proses pembelajaran berlangsung di kelas, waktu istirahat, ketika berkunjung ke sekolah, bahkan tamu-tamu dari luar juga diharapkan merasakan hal yang sama.[6]
B.  Tujuan Sarana dan Prasarana Pendidikan
Tujuan dari pengelolaan sarana dan prasarana adalah untuk memberikan layanan secara profesional berkaitan dengan sarana dan prasarana pendidikan agar proses pembelajaran bisa berlangsung secara efektif dan efesien.
Pada dasarnya manajemen sarana dan prasarana pendidikan memiliki tujuan sebagai; 1) menciptakan sekolah atau madrash yang bersih, rapi, indah sehingga menyenangkan bagi warga sekolah atau madrasah, 2) tersedianya sarana dan prasarana yang memadai, baik secara kualitas maupun kuantitas dan relevan dengan kepentingan dan kebutuhan pendidikan.
Berkaitan dengan tujuan ini, Bafadal (2003) menjelaskan secara rinci tentang tujuan manajemen sarana dan prasarana pendidikan, ialah: 1) untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana sekolah melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan saksama, sehingga sekolah memiliki sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan, 2) untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien, 3) untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan, sehingga keadaannya selalu dalam kondisi siap pakai dalam setiap diperlukan oleh semua personel sekolah.
Secara lebih rinci tim pakar manajemen Universitas Negeri Malang mengidentifikasi beberapa hal mengenai tujuan sarana dan prasarana pendidikan, yaitu: 1) untuk mengupayakan pengadaan sarana dan prasarana pendidikan melalui sistem perencanaan dan pengadaan yang hati-hati dan saksama, sehingga sekolah atau madrasah  memiliki sarana dan prasarana sesuai dengan kebutuhan dana yang efisien, 2) untuk mengupayakan pemakaian sarana dan prasarana sekolah secara tepat dan efisien, 3) untuk mengupayakan pemeliharaan sarana dan prasarana pendidikan secara teliti dan tepat, sehingga keberadaan sarana dan prasarana tersebut akan selalu dalam keadaan siap pakai ketika akan digunakan diperlukan atau diperlukan.
Jadi, tujuan dari manajemen sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.[7]
C. Klasifikasi Sarana dan Prasarana Pendidikan
Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan habis tidaknya, berdasarkan bergerak tidaknya dan berdasarkan hubungan dengan proses pembelajaran. Apabila dilihat dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam yaitu sarana pendidikan yang habis dipakai dan tahan lama. Dilihat dari bergerak atau tidaknya pada saat pembelajaran ada dua macam, yaitu bergerak dan tidak bergerak. Sementara jika dilihat dari hubungan sarana tersebut terhadap proses pembelajaran, ada tiga macam yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pembelajaran.[8]
Menurut Bafadal, sarna adalah semua perangkat peralatan, bahan dan perabot secara langsung digunakan dalam proses pendidikan. Sara pendidikan dapat diklasifikasikan berdasarkan tigal hal, yaitu:
1.      Habis tidaknya
2.      Berdasarkan bergerak tidaknya
3.      Berdasarkan hubungan dengan proses belajar mengajar.[9]
Sarana pendidikan habis pakai (tidaknya) merupakan bahan atau alat yang jika digunakan dapat habis dalam waktu relatif singkat. Contohnya, kapur tulis, tinta printer, kertas tulis dan bahan kimia untuk praktik. Kemudian, ada pula sarana pendidikan yang berubah bentuk misalnya, kayu, besi, dan kertas karton yang sering digunakan guru dalam mengajar. Selain itu, sarana pendidikan tahan lama adalah bahan atau alat yang dapat digunakan secara terus-menerus atau berkali-kali dalam waktu yang relatif lama. Contohnya, meja dan kursi, komputer, atlas, globe dan alat-alat olahraga.
Sara pendidikan bergerak merupakan sarana pendidikan yang dapat digerakkan atau dipindah-tempatkan sesuai dengan kebutuhan para pemakainya. Contohnya, meja dan kuris, almari arsip dan alat-alat praktik. Kemudian, untuk sarana pendidika yang tidak bergerak adalah sarana pendidikan yang tidak dapat dipindahkan atau sangat sulit jika dipindahkan, misalnya saluran dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), saluran kabel listrik dan LCD yang dipasang permanen.
Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, sarana pendidikan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu alat pelajaran, alat peraga dan media pengajaran. Alat pelajaran adalah alat yang dapat digunakan secara langsung dalam proses pembelajaran, misalnya buku, alat peraga, alat tulis dan alat praktik. Alat peraga merupakan alat bantu pendidikan yang dapat berupa perbuatan-perbuatan atau benda-benda yang dapat mengkonkretkan meteri pembelajaran. Materi pelajaran yang tadinya abstrak dapat dikonkretkan melalui alat peraga sehingga siswa lebih mudah dalam menerima pelajaran. Media pengajaran adalah sarana pendidikan yang berfungsi sebagai perantara (medium) dalam proses pembelajaran sehingga meningkatkan efektivitas dan efesiensi dalam mencapai tujuan pendidikan. Media pengajaran ada tiga jenis, yaitu visual, audio dan audiovisual.[10]
Adapun prasaran pendidikan bisa diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu prasarana langsung dan prasarana tidak langsung; 1) prasarana pendidikan secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang kelas, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, ruang komputer dan ruang laboratorium, 2) prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk menunjang belajar mengajar, tetapi secara tidak langsung sangat menunjang proses belajar mengajar, seperi ruang kantor, kantin sekolah, tanah, jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang UKS, ruang guru, ruang kepala sekolah, taman dan tempat parkir kendaraan.[11]

KESIMPULAN
            Manajemen sarana dan prasarana pendidikan sebagai segenap proses pengadaan dan pendayagunaan komponen-komponen yang secara langsung maupun tidak langsung menunjang proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
            Dan tujuan dari manajemen sarana dan prasarana pendidikan agar dapat memberikan kontribusi yang optimal terhadap proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Adapun Sarana pendidikan diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu berdasarkan habis tidaknya, berdasarkan bergerak tidaknya dan berdasarkan hubungan dengan proses pembelajaran. Adapun prasaran pendidikan bisa diklasifikasikan menjadi dua macam yaitu prasarana langsung dan prasarana tidak langsung.

DAFTAR PUSTAKA
Barnawi & Arifin, M. 2014. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Handoko, Tani. 2016. Manajemen, (Yogyakarta: BPFE) cet. Ke 3.
Mutohar, Prim Masrokan. 2013. Manajemen Mutu Sekolah. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Indrawan, Irjus. 2015. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. (Yogyakarta: Deepublish)




[1] Barnawi & M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2014). Hal. 47
[2] Tani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[3] Prim Masrokan Mutohar. Manajemen Mutu Sekolah. (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013. )Hal. 34
[4] Irjus Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. (Yogyakarta: Deepublish, 2015). Hal 10
[5] Barnawi & M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. ................... Hal. 48
[6] Irjus Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal. 10-11
[7] Irjus Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal. 12-13
[8] Barnawi & M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. ................... Hal. 49
[9] Irjus Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal. 13-14
[10] Barnawi & M. Arifin. Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. ................... Hal. 50
[11] Irjus Indrawan. Pengantar Manajemen Sarana dan Prasarana Sekolah. ...... .Hal. 15

Senin, 02 September 2019

Manajemen Pendidikan Islam


Manajemen Pendidikan Islam
A.    Pengertian Manajemen (umum) dan Menurut Islam
1.    Pengertian Manajemen (umum)
Manajemen berasal dari bahasa Inggris to manage yang berarti mengatur, mengurus atau mengelola.  Menurut S. P. Hasibuan, manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lain dalam organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam manajemen, terdapat dua sistem, yaitu sistem organisasi dan sistem administrasi.[1]
Kamus Webster’s New Cooligiate Dictionary menjelaskan bahwa kata manage berasal dari bahasa italia managgio dari kata managgiare yang selanjutnya kata ini berasal dari bahasa latin manus yang berarti tangan (hand). Kata manage dalam kamus tersebut diberi arti membimbing dan mengawasi, memperlakukan dengan saksama, mengurus perniagaan atau urusan-urusan, mencapai tujuan tertentu.
Sedangkan dalam bahasa Prancis, kata manage  berarti tindakan untuk membimbing atau pemimpin. Manajer berarti pembina yang melakukan tindakan pengendalian, bimbingan dan pengarahan dari sebuah rumah tangga dengan berbuat ekonomis sehingga mencapai tujuan. Pengertian “rumah tangga” di sini luas, mencakup rumah tangga perusahaan, rumah tangga pemerintah dan lain-lain.[2]
Mary Parker Follen mendefinisikan manajemen sebgai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain.  Defisini ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai tugas yang mungkin diperlukan, atau berarti dengan tidak melakukan tugas-tugas itu sendiri.
Adapun Stoner mengemukakan bahwa; manajemen adalah proses perencanaan, pengroganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya oragnisasi lainnya agar mencapai tujuan oragnisasi yang telah ditetapkan.[3] Terlihat bahwa Stoner menggunakan kata proses, bukan seni.  Mengartikan manajemen sebagai seni mengandung arti bahwa hal itu adalah kemampuan atau keterampilan pribadi suatu didefinisikan sebagai proses karena semua manajer, tanpa memperdulikan keterampilan atau kecakapan khusus  mereka, harus melakukan kegiatan-kegiatan tertentu yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan-tujuan yang mereka inginkan.
Ramayulis (2008: 326) menyatakan bahwa pengertian yang sama dengan hakikat manajemen adalah al-tadbir (pengaturan). Kata ini merupakan derivasi dari kata dabbara (mengatur) yang banyak terdapat dalam Al_Qur’an seperti firman Allah SWT:
يُدَبِّرُالاَمْرَمنَ السَّمَآءِاِلى الارْضِ ثُمَّ يعرُجُ اِليهِ في يومٍ كانَ مقدَارُه الْفَ سنةٍ مِمَّاتعُدُّونَ (5)
Artinya:
“Dia mengatur segala urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu” (Q.S. As-Sajadah: 5)
Dari ayat di atas diketahui bahwa Allah SWT. Merupakan pengatur alam. Akan tetapi, sabagai khalifah di bumi ini, manusia harus mengatur dan mengelola bumi dengan sebaik-baiknya sebagaimana Allah SWT. Mengatur alam raya ini.[4]
Secara terminologis, pengertian manajemen telah diajukan oleh banyak tokoh manajemen. Pengertian-pengertian yang diajukan berbeda-beda dan sangat terpengaruh dengan latar kehidupan, pendidikan, dasar filsafah, tujuan dan sudut pandang tokoh dalam melihat persoalan yang di hadapi. Dari banyak pengertian tersebut, manajemen dapat diartikan dengan tujuh sudut pandang berikut:
a.    Manajemen sebagai Alat atau Cara (Means)
Millon Brown mengatakan “manajemen adalah alat atau cara untuk menggunakan prang-orang, uang, perlengkapan, bahan-bahan dan metode secara efektif untuk mencapai tujuan.”
b.    Manajemen sebagai Tenaga atau Daya (Force)
Albert Lepawsky berpendapat, “manajemen adalah tenaga atau kekuatan yang memimpin, memberi petunjuk dan mengarahkan suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.”
c.    Manajemen sebagai Sistem (system)
Sanusi mengartikan manajemen sebagai sistem tingkah laku manusia yang kooperatif diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu melalui tindakan-tindakan rasional yang dilakukan secara terus menerus.”
d.   Manajemen sebagai Proses (Process)
George R. Terry menyatakan, “manajemen adalah suatu proses yang khas terdiri dari tindakan-tindakan dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya.”
e.    Manajemen sebagai Fungsi (Fuction)
Menurut R.C. Devis “manajemen merupakan fungsi dari kepemimpinan eksekutif pada organisasi apa pun”
f.     Manajemen sebagai Tugas (Task)
Didefinisikan oleh Vermon A. Musselman yang dikutip oleh Maman Ukas mengungkapkan, “manajemen sebagai tugas dari perencanaan, pengorganisasian dan penyetafan serta pengawasan pekerjaan yang lainnya agar mencapai satu atau lebih tujuan.”
g.    Manajemen sebagai Aktivitas dan Usaha (Activity/Effort)
Koontz dan Donnel mengatakan, “manajemen adalah usaha mendapatkan sesuatu melalui kegiatan orang lain.”
 Berbagai sudut pandang dan variasi pengertian manajemen tersebut memberi gambaran inti bahwa manajemen adalah usaha menage (mengatur) organisasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan secara efektif dan efisien. Efektif berarti mampu mencapai tujuan dengan baik (doing the right thing), sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar (doing thing right).[5]
2.    Manajemen Menurut Islam
Abu sin merumuskan empat persyaratan yang harus ada dalam manajemen Islam, yaitu:
a. Landasan nilai-nilai dan akhlak islami. Manajemen islami harus berdasarkan universalitas nilai, yaitu: kasih sayang, kejujuran, kemanusiaan, keadilan dan kesederajatan insani.
b. Seluruh aktivitas manajemen merupakan salah satu bentuk penghambaan kepada Allah SWT. Nilai-nilai ibadah harus dibangun dengan landasan ketauhidan.
c. Hubungan atasan dengan bawahan merupakan hubungan persaudaraan umat Islam, hubungan antar manusia yang sederajat, egalitarian, dan berprinsip pada nilai-nilai universalitas kemanusiaan, kebangsaan, kemerdekaan dan keseimbangan antara hak dan kewajiban.
d. Manajemen Islam yang dilandasi oleh etika dan nilai-nilaiagama, menjadi salah satu alternatif dalam menyelesaikan problem individu dan sosial di tengah-tengah zaman yang semakin tidak menentu secara moral.
Dalam Islam, unsur kejujuran dan kepercayaan sangat penting diterapkan dalam manajemen. Nabi Muhammad SAW. adalah sorang yang sangat terpercaya dalam menjalankan manajemen bisnisnya. Manajemen yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. menempatkan manusia sebagai postulatnya atau fokusnya, bukan sebagai faktor produksi yang hanya diperas tenaganya untuk mengejar target produksi.
Nabi Muhammad SAW. mengelolal (manage) serta mempertahankan (mantain) kerja sama dengan sahabatnya dalam waktu yang lama. Salah satu kebiasaan Nabi adalah memberikan reward atas kreativitas serta prestasi yang ditunjukkan sahabtanya. Ada empat pilar etika manajemen yang ada dalam Islam, seperti yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW. yaitu: 1) ketauhidan, berarti memandang segala aset dari transaksi bisnis yang terjadi di dunia adalah milik Allah SWT. manusia hanya mendapatkan amanah untuk mengelolanya. 2) keadilan, artinya segala keputusan menyangkut transaksi dan interaksi dengan orang lain didasarkan pada kesepakatan kerja yang dilandasi oleh akad saling setuju dengan sistem profit and lost sharing. 3) kehendak bebas, artinya manajemen Islam mempersilahkan manusia untuk menumpahkan kreativitas dalam melakukan transaksi dan interaksi kemanusiannya sepanjang memenuhi asas hukum yang baik dan benar. 4) pertanggungjawaban, yaitu semua keputusan seorang pimpinan harus di pertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan.
Keempat pilar tersebut membentuk konsep manajemen yang fair ketika melakukan kontrak kerja dengan perusahaan lain ataupun antara pimpinan dan bawahan. Ciri manajemen islami adalah amanah. Jabatan merupakan amanah yang harus di pertanggungjawabkan kepada Allah SWT. seorang manajer harus memberikan hak-hak orang lain, baik mitra bisnisnya ataupun karyawannya. Pimpinan harus memberikan hak untuk beristirahat dan hak untuk berkumpul dengan keluarganya kepada bawahannya . ini merupakan nilai-nilai yang dianjurkan manajemen Islam.[6] 

B.     Pengertian Pendidikan
Perlu diketahui dua istilah yang hampir sama bentuknya dan sering digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu pedagogi dan paedagoiek. Pedagogi berarti pendidikan, sedangkan paeda artinya ilmu pendidikan. Pedagogik atau ilmu pendidikan ialah yang menyelidiki, merenung tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Istilah ini berasal dari Yunani dan kata pedagogia berarti pergaulan dengan anak-anak. Sedangkan, yang menggunakan istilah paidagogos adalah seorang pelayan (bujang) pada zaman Yunani Kuno, yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekelolah. Paidagogos berasal dari kata paedos (anak) dan agoge (saya membimbing/memimpin).
Perkataan paidagogos yang pada mulanya berarti pelayan, kemudian berubah menjadi pekerjaan mulia. Karena, pengertian pai (dari paidagogos) berarti seorang yang bertugas membimbing anak di dalam pertumbuhannya ke arah mandiri dan bertanggung jawab.
Pengertian secara sederhana dan umum, makna pendidikan sebagai usaha manusia untuk menumbuhkan dsn mengembangkan potensi-potensi pembawaan, baik jasmani maupun rohani sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam masyarakat dan kebudayaan. Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut, serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu poses pendidikan. Karena itu, bagaimana pun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai usaha manusia untuk melestarikan hidupnya.[7]  
John Dewey mendefinisikan pendidikan sebagai proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia. Dalam Dictionary of Education disebutkan bahwa pendidikan adalah 1) keseluruhan proses ketika seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya yang bernilai positif dalam masyarakat tempat mereka hidup. 2) proses sosial ketika orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimal.
Pendidikan dalam perspektif (sudut pandang tertentu) keindonesiaan, pengertian, fungsi dan tujuan pendidikan dirumuskan dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 dan 3, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara .”
Adapun dalam perspektif Islam, pengertian pendidikan (pendidikan Islam) merujuk pada beberapa istilah, yaitu al-tarbiyah, al-ta’dib, al-ta’lim. Dari ketiga istilah tersebut, yang paling populer digunakan dalam menyebutkan praktik pendidikan Islam adalah terminologim al-tarbiyah, seperti penggunaan istilah at-Tarbiyah al-Islamiyah yang berarti pendidikan Islam.
Syeh Muhammad Al-Naquib Al-Attas seorang tokoh pemikiran pendidikan Islam berpendapat bahwa sesungguhnya istilah yang paling tepat untuk pendidikan Islam adalah ta’dib sebab struktur konsep ta’dib sudah mencakup unsur-unsur ilmu intruksi (ta’lim) dan pembinaan yang baik (tarbiyah).
Pendidikan Islam sesungguhnya menghendaki terbentuknya manusia yang berkepribadian Muslim yang semua aspek-aspek kehidupannya berlandaskan kepada ajaran Islam dan seluruh aktivitasnya diyakini sebagai ibadah dalam rangka pengabdian kepada Allah dan penyerahan diri kepada-Nya.[8]
Adapun Pengertian Manajemen Pendidikan Islam sebagaimana dinyatakan Ramayulis (2008; 260) adalah proses pemanfaatan semua sumber daya yang miliki (umat Islam, lembaga pendidikan atau lainnya), melalui kerja sama dengan orang lain secara efektif, efesiensi dan produktif untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan, baik di dunia maupun di akhirat. [9]
Daftar Pustaka
Saefullah, U. 2019. Manajemen Pendidikan Islam. Cet. Ke 3. (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA)
Kurniadin, Didin & Machali, Imam. 2016. Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, Cet. Ke 3.  (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media)
Handoko, Tani. 2016. Manajemen, Cet. Ke 3.  (Yogyakarta: BPFE)
Anwar, Muhammad. 2017. Filsafat Pendidikan. Cet. Ke 2. (Depok: KENCANA)




[1] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1
[2] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 23-24
[3] Tani Handoko, Manajemen, (Yogyakarta: BPFE, 2016) cet. K2 3. Hal. 8
[4] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 1-2
[5] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal.  25-29.
[6] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 48-50.
[7] Muhammad Anwar, Filsafat Pendidikan, (Depok: KENCANA, 2017) cet. Ke 2. Hal. 19-20.
[8] Didin Kurniadin & Imam Machali, Manajemen Pendidikan: Konsep & Prinsip Pengelolaan Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2016) cet. Ke 3. Hal. 114-116 
[9] U. Saefullah, Manajemen Pendidikan Islam, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2019) cet. Ke 3. Hal. 2



Minggu, 01 September 2019

Makalah Filsafat Pendidikan Islam

MAKALAH
FILSAFAT  PENDIDIKAN ISLAM
Pengertian, Ruang lingkup dan Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam


  
Dosen Pembimbing:
La Mahidin, S.pd.I, M.pd

Disusun oleh :
1.    Nabila Arifiyana
2.    Nur Aini
3.    Lumatul fajriyah




PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
AT TAQWA BONDOWOSO
TAHUN AKADEMIK 2018/2019


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Filsafat  merupakan ilmu istimewa yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa, karena masalah-masalah termaksud berada di luar atau di atas jangkauan ilmu pengetahuan biasa. Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal baiknya untuk memahami (mendalami dan menyelami) secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada yaitu: hakikat tuhan, hakikat alam semesta, hakikat manusia, serta sikap manusia termaksud sebagai konsekuensi dari tuhan (pemahaman)-nya tersebut.
Filsafat tidak lebih dari suatu usaha untuk menjawab pertanyaan terakhir, tidak secara dangkal atau dogmatis seperti yang kita lakukan sehari-hari atau bahkan dalam kebiasaan ilmu pengetahuan (Bertrand Russel). Dapat disingkat bahwa filsafat merupakan hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran dalam sesuatu. Meskipun pendefinisian filsafat memunculkan berbagi perbedaan antar satu tokoh dengan tokoh lain.
Dalam analisis Ahmad Tafsir, perbedaan definisi dapat disebabkan oleh perbedaan konotasi filsafat, pengaruh lingkungan dan pandangan hidup yang berbeda serta akibat perkembangan filsafat itu sendiri. Konotasi filsafat pada pemikiran tentang sesuatu yang tidak dapat lagi diusahakan oleh sains. Oleh karena itu, filsafat dikatakan sebagai kumpulan pertanyaan yang tidak pernah terjawab oleh sains secara memuaskan.
Dengan mengesampingkan segala unsur-unsur perbedaan yang terdapat dalam definisi-definisi tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah proses berfikir secara sistematis yang menerangkan bagaimana upaya manusia yang melalui akal budi dan pengalamannya terus-menerus hendak mencari dan menemukan kebenaran, baik pengertian filsafat sebagai sebuah ilmu dan sebagai sebuah metode berpikir. Oleh karena itu didalam makalah ini akan dibahas tentang pengertian, ruang lingkup serta kegunaan filsafat pendidikan islam.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan filsafat pendidikan islam?
2.      Apa saja ruang lingkup filsafat pendidikan islam?
3.      Apa saja kegunaan dari filsafat pendidikan islam?
C.  Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui pengertian dari filsafat pendidikan islam.
2.      Untuk mengetahui ruang lingkup filsafat pendidikan islam.
3.      Untuk mengetahui kegunaan dari filsafat pendidikan islam.

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Nabila Arifiyana
Kata “filsafat” berasal dari bahasa inggris dan bahasa yunani. Dalam bahasa inggris, yaitu philosophy, sedangkan dalam bahasa Yunani philein atau philos artinya cinta dan sofein, sophi atau Sophia artinya kebijeksanaan. Dengan demikian, filsafat dapat diartikan cinta kebijaksanaan. Kata kebijaksanaan dalam bahasa arab diistilahkan dengan al-hikmah. Oleh karena itu, filsafat adalah al-hikmah.[1]
Filsafat dapat diartikan sebagai pola berpikir dengan ciri-ciri tertentu, yakni kritis, sistematis, logis, kontemplatif, radikal, dan spekulatif. Filsafat merupakan semacam kritik penuh estetik yang tidak pernah mau membatasi diri. Bahkan, terkadang penuh dengan pemikiran destruktif sekaligus dekonstruktif. Pendefinisian ini menggambarkan kesejatian filsafat yang tidak memuaskan dirinya sendiri, melainkan menantang dialektika yang tidak berujung pangkal. Oleh karena itu, dalam setiap penggambaran filsafat akan ditemukan berbagai pandangan yang tingkat deferiansiasinya sangat tinggi dan luas. Tidak ada kata “pasti”. Semuanya serba ”mungkin” dan kemungkinan filosofisnya serba pasti sebagaimana kepastiannya yang serba mungkin.
Secara formal, filsafat masih bersifat umum, lalu lahir filsafat yang khusus, seperti filsafat sejarah, filsafat hukum, filsafat sosial, filsafat agama, filsafat politik, filsafat agama, dan filsafat pendidikan. Di dalam Filsafat Pendidikan Islam. Pertama-tama dibutuhkan pengertian yang logis tentang ilmu pendidikan islam. Apa itu ilmu? Apa itu pendidikan? Dan apa itu Islam? Ketika dipertanyakan tentang apa itu ilmu pendidikan islam, pengertiannya harus memenuhi tiga makna yang dimaksudkan, yaitu konsep ilmu, konsep pendidikan, dan konsep islam.
Kata “ilmu” berasal Dari bahasa arab, yakni al-‘ilmu, artinya pengetahuan. Secara ontologis, ilmu dan pengetahuan bukan hanya berbeda makna, tetapi subtansinya pun berbeda. Ilmu adalah akumulasi pengetahuan yang dapat berasal dari ide, pengalaman, observasi, intuisi, dan yang berasal dari wahyu dalam suatu ajaran manusia. Sedangkan pengetahuan adalah sesuatu yang diketahui oleh seseorang melalui berbagai cara, misalnya dengan mendengar, melihat, merasakan, mengalami, membaca dan cara-cara lain.[2]
Ilmu yang tersebar luas disosialisasikan melalui pendidikan. Pendidikan merupakan usaha yang bersifat mendidik, membimbing, mempengaruhi, membina dan mengarahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal maupun informal. Lembaga pendidikan sekolah, keluarga, dan masyarakat serta lingkungan sekitar dapat menjadi media pendidikan atau penyebaran ilmu pengetahuan.
Apabila dibicarakan soal ilmu pendidikan islam, karena islam sebagai agama Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ilmu pendidikan islam adalah kumpulan pengetahuan yang bersumber dari al-Qur’an dan AS-Sunnahyang dijadikan landasan pendidikan. Secara aplikatif pendidikan islam artinya mentransformasikan nilai-nilai islam terhadap anak didik dilingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Dalam penerapan ini bertujuan untuk membentuk peserta didik yang berkpribadian muslim.
Pendidikan islam mengisyaratkan  adanaya tiga macam dimensi dalam upaya mengembangkan kehidupan manusia, yaitu:
1.   Dimensi kehidupan duniawi yang mendorong kehidupan manusiasebagai hamba Allah untuk mengembangkan dirinya dalam ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai islam yang mendasari kehidupan.
2.   Dimensi kehidupan ukhrawi yang mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya dalam pola hubungan yang serasi dan seimbang dengan tuhan. Dimensi inilah yang melahirkan berbagai usaha agar seluruh aktivitas manusia senantiasa sesuai dengan nilai-nilai islam.
3.  Dimensi hubungan antara kehidupan dunia dan ukhrawi yang mendorong manusia untuk berusaha menjadikan dirinya sebagai hamba Allah yang utuh dan paripurna dalam bidang ilmu pengetahuan dan keterampilan, serta menjadi pendukung dan pelaksana ajaran islam. 
Sedangkan pendidikan adalah usaha yang bersifat mendidik, membimbing, membina, mempengaruhi, dan mengerahkan setiap anak didik yang dapat dilakukan secara formal maupun informal. Lembaga pendidikan sekolah, keluarga dan masyarakat serta lingkungan sekitar dapat menjadi media pendidikan atau penyebaran ilmu pengetahuan.
Secara luas pendidikan adalah segala situasi dalam hidup yang mempengaruhi pertumbuhan seseorang. Pendidikan adalah pengalaman belajar. Oleh karena itu, pendidikan dapat pula didefenisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Dalam pengertian yang maha luas, pendidikan berlangsung tidak dalam batasan tertentu, tetapi berlangsung sepanjang hidup, sejak lahir (bahkan sejak hidup dalam kandungan) hingga mati. Dengan demikian, tidak ada batas waktu berlangsungnya pendidikan. Pendidikan berlangsung pada usia balita, usia anak, usia remaja, dan usia dewasa, atau seumur hidup manusia itu sendiri.[3]
Islam sebagai ideologi pendidikan yang fungsinya mempertautkan semua ilmu pengetahuan kepada sang pemilik Ilmu atau rab ‘alalamin. Dengan demikian, pendidikan islam merupakan tanggung jawab umat islam sebagai kewajiban yang tidak dapat ditawar-tawar. Lalu, apa sebenarnya filsafat pendidikan islam? Sebagaimana telah dikemukakan bahwa filsafat pendidikan adalah pengetahuan tentang sistem berpikir yang sistematis, radiakal, kontemplatif, dan spekulatif tentang metode pendekatan, pola, dan berbagai model pendidikan yang islami yang diterapkan secara formal maupun non fomal, baik di sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat.
Filsafat pendidikan islam mengkaji hakikat dan seluk-beluk pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, merumuskan strategi pembelajaran , kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan islam yang khusus maupun yang umum. [4]

B.  Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Nur Aini
Filsafat Pendidikan Islam merupakan pengetahuan yang memperbincangkan masalah-masalah pendidikan Islam. Masalah pendidikan tidak dibatasi oleh ideologi tertentu karena semua masalah pendidikan berkaitan dengan hal-hal berikut :
1.      Lembaga pendidikan
2.      Pendidik
3.      Anak didik
4.      Kurikulum
5.      Tujuan pendidikan
6.      Proses pembelajaran
7.      Metode dan strategi pembelajaran
8.      Kepustakaan
9.      Evaluasi pendidikan
10.  Alat-alat pendidikan
Secara filosofis, hakikat pendidikan berkaitan dengan hakikat para pendidik, anak didik, lembaga pendidikan, dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hak dan kewajiban, tugas dan kedudukan semua yang terlibat dalam pendidikan. Selain itu, secara epistemologis sumber-sumber dan tolak ukur pendidikan dikaji secara kritis dan mendalam sehingga akan berjalan harmonis dengan tujuan pendidikan yang dimaksudkan.
Ahmad D. Marimba mengartikan pendidikan Islam sebagai usaha untuk membimbing keterampilan jasmaniah dan rohaniah berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Islam menuju terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Ukuran-ukuran Islam ditujukan pada akhlak anak didik, perilaku konkret yang memberi manfaat kepada kehidupannya di masyarakat.
Hasan Langgung mengatakan bahwa pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki 4 macam fungsi, yaitu:
1.      Fungsi edukatif, artinya mendidik dengan tujuan memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik agar terbebas dari kebodohan
2.      Fungsi pengembangan kedewasaan berfikir melalui proses transmisi ilmu pengetahuan
3.      Fungsi penguatan keyakinan terhadap kebenaran yang diyakini dengan pemahaman ilmiah
4.  Fungsi ibadah sebagai bagian dari pengabdian hamba kepada sang pencipta yang telah menganugerahkan kesempurnaan jasmani dan rohani kepada manusia.[5]
 Sebagaimana Allah SWT berfirman didalam surat At-Tin ayat 4 :
لقدخلقناالانسن في احسن تقويم (التين:4)
Artinya:
“sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S.At-Tin:4)
Apabila pengertian pendidikan Islam sebagaimana di atas dipahami lagi secara lebih mendalam, dapat dipetik beberapa komponen penting dalam pendidikan Islam, yaitu:
1.      Pendidikan dalam arti mengajarkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, baik terhadap aktivitas jasmaninya, pikiran –pikirannya maupun terhadap ketajaman dan kelembutan hati nuraninya
2.    Islam dalam arti yang seluas-luasnya sebagai bahan utama dan materi yang amat luas untuk diajarkan kepada semua manusia, baik secara formal sebagai anak didik maupun pandangan universal bahwa semua manusia adalah murid yang tidak berhenti untuk belajar sepanjang kehidupannya
3.      Sumber ajaran Islam yang termuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, ajaran-ajaran Ilahi yang tertulis maupun tidak tertulis, serta suri teladan  Nabi Muhammad SAW. yang luar biasa sebagai Nabi dan Rasul yang dijaga perilaku oleh Allah SWT. Sehingga terhindar dari kesalahan.
Ilmu pendidikan Islam adalah seperangkat pengetahuan yang berbasis kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dijadikan landasan untuk pembelajaran dalam kehidupan. Bagi umat Islam, hidup adalah ibadah, mencari ilmu atau belajar adalah ibadah. Maka setiap proses pembelajaran mengandung makna isoterik dan esoterik, makna lahir dan batin, jasmanai dan rohani. Dengan demikian, keberhasilan pembelajaran tercermin dalam kehidupan materiil dan spiritual manusia.[6]
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa ilmu pendidikan Islam adalah paradigma atau model pendidikan yang merujuk kepada nilai-nilai ajaran Islam. Yang menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber formal dan materiil pendidikan.
Yang dimaksud dengan perbuatan  mendidik adalah seluruh kegiatan, tindakan atau perbuatan dan sikap yang dilakukan oleh pendidik ketika menghadapi dan mengasuh anak didik. Pendidik adalah pelaku utama dalam memengaruhi anak didik dengan materi-materi pembelajaran sehingga citra pendidikan, salah satunya, ditentukan oleh para pendidik.
Ruang lingkup filsafat pendidikan tidak akan jauh dari beberapa hal dibawah ini :
1.      Hakikat para pendidik dan anak didik
2.      Hakikat materi pendidikan dan metode penyampaian materi
3.     Hakikat tujuan pendidikan dan alat-alat pendidikan yang dipergunakan untuk mencapai tujuan
4.      Hakikat model-model pendidikan
5.      Hakikat lembaga formal dan nonformal dalam pendidikan
6.      Hakikat sistem pendidikan
7.      Hakikat evaluasi pendidikan
8.      Hakikat hasil-hasil pendidikan.
Secara filosofis, materi pendidikan yang perlu disampaikan kepada anak didik adalah semua hal yang berhubungan dengan alam semesta dan kehidupan manusia serta segala sesuatu yang dihadapi oleh  manusia yang sifatnya fisikal maupun metafisikal, yang lahiriah maupun yang batiniah.
Pemahaman mendalam yang dijadikan fokus utama kepada anak didik adalah filsafat tentang Tuhan, yakni Allah SWT. Sebagai pencipta segala sesuatu, dan segala sesuatu yang diciptakannya akan musnah, kecuali Allah. Paham ini akan melahirkan teori relativitas atau kenisbian. Bahkan, manusia sendiri merupakan bagian dari alam yang sifatnya relatif, dan kaerena relativitasnya, manusia dididik untuk memiliki kesadran tentang saat-saat menuju ketiadaannya, yakni kematian yang menjadi pintu menuju ke alam yang kekal. Dengan demikian, menyajikan materi ketauhidan dan spiritual anak didik. 
Pandangan di atas sekaligus memberikan wacana baru tentang pendidikan sebagai bagian dari kewajiban manusia, sebagaimana disebutkan dalam ajaran Islam melalui hadist Nabi Muhammad SAW. yang mengatakan  bahwa mencari ilmu hukumnya wajib, sehingga setiap manusia yang tidak ada niat untuk mencari ilmu memperoleh konsekuensi dosa, sedangkan yang mewujudkannya memperoleh pahala.
Lingkup kedua setelah pendidikan ketauhidan adalah pendidikan tentang manusia. Secara filosofis, pendidikan tentang manusia berkaitan dengan jati diri manusia sebagai satu-satunya makhluk Allah yang diciptakan dengan sangat sempurna, ideal, dan makhluk yang berfikir. Betapa mengherankan apabila manusia sebagai makhluk yang berfikir, tetapi enggan menuntut ilmu. Itu artinya, manusia telah menyia-nyiakan jati dirinya sendiri. Dengan akal, manusia memperoleh pendidikan dan pendidikan pun diwujudkan karena manusia berakal.
Setelah manusia sebagai bagian penyajian kedua dari filsafat pendidikan selanjutnya adalah tentang alam dan ilmu pengetahuan. Alam diciptakan Allah untuk manusia, dan manusia berkewajiban memelihara dan mengambil manfaat sebaik mungkin dari alam. Akan tetapi, manusia tidak akan mampu memberdayakan alam apabila tidak dibekali ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, alam dengan ilmu pengetahuan tidak dapat dipisahkan.
Dalam filsafat pendidikan Islam, selain ruang lingkup yang diterangkan di atas, terdapat subtansi pendidikan yang sangat penting, bahkan menetukan nilai sebuah proses pendidikan, yaitu:
1.      Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber ajaran dalam pendidikan Islam
2.  Akhlak Nabi Muhammad Saw. yang dapat dijadikan sebagai pelajaran berharga untuk membentuk akhlak anak didik
3.      Keimanan kepada seluruh ajaran Islam yang dapat diterima oleh hati dan akal yang sehat
4.      Kehidupan dunia yang oleh ajaran Islam dibebaskan pengembangannya
5.      Alam semesta yang diciptakan untuk kemakmuran manusia
6.      Baik dan buruk
7.      Pahala dan dosa
8.      Ikhtiar dan takdir yang menjdai bagian dari rencana kehidupan manusia dan kehendak Allah yang pasti adanya.[7]
Dalam filsafat pendidikan Islam, anak didik adalah objek para pendidik. Anak didik dilihat dari beberapa segi, yaitu dilihat dari usia anak didik, minat dan bakat, latar belakang kehidupan dan lingkungan keluarga, dan kondisi psikologisnya. Kondisi-kondisi yang terdapat pada anak didik akan dijadikan barometer awal untuk menentukan proses pembelajaran, terutama berkaitan dengan pengembangan pendidikan ke arah yang lebih aplikatif.
Semua seluk-beluk yang berhubungan dengan pendidikan dan pengetahuan berlandaskan pada kemampuan kognitif atau kemampuan rasio yang disebut dengan rasionalitas. Pada dasarnya (an sich), rasionalitas bersifat netral, dengan kemampuan menyamakan dan membedakan. melakukan inferensi dengan logika dedukatif atau induktif. Kemampuan tersebut diistilahkan dengan kecerdasan yang oleh Plato disebut inmate ideas.
Ilmu pendidikan Islam mengajarkan kesadaran dalam keimanan manusia terhadap seluruh ilmu yang diciptakan Allah SWT dan ketaatan terhadap Allah SWT sebagai pemilik ilmu. Secara epistimologis,  sumber ilmu adalah Allah SWT, yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Hukum-hukum yang diciptakan-Nya dapat dipahami dengan berbagai metode dan pendekatan. Wahyu membicarakan peristiwa yang memiliki daya jangkau universal apabila dilihat dari penggunaan kalilat-kalimatnya, sehingga hukum-hukum Allah SWT tidak mengenal kadarluarsa. Hal tersebut terjadi karena kebenaran dalam hukum-hukum Allah SWT seirama dengan fitrah alamidan fitrah manusiawi yang bergerak di atas hak prerogatif Allah SWT. Sebaliknya, yang mangkir dari hukum-hukumnya yang eternal senantiasa mengalami keputusasaan, rasa takut, dan semakin melemah daya pikirnya dalam menyelesaikan masalah duniawi. Akhdiyat mengatakan bahwa fitrah manusia yang berjalan seirama dengan hukum-hukum Allah SWT akan menemui dirinya sendiri yang awalnya tercipta dalam keadaan suci dari dosa.
Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan sebagai berikut:
1.  Otologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat subtansi dan pola organisasi ilmu pendidikan Islam.
2.  Epistimologi ilmu pendidikan, yaitu membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan Islam.
3.    Metodologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan Islam.
4.    Aksiologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu pendidikan Islam.[8]
Secara ontologis, pendidikan Islam adalah hakikat dari kehidupan manusia sebagai makhluk yang berakal dan berfikir. Jika manusia bukan makhluk yang berfikir, tidak ada pendidikan. Selanjutnya pendidikan sebagai usaha pengembangan diri manusia dijadikan alat untuk mendidik selain manusia, tidak terkecuali diterapkan kepada binatang. Jika seekor monyet dapat dididik dan dilatih, apalagi manusia.
Epistemologi pendidikan Islam adalah seluk-beluk dan simber-sumber pendidikan Islam, sebagaimana telah ditegaskan bahwa Al-Qur’an sebagai segala sumber hukum dalam ajaran Islam. Pendidikan Islam merujuk paa nilai-nilai Al-Qur’an yang universal dan abadi.
Adapun metode pendidikan Islam, yaitu strategi yang relevan yang dilakukan oleh pendidikan untuk menyampaikan materi pendidikan Islam kepada anak didik. Metode berfungsi mengolah, menyusun, dan menyajikan materi pendidikan Islam agar materi pendidikan Islma tersebut  dapat dengan mudah diterima dan dimiliki oleh anak dididik. Dalam pendidikan Islam, metode pendidikan ini disebut dengan istilah tariqotut tarbiyah atau taariqotur tahzib.
Aksiologi pendidikan Islam berkaitan dengan visi dan misi, etika, estetika, tujuan dan target yang akan dicapai dalam pendidikan. Tujuan pendidikan dapat dilihat setelah dilakukan suatu evaluasi pendidikan, sebagai sistem penilaian yang diterapkan kepada anak didik, untuk mengetahui keberhasilan pendidikan yang dilaksanakan. Apabila tujuan pendidikan adalah untuk membentuk anak didik yang berakhlakul karimah, cerdas, terampil, beriman dan bertakwa, sistem evaluasi yang diterapkan harus mengarah pada tujuan yang dimaksudkan.
Aksiologi merupakan cabang filsafat yang secara khusus mengkaji cita-cita, sistem nilai atau nilai-nilai mutlak (tertinggi), yaitu nilai-nilai yang dianggap sebagai “tujuan utama”. Nilai-nilai ini adalah al-haq (kebenaran), kebaikan dan keindahan. Oleh karena itu, pembahasan tentang nilai dibagi ke dalam tiga cabang seperti yang telah disebutkkan diatas:
1.  Logika, membahas tentang nilai kebenaran yang membantu kita untuk berkomitmen pada kebenaran dan menjauhi kesalahn, serta menerangkan bagaimana seharusnya berfikir secara benar.
2.      Etika, membahas nilai kebaikan dan berusaha membantu kita dalam mengarahkan perilaku. Ia mengarahkan kita kepada apa yang seharusnya dilakukan, membatasi makna kebaikan, keburukan, kewajiban, perasaan serta tanggung jawab moral.
3.    Ilmu Estetika, membahas nilai keindahan dan berusaha membantu kita dalam meningkatkan rasa keindahan dengan membatasi tingkatan-tingkatan yang menjadi standar dari sesuatu yang indah.[9]

C. Kegunaan Filsafat Pendidikan Islam
Oleh: Lumatul Fajriyah
Kegunaan filsafat secara umum ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk menjelaskan gejala atau peristiwa dalam sosial. Itu berarti orang yang berfilsafat harus berfikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, buka menghayal. Dari situlah para ahli dibidang tersebut telah banyak meneliti secara teoritis mengenai kegunaan Filsafat Pendidikan Islam.
Tomi Al-Saidany misalnya mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari Filsafat Pendidikan Islam tersebut sebagai berikut :
1.   Filsafat pendidikan iitu dapat menolong para perancang pendidikan dan orang-orang yang melaksanakannya dalam suatu Negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan. Disamping itu dapat menolong terhadap tujuan-tujuan dan fungsi-fungsinya serta meningkatkan mutu penyelesaian masalah pendidikan dan peningkatan tindakan dan keputusan termasuk rancangan-rancangan pendidikan mereka. Selain itu juga berguna untuk memprbaiki peningkatan  pelaksanaan pendidikan serta faedah dan cara mereka mengajar yang mencakup penilaian, pembimbingan dan penyuluhan.
2.   Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti yang menyeluruh. Penilaian pendidikan itu dianggap persoalan yang perlu bagi setiap pengajaran yang baik. Dalam pengertian yang terbaru penilaian pendidikan meliputi segala usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh sekolah, institusi pendidikan secara umum untuk mendidik angkatan baru dan warga Negara dan segala yang berkaitan dengan filsafat.
3.   Filsafat pendidikan akan menolong dalam memberikan pendalaman pemikiran bagi faktor-faktor spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik dinegara kita.
Selain hal-hal tersebut diatas, kegunaan Filsafat Pendidikan Islam menurut Prof. Muhammad Athiyah Abrosyi dalam kajian tentang pendidikan Islam telah menyimpulkan 5 kegunaan yang asasi bagi pendidikan Islam, yaitu:
1.  Dapat membantu pembentukan akhlak yang mulia. Islam menetapkan bahwa pendidikan akhlak adalah jiwa pendidikan islam.
2.  Berguna untuk Persiapan kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Pendidikan Islam tidak hanya menaruh perhatian pada segi keagamaan saja dn tidak hanya dari segi kehidupan keduniaan saja, tetapi dia menaruh perhatian kepada keduanya sekaligus.
3. Menumbuhkan ruh ilmiah pada pelajaran dan memuaskan untuk mengetahui dan memungkinkan ia mengkaji ilmu. Bukan sekedar sebagai ilmu. Juga agar menumbuhkan minat pada sains, sastra, kesenian, dalam berbagai jenisnya.
4.    Menyiapkan pelajar dari segi profesional, teknis dan perusahaannsupaya ia dapat menguasai profesi tertentu, teknis tertentu dan perusahaan tertentu, supaya dapat mencari rezeki dalam hidup dengan mulia. Disamping memelihara dari segi kerohanian dan keagamaan.
5.      Persiapan mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan. Pendidikan islam tidaklah semuanya bersifat agama atau akhlak, spritual semata-mata, tetapi menaruh perhatian pada segi-segi kemanfaatan pada tujuan-tujuan, kurikulum, aktivitasnya.
Tidak jauh dari hal diatas, Sumber yang lain juga menjelaskan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam memiliki beberapa kegunaan sebagai berikut :
1.   Filsafat pendidikan islam dapat membantu para perencana dan para pelaksana pendidikan untuk membentuk suatu pemikiran yang sehat tentang pendidikan.
2.  Filsafat pendidikan Islam merupakan asas bagi upaya menentukan berbagai kebijakan pendidikan.
3.      Filsafat pendidikan dapat dijadikan asas bagi upaya menilai keberhasilan pendidikan.
4.    Filsafat pendidikan dapat dijadikan sandran intelektual bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia praksis pendidikan. Sandaran ini digunakan sebagai bimbingan ditengah-tengah maraknya berbagai aliran atau system pendidikan yang ada.
5.   Filsafat pendidikan Islam dapat dijadikan dasar bagi upaya pemberian pemikiran pendidikan dalam hubungannya dengan masalah spiritual, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan politik.
Berdasarkan pada kutipan diatas timbul kesan bahwa kegunaan dan fungsi filsafat pendidikan  Islam ternyata sangat strategis, seolah-olah menjadi acuan dalam memecahkan permasalahan dalam pendidikan. Hal ini disebabkan karena yang diselesaikan filsafat pendidikan Islam itu adalah bidang filosifinya yang menjadi akar  dari setap permasalahan kependidikan.
Dalam berpedoman pada filsafat pendidikan setiap masalah pendidikan akan dapat dipecahkan secara benar, dan tidak asal asalan, tambah sulam atau sepotong-potong. Melihat demikian besar jasa yang dimainkan oleh filsafat, tidak mengherankan jika seharusnya filsafat pendidikan, amaliah pendidikan, dan pengajaran mendapat penghargaan dan penghormatan dari pihak-pihak pelajar, para guru, dan orang-orang yang berkiprah dalam bidang pendidikan. Dengan penghargaan dalam arti memanfaatkan jasa filsafat pendidikan sebaik-baiknya, mereka akan memiliki sandaran dan rujukan intelektual yang berguna untuk membela tindakan-tindakannya dalam bidang pendidikan dan pengajaran.
Filsafat pendidikan dapat menjadi pegangan pelaksanaan pendidikan yang menghasilkan generasi-generasi baru yang berkepribadian Muslim. Generasi-generasi baru ini selanjutnya akan mengembangkan usaha-usaha pendidikan dan mungkin mengandalkan penyempurnaan atau penyusunan kembali filsafat yang mendasari usaha-usaha pendidikan itu sehingga membawa hasil yang lebih besar.


BAB III
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Filsafat pendidikan islam mengkaji hakikat dan seluk-beluk pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, merumuskan strategi pembelajaran, kurikulum, dan sistem evaluasi pendidikan dengan landasan yang digali dari ajaran islam, serta mengkaji maksud dan tujuan pendidikan islam yang khusus maupun yang umum.
Adapun Ruang lingkup filsafat pendidikan Islam berkaitan dengan pendekatan yang diterapkan sebagai berikut:
1.  Otologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat subtansi dan pola organisasi ilmu pendidikan Islam.
2.  Epistimologi ilmu pendidikan, yaitu membahas hakikat objek formal dan materi ilmu pendidikan Islam.
3.   Metodologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat cara-cara kerja dalam menyusun ilmu pendidikan Islam.
4.   Aksiologi ilmu pendidikan, yang membahas hakikat nilai kegunaan teoretis dan praktis ilmu pendidikan Islam.
Kegunaan filsafat secara umum ialah untuk memperoleh pengertian (makna) dan untuk menjelaskan gejala atau peristiwa dalam sosial. Itu berarti orang yang berfilsafat harus berfikir obyektif atas hal-hal yang obyektif, buka menghayal. Dari situlah para ahli dibidang tersebut telah banyak meneliti secara teoritis mengenai kegunaan Filsafat Pendidikan Islam.

DAFTAR PUSTAKA
Basri, Hasan. 2014. Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Mudyahardjo, Redja. 2012. Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya
Farid I, Fu’adi & Hamid M, Abdul. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat, yogyakarta: IRCiSoD.


Pengertian, Fungsi dan Tujuan SIM

MAKALAH SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN PENGERTIAN, FUNGSI DAN TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PENDIDIKAN DOSEN ...